Rabu, 11 November 2015

Pengertian Gempabumi dan upaya Mitigasi

Pengertian Gempa Bumi dan Mitigasi Gempa Bumi - Gempa bumi adalah salah satu bencana alam geologi yang sangat berbahaya. Disebut berbahaya karena ia  tidak bisa dihentikan, tidak bisa diperkirakan kapan datangnya, serta sering menjadi pemicu terjadinya beberapa jenis bencana alam besar lainnya seperti tsunami serta tanah longsor.

Kita harus mengenal baik bencana yang satu ini, baik itu mengenai pengertian gempa bumi itu sendiri, penyebabnya, dampaknya, juga bagaimana upaya mitigasi ketika terjadi bencana ini. Berdasarkan hal tersebut, maka pada kesempatan ini geologinesia akan membahas mengenai Apa itu gempa bumi serta bagaimana melakukan mitigasi terhadap bencana alam ini.

Baca juga: Bagaimanakah Pusat Gempa Diketahui Oleh Para Ahli ?

Menurut ilmu geologi, pengertian gempa bumi adalah berguncangnya bumi karena terjadinya tumbukan antar lempeng bumi, patahan akibat aktivitas gunungapi, serta runtuhan batuan. Kekuatan gempa akibat aktivitas gunungapi serta runtuhan batuan relatif kecil sehingga kita akan lebih memusatkan pembahasan pada pengertian gempa bumi, proses terjadinya gempa, serta akibat gempa yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng dan patahan aktif.

Proses Terjadinya Gempa

Rapat massa lempeng samudera lebih besar ketika bertumbukan dengan lempeng benua di zona tumbukan (subduksi) menghasilkan gerak menyusup ke bawah. Gerak lempeng tersebut selanjutnya akan mengalami perlambatan akibat gesekan dari selubung bumi.

Perlambatan gerak itu menyebabkan penumpukkan energi di zona subduksi maupun di zona patahan. Akibatnya, di zona-zona itu terjadi tekanan, tarikan, juga geseran.

Pada saat batas elastisitas lempeng terlampaui maka terjadilah patahan batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba. Peristiwa ini menghasilkan gelombang getaran partikel ke segala arah yang biasa disebut dengan gelombang gempa.

Pengertian gempa bumi dan mitigasinya
Gambar skema tektonik hubungannya dengan gempa bumi.

Kita tahu bahwa Indonesia terletak pada pertemuan 3 lempeng utama dunia, yaitu lempeng pasifik, eurasia, dan australia. Lempeng eurasia maupun australia bertumbukan di lepas pantai barat Pulau Sumatera, lepas pantai selatan pulau Jawa, lepas pantai Selatan kepulauan Nusatenggara, selanjutnya berbelok ke arah utara ke perairan Maluku sebelah selatan.

Antara lempeng Australia dan Pasifik terjadi tumbukan di sekitar Pulau Papua, sementara pertemuan antara ketiga lempeng itu terjadi di sekitar Sulawesi. Itulah sebabnya mengapa di pulau-pulau sekitar pertemuan 3 lempeng itu sering terjadi gempa.

Baca juga: Potensi Gempa Dahsyat di Lembang, Jawa Barat

Berikut ini adalah 25 daerah wilayah rawan gempa bumi di Indonesia yaitu: Aceh, Sumatera Utara (Simeulue), Sumatera Barat - Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten Pandeglang, Jawa Barat, Bantar Kawung, Yogyakarta, Lasem, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kepulauan Aru, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sangir Talaud, Maluku Utara, Maluku Selatan, Kepala Burung - Papua Utara, Jayapura, Nabire, Wamena, juga Kalimantan Timur.

Dampak Akibat Gempa

Besarnya dampak akibat gempa bumi sangat ditentukan oleh intensitas gempa. Intensitas gempa adalah tingkat kerusakan yang terasa pada lokasi terjadinya gempa. Angkanya ditentukan dengan menilai hasil kerusakannya, pengaruhnya pada benda-benda, bangunan, tanah, serta akibatnya pada manusia.

Intensitas gempa bumi diukur dengan sebuah nilai MMI (Modified Mercalli Intensity), diperkenalkan oleh Giuseppe Mercalli pada tahun 1902. Magnituda adalah parameter gempa yang diukur berdasarkan goncangan gempa pada sumbernya, satuannya adalah Skala Richter.

Skala Richter diperkenalkan oleh Charles F. Richter tahun 1934. Sebagai contoh, gempa bumi dengan kekuatan 8 Skala Richter setara dengan kekuatan bahan peledak TNT seberat 1 gigaton atau 1 milyar ton.

Akibat gempa bumi adalah yang paling utama hancurnya bangunan-bangunan karena goncangan tanah. Jatuhnya korban jiwa biasanya terjadi karena tertimpa reruntuhan bangunan, terkena longsor, dan kebakaran.

Jika sumber gempa ada di dasar laut maka bisa mengakibatkan gelombang tsunami besar mematikan. Tsunami dapat menghantam pesisir pantai tidak hanya disekitar sumber gempa tetapi juga dapat mencapai beberapa km ke arah daratan.

Baca juga: Inilah Tsunami Terbesar di Dunia

Mitigasi Gempa Bumi

Di Indonesia, korban jiwa terbesar akibat gempa bumi terjadi di Nias pada bulan Maret 2005 yaitu sebanyak 300 orang tewas. Sementara itu korban tsunami terbesar yang merupakan dampak akibat terjadinya gempa bumi adalah di Aceh dan Sumut pada Desember 2004, sebanyak 250.000 jiwa tewas.

Mengacu pada data akibat gempa bumi di atas, dapat kita lihat bahwa betapa berbahayanya bencana alam ini. Akan tetapi, pada jenis bencana alam ini kita sebenarnya hanya bisa melakukan tindakan yang sekiranya dapat meminimalisasi jatuhnya korban akibat gempa bumi.

Tindakan ini biasa disebut dengan upaya mitigasi gempa bumi, yaitu dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
  • Membangun kewaspadaan masyarakat dan pemerintah daerah melalui pelatihan antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi gempa.
  • Menyelenggarakan pendidikan dini melalui jalur pendidikan formal dan non-formal tentang pengertian gempa bumi dan bahayanya di wilayah rawan dampak akibat gempa bumi.
  • Tidak membangun permukiman dan aktifitas penduduk baik itu diatas, pada, ataupun dibawah tebing.
  • Melakukan pemetaan mikrozonasi diwilayah rawan gempa dan menyiapkan alur serta tempat evakuasi bencana.
  • Menggunakan konstruksi bangunan tahan terhadap gempa dan tidak mendirikan bangunan diatas tanah timbunan yang tidak memenuhi tingkat kepadatan sesuai dengan daya dukung tanah terhadap konstruksi bangunan diatasnya.
  • Perlu adanya RUTR dan RTRW yang dituangkan dalam peraturan daerah yang berwawasan dan mempertimbangkan aspek kebencanaan sehingga prinsip bangunan berkelanjutan dapat tercapai.
  • Mambangun alur evakuasi dan tempat pengungsian serta bukit-bukit untuk menghindar dari gelombang tsunami yang merupakan salah satu akibat gempa bumi.