4 Tahapan Proses Terjadinya Pelangi

4 Tahapan Proses Terjadinya Pelangi

Pelangi merupakan salah satu fenomena alam yang sering terjadi berupa optik yang memiliki warna-warna yang cantik dan indah. Pelangi biasanya terbentuk karena adanya proses pembelokan cahaya atau bisa disebut juga dengan pembiasan.

Biasanya, proses pembiasan tersebut sudah tertata sedemikian rupa supaya bisa menghasilkan pemandangan pelangi yang indah. Untuk itu, Anda perlu mengetahui bagaimana proses terjadinya pelangi yang sering dilihat sampai sekarang. Dibawah ini tahapan proses terjadinya fenomena alam tersebut.

Lihat juga: Proses Terjadinya Hujan

proses terjadinya pelangi

Tahapan Terjadinya Pelangi

Seperti yang sudah di ketahui, pelangi terbentuk karena adanya proses pembiasan atau pembelokan cahaya. Biasanya proses tersebut terjadi karena beberapa tahap yang harus dilalui. Berikut ini proses pembentukan pelangi secara rinci.

1. Pembiasan dari Sinar Matahari
Pembentukan pelangi biasanya terjadi karena adanya pembiasan yang dilakukan oleh sinar matahari yang menyinari bumi. Cahaya matahari tersebut kemudian dibelokkan dan berpindah tempat ke medium lainnya karena tetesan air yang berasal dari atmosfer bumi.

2. Sinar Matahari Menembus atau Melewati Tetesan Air
Ketika sinar matahari yang berpindah medium tersebut bertemu dan melewati tetesan air, maka cahaya matahari tersebut akan membengkok sehingga membuat warna-warna yang dihasilkan akibat dari pertemuan antara cahaya matahari dengan tetesan air tersebut berpisah dan berbelok ke arah yang berbeda antara satu dengan lainnya.

3. Pembelokan Cahaya
Warna yang dihasilkan akibat dari pembelokan sudut yang berbeda tersebut membuat warna pelangi yang begitu indah seperti yang Anda lihat sampai saat ini.

4. Warna Pelangi Terbentuk
Warna pelangi yang pertama kali dibelokkan adalah warna ungu, kemudian disusul dengan warna nila, kemudian biru, hijau, kuning, jingga, dan warna terakhir yang dibelokkan adalah warna merah. Jika Anda melihat ke tujuh warna tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa Anda melihat pelangi.

Lihat juga: Mengapa Langit Berwarna Biru

Mengapa Warna Pelangi Memiliki Urutan yang Sama?

Ketika Anda masih kecil, pasti mengira kalau warna pelangi hanya terdiri dari warna merah, kuning, dan hijau. Namun, kenyataannya pelangi memiliki 7 warna penting yang memiliki urutan dari Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Ungu. Warna merah terletak di bagian atas, sementara warna ungu terletak di bagian bawah.

Setelah mengerti proses terjadinya pelangi, disini akan dijelaskan kenapa warna pelangi memiliki urutan yang sama dan tidak bisa dipindah-pindah. Hal ini dikarenakan cahaya warna merah memiliki spektrum cahaya yang mempunyai frekuensi paling rendah dan memiliki panjang gelombang terpanjang jika dibandingkan dengan cahaya warna lainnya. Berkebalikan dengan cahaya warna ungu yang memiliki spektrum cahaya yang frekuensinya paling tinggi dengan panjang gelombang paling pendek diantara warna lainnya.

Adanya alasan tersebut menyebabkan warna merah dan ungu tidak bisa berdempetan satu sama lain. untuk warna-warna lain seperti jingga, kuning, hijau, biru, dan nila juga memiliki alasan yang sama dengan warna merah dan ungu. Dengan begitu, maka ketujuh warna tersebut tidak bisa dirubah lagi susunannya karena memang sudah seperti itu syaratnya.

Namun, ada juga beberapa pelangi yang memiliki bentuk dan warna pelangi yang unik, seperti Circular Rainbow, Red Rainbow, Sundogs, Fire Rainbow, Waterfall Rainbow, Secondary Rainbow, Fogbows, dan Classic Rainbow.

Itulah beberapa hal yang bisa Anda ketahui tentang pelangi, mulai dari proses terjadinya pelangi, kenapa warna pelangi selalu sama, dan beberapa nama pelangi yang memiliki keunikan dan berbeda dengan pelangi pada biasanya. Anda juga bisa membuat pelangi buatan dengan menyemprotkan spray air ke cahaya matahari untuk membuktikan proses pembiasan warna pelangi.
Baca selengkapnya »
Klasifikasi Iklim dan Faktor Pengendalinya

Klasifikasi Iklim dan Faktor Pengendalinya

Klasifikasi iklim biasanya digunakan untuk membedakan dan mengidentifikasi perbedaan iklim yang ada di permukaan bumi. Perbedaan iklim tersebut biasanya dikarenakan adanya perbedaan letak geografis, kedudukan matahari, lokasi negara, posisi khatulistiwa terhadap garis lintang (latitudo), dan topografi suatu daerah.

Setiap tempat yang ada di permukaan bumi pasti memiliki iklim yang berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut biasanya sering disebut juga dengan pengendali iklim. Berikut ini geologinesia akan membahas mengenai klasifikasi iklim yang sering dipakai di Indonesia beserta faktor pengendalinya.

Faktor Pengendali Iklim

1. Faktor dari Dalam Bumi
Pengendali iklim dari dalam bumi biasanya dipengaruhi oleh manusia dan faktor fisis dari daerah tersebut. namun, pengendali iklim yang dilakukan oleh manusia biasanya tidak terlalu banyak merubah kondisi iklim yang ada di daerah itu, namun hanya bisa memperkecil pengaruh iklim yang ada.

Salah satu pengendali iklim yang dilakukan oleh manusia adalah membuat hujan buatan. Sementara untuk faktor fisis daerah yang biasanya mengatur iklim adalah topografi, luas darat dan laut, garis lintang, daerah tekanan udara, bentuk muka bumi, permukaan tanah, dan daerah tekanan udara.

2. Faktor dari Luar Bumi
Sementara untuk faktor pengendali iklim dari luar bumi dapat dilakukan oleh matahari. Sinar matahari yang menyinari bumi dapat digunakan sebagai sumber panas alami atau sumber energi lainnya yang berpotensial bagi bumi. Panas matahari yang menyinari bumi dapat berpengaruh terhadap beberapa hal, seperti hujan, angin, temperatur, tekanan udara, awan, dan masih banyak lagi.

Klasifikasi Iklim yang Sering Digunakan di Indonesia

Di Indonesia sendiri, terdapat tiga klasfikasi iklim yang sampai saat ini masih digunakan. Ketiga klasifikasi tersebut memiliki perbedaan dalam penugasannya. Perbedaan tersebut tentu sangat membantu banyak orang. Misalnya untuk Klasifikasi Koppen dan Geiger yang digunakan untuk iklim tumbuhan dan vegetasi, Klasifikasi Schmidt - Ferguson yang digunakan untuk iklim kehutanan dan perkebunan, dan yang terakhir Klasifikasi Oldeman yang biasanya digunakan pada iklim lahan pertanian.

1. Klasifikasi Koppen dan Geiger
Klasifikasi Koppen biasanya dilihat dari rata-rata curah hujan dan temperatur setiap bulannya maupun per tahunnya. Klasifikasi ini lebih mendasari beberapa tipe vegetasi di suatu tempat. Koppen biasanya menggunakan simbol atau tanda-tanda tertentu yang digunakan untuk mengklasifikasikan iklim.

Tiap simbol memiliki tipe iklim yang berbeda-beda. Koppen membagi 5 kelompok untuk iklim, yaitu: Iklim A (Iklim Tropika Basah), Iklim B (Iklim Setengah Kering atau Kering), Iklim C (Iklim Sedang), Iklim D (Iklim Dingin), dan Iklim E (Iklim Kutub).

klasifikasi iklim

2. Klasifikasi Schmidt - Ferguson
Mengklasifikasikan iklim berdasarkan rata-rata bulan kering dan basah. Disebut bulan kering jika curah hujan dalam satu bulannya kurang dari 60 mm. Sementara disebut bulan basah jika curah hujannya mencapai 100 mm hingga lebih.

Iklim Schmidt – Ferguson biasanya juga disebut sebagai Q. Terdapat 8 tipe iklim, yaitu A (Sangat basah), B (Basah), C (Agak basah), D (Sedang), E (Agak kering), F (Kering), G (Sangat kering), H (Luar biasa kering).

3. Klasifikasi Oldeman
Unsur yang dipakai untuk klasifikasi ini hampir sama seperti klasifikasi Schmidt – Ferguson, yaitu menggunakan curah hujan. Namun disini bulan basah dan bulan keringnya akan dikaitkan dengan pertanian di wilayah tertentu. Hal ini mengakibatkan penggolongan iklim ini disebut zona agroklimat.

Itulah beberapa hal yang perlu diketahui tentang klasifikasi iklim. Setiap pengklasifikasian tersebut memiliki peran dan manfaat yang berbeda-beda yang dapat membantu kegiatan masyarakat, khususnya saat berkebun, bertani, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, Anda bisa mempelajarinya lebih lanjut jika ingin mengetahuinya lebih dalam.
Baca selengkapnya »
Apa itu Hujan Orografis ? Pengertian, Manfaat dan Proses Terjadinya

Apa itu Hujan Orografis ? Pengertian, Manfaat dan Proses Terjadinya

Hujan Orografis - Hujan yang terjadi di Indonesia dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Salah satu jenis hujan yang ada di Indonesia adalah hujan orografis. Bagi Anda yang belum mengerti apa itu hujan orografis berikut pengertian lengkapnya.

Hujan orografis adalah hujan yang seringkali terjadi di wilayah atau daerah pegunungan. Proses terjadinya hujan ini biasanya diakibatkan karena naiknya udara yang mengandung uap air yang berasal dari kaki gunung atau lembah menuju ke atas gunung, sehingga nantinya akan menyebabkan hujan di bagian atas gunung tersebut. Hujan orografis hanya terjadi di daerah pegunungan, tidak di tempat lainnya.

Proses dan Tahapan Terjadinya Hujan Orografis

1. Awalnya, di daerah pegunungan terdapat lembah yang karena perbedaan massa udara disana maka udara akan mengandung uap air tinggi. Uap air tersebut kemudian akan bergerak karena pengaruh angin.

2. Kandungan uap air tersebut kemudian bergerak ke arah atas pegunungan. Angin yang membawa uap air tersebut biasa disebut dengan angin fohn. Angin fohn memiliki karakteristik sebagai angin kering. Wilayah tempat adanya angin fohn tersebut biasanya dinamakan sebagai wilayah bayangan hujan.

hujan orografis

3. Angin fohn yang membawa uap air tersebut terus bergerak ke atas di sekitar wilayah pegunungan dan semakin tinggi. Tingginya uap air yang dibawa tersebut berpengaruh terhadap pengembunan atau kondensasi di daerah puncak pegunungan. Hal tersebut dikarenakan karena semakin berada di puncak, maka hawa udara juga semakin dingin.

4. Akibat adanya pengembunan uap air atau kondensasi, awan yang berada di sekitar atas gunung tersebut menjadi semakin hitam atau mendung. Awan hitam tersebut memiliki kandungan air atau titik-titik air yang cukup banyak sehingga sewaktu-waktu bisa terlepas ke permukaan bumi.

5. Setelah titik-titik air tersebut tertampung cukup lama, awan tidak akan bisa menopang lebih banyak lagi sehingga terjadilah hujan orografis yang berada di daerah pegunungan.

Manfaat Hujan Orografis di Wilayah Pegunungan

Jika Anda sudah mengetahui apa itu hujan orografis, berikut ini beberapa manfaat hujan orografis bagi lingkungan pegunungan. Walaupun sebenarnya ada manfaat lain bagi makhluk hidup lainnya, tapi Anda juga perlu untuk mengetahui manfaat bagi wilayah pegunungan itu sendiri.

1. Cadangan Air Bersih Bertambah
Manfaat hujan orografis bagi lingkungan pegunungan adalah bertambahnya cadangan air bersih di sekitar pegunungan. Hal tersebut dikarenakan air hujan orografis tersebut akan menyerap masuk ke dalam tanah di sekitar pegunungan. Infiltrasi air ke dalam tanah tersebut akan membentuk air tanah dan dapat dimanfaatkan sebagai cadangan air bersih.

2. Suhu Udara di Pegunungan Menjadi Segar
Jika daerah pegunungan terlalu tandus dan kering, maka suhu udara yang ada di sekitarnya juga akan panas dan kering. Apalagi jika terjadi proses penguapan, pasti suhu udara akan sangat panas. maka dari itu, adanya hujan orografis di daerah pegunungan sangat membantu dalam menjaga suhu udara di pegunungan untuk tetap segar. Air hujan orografis akan membantu mengurangi penguapan.

3. Tanaman Tumbuh Subur
Turunnya hujan orografis juga bisa memberikan manfaat yang baik bagi tanaman yang tumbuh di sekitar pegunungan. Tanaman yang ada di pegunungan akan tumbuh subur dan tidak kekeringan.

Itulah beberapa hal yang berkaitan dengan apa itu hujan orografis, kronologi terjadinya, dan manfaat yang ditimbulkan oleh hujan tersebut. Namun, semua kelebihan tersebut terjadi jika volume air hujan yang turun ke permukaan bumi normal. Namun jika berlebihan juga akan menimbulkan dampak negatif seperti banjir, merusak tanaman, merusak habitat hewan, dan masih banyak lagi.
Baca selengkapnya »
7 Unsur Cuaca dan Iklim serta Fenomena Didalamnya

7 Unsur Cuaca dan Iklim serta Fenomena Didalamnya

Unsur-unsur cuaca dan iklim - Cuaca dan iklim merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dan dipisahkan. Cuaca dan iklim memiliki pengertian yang berbeda. Cuaca merupakan kondisi udara pada suatu wilayah tertentu. Sementara untuk iklim adalah kondisi udara pada wilayah yang cukup luas dan dengan waktu yang lama. Cuaca dan iklim memiliki beberapa unsur sebagai penunjangnya. Dibawah ini unsur-unsur cuaca dan iklim yang bisa Anda pelajari.

unsur-unsur cuaca dan iklim

Biasanya terdapat sekitar 7 unsur sebagai pembentukan cuaca dan iklim. Semua unsur tersebut memiliki pengaruh yang besar terhadap cuaca dan iklim yang ada di bumi. Tanpa adanya unsur tersebut, cuaca dan iklim yang ada di bumi tidak akan teratur dan berantakan. Bahkan bisa saja tidak akan terbentuk keduanya. Berikut ini beberapa 7 unsur pembentukan cuaca dan iklim.

1. Suhu Udara
Perbedaan tingkat panas atau dingin antara daerah satu dengan daerah lainnya cukup berbeda. Suhu udara biasanya dipengaruhi oleh 2 proses pemanasan, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pemanasan secara langsung terdiri atas refleksi, absorpsi, dan difusi. Sementara pemanasan tidak langsung bisa melalui konduksi, difusi, dan konveksi. Untuk mengukur suhu udara, Anda bisa menggunakan alat yang bernama termometer.

2. Sinar Matahari
Setiap tempat yang memperoleh sinar matahari memiliki jangka waktu yang berbeda-beda tergantung dari lama waktu, sudut datangnya sinar, keadaan permukaan bumi, serta keadaan awan yang ada di tempat tersebut. Beberapa faktor tersebut tentu sangat berpengaruh terhadap cuaca dan iklim yang ada di tempat tersebut. Kondisi ini dapat dibuktikan dengan adanya perbedaan suhu antara daerah disekitar garis khatulistiwa yang cenderung memiliki suhu panas, dengan daerah kutub yang cenderung memiliki suhu dingin.

3. Angin
Angin merupakan udara yang dapat bergerak. Salah satu unsur-unsur cuaca dan iklim ini cukup penting bagi kehidupan manusia maupun makhluk hidup lainnya. Angin biasanya bergerak dari udara yang memiliki tekanan rendah menuju ke udara yang memiliki tekanan tinggi. Pergerakan angin dapat diukur menggunakan anemometer. Kecepatan angin biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu relief permukaan bumi, jarak permukaan dari tanah, gradien barometrik, dan tumbuhan-tumbuhan yang ada di sekitar wilayah.

4. Tekanan Udara
Tekanan udara merupakan berat massa udara di suat wilayah tertentu. Jika suhu udara dapat diukur menggunakan termometer, maka tekanan udara juga memiliki alat pengukurnya sendiri, yaitu barometer. Semakin tinggi suatu tempat, maka tekanan udara yang ada di sekitarnya akan semakin kecil. Hal tersebut dikarenakan adanya gravitasi bumi sehingga benda-benda yang ada di bumi akan ditarik menuju pusat bumi.

5. Awan
Awan merupakan salah satu unsur pembentukan cuaca dan iklim. Awan terbentuk karena adanya pengangkatan udara yang diakibatkan karena adanya pemanasan bumi. Udara tersebut akan naik sampai mencapai titik embun (lihat disini tentang awan cumulonimbus).

6. Kelembaban Udara
Merupakan kandungan uap air yang berada di udara. Terdapat 2 kelembaban, yaitu mutlak dan nisbi. Kelembaban udara biasanya diukur menggunakan higrometer. Biasanya, kelembaban udara pada saat malam hari lebih tinggi dibandingkan siang hari.

7. Hujan
Hujan biasanya terbentuk karena penguapan air yang terjadi di danau, laut, dan sebagainya. Air yang menguap ini akan membentuk awan dan akan didorong menuju permukaan bumi untuk diturunkan sebagai hujan. Proses yang terjadi ini biasa disebut dengan proses terjadinya hujan.

Itulah unsur-unsur cuaca dan iklim yang ada di permukaan bumi. Semua unsur tersebut memiliki peran masing-masing dan saling berkaitan terhadap keadaan iklim dan cuaca di wilayah yang ada di bumi.
Baca selengkapnya »
Apa itu Hujan Frontal ? Pengertian, Manfaat dan Proses Terjadinya

Apa itu Hujan Frontal ? Pengertian, Manfaat dan Proses Terjadinya

Hujan Frontal - Salah satu fenomena alam yang sering Anda rasakan adalah turunnya hujan. Hujan biasanya terjadi di waktu-waktu tertentu sesuai dengan keadaan dan letak wilayah di suatu daerah. Namun, ternyata hujan tidak hanya terdiri dari satu jenis saja, namun ada banyak jenis hujan yang bisa dipelajari. Salah satunya adalah hujan frontal.

Lalu sebenarnya apa itu hujan frontal? Hujan frontal adalah hujan yang terjadi karena adanya pertemuan 2 massa udara yang berbeda, yaitu massa udara panas dan massa udara dingin. Perbedaan massa tersebut menyebabkan pendinginan mendadak sehingga terjadilah hujan frontal.

Proses dan Tahapan Terjadinya Hujan Frontal

1. Adanya Massa Udara Panas dengan Suhu Udara yang Tinggi
Terjadinya hujan frontal biasanya ditandai dengan adanya massa udara panas dengan suhu udara yang tinggi. Massa udara panas dan suhu udara yang tinggi ini biasanya sering terjadi di daerah rendah, seperti dataran rendah dan pantai.

2. Adanya Massa Udara Dingin dengan Suhu Udara yang Rendah
Selain adanya massa udara panas dan suhu udara yang tinggi, terjadinya hujan jenis ini juga bisa disebabkan karena adanya massa udara dingin dengan suhu udara yang rendah. Keadaan udara seperti itu biasanya banyak dirasakan di daerah dataran tinggi yaitu dataran di atas pegunungan, perbukitan, dan masih banyak lagi.

3. Pertemuan Diantara Kedua Massa dan Suhu
Dari kedua perbedaan jenis dan massa udara tersebut akhirnya bertemu. Namun massa udara dingin dengan suhu udara yang rendah lebih berat jika dibandingkan dengan massa udara panas dengan suhu udara yang tinggi.

hujan frontal

4. Uap Air Jatuh Menjadi Hujan
Karena massa udara dingin dengan suhu udara yang rendah lebih berat, hal tersebut menyebabkan pendinginan. Proses pendinginan itu membuat banyak titik-titik air yang membentuk sebuah awan. Awan tersebut terus terdorong hingga ke permukaan bumi sehingga terjadilah hujan frontal di sana.

Manfaat Hujan Frontal

Setelah mengetahui apa itu hujan frontal, Anda juga akan mengetahui beberapa manfaat yang bisa dirasakan akibat adanya hujan tersebut. Tidak semua hujan akan mendatangkan dampak yang buruk atau negatif. Manfaat hujan (positif) dapat dirasakan oleh manusia maupun makhluk hidup lainnya. Berikut ini beberapa manfaat hujan frontal bagi lingkungan sekitar yang bersifat positif:

1. Pelepasan Kondensasi Karena Pendinginan Mendadak
Anda sudah mengerti bahwa hujan frontal terjadi karena adanya dua jenis dan massa udara berbeda saling bertemu. Pertemuan mengakibatkan pendinginan mendadak dan terjadilah hujan frontal. Hal tersebut sangat bagus, karena jika kondensasi tersebut terus menumpuk akan mengakibatkan adanya awan hitam sehingga cuacanya cukup berbahaya.

2. Tanaman Subur di Daerah Front
Hujan frontal dapat membuat tanaman subur, terutama tanaman yang berada di daerah front (lihat pada gambar di atas posisi dari hujan frontal). Hujan di daerah tersebut membuat tanaman memiliki pasokan air yang cukup sehingga bisa tumbuh subur dan berkembang dengan baik.

3. Dapat Mengurangi Polusi Udara
Adanya hujan frontal juga bisa digunakan untuk membantu mengurangi polusi udara. Hal tersebut karena air yang berasal dari hujan frontal dapat membersihkan zat yang tidak penting sehingga bisa mengurangi polusi udara yang terjadi di daerah front. Walaupun hanya berkurang sedikit, setidaknya dengan adanya hujan frontal bisa meminimalisir adanya pencemaran udara sehingga udara di sekitar front akan tetap sejuk dan bersih.

Itulah beberapa hal tentang apa itu hujan frontal, proses terjadinya, hingga manfaat dari hujan frontal. Sebenarnya masih banyak lagi manfaat yang belum ditulis. Maka dari itu, Anda tidak boleh sering mengeluh jika terjadi hujan, karena hujan sendiri bisa mendatangkan hal yang baik untuk dirasakan.
Baca selengkapnya »
Beranda