thumbnail

Pengertian Infiltrasi Menurut Hidrologi

Infiltrasi adalah peristiwa masuknya air hujan ataupun air permukaan ke dalam tanah (bawah permukaan) melalui celah ataupun ruang pori tanah dan batuan. Tingkat infiltrasi dipengaruhi oleh permeabilitas, tutupan vegetasi, volume air, intensitas curah hujan, tingkat pra-saturasi, topografi tanah, serta tingkat evapotranspirasi.

Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini adalah: infiltrasi, infiltrasi adalah, arti infiltrasi. Faktor infiltrasi, proses infiltrasi, pengertian infiltrasi, faktor yang mempengaruhi infiltrasi.


Air yang hanya sampai di lapisan atas tanah sebagian akan diserap dan sebagiannya lagi secara bertahap akan menguap. Sedangkan air yang mampu masuk ke bagian tanah lebih dalam, biasanya akan tertampung dalam akuifer dan selanjutnya akan terbawa ke sungai atau danau melalui aliran bawah permukaan. Infiltrasi diatur oleh dua kekuatan, yaitu gravitasi dan kapiler. Pori-pori yang lebih kecil dalam tanah akan memberikan "perlawanan" yang lebih besar terhadap gravitasi karena pori-pori tersebut akan menarik air melalui kapilernya.

model infiltrasi air tanah
Gambar macam-macam model infiltrasi air ke bawah permukaan tanah.


Kecepatan terserapnya air oleh tanah diukur dengan nilai inci per jam atau milimeter per jam, biasa dikenal dengan istilah laju infiltrasi (Infiltration Rate). Jika volume air di permukaan melebihi laju infiltrasi maka biasanya akan terjadi limpasan air. Hal ini terkait dengan konduktivitas hidrolik jenuh pada tanah yang dekat dengan permukaan (lapisan atas). Tanah dalam kondisi kering memiliki daya serap yang tinggi, sehingga laju infiltrasi akan semakin besar. Kemampuan tanah ini secara perlahan-lahan akan berkurang apabila tanah tersebut mulai jenuh terhadap air.
thumbnail

Mengenal Emas, Logam Mulia dengan Simbol Unsur Au

Mungkin inilah kata yang tepat untuk menggambarkan logam mulia ini: Berwarna kuning, sering dipuja-puja oleh kaum hawa, salah satu syarat untuk menikah, banyak diincar oleh perampok, bahkan bisa dipakai untuk mengunyah makanan (klau gigi palsunya terbuat dari logam ini cieciecie..). Tanpa berbasa-basi lagi, pada kesempatan ini Geologinesia.com akan mencoba membahas mengenai emas, tapi bukan mas eko, mas parto, mas sugeng, dan mas-mas lainnya ya.. Mari kita mulai.

Pengertian Emas

Emas adalah unsur kimia yang dalam tabel periodik merupakan bagian kelompok B dari famili I dengan simbol Au (Bahasa Latin: 'aurum') dan nomor 79 bersama dengan perak dan tembaga. Emas merupakan logam transisi (trivalen dan univalen) yang kuning, mengkilap, lunak, lentur, berat, dan mudah ditempa sampai dengan ketebalan 0,00001 mm.


Emas tidak bereaksi dengan kebanyakan zat kimia lainnya, tetapi permukaannya dapat menjadi kusam oleh klorin dan fluorin. Logam ini banyak terdapat sebagai bungkal (nugget) emas atau serbuk dalam batuan dan pada endapan aluvial, serta merupakan salah satu logam yang dapat dijadikan mata uang (coinage). Kode ISO untuk emas adalah XAu. Emas dapat melebur pada suhu sekitar 1.000 derajat celcius.

Jenis-jenis Emas, Sifat Fisik, dan Asosiasi Mineralnya

Kekerasan emas berkisar antara 2,5 - 3 dalam skala Mohs sebanding dengan mineral kalsit. Emas biasanya berasosiasi dengan mineral pengotor (gangue minerals) antara lain kuarsa, karbonat, turmalin, dan fluorit. Secara alamiah, emas terdapat dalam bentuk emas native, emas telurida, elektrum yang merupakan jenis lain dari emas native dengan kandungan perak lebih besar dari 20% dan sejumlah paduan emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Selain itu, mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Emas umumnya terikat di dalam sulfida-sulfida logam dan hasil pelapukannya antara lain pirit, kalkopirit, galenit, stibnit, tetrahedrit, sfalerit, arsenopirit, dan molibdenit.

Berat jenis emas bergantung pada perlakuannya, jenisnya, dan kandungan logam lain yang terpadu dengannya. Sebagai contoh emas tuang mempunyai BJ 19,3, emas suling (distilled gold) 19,26, drawn gold 19,25, cold rolled sheet 19,296 dan precipitated gold oleh CH2O 19,29. Titik leburnya adalah 1.045 derajat celcius dan titik didihnya sekitar 2.500 derajat celcius (McGraw Hill Encyclopedia of Science and Technology).


Emas terbentuk dalam beraneka ragam campuran yang terutama mengandung logam-logam perak (Ag), tembaga (Cu) dan timbal (pb). Beberapa telurida Au dan Au-Ag biasanya terbentuk sebagai silvanit, calaverit, petzit, krennerit dan nagyagit. Antimonida, aurostibit dan AuSb2 dalam cebakan-cebakan mengandung emas; bersama dengan selenida emas mengandung Ag, fischesserit, Ag3AuSe2, sulfida emas mengandung Ag, uytenbogaardit, bismuthid, maldonit, dan Au2Bi. Mineral-mineral bijih Au yang utama berupa logam murni, aurostibit dan beraneka ragam telurida.

sifat-sifat fisik emas
Karakteristik atau sifat-sifat fisik emas.

Warna emas secara alami bervariasi tergantung ukuran partikelnya. Emas precipitated biasanya berwarna coklat, tetapi ada juga yang mempunyai bayangan hitam, ungu, biru, dan merah muda (pink). Dalam lembaran tipis, biasanya tembus cahaya dan memancarkan cahaya kehijauan. Sebagai paduan, warna kuningnya bervariasi tergantung jenis logam paduannya. Paduan emas-perak misalnya, membuat warna kuning emas menjadi lebih muda, sedangkan dengan tembaga warna kuning tersebut akan menjadi lebih tua atau agak kemerahan. Para ahli perhiasan menyebut emas putih (monel) bila emas dipadukan dengan platinium sejumlah 25% atau 12% paladium.

kelompok mineral bijih emas
Emas sekunder, butiran emas aluvial, dan tabel kelompok mineral bijih emas.

Kandungan Emas dalam Batuan

Kandungan emas dalam kerak bumi rata-rata 0,005 ppm, perbandingan Au dan Ag 0,07. Rata-rata kandungan Au dalam batuan beku: 0,004 ppm dalam ultramafik; 0,007 ppm dalam gabro-basalt; 0,005 ppm dalam diorit-andesit; dan 0,003 ppm pada granit-riolit. Sementara kandungan Au dalam batuan sedimen: 0,03 ppm dalam batupasir dan konglomerat; 0,04 ppm dalam serpih; dan 0,003 ppm dalam batugamping.


Apa itu Kadar Emas?

Kemurnian emas diukur dengan karat, menunjukkan seberapa murni emas yang terkandung dalam suatu paduan. Istilah karat ini sering dipakai orang untuk merujuk kepada kadar emas. Satu karat sama dengan 1/24 bagian emas atau 4,1667%. Emas 24 karat berarti emas murni, sedangkan emas 18 karat mengandung 18 bagian emas dan 6 bagian paduan.

Bergantung pada daerahnya, emas perhiasan di Indonesia bervariasi dalam ukuran karat, tetapi umumnya berkisar antara 22 sampai dengan 24 karat. Inggris menggunakan standar 22 karat koin emas setara dengan 91,67% Au dan 8,33% Cu dengan warna agak kemerahan. Sedangkan Amerika, Jerman, dan Italia membuat koin emas dengan perbandingan 77,78% Au dan 22,22% Cu.
thumbnail

Letusan Gunung Berapi di Papua Nugini Bisa Berdampak ke Papua??

Sangat jarang saya menulis tentang geologi di luar Indonesia, tetapi untuk saat ini saya akan membahasnya karena negara ini berbatasan dengan Indonesia, sehingga besar kemungkinan fenomena geologi yang terjadi disana berpengaruh hingga ke Indonesia. Negara ini adalah Papua Nugini (Papua New Guinea), sebuah negara yang berbatasan langsung dengan Papua, provinsi paling timur Indonesia. Fokus pembahasan Geologinesia.com pada Papua Nugini adalah dari sisi vulkanologinya yang menyangkut rekam jejak letusan besar gunung berapi yang pernah terjadi di negara tersebut.


Di Papua Nugini, beberapa gunung berapi telah menghasilkan letusan terbesar dalam beberapa ribu tahun terakhir. Gunungapi di Dakataua, Pago, Billy Mitchell semua menghasilkan letusan pada skala diatas VEI 5 dalam 10.000 tahun terakhir. Sementara itu Gunungapi di Rabaul, Tavui, Ulawun, Lolobau, Lamington, Karkar, Manam dan Long Island memiliki skala letusan rata-rata VEI 4. Beberapa gunung berapi di Papua Nugini adalah kaldera spektakuler yang telah menjadi sumber letusan besar. Di Rabaul dan Tavui adalah submerged kaldera, sementara Karkar memiliki "massive summit calderas" berukuran lebih dari 5 kilometer.

Long Island memiliki kaldera 10 - 12 kilometer (sekarang dipenuhi dengan air membentuk danau) terbentuk dari tiga letusan eksplosif selama 16.000 tahun terakhir. Pago, yang merupakan bagian dari kaldera Witori terbentuk dari serangkaian letusan eksplosif dalam 5.600 tahun terakhir. Bahkan Billy Mitchell yang "hanya" memiliki kaldera selebar 2 kilometer di puncaknya telah menghasilkan beberapa letusan eksplosif dalam 900 tahun terakhir menyebabkan setengah dari Pulau Bougainville terselimuti oleh abu dan puing-puing vulkanik. Jadi, jika Anda mengharapkan terjadinya letusan gunung berapi besar berikutnya, maka Papua Nugini merupakan tempat yang sangat tepat untuk kejadian tersebut.


letusan gunung berapi di papua nugini
Ilustrasi letusan gunung berapi.

Kita ketahui bahwa letusan yang terjadi baru-baru ini (abad ke-20) di Rabaul dan Lamington, menyebabkan kerusakan dahsyat dan banyaknya jiwa yang melayang. Letusan besar yang juga pernah terjadi di tahun 1951 menghasilkan aliran piroklastik yang menewaskan lebih dari 3.500 orang, menyapu rata kota Higataru. Kolom Abu vulkanik dari letusan ini mencapai 12 kilometer (40.000 kaki) dan guncangan dari ledakan ini terasa hingga ke Ibukota (Port Moresby) yang jaraknya lebih dari 110 kilometer (70 mil) dari pusat ledakan.

Letusan besar ini memicu runtuhnya kubah lava sehingga menghasilkan 0,2-0,4 kubik kilometer puing-puing longsoran dan bulu-bulu abu yang runtuh menghasilkan aliran piroklastik sepanjang 15 kilometer (9 mil). Ironisnya, saat ini masyarakat setempat mulai kembali bermukim di daerah tersebut tanpa mempertimbangkan bagaimana letusan dahsyat bisa saja kembali terjadi disana. Kota Rabaul pun demikian, terletak di dalam kaldera yang sama dengan Lamington. Ini berarti bahwa orang-orang disana hidup berdampingan dengan gunung berapi yang telah menghasilkan 3 kali letusan pada skala diatas VEI 4 dalam 100 tahun terakhir.


Siklus letusan gunung berapi biasanya akan berulang dan tidak menutup kemungkinan sebuah letusan besar akan terjadi lagi di Papua Nugini. Dengan banyaknya kejadian letusan besar gunung berapi di negara ini, diharapkan adanya kewaspadaan yang tinggi terhadap daerah yang berbatasan langsung dengan negara ini. Ya, Provinsi Papua merupakan daerah yang cukup potensial terkena dampak dari letusan besar di Papua Nugini. Walaupun Provinsi Papua letaknya cukup jauh dari ring of fire Papua Nugini, namus kewaspadaan terhadap fenomena geologi ini harus tetap ada. Salam.
thumbnail

Pemegang Rekor Air Terjun Tertinggi di Dunia

Air terjun Angel (Angel Falls) di Venezuela dinobatkan sebagai pemegang rekor air terjun tertinggi di dunia. Air terjun ini pertama kali ditemukan pada awal abad ke-20 oleh penjelajah Ernesto de Santa Cruz, akan tetapi secara resmi didokumentasikan dan dipublikasikan oleh James Crawford Angel, seorang penerbang asal Amerika Serikat yang saat itu sedang terbang mencari lokasi tambang emas. Berikut data Air Terjun Angel Falls:


Nama : Angel Falls / Salto Angels
Ketinggian : 979 meter (3.212 feet)
Negara : Venezuela
Lokasi : Taman nasional Canaima
Sungai : Rio Caroni
Benua  : Amerika Selatan

Angel Falls terletak di sebuah anak sungai Rio Caroni. Air terjun ini terbentuk saat arus sungai jatuh dari puncak Auyantepui (tepui adalah struktur datar dikelilingi oleh tebing (mirip dengan mesa). Angel Falls menawarkan pemandangan yang menakjubkan untuk dilihat. Suku Indian Pemon menyebut air terjun ini sebagai “Gunung Setan”.

air terjun tertinggi di dunia
Gambar air terjun tertinggi di dunia (Angel Falls, Venezuela).

Ketinggian resmi air terjun ini telah dicatat oleh National Geographic Society sejak tahun 1949. Begitu tingginya sehingga sebelum mencapai dasar, air akan menguap atau menjadi kabut halus dan terbawah oleh angin. Air terjun ini merupakan tempat wisata paling terkenal di Venezuela.


Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini adalah: air terjun, air terjun tertinggi di dunia, gambar air terjun, air terjun terbesar di dunia. Air terjun angel, air terjun di venezuela, angel falls, air terjun salto angel. Foto air terjun tertinggi di dunia, nama air terjun tertinggi di dunia, air terjun terkenal di dunia.
thumbnail

INILAH MANFAAT BAUKSIT YANG SEBENARNYA

Wajib dipahami bahwa bauksit (bauxite) bukanlah mineral, bauksit adalah batuan yang terbentuk dari proses lateritisasi. Bauksit terdiri dari tiga dominasi mineral aluminium hidrat, yaitu gibsit, boehmite dan diaspora. Ketiga mineral tersebut biasanya berasosiasi dengan mineral lempung (kaolin), kuarsa, bijih Fe, bijih Fe-Ti dan beberapa mineral lainnya untuk membentuk bauksit. Fokus Geologinesia.Com saat ini bukan untuk membahas tentang genesa bauksit, karena hal itu sudah dibahas sebelumnya (lihat pada link dibawah). Pada kesempatan ini, Geologinesia.Com akan membahas mengenai Manfaat Bauksit atau Kegunaan Bauksit yang selama ini sering disalahartikan.


Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini adalah: bauksit, manfaat bauksit, pemanfaatan bauksit, kegunaan bauksit, fungsi bauksit, manfaat bauksit dalam kehidupan sehari-hari.

struktur bauksit
Gambar bauksit dengan tekstur pisolitik.
Pembahasan ini terinspirasi atas pemahaman yang kurang tepat dari kebanyakan orang tentang manfaat atau kegunaan bauksit. Seperti yang kita ketahui bahwa bauksit adalah sebuah batuan, bukan sebuah produk setengah jadi apalagi produk jadi. Kebanyakan orang menganggap bahwa manfaat atau kegunaan bauksit dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebagai bahan baku pembuatan alat-alat dapur, atap rumah, sepeda, pesawat terbang dan lain sebagainya. Hal ini sudah tentu sangat menggelikan karena menyimpang dari pengertian bauksit. Mana mungkin batuan bisa dibuat wajan ataupun sepeda??.

Pada dasarnya, yang disebutkan kebanyakan orang tersebut adalah manfaat atau kegunaan aluminium. Bauksit sebenarnya adalah bijih utama aluminium karena hampir semua aluminium yang diproduksi merupakan hasil ekstraksi dari bauksit. Lalu, apa sebenarnya manfaat bauksit ??, jawabannya ada di bawah ini.

Bauksit Digunakan untuk memproduksi Aluminium

Bauksit adalah bijih utama aluminium. Langkah pertama dalam memproduksi aluminium adalah pemurnian dengan menggunakan Proses Bayer. Dalam Proses Bayer, bauksit dicuci dalam larutan panas natrium hidroksida dengan maksud agar aluminium larut/terlepas dari bauksit.

Aluminium yang dihasilkan dari proses ini masih dalam bentuk aluminium hidroksida. Aluminium hidroksida kemudian di kalsinasi untuk membentuk alumina (Al2O3). Untuk lebih jelasnya mengenai proses ini bisa anda lihat pada link postingan dibawah ini.


Bauksit Digunakan sebagai Bahan Abrasive

Pernah dengar istilah "calcined Alumina"?? itu adalah korundum sintetis yang merupakan bahan yang sangat keras (9 Skala Mohs). Pembuatan calcined alumina ini melibatkan bauksit sebagai salah satu bahan bakunya. calcined alumina didigunakan sebagai bahan abrasif seperti amplas aluminium oksida , polishing bubuk, dan polishing suspensions.

Pernah dengar istilah "Sintered Bauxite"??. Sintered bauxite sering digunakan sebagai pasir abrasive dalam kegiatan peledakan/blasting. Sintered bauxite dihasilkan dengan menghancurkan bauksit menjadi bubuk kering kemudian dibentuk menjadi seperti "bola manik-manik" pada suhu yang sangat tinggi. Manik-manik ini sangat keras dan sangat tahan lama. Manik-manik ini kemudian diurutkan berdasarkan ukuran tertentu untuk kemudian digunakan dalam berbagai jenis peralatan sand-blasting.

calcined alumina dan sintered bauxite
Gambar Calcined Alumina dan Sintered Bauxite.


Bauksit Digunakan sebagai Proppant

Sintered bauxite juga digunakan sebagai proppant pada pengeboran minyak. Dalam pengeboran minyak bumi dan gas alam, batuan reservoir sering retak akibat pemompaan cairan ke dalam sumur yang berada pada tekanan sangat tinggi. Tekanan yang sangat tinggi ini dapat menyebabkan rekahan pada batuan reservoir. Dibutuhkan partikel tersuspensi untuk menutup rekahan ini. Partikel tersuspensi inilah yang dikenal sebagai "proppant". Bahan baku proppan salah satunya adalah sintered bauxite.
thumbnail

#PENGERTIAN LETAK GEOGRAFIS DAN ASTRONOMIS WILAYAH INDONESIA

Tulisan ini termotivasi saat Geologinesia bertemu dengan beberapa orang fresh graduate dan secara iseng bertanya mengenai letak geografis dan astronomis indonesia. Tetapi, hal yang sungguh mencengangkan terjadi, mereka pada dasarnya tidak mengetahui perbedaan letak geografis dan letak astronomis, semua jawaban yang dikeluarkan campur aduk mirip dengan batuan bancuh, sangat miris adanya. Terkadang hal-hal kecil kita abaikan dan menganggap tidak penting, padahal justru hal sepele tersebut sering menjadi batu sandungan ketika kita melakukan pekerjaan yang lebih besar. Well, mari kita mulai membahas mengenai Pengertian Letak Geografis dan Astronomis Wilayah Indonesia.

Baca juga: Inilah 24 Gurun Terluas dan Terbesar di Dunia

Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini adalah: letak indonesia, letak astronomis indonesia, geografis indonesia, letak astronomis, letak indonesia secara astronomis. Letak geografis, pengertian letak geografis, letak wilayah indonesia secara astronomis, letak wilayah indonesia, letak astronomis wilayah indonesia, letak geografis wilayah indonesia, letak geografis dan astronomis indonesia, astronomis.

Pengertian Letak Geografis

Letak geografis adalah posisi keberadaan sebuah wilayah berdasarkan letak dan bentuknya dimuka bumi. Letak geografis biasanya di batasi dengan berbagai fitur geografi yang ada di bumi dan nama daerah yang secara langsung bersebelahan dengan daerah tersebut. Fitur bumi yang dimaksud disini contohnya seperti benua, laut, gunung, samudera, gurun, dan lain sebagainya.

Robert Kaplan, seorang analist geopolitik dari amerika serikat menyebutkan bahwa letak geografis suatu wilayah (negara) secara luas akan menjadi determinan yang mempengaruhi berbagai peristiwa yang lebih daripada apa yang pernah terjadi sebelumnya. Disini jelas yang dimaksudkan adalah bahwa letak geografis sangat menentukan masa depan dari suatu negara dalam melakukan hubungan internasional.

Pengertian Letak Astronomis

Letak astronomis adalah letak suatu wilayah dilihat dari posisi garis bujur dan garis lintang. Garis bujur merupakan garis khayal/imajiner yang menghubungkan Kutub Selatan dan Kutub Utara bumi (secara vertikal). Garis bujur membagi bumi menjadi 2 bagian besar yaitu belahan bumi bagian Barat biasa disebut dengan Bujur Barat dan belahan bumi bagian Timur biasa disebut dengan Bujur Timur.

Konferensi Meridian Internasional (1884) menetapkan posisi nol derajat yang menjadi garis dasar pembagi Bujur Barat dan Bujur timur jatuh di Kota Greenwich, Inggris. Titik nol derajat yang berada di kota Greenwich inilah yang disebut dengan garis meridian utama universal (titik nol bujur) atau biasa disebut dengan istilah garis meridian. Selanjutnya, garis meridian (nol derajat bujur) ini ditetapkan sebagai titik awal perhitungan waktu internasional yang biasa kita kenal dengan istilah Greenwich Mean Time (GMT).

Baca juga: Struktur Lapisan Bumi

Berbeda dengan garis bujur, Garis lintang justru membagi bumi menjadi 2 bagian yang sama besar secara horizontal, yaitu bagian utara dan selatan. Ada beberapa garis lintang yang istimewa di bumi, seperti garis lintang 23½ derajat, 90 derajat, 66½ derajat, dan garis lintang 0 derajat.

Garis lintang 23½ derajat biasa disebut sebagai garis balik, garis lintang 90 derajat disebut titik kutub, garis lintang 66½ derajat disebut sebagai garis lingkaran kutub. Sedangkan garis lintang 0 derajat disebut sebagai garis Ekuator. Selain sebagai penentu letak astronomi suatu daerah, garis lintang juga sering digunakan untuk menandai perbedaan zona iklim di muka bumi.

Mari kita kembali pada fokus tulisan artikel ini yaitu mengenai letak geografis dan letak astronomis Wilayah Indonesia.

Letak Geografis Indonesia

Berdasarkan penjelasan diatas maka ditetapkan bahwa letak geografis indonesia adalah sebagai berikut:

1. Indonesia terletak diantara 2 benua yaitu Benua Australia dan Benua Asia. Benua Asia berada di sebelah Utara Indonesia dan Benua Australia berada di sebelah Selatan Indonesia. 
2. Indonesia terletak diantara 2 samudera, yaitu samudera pasifik dan samudera Hindia. Samudera pasifik berada disebelah Timur Indonesia dan Samudera Hindia berada di sebelah Barat Indonesia. 


Sobat Geologinesia jangan mudah dibingungkan dengan penjelasan dari artikel-artikel yang banyak beredar, yang menyebutkan secara panjang lebar mengenai letak geografis indonesia. Jika pertanyaan yang muncul hanya berupa "Jelaskan Letak Geografis Indonesia !!" maka jawaban yang tepat sasaran adalah seperti disebutkan diatas. Begitu juga jika muncul pertanyaan "Sebutkan Letak Astronomis Indonesia ?" maka jawabannya seperti dibawah ini.

letak geografis dan astronomis Indonesia
Gambar letak geografis dan astronomis Indonesia.

Letak Astronomis Indonesia

Sesuai dengan penjelasan mengenai letak astronomis diatas, maka ditetapkan bahwa letak astronomis indonesia adalah sebagai berikut:

1. Indonesia terletak pada 6 derajat Lintang Utara – 11 derajat Lintang Selatan 
2. Indonesia terletak pada 95 derajat Bujur Timur – 141 derajat Gujur Timur 

Dengan letak astronomis seperti diatas, apabila ditinjau dari garis lintang maka Indonesia termasuk ke dalam wilayah tropis. Wilayah tropis dibatasi oleh lintang 23,5° LU dan 23,5° LS. Sedangkan jika dilihat dari garis bujur, maka Indonesia dibagi menjadi 3 daerah waktu yaitu, Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia bagian Timur (WIT).

Perlu dipahami disini bahwa sebagai bentuk penjabaran yang lebih implisit dari letak geografis dan astronomis suatu wilayah/negara maka masing-masing wilayah/negara tersebut akan membuat batas wilayahnya yang dituangkan dalam sebuah undang-undang. Sebagai contoh di Indonesia ada UU Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara. Isi dari Undang-undang tersebut menjelaskan mengenai batas wilayah negara Indonesia baik di darat, laut maupun di udara.
thumbnail

#24 GURUN TERLUAS (TERBESAR) DI DUNIA

Apa itu Gurun?

Gurun adalah lanskap atau wilayah yang menerima sedikit curah hujan (kurang dari 250 mm per tahun). Sekitar 1/3 dari permukaan tanah yang ada di bumi ini adalah gurun. Ada empat jenis/tipe gurun berdasarkan kondisi geografisnya yaitu:  1) Gurun Kutub, 2) Gurun Subtropis, 3) Gurun Musim Dingin, dan 4) Gurun Pesisir.

Kebanyakan orang membayangkan bahwa permukaan gurun hanya ditutupi dengan pasir dan bukit pasir. Meskipun banyak gurun yang tertutup pasir, tetapi banyak juga gurun yang menampakan permukaan berbatu dan juga salju (es). Adanya kenampakan gurun yang berbatu disebabkan karena ukuran pasir atau partikel yang lebih kecil dipermukaan gurun sangat mudah terbawa oleh angin.


Pencarian lain yang berhubungan dengan artikel ini adalah: pengertian gurun, gurun terluas di dunia, nama gurun, gurun pasir terluas di dunia, dan gurun terbesar di dunia.

Pada umumnya gurun menerima sangat sedikit curah hujan. Sungai yang ada di gurun biasanya hanya ada setelah hujan terjadi (kecuali sungai tersebut sumber airnya dari luar gurun). Sungai yang masuk ke gurun, airnya akan cepat habis (hilang), sebagian hilang akibat penguapan, akibat transpirasi (diambil oleh tanaman dan kemudian dilepaskan ke atmosfer dari tanaman), dan sebagian lagi hilang akibat infiltrasi (air meresap ke tanah melalui bagian bawah saluran sungai).

Tumbuhan dan hewan yang hidup di gurun harus bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Tanaman harus sangat toleran terhadap sinar matahari yang intens dan tanpa curah hujan (air). Hewan harus mampu mentolerir suhu ekstrem dan memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dengan air yang sangat sedikit. Banyak hewan beradaptasi dengan cara berada dibawah tanah pada siang hari dan pada malam hari barulah mulai beraktifitas di permukaan.

Daftar Gurun Terluas di Dunia

Rekor gurun terluas di dunia saat ini dipegang oleh jenis gurun kutub yaitu Gurun Antartika dengan luas 5,5 juta mil persegi. Berikutnya di urutan kedua jatuh pada Gurun Arktik yang juga masih merupakan jenis gurun kutub. Berikut ini penjelasan 24 gurun terluas di dunia yang telah dirangkum oleh Geologinesia dari berbagai sumber.

24 gurun terluas di dunia
Gambar daftar gurun terluas di dunia.

1. Gurun Antartika

Tipe gurun : Gurun Kutub
Luas Wilayah : 5,5 juta mil persegi
Lokasi : Benua Antartika
Karakteristik gurun ini adalah memiliki dataran yang dingin dan basah di bagian permukaannya. Para ilmuwan menyebutkan bahwa ekosistim gurun Antartika memiliki keanekaragaman hewan beserta tumbuhan dengan berbagai macam spesies di dalamnya.

2. Gurun Arktik

Tipe gurun : Gurun Kutub
Luas Wilayah : 5,4 juta mil persegi
Lokasi : Alaska, Kanada, Greenland, Islandia, Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Russia Mirip dengan gurun Antartika yang memiliki karakteristik berupa dataran es, hanya saja gurun ini berada di wilayah yang berbeda yaitu pada Kutub Utara Bumi.

3. Gurun Sahara

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 3,5 juta mil persegi
Lokasi : Afrika Utara
Gurun ini berada di bagian utara Afrika, memiliki iklim panas yang sangat ekstrim. Gurun Sahara saat ini sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai gurunterluas dan terbesar di dunia (di luar kutub). rata-rata suhu di Gurun Sahara berada pada titik 30° Celcius. Akan tetapi pada musim panas, suhu di permukaannya bisa naik hingga 50° Celcius. Rekor suhu tertinggi yang pernah tercatat di gurun ini adalah sebesar 58° Celcius.

gurun sahara dan antartika
Gambar Gurun Sahara dan Gurun Antartika.

4. Gurun Arabia

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 1 juta mil persegi
Lokasi : Benua Asia (Semenanjung Arab)
Gurun Arabia atau biasa disebut dengan Semenanjung Arab merupakan sebuah gurun yang terdiri atas gurun an-Nafud dan Rub al-Khali. Dapat diperkirakan luas 1 juta mil persegi wilayah Arab Saudi dihuni oleh bukit pasir aktif yang bisa berpindah sewaktu-waktu karena tiupan angin.


5. Gurun Gobi

Tipe gurun : Gurun Musin Dingin
Luas Wilayah : 500 ribu mil persegi
Lokasi : Benua Asia (China dan Mongolia)
Dalam bahasa Tionghoa gurun ini disebut dengan Gebi, yang artinya wilayah yang sangat kering dan luas. Gurun Gobi merupakan gurun terluas dan terbesar di Benua Asia. Gurun Gobi merupakan saksi sejarah Kekaisaran Mongolia.

6. Gurun Patagonia

Tipe gurun : Gurun Musim Dingin
Luas Wilayah : 260 ribu mil persegi
Lokasi : Argentina (Benua Amerika)
Gurun Patagonia menjadi gurun terluas di Benua Amerika. Meskipun permukaannya agak tandus tetapi suhu rata-rata di gurun ini sangatlah rendah, sekitar 3° Celcius sampai dengan 12° Celcius. Di gurun ini, musim dingin terjadi selama 7 bulan dan sisanya 5 bulan merupakan musim panas.

7. Gurun Great Victoria

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 250 ribu mil persegi
Lokasi : Australia
Gurun Great Victoria merupakan gurun terluas di Benua Australia. Di wilayah gurun ini kita bisa menjumpai ekosistem gurun yang unik seperti sandhilll kecil, danau garam, dan dataran rumput yang luas. Great Victoria memiliki suhu di siang hari antara 32° sampai 40°C. Tetapi pada musim dingin permukaannya bisa bersuhu 18° sampai 23°C.

8. Gurun Kalahari

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 220 ribu mil persegi
Lokasi : Afrika Selatan, Botswana, Namibia (Benua Afrika)
Kalahari merupakan sebuah padang rumput yang amat luas dengan curah hujan antara 13 cm sampai 51 cm pertahunnya. Pada awalnya Kalahari merupakan cekungan yang terisi air dan pasir didalamnya. Seiring berjalannya waktu selama ribuan tahun, air tersebut akhirnya mengering, sehingga meninggalkan lapisan pasir yang berwarna merah. Di gurun ini kita masih bisa menjumpai berbagai jenis hewan dan tumbuhan purba yang sudah ada sejak 60 juta tahun yang lalu.


9. Gurun Great Basin

Tipe gurun : Gurun Musim Dingin
Luas Wilayah : 190 ribu mil persegi
Lokasi : Amerika Serikat
Great Basin merupakan sebuah gurun di dataran tinggi Amerika Serikat yang dibagian ujungnya berbatasan dengan negara meksiko. Akibat berada di perbatasan, tak jarang terjadi permasalahan antar kedua negara karena dipicu oleh pembagian batas wilayah.

10. Gurun Syrian

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 190 ribu mil persegi
Lokasi : Syria, Irak, Yordania, Arab Saudi (Benua Asia)
Gurun Syrian atau biasa disebut dengan Siro Arab merupakan kombinasi antara padang dengan gurun yang berada di sebelah utara semenanjung arab.

11. Gurun Chihuahuan

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 175 ribu mil persegi
Lokasi : Meksiko

12. Gurun Great Sandy

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 150 ribu mil persegi
Lokasi : Australia

13. Gurun Kara-Kum

Tipe gurun : Gurun Musim Dingin
Luas Wilayah : 135 ribu mil persegi
Lokasi : Uzbekistan, Turkmenistan

14. Gurun Colorado Plateau

Tipe gurun : Gurun Musim Dingin
Luas Wilayah : 130 ribu mil persegi
Lokasi : Amerika Serikat

15. Gurun Gibson

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 120 ribu mil persegi
Lokasi : Australia

16. Gurun Sonoran

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 120 ribu mil persegi
Lokasi : Amerika Serikat dan Meksiko

17. Gurun Kyzyl-Kum

Tipe gurun : Gurun Musim Dingin
Luas Wilayah : 115 ribu mil persegi
Lokasi : Uzbekistan, Turkmenistan, Kazakhstan

18. Gurun Taklamakan

Tipe gurun : Gurun Musim Dingin
Luas Wilayah : 105 ribu mil persegi
Lokasi : China

19. Gurun Iranian

Tipe gurun : Gurun Musim Dingin
Luas Wilayah : 100 ribu mil persegi
Lokasi : Iran

20. Gurun Thar

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 75 ribu mil persegi
Lokasi : India, Pakistan

21. Gurun Simpson

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 56 ribu mil persegi
Lokasi : Australia

22. Gurun Mojave

Tipe gurun : Gurun Subtropis
Luas Wilayah : 54 ribu mil persegi
Lokasi : Amerika Serikat

23. Gurun Atacama

Tipe gurun : Gurun Pesisir
Luas Wilayah : 54 ribu mil persegi
Lokasi : Chile

24. Gurun Namib

Tipe gurun : Gurun Pesisir
Luas Wilayah : 13 ribu mil persegi
Lokasi : Angola, Namibia, Afrika Selatan
thumbnail

Mengenal Stalagmit Sebagai Indikator Perubahan Iklim

Perubahan iklim merupakan terjadinya perubahan kondisi atmosfer, seperti suhu dan cuaca yang menyebabkan suatu kondisi yang tidak menentu. Suatu daerah mungkin akan mengalami pemanasan, tetapi daerah lain akan mengalami pendinginan yang tidak wajar. Dampak perubahan iklim ini dapat terlihat dari semakin banyaknya bencana alam yang terjadi, mulai dari banjir, puting beliung, semburan gas, hingga curah hujan yang tidak menentu dari tahun ke tahun.

Untuk mempelajari perubahan dan variasi iklim, perlu adanya kajian tentang iklim di masa lampau agar dapat diramalkan iklim di masa yang akan datang. Namun pada kebanyakan kasus, kondisi masa lalu tidak terekam pada data instrumen akan tetapi terekam dengan baik pada bentuk-bentuk rekaman lain yang disebut sebagai proxy indicator. Proxy ini mampu merekam sinyal-sinyal yang berhubungan dengan paleoclimate, sebagai contoh diantaranya adalah variasi pertumbuhan endapan gua berupa stalagmit, variasi lingkaran pohon (tree-ring), coral, gambut dan lain-lain. Untuk kesempatan kali ini, Geologinesia akan membahas bagaimana stalagmit dapat berguna sebagai data indikator perubahan iklim masa lampau.


Endapan gua atau Speleothems merupakan endapan yang terbentuk dari tetesan atau rembesan air tanah dari batuan induk atau host-rock, dimana air tersebut masuk ke dalam gua melalui atap atau dinding gua. Bentuk utama endapan gua terdiri dari tiga macam (Latham et al,1986) yaitu:
  1. Stalaktit, endapan yang tumbuh dari atap gua ke bawah berbentuk kerucut,
  2. Stalagmit, endapan yang tumbuh dari lantai gua atau batuan dasar ke atas berbentuk kerucut, 
  3. Flowstone, endapan yang tumbuh karena aliran halus air atau rembesan air pada dinding gua maupun pada lantai gua.

Proses transportasi mineral magnetik dalam gua juga dimungkinkan terjadi pada saat banjir, dimana mineral magnetik pada dasar gua terbawa oleh air yang meluap sehingga mineral magnetik menempel atau terperangkap pada bagian luar stalagmit (Latham et al., 2004). Disisi lain, terjadinya banjir juga dapat memungkinkan merusak pengendapan mineral magnetik sebelumnya pada lapisan luar yang baru mengendap.

Kenampakan stalagmit sebagai salah satu endapan gua.


Dalam penelitian Fadhilah (1999) terhadap stalagmit, menunjukkan bahwa mineral utama pembentuk stalagmit adalah kalsit (CaCo3). Kalsit tersebut terlarut dalam air tetesan maupun air rembesan. Disamping kalsit, endapan gua juga terbentu oleh mineral lain maupun zat organik yang seringkali memberi perbedaan warna pada lapisan-lapisan endapan gua (Moore and Sullivan, 1997).


Dalam Kajian yang berhubungan dengan iklim lampau atau paleoklimat, sampel speleothems memiliki kekhususan dalam hal rentang waktu dan ketersediaan data. Hal ini berbeda dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Yunginger (2006) yang menggunakan proxy data lingkaran tahun pohon (tree ring) yang memiliki resolusi tahunan, tetapi data yang dihasilkan hanya mencapai ratusan tahun. Sebaliknya speleothems memiliki keberagaman umur hingga rentang waktu yang cukup panjang dalam ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu tahun (Morinaga et al., 1985; Ellwood et al., 1998). Ketersediaan data yang cukup panjang dan kemungkinan adanya berbagai proxy data yang dapat diambil dari speleothems khususnya stalagmit tersebut akan berguna untuk kepentingan prediksi perubahan iklim mendatang.

Menurut Gently dan Quinif (1996), ketebalan lapisan stalagmit berkorelasi dengan besarnya curah hujan. Sedangkan menurut Latham et al. (1989), perubahan warna speleothems disebabkan oleh banjir pembawa detritus mineral magnetik dan kotoran lain. Hal ini menunjukkan bahwa mineral magnetik meningkat sehingga dapat diasumsikan bahwa warna yang lebih gelap pada lapisan stalagmit terendapkan pada kondisi iklim lebih basah dan sebaliknya warna terang terendapkan dalam kondisi iklim yang lebih kering.

Pertumbuhan stalagmit sangat bervariasi bergantung pada banyak faktor, salah satunya aliran (tetesan air), sehingga stalagmit mempunyai alur-alur berwarna seperti halnya lingkaran tahunan pada pohon. Pertumbuhan stalagmit dapat diamati pada alur-alur tersebut, sedangkan perbedaan warna juga menunjukkan adanya perubahan kandungan tanah yang terbawa pada aliran.

Pertumbuhan stalagmit untuk mencapai tinggi tertentu berlangsung dalam waktu yang sangat lama mencapai ratusan sampai ribuan tahun, dan di dalamnya terkandung banyak informasi yang berguna untuk kajian paleoklimat dan paleomagnetik. Pertumbuhan stalagmit tergantung dari banyaknya tetesan dan kandungan kalsit yan larut, sehingga mempunyai alur-alur seperti lingkaran tahunan pohon.

Dengan pertunbuhan yang terus menerus menyebabkan stalagmit mencapai suatu ketinggian tertentu, hal ini berlangsung dalam ratusan sampai ribuan tahun, (Sari Yulia, 2001 : 15). Pertumbuhan stalagmit secara kasar dapat diukur dengan menghitung laju pengendapannya, yaitu hasil bagi antara tinggi stalagmit dengan umur stalagmit tersebut, Kemudian dari laju pengendapan tersebut dapat diprediksikan pertumbuhan stalagmit, (Sari Yulia, 2001 : 6). Dengan demikian kajian paleoklimat yang menggunakan proxy data stalagmit dapat memudahkan kompilasi data yang nantinya kontribusi data tesebut akan berguna untuk kepentingan prediksi perubahan iklim mendatang atau modeling iklim masa depan.
thumbnail

Radiolaria, Si Kecil Penyebab Masalah Besar Pada Tektonik Bantimala

Radiolaria merupakan plankton atau makhluk renik (bisa binatang, bisa juga tumbuhan) yang hidup di air. Radiolaria adalah plankton yang disebut immotile atau tidak bisa bergerak sendiri, mereka berpindah kesana-kemari tergantung arus air yang membawanya. Radiolaria umumnya berukuran antara 50-100 µm (kisaran sehelai rambut manusia) dan diketahui sudah menjelajah lautan sejak 530 juta tahun yang lalu (zaman Kambrium).

Akibat rentang waktu yang sangat lama tersebut, radiolaria telah berevolusi dengan berbagai penampilan yang mengagumkan. Dengan menumpang di lantai samudra, radiolaria mengarungi belahan Bumi hingga terdampar di tepian benua. Fosil radiolaria dikenal sebagai penunjuk untuk mengenali lingkungan pengendapan laut dalam. Hal tersebut bukan berarti radiolaria hidup di laut dalam, tetapi cangkang radiolaria yang telah mati jatuh sampai ke dasar samudra.


Sesuai dengan judul postingan diatas, anda mungkin akan bertanya apa hubungannya radiolaria dengan tektonik bantimala?? dan mengapa sampai radiolaria yang notabennya sebagai makhluk renik mampu membawa perdebatan sengit dikalangan para ahli geologi tentang tektonik bantimala??. Jawabannya hanya 1, Radiolaria yang merupakan penyusun utama batuan rijang di bantimala (Rijang Radiolaria Bantimala) mengaburkan doktrin model stratigrafi lempeng samudera yang selama ini dianut oleh pakar-pakar geologi diseluruh dunia.

Mengacu kepada teori tektonik lempeng seharusnya rijang radiolaria menumpang di atas lava bantal, atau jika lava bantalnya tidak tersingkap, maka rijang ini biasanya menumpang di atas batuan ofiolit yang lain (seperti peridotit, gabro, atau diabas). Mengapa bisa begitu?, karena begitulah susunan batuan lempeng samudera, dibagian atas akan ada rijang radiolaria, yang biasanya berteman dengan batuan endapan laut dalam (seperti serpih silikaan atau batugamping merah), yang duduk di atas kerak dan mantel bagian atas di bawah samudra. Kerak dan mantel bagian atas mempunyai susunan berturut-turut dari atas ke bawah adalah sebagai berikut: lava basal membantal, retas intrusif diabas/dolerit, gabro berlapis, gabro kumulatif, dan paling bawah peridotit. Susunan seperti inilah yang biasa disebut dengan OPS (Oceanic Plate Stratigraphy). Susunan OPS tentu saja tidak harus selengkap itu, tetapi pastinya urutan stratigrafinya dibagian atas seharusnya dihuni oleh rijang radiolaria dan paling bawah dihuni oleh peridotit.

Lalu bagaimana dengan di Bantimala?, kita ketahui bersama bahwa stratigrafi bantimala disusun atas batuan-batuan yang berturut-turut umurnya adalah sebagai berikut: batupasir Jurassic Paremba, peridotit terserpentinisasi, ekologit dan sekis biru, breksi sekis, rijang radiolaria yang berselingan dengan batupasir asal benua. Jadi disini tidak ditemukan rijang radiolaria masif yang duduk di atas lava bantal.

rijang radiolaria bantimala
Radiolaria dan fitur tektonik Bantimala.

Di Bantimala, rijang radiolaria terlihat berselingan dengan batupasir asal tepi benua, dan di dalam batupasir tersebut terdapat pula rombakan-rombakan batuan metamorf (sekis mika). Bagaimana mungkin rijang yang lingkungan pengendapannya di laut dalam bisa terbentuk secara berlapis-lapis dengan perselingan batupasir yang relatif berbutir kasar (penciri lingkungan laut menengah-dangkal)??. Melalui tulisan ini Geologinesia mencoba memberikan opini yang dirangkum dari berbagai sumber, benar atau tidaknya tergantung anda yang menilainya. Diharapkan dengan lebih banyaknya penemuan fitur tektonik yang tersingkap di Bantimala akan lebih memberikan titik terang. Mari kita mulai !!.

Menurut teori tektonik lempeng, lempeng benua dan lempeng samudra adalah kulit-kulit Bumi yang bersifat mobile, saling bergerak relatif satu terhadap yang lain. Lempeng samudra berperan layaknya "conveyor" yang membawa rijang di atasnya dan bergerak menuju benua. Dalam perjalannya, biasanya ada penumpang baru yaitu partikel yang membentuk lapisan batulumpur (mudstone).

Kehadiran batulumpur di atas lapisan rijang sebagai pertanda sesaat lagi mereka akan sampai di tepi benua. Di atas batulumpur biasanya hinggap lapisan batupasir yang bahan-bahannya berasal dari tepi benua. Akan tetapi, ketika terjadi pertemuan lempeng samudra dan lempeng benua akan menyebabkan terjadi kekacauan karena menghasilkan dua kelompok batuan, yaitu batuan dari lempeng samudra dan lempeng benua yang saling mendorong dan berebut untuk saling bersalaman. Akibat perebutan tersebut terjadilah campur-aduk berbagai macam batuan sehingga terbentuklah apa yang dinamakan batuan bancuh (mélange) yang membingungkan kita, batuan mana berasal dari mana dan dari zaman yang mana.


Tidak ditemukannya rijang radiolaria masif di Bantimala yang duduk diatas lava bantal ataupun batuan kerak samudra mengindikasikan bahwa rijang yang ada di bantimala bukan merupakan rijang yang harusnya berada pada seri OPS, tetapi terbentuk sesudah terjadinya pertemuan antara lempeng samudra dan benua tadi. Hal ini dibuktikan dengan adanya batupasir Jurassic Paremba yang sudah bukan merupakan batuan pembentuk kerak samudra tetapi bisa berada di lapisan paling bawah pada tatanan Stratigrafi Bantimala.

Ditemukannya batuan peridotit dan batuan metamorf (eklogit & sekis biru) dengan protolith asal kerak samudera diatas batupasir Jurassic Paremba tersebut sebenarnya hanya mengindikasikan ciri kompleks batuan bancuh. Ini berarti bahwa ada 1 (satu) peristiwa tektonik lagi yang mengalih tempatkan batuan bancuh hingga bisa berada diatas batupasir Jurassic Paremba. Pengalih tempatan ini kemungkinan besar hingga ke bagian atas tepian benua yang ditendai dengan adanya perselingan rijang radiolaria dengan batupasir yang berbutir kasar.


Batupasir yang relatif berbutir kasar mengindikasikan lingkungan yang relatif menengah-dangkal. Pertanyaan lain yang akan muncul adalah bagaimana bisa radiolaria yang merupakan penunjuk lingkungan laut dalam dapat berada di laut menengah-dangkal?, bagaimana dengan teori Carbonate Compensation Depth (CCD) yang menyebutkan bahwa pada kedalaman antara 3000 hingga 4000 m terjadi laju pelarutan partikel bahan karbonat yang lebih cepat daripada laju pengendapannya??. CCD menjelaskann bahwa laju pelarutan karbonat akan lebih tinggi di laut dalam dibanding di laut dangkal karena tingkat tingkat konsentrasi CO2 di laut dalam jauh lebih besar. Kita ketahui bahwa CO2 mampu mengurai karbonat yang merupakan penyusun tubuh dari radiolaria. Jadi adakah kemungkinan terjadinya peningkatan konsentrasi CO2 di lingkungan laut bantimala (baik di laut dalam-dangkal) pada masa setelah pengalihtempatan batuan bancuh??. Disinilah tantangan para ahli untuk membuktikannya. Akhir kata, selamat kepada Radiolaria, si kecil yang membuat masalah besar. Salam.

Referensi: 1) Tulisan Awang H. Satyana (2014) "Rijang Radiolaria Bantimala", 2) Tulisan Munasri (Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI) "Plankton Radiolaria", 3) tatanan Tektonik Bantimala dari berbagai sumber.
thumbnail

Kontroversi Asal Batuan Ultramafik Ciletuh

Batuan Ultramafik di Ciletuh merupakan fenomena yang hingga saat ini masih sering menjadi perdebatan. Fitur Ciletuh dimana banyak juga terlihat batuan-batuan sedimen laut dalam, mantel atas Bumi, batuan metamorf yang dibentuk di palung subduksi lempeng, dan batuan lereng benua merupakan sumber data yang saling berkaitan erat untuk bisa menjelaskan bagaimana batuan ultramafik di Ciletuh dapat terbentuk. Sebelum kita membahas mengenai Ultramafik Ciletuh, ada baiknya kita merefresh kembali pengetahuan tentang pembentukan batuan ultramafik secara umum yang sudah banyak dijelaskan oleh para ahli baik dalam bentuk buku, journal, paper, dan lain sebagainya.


Pembentukan Batuan Ultramafik

Batuan ultramafik umumnya dibagi menjadi tiga kelompok, yakni: (a) yang berhubungan dengan intrusi berlapis seperti kompleks Bushveld dan Stillwater, (b) peridotites Alpine; dan (c) tubuh ultramafik zoned (ditandai dengan lingkaran) Alaska. Istilah peridotit Alpine atau serpentinit awalnya diterapkan untuk tubuh ultramafik yang dibatasi sesar yang terletak dalam geosynclinal terlipat, sedimen dalam jalur orogen.

Penggunaan istilah ini telah diperluas mencakup tubuh ultramafik selain dari jenis (a) dan (c) diatas. Dengan demikian kelompok ini termasuk dalam tubuh mulai dari keratan sesar serpentinit hingga massa besar peridotit tak terubah; sebagian besar terdapat di jalur orogen, tetapi tidak selalu terkait dengan sedimen geosynclinal terlipat, dan banyak yang berkaitan erat dengan gabro, diorit kuarsa, dan basalt. Peridotit Alpen mencakup jenis mantel primer (lherzolite alumina atau pyrolite) dan mantel refaktori (dunit-harzburgit).

Asal batuan mafik dan asosiasi ultramafik telah menjadi subyek banyak spekulasi. Beberapa penulis telah mengusulkan bahwa batuan ini merupakan bagian ofiolit, kompleks pluton, atau terranes melange (Misra dan Keller, 1978; McElhaney & McSween, 1983; Abbott dan Raymond, 1984; Hatcher, dkk., 1984; Misra dan McSween, 1984). Shaw & Wasserburg (1984), menggunakan data isotop, menunjukkan bahwa beberapa tubuh dunit besar dan asosiasi kompleks mafik, seperti Young Harris thrust sheet, mempunyai tanda mantel terdeplesi dan boleh jadi merupakan fragmen dari kerak samudera.

Terjadinya batuan ultramafik padat, peridotit, penyusun utama mantel bumi, di permukaan benua membutuhkan mobilitas vertikal yang signifikan. Hal demikian tidak mengherankan bahwa di jalur orogen dimana benua bertabrakan dan gerakan tektonik besar terjadi keterdapatan sebagian besar peridotites relatif jarang.

Batuan metamorf tekanan tinggi terbaik yang merekam gerakan vertikal yang terlibat dalam orogenesis adalah eklogit dan sekis biru yang sebagian besar terdiri dari batuan asal permukaan, sehingga menyiratkan siklus tektonik pembebanan dan ekshumasi. Segmen orogen dimana tekanan tinggi dan penyusun ultramafik terjadi berdekatan, maka merupakan daerah kunci dalam menjawab pertanyaan mendasar mengenai "bagaimana batuan asal mantel menyatu dengan sikuen batuan permukaan subduksi-ekshumasil?".

Jawaban yang kurang lengkap untuk teka-teki perpindahan batuan ultramafik ke dalam kerak ditentukan oleh kerabat ofiolit yang kadang-kadang mewakili bagian lempeng samudera yang terdestruksi lepas di zona subduksi, dan diangkut ke atas foreland benua yang berdekatan. Berdasarkan tatanan tektoniknya dua jenis utama ophiolites dapat dibedakan (Moores 1982; Coleman 1984; Wakabayashi & Dilek 2003), yaitu:
  1. Ofiolit yang terdapat sebagai thrust sheets tebal yang ber-baring pada lapisan dasar/substrat pasif marjin dan umumnya terkait dengan aureoles metamorf suhu tinggi pada alasnya (misalnya ofiolit Semail, Oman, ofiolit Pindos, Yunani).
  2. Tubuh ofiolit yang terdapat sebagai blok-blok dalam tektonik melange blueschist sebagai bagian prisma akresi (misalnya melange Fransiskan).

Perbedaan dalam cara terjadinya dan konteks tektonik dari kedua jenis tersebut diatas, mencerminkan asal dan cara alih-tempatnya, yaitu: ofiolit jenis Tethyan dibentuk oleh thrusting lempeng litosfer samudera ke atas tepi benua pasif; sedangkan kenaikan bagian kerak (upheaval) dari fragmen samudera dalam prisma akresi Margin aktif menghasilkan ofiolit jenis Cordilleran.

Baca juga: Apa itu Ofiolit ??

Kontroversi Batuan Ultramafik Ciletuh

Keterdapatan batuan ultramafik (peridotit dan serpentinit) di daerah Ciletuh masih merupakan subjek perbedaan pendapat di antara peneliti-peneliti sebelumnya. Sukamto (1975) menafsirkannya sebagai batuan terobosan, sedangkan Thayyib dkk., (1977) memasukkannya sebagai Ophiolite group, atau dinamakan sebagai ophiolitic assemblage oleh Schiller, dkk., (1991) atau ophiolitic rocks menurut Garrard dkk., (1990) yang berhubungan dengan sedimen bancuh. Noeradi (1977), menafsirkan semua batuan ultramafik tersebut sebagai fragmen atau bongkah-bongkah eksotik dalam Formasi Ciletuh.

Batuan Ultramafik Ciletuh
Model tektonik Ciletuh.

Massa batuan ultramafik di daerah Ciletuh tersingkap dalam singkapan tersebar, serperti kantong-kantong (enclaves), dalam Formasi Ciletuh, dengan kecenderungan berarah timur laut ± barat-daya, yang memberikan kesan seperti tubuh intrusi (Sukamto, 1975), ataupun sebagai bongkah-bongkah eksotik dalam Formasi Ciletuh (Noeradi, 1997).

Batuannya terdiri dari peridotit dan serpentinit, yang berasosiasi dengan gabro, basalt berstruktur bantal. Asosiasi peridotit-serpentinit ini dengan gabro, basalt berstruktur bantal, memberikan kesan yang menunjukkan bahwa batuan tersebut dapat mewakili bagian himpunan ofiolit (Thayyib dkk., 1977; Schiller, dkk., 1991; Garrard dkk.,1990).


Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka diduga asal keberadaan tubuh batuan ultramafik dalam Komplek Ofiolit Ciletuh dispekulasikan merupakan relics sheet bersinambung kerak samudera yang emplaced di atas mikrokontinen. Bagian sheet menjadi tidak lengkap (dismembered) selama emplacement, dan selanjutnya tertimbun (burial) oleh peristiwa geologi berikutnya (mungkin proses sedimentasi yang menghasilkan Formasi Ciletuh) yang sebagian besar menyembunyikan menutupi ofiolitik, dan hanya menyisakan tubuh ultramafik tersebar di sebagian besar daerah Ciletuh Jawa Barat.

Spekulasi dugaan asal keberadaan tubuh batuan ultramafik dalam Komplek Ofiolit Ciletuh ini tidaklah baru, karena sebelumnya Parkinson (1998); beranggapan bahwa Komples Ciletuh Pra-Tersier merupakan himpunan batuan mengandung interthrust slices ultramafik terserpentinisasi dengan sebagaian retas gabro teramfibolitkan, basalt berstruktur bantal, breksi volkanik, hialoklastit dan batupasir greywacke.
thumbnail

Tremor Vulkanik: Getaran Lemah Penanda Bencana Besar

Tremor merujuk kepada istilah getaran akibat adanya gerakan dibawah permukaan bumi yang tidak bergerak secara mendadak, atau dengan kata lain bergerak sedikit demi sedikit. Gerakan yang sedikit demi sedikit ini walaupun tidak harus menyebabkan gempa namun dapat menyebabkan bumi tergetar. Muncul pertanyaan, apa bedanya tremor dengan gempa??.


Sebenarnya, gempa dan tremor dapat lebih mudah dilihat pada rekaman seismograf. Getaran tremor berupa getaran yang terus menerus, tidak dijumpai dimana awal getarannya secara jelas. Sedangkan getaran gempa berupa getaran yang besar, mendadak, dan sangat mengejutkan.

Perlu dipahami disini bahwa istilah tremor bukan hanya mengacu kepada peristiwa tektonik saja tetapi juga pada hal-hal yang berkaitan dengan vulkanisme yang biasa kita sebut dengan tremor vulkanik. Pada tulisan kali ini geologinesia.com akan lebih dahulu fokus terhadap tremor vulkanik, untuk tremor akibat tektonik akan dibahas pada kesempatan berikutnya.

tremor vulkanik dan tektonik
Contoh model tremor aktivitas vulkanik dan tektonik.

Tremor pada peristiwa vulkanisme mengindikasikan adanya suatu gerakan dalam sebuah sistem tubuh vulkanik (biasanya gunungapi) akibat mobilitas magma. Tremor vulkanik merupakan gelombang seismik yang biasa teramati di dekat gunungapi aktif. Berdasarkan kenampakan bentuk gelombangnya, tremor vulkanik biasanya dibagi menjadi dua yaitu tremor harmonik dengan kenampakan yang teratur dan tremor spasmodik dengan kenampakan yang tidak teratur.

Penelitian mengenai tremor vulkanik biasanya terkait dengan kakakteristik dan mekanisme sumbernya. Beberapa penelitian mengenai mekanisme sumber tremor vulkanik antara lain; tremor vulkanik yang diduga merupakan hasil resonansi gas didalam pipa konduit, proses non linier didalam saluran magma berbentuk silinder yang diduga dihasilkan oleh aliran magma yang mempunyai dua fase fluida yaitu fase gas dan fase cair.

Biasanya, mekanisme terjadinya tremor vulkanik belum bisa diterangkan secara jelas walaupun berasal dari gunung yang sama. Apabila suatu tremor merupakan hasil dari suatu getaran akibat aliran fluida magma tidak steady pada kantong magma yang dapat dianggap sebagai suatu sistem dinamik yang kaotik, maka analisis frekuensi tidak cukup untuk membedakan karakteristik tremor vulkanik tersebut.


Salah satu cara untuk membedakan karakteristik tremor vulkanik adalah dengan melakukan analisis non linier. Analisis non linier untuk sinyal seismik yang berasal dari gunungapi merupakan cara analisis baru dan telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya antara lain pada data tremor vulkanik gunung Sangay di Ekuador dan pada data dari gunung Semeru di Indonesia.
thumbnail

Pengertian, Unsur-unsur, dan Jenis-jenis Iklim di Indonesia

Pengertian Iklim

Studi tentang iklim mencakup kajian tentang fenomena fisik lapisan atmosfer sebagai hasil interaksi proses-proses fisika dan kimiafisik yang terjadi di udara (atmosfer) dengan permukaan bumi. Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu, dalam skala waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian, musiman, tahunan maupun siklus beberapa tahunan.


Secara umum iklim didefinisikan sebagai keragaman keadaan fisik atmosfer. Sistem iklim dalam hubungannya dengan perubahan iklim menurut United Nation Framework Convention on Climate Change adalah totalitas atmosfer, hidrosfer, biosfer dan geosfer dengan interaksinya. Iklim berkaitan dengan atmosfer dalam jangka waktu panjang dan meliputi wilayah yang luas (Trewartha dan Horn, 1995).

Iklim juga dapat didefinisikan sebagai : 1) Sintesis kejadian cuaca selama kurun waktu yang panjang, yang secara statistik cukup dapat dipakai untuk menunjukkan nilai statistik yang berbeda dengan keadaan pada setiap saatnya (World Climate Conference, 1979). 2) Peluang statistik berbagai keadaan atmosfer, antara lain suhu, tekanan, angin kelembaban, yang terjadi di suatu daerah selama kurun waktu yang panjang (Gibbs, 1978).

unsur-unsur dan jenis iklim di Indonesia
Ilustrasi jenis dan unsur-unsur iklim.

Unsur-unsur Iklim

Iklim terdiri dari beberapa unsur, yaitu: radiasi, suhu, kelembaban, tekanan, angin, presipitasi dan sebagainya. Dalam tinjauan secara garis besar iklim dapat diwakili oleh suhu (temperatur) dan curah hujan (presipitasi).

Suhu (temperatur) adalah suatu keadaan panas atau dinginnya udara yang mempunyai sifat menyebar dan berbeda-beda pada suatu daerah tertentu. Persebarannya yang secara horizontal menunjukkan suhu udara tertinggi terdapat di suatu daerah tropis garis ekuator (garis khayal ini yang membagi bumi menjadi bagian utara dan selatan) dan semakin ke arah kutub suhu udaranya akan semakin dingin. Sedangkan persebaran secara vertikal menunjukkan, semakin tinggi tempatnya, maka suhu udara akan semakin dingin.


Sedangkan hujan merupakan peristiwa alam yang ditandai dengan jatuhnya titik-titik air ke permukaan bumi. Besarnya hujan (Curah hujan) didefinisikan sebagai ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) millimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

Keragaman dan Jenis-jenis Iklim di Indonesia

Menurut Hidayati (2001) keragaman iklim dapat dibagi menjadi: 1) Keragaman menurut tempat, yaitu ditentukan letak lintang/jauh-dekat dari peredaran matahari, ketinggian tempat, sebaran daratan dan lautan serta arah angin utama. 2) Keragaman menurut waktu, terutama ditentukan oleh peredaran bumi mengelilingi sumbunya dan bumi mengelilingi matahari. Keadaan iklim di Indonesia dipengaruhi oleh tiga jenis iklim, yaitu iklim musim, iklim laut, dan iklim panas. Penjelasan ketiga jenis iklim tersebut adalah seperti berikut:

1. Iklim musim, dipengaruhi oleh angin musim yang berubah-ubah setiap periode waktu tertentu. Biasanya satu periode perubahan adalah enam bulan. 
2. Iklim laut, terjadi karena Indonesia memiliki wilayah laut yang luas sehingga banyak menimbulkan penguapan dan akhirnya mengakibatkan terjadinya hujan. 
3. Iklim panas, terjadi karena Indonesia berada di daerah tropis. Suhu yang tinggi mengakibatkan penguapan yang tinggi dan berpotensi untuk terjadinya hujan.

Ketiga jenis iklim tersebut berdampak pada tingginya curah hujan di Indonesia. Curah hujan di Indonesia bervariasi antarwilayah, tetapi umumnya sekitar 2.500 mm/tahun Umumnya musim hujan terjadi antara bulan Oktober hingga April dan musim kemarau terjadi pada bulan April hingga Oktober.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Hidayati (2001), di Indonesia penerimaan curah hujan bulanan dapat dipisahkan menjadi tiga pola yang berbeda, yaitu:
1. Sebagian besar wilayah Indonesia penerimaan musim penghujan dan musim kemarau berbeda nyata, pola ini disebut pola monsunal.
2. Sebagian wilayah equator musim kering tidak nyata. Puncak musim hujan terjadi dua kali sekitar bulan Desember pada saat matahari berada paling selatan dan pada bulan Juni saat matahari paling utara, tipe ini disebut tipe equatorial.
3. Sebagian wilayah bagian utara hujan terjadi pada saat wilayah A dan B mengalami musim kemarau, tipe ini disebut tipe lokal.


Walaupun angka curah hujan bervariasi antarwilyah di Indonesia, tetapi pada umumnya curah hujan tergolong besar. Kondisi curah hujan yang besar ditunjang dengan penyinaran matahari yang cukup membuat Indonesia sangat cocok untuk kegiatan pertanian sehingga mampu memenuhi kebutuhan penduduk akan pangan.
thumbnail

Mengenal Batuan Ultramafik dan Perbedaannya dengan Utrabasa

Jika anda telah mengenal berbagai jenis bahan tambang seperti nikel, kromit, intan, bijih besi, pasir besi, dan lain sebagainya, maka keberadaan batuan ultramafik sangatlah penting karena berperan menghasilkan bijih-bijih tersebut. Dalam hal ini, batuan ultramafik akan sering bertindak sebagai batuan sumber (source rocks) dari bijih-bijih tersebut. Selain itu, batuan ultramafik telah mendapat banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir, karena beberapa darinya dianggap mewakili sampel mantel yang biasanya tidak dapat diakses.

Batuan ultramafik dicirikan dengan kandungan olivin magnesian (Mg2SiO4) tinggi dan SiO2 yang rendah (kurang dari 45 wt.%) dan ditemukan di berbagai lingkungan batuan beku di seluruh dunia. Kebanyakan batuan ultramafik mempunyai karakteristik baik sebagai batuan beku plutonik maupun batuan metamorf, dan batuan yang ditemukan di kerak mencakup jenis batuan beku dan metamorf, sedangkan yang dari mantel hanya mencakup batuan metamorf. Batuan ultramafik yang tersingkap di permukaan bumi sebenarnya hanya sedikit, dan sangat terekristalisasi/terserpentinisasi selama emplacement tektonik atau pengangkatan.


Istilah "ultramafik" dan "ultrabasa" masing-masing berhubungan secara klasifikasi mineralogi dan kimia batuan, tetapi keduanya digunakan agak longgar. Batuan ultramafik didefinisikan sebagai batuan dengan indeks warna lebih dari 70, dan batuan ultrabasa mengandung SiO2 kurang dari 45 persen (Williams et al. 1954).

Kebanyakan batuan ultramafik adalah batuan ultrabasa dan sebagian besar batuan ultrabasa juga ultramafik, tetapi ada pengecualian; jika ada magma ultrabasa (penggunaan komposisi), maka batuannya bisa tidak ultramafik (penggunaan mineralogi). Oleh karena itu, kedua istilah ini memiliki kegunaan spesifik dan harus dipertahankan.

perbedaan ultramafik dan ultrabasa
Komposisi kimia batuan ultramafik.

Sebagian besar batuan ultramafik awalnya peridotit, terbentuk di mantel atas, dan kemudian terubah menjadi serpentinit, secara sempurna ataupun sebagian, oleh fluida kerak selama perjalanannya ke posisi tektoniknya saat ini. Batuan ultramafik di bagian kerak bumi yang tampak, khas terdapat dalam tubuh relatif kecil di jalur sempit orogen sedang hingga kuat. Singkapan batuan ultramafik dapat menempati ratusan kilometer persegi atau kira-kira sekecil sampel setangan yang tergabung ke dalam zona sesar.


Contoh umum batuan ultramafik adalah peridotite dan pyroxenite dari kompleks alpine, berlapis; komatites dan basalt ultramafik dari sikuen Greenstone. Batuan ultramafik, mulai dari komposisi dunit sampai harzburgit hingga lherzolite, cenderung menunjukkan cumulate, tectonite (Raymond, 2002) maupun penggantian tekstur (Kubo, 2002).

Batuan ultramafik (terutama peridotit dan serpentinit) terdistribusi di seluruh dunia (Goff & Lackner 1998), yang paling sangat besar dan tersebar luas adalah peridotites Alpine yang membentuk alas sikuen ofiolit, yaitu lempeng kerak samudera terangkat dan tererosi sepanjang zona subduksi sekarang dan masa lalu, dan batas lempeng (Coleman 1977). Peridotit alas mewakili keratan (slices) mantel atas Bumi yang terlepas yang tersingkap oleh proses tektonik (Dickinson dkk. 1996).

Karena peridotit alas terjadi sebagian besar di sepanjang lempeng atas zona subduksi sekarang dan masa lalu, ofiolit ditemukan sebagai jalur di sebagian besar dunia, mempunyai dimensi singkapan terputus-putus maksimum 100 x 1000 km. Dilihat dalam skala singkapan ternyata batuan ultramafik alas di sabuk ofiolit ditemukan sebagai pita-pita memanjang dan fragmen-fragmen yang sejajar dengan struktur geologi regional.


Proses tektonik yang menjadikan ofiolit dan singkapan fragmen-fargmen memanjang mantel peridotit atas sangatlah kompleks dan biasanya memerlukan waktu beberapa juta tahun untuk mencapainya (Coleman 1977). Dengan menggunakan teori tektonik lempeng, proses ini relatif mudah untuk memvisualisasikan secara umum, tetapi boleh jadi sulit untuk memvisualisasikan saat memeriksa tubuh ultramafik di lapangan. Namun, fitur lain dari ultramafik seperti umur dan lokasi murninya di bagian ofiolit (tectonites vs cumulates) sebenarnya belum terpahami dengan baik.
thumbnail

Dasar Hukum Pengelolaan Mineral Radioaktif Di Indonesia

Berdasarkan Undang-Undang RI No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, pasal 34 ayat 1 menyebutkan bahwa "Usaha pertambangan dikelompokkan atas Pertambangan Mineral dan Pertambangan Batubara". Selanjutnya pada ayat 2 disebutkan bahwa Pertambangan Mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digolongkan atas:
  1. Pertambangan mineral Radioaktif
  2. Pertambangan mineral logam
  3. Pertambangan mineral bukan logam, dan
  4. Pertambangan batuan

Mari kita fokus pada point 1, yaitu "Pertambangan mineral Radioaktif". Menurut Undang-undang No.4 tahun 2009 tersebut, pada Pasal 50 menyebutkan bahwa "Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) Mineral Radioaktif ditetapkan oleh pemerintah dan pengusahaannya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan".


Pada Pasal 51 "WIUP mineral logam diberikan kepada Badan Usaha, Koperasi, dan Perseorangan secara lelang". Penjelasannya: "Pertambangan Mineral Logam dalam ketentuan ini termasuk mineral ikutannya".

Pada Pasal 52 ayat (2) "Pada wilayah yang telah diberikan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi Mineral logam dapat diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda". Penjelasannya: "Apabila  dalam  WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara vertical maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut".

UU pertambangan mineral dan batubara
Ilustrasi Undang-Undang RI No.4 Tahun 2009.

Pada Pasal 74 ayat (1) "Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) diberikan oleh Menteri dengan memperhatikan kepentingan daerah". Penjelasannya: "Yang dimaksud dengan memperhatikan kepentingan daerah adalah dalam rangka pemberdayaan daerah".

Pada Pasal 74 ayat (2) "IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk 1(satu) jenis mineral logam atau batubara dalam 1 (satu) Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK)". Penjelasannya: "Pertambangan mineral logam dalam ketentuan ini termasuk mineral ikutannya".

Jadi berdasarkan kriteria dan peraturan perundang-undangan diatas, maka dalam mengusahakan mineral radioaktif dapat dilakukan oleh Badan Usaha, Koperasi dan Perseorangan (Pasal 38) dalam bentuk Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi (IUP Eksplorasi) atau Izin Usaha Pertambangan Eksploitasi (IUP Eksploitasi Produksi) dengan persyaratan minimal (pasal 39).


Dalam hal ini, sudah jelas bahwa mengelola pertambangan mineral Radioaktif dapat dilakukan melalui Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang diberikan oleh Menteri. IUPK tersebut diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral logam atau batubara yang berada didalam 1 (satu) Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK). Sehingga, jika kita hanya mengelola mineral ikutan/mineral Radioaktif saja maka dapat diberikan izin oleh Menteri yang berwenang.
loading...
loading...
loading...

Copyright © Geologinesia. Powered by Blogger