thumbnail

Konsep Dasar Proses Pengolahan Bijih

Proses pengolahan bijih bertujuan untuk mengatur ukuran partikel bijih, menghilangkan bagian-bagian yang tidak diinginkan, meningkatkan kualitas, kemurnian atau grade bahan yang diproduksi. Proses ini biasanya terdiri dari: penghancuran, penggilingan, pencucian, pelarutan, kristalisasi, penyaringan, pemilahan, pembuatan ukuran tertentu, sintering (penggunaan tekanan dan panas dibawah titik lebur untuk mengikat partikel-partikel logam), pellettizing (pembentukan partikel-partikel logam menjadi butiran-butiran kecil), kalsinasi untuk mengurangi kadar air dan/atau karbondioksida, roasting (pemanggangan), pemanasan, klorinasi untuk persiapan proses lindian, pengentalan secara gravitasi, pemisahan secara magnetis, pemisahan secara elektrostatik, flotasi (pengapungan), penukar ion, ekstraksi pelarut, elektrowining, presipitasi, amalgamasi dan heapleaching.


Proses pengolahan yang paling umum dilakukan adalah pemisahan secara gravitasi (digunakan untuk cadangan emas placer), penggilingan dan pengapungan (digunakan untuk bijih besi yang bersifat basa), pelindian (dengan menggunakan tangki atau heap leaching); pelindian timbunan (digunakan untuk bijih tembaga kadar rendah) dan pemisahan secara magnetis. Tipikal langkah-langkah pengolahan meliputi penggilingan, pencucian, penyaringan, pemilahan, penentuan ukuran, pemisahan secara magnetik, oksidasi bertekanan, pengapungan, pelindian, pengentalan secara gravitasi, dan penggumpalan (pelletizing, sintering, briquetting, ornodulizing).
Konsep Dasar Proses Pengolahan Bijih
Gambar contoh proses pengolahan bijih (bijih besi menjadi baja).

Proses pengolahan bijih menghasilkan partikel berukuran seragam, dengan menggunakan alat penghacur dan penggilingan.Tiga tahap penghacuran umumnya diperlukan untuk memperoleh ukuran yangdiingginkan. Hasil olahan bijih berbentuk lumpur yang kemudian dipompakan ke proses pengolahan lebih lanjut. Pemisahan magnetik digunakan untuk memisahkan bijih besi dari bahan yang memiliki daya magnetik lebih rendah. Ukuran partikel dan konsentrasi padatan menentukan jenis proses pemisahan magnetic yang akan digunakan.

Pengapungan (flotasi) menggunakan bahan kimia untuk mengikat kelompok senyawa mineral tertentu dengan gelembung udara untuk pengumpulan. Bahan kimia yang digunakan termasuk collectors, frothers, antifoams, activators, dan depressants (tergantung karakteristik bijih yang diolah). Bahan kimia ini dapat mengandung sulfur diioksida, asam sufat, senyawa sianida, cressol, tergantung pada karakteristik bijih yang ditambang.


Proses pemisahan gravitasi menggunakan perbedaan berat jenis mineral untuk meningkatkan konsentrasi bijih. Ukuran partikel merupakan faktor penting dalam proses pengolahan, sehingga ukuran tetap dijaga agar seragam dengan menggunakan saringan atau hydrocyclon. Tailing padat ditimbun di kolam penampungan tailing, airnya biasanya didaur ulang sebagai air proses pengolahan. Flokulan kimia seperti aluminium sulfat, kapur, besi, garam kalsium,dan kanji biasanya ditambahkan untuk meningkatkan efisiensi pemadatan.

Pelindian adalah proses untuk mengambil senyawa logam terlarut dari bijih dengan melarutkan secara selektif senyawa tersebut ke dalam suatu pelarut seperti air, asam sulfat dan asam klorida atau larutan sianida. Logam yang diingginkan kemudian diambil dari larutan tersebut dengan pengendapan kimiawi atau bahan kimia yang lain atau proses elektrokimia. Metode pelindian dapat berbentuk timbunan, heap atau tangki. Metode pelindian head, leaching banyak digunakan untuk pertambangan emas sedangkan pelindian dengan timbunan banyak digunakan untuk pertambangan tembaga. (Sumber Referensi: EPA/310-R-95-008, 1995. Pusat Pengembangan dan Penerapan AMDAL, 2001, Aspek Lingkungan dalam Amdal Bidang Pertambangan, Jakarta).
thumbnail

Teori Kekandasan Batuan (Pembentukan Rekahan)

Sebelum kita membahas mengenai Teori Kekandasan Batuan, dalam hal ini sebagai teori asal mula pembentukan rekahan pada batuan, diharapkan anda telah memahami pengertian dan jenis-jenis gaya-gaya geologi sebagai penyebab deformasi batuan. Ini sangatlah penting, karena Teori Kekandasan Batuan mengacu terhadap gaya tegasan seperti yang sudah saya jelaskan pada postingan sebelumnya. Selain itu pada tulisan dibawah ini diharapkan anda bisa memaksimalkan daya analisa dan imajinasi/khayalan anda pada suatu bidang 3Dimensi.

Baca juga : Gaya-gaya Geologi Penyebab Deformasi Batuan

Banyak teori–teori yang dikemukakan untuk menjelaskan terjadinya kekandasan pada bahan/batuan bila ia  mengalami suatu tegasan, terutama dalam hal pembentukan rekahan-rekahan gerus (shear fractures) dan hubungannya dengan besarnya sudut yang dibentuknya. Pada garis besarnya ada 2 (dua) gejala tegasan yang dapat terjadi di alam, yaitu berupa tarikan dan berupa tekanan. Dibawah kondisi suatu tarikan (tension), batuan akan patah melalui bidang-bidang patahan yang arahnya tegak lurus terhadap arah daripada tegasan (tensile stress). Bila suatu benda berada dalam keadaan ditekan, maka tiap  bidang, kecuali bidang yang tidak membentuk poros-poros tegasan, akan dipengaruhi oleh suatu tegasan normal dan tegasan geser (shearing stress).

Tegasan-tegasan geser secara teoritis besarnya akan maximum pada bidang-bidang yang membuat sudut 45 derajat dengan poros tegasan utama terbesar dan terkecil dan berpotongan pada poros menengah. Tetapi didalam kenyataannya sudut antara dua rekahan  geser itu besarnya kurang dari 90 derajat. Bila suatu  tegasan  tekanan (direct stress) dikenakan  terhadap suatu batuan, maka rekahan-rekahan geser akan terjadi dengan arah arah yang sejajar dengan 2 bidang dimana tegasan gesernya (shearing stress) bekerja paling maximum, dan pada saat yang sama tegasan normal yang paling kecil. Teoritisnya, bagaimana tegasan geser dapat mencapai maximum relatif terhadap tegasan normal bila bidang geser itu mempunyai kemiringan 45 derajat terhadap tekanan terbesar??.

Jawabannya adalah pergeseran pada bidang hanya mungkin terjadi bila tahanan dalamnya dapat dilampaui. Ini berarti bahwa patahan tidak akan terjadi pada bidang yang membuat sudut 45 derajat, tetapi pada suatu bidang yang terdapat perbandingan paling besar antara komponen geser (t), tahanan dalam, dan persenyawaan molekul (kekuatan bahan). Kalau kita perhatikan arah dari pada komponen normal (s) maka komponen ini akan berfungsi lebih meningkatkan ketahanan maupun kekuatan bahan. Oleh karena itu geseran akan lebih mudah terjadi pada bidang-bidang yang membuat sudut < 45 derajat dengan, karena pada keadaan tersebut tegasan normal akan menjadi lebih kecil.

Secara singkat teori kekandasan ini menjelaskan bahwa "kekandasan (rekahan) pada batuan akan terjadi bila tegasan geser telah melampaui kohesi dari suatu bahan/batuan ditambah dengan daya tahan pada bidang geser". Pada prinsipnya, tekanan pada batuan akan menghasilkan 3 (tiga) macam rekahan yaitu sheare plane (di alam disebut kekar gerus), extension fracture (di alam disebut kekar tarik), dan realese fracture. Pada sheare plane, batuan akan pecah-pecah melalui 2 (bidang) yang saling berpotongan dimana sudut yang kecil akan menghadap ke poros utama tegasan (P).
Pembentukan rekahan pada batuan
Gambar mekanisme tekanan pada batuan (P,Q,R).

Apabila tekanan menimbulkan gaya tegangan pada bidang-bidang tegak lurus pada arah tekanan, maka akan mengakibatkan bahan/batuan pecah-pecah (rupture) melalui bidang-bidang parallel pada P, pecahan inilah yang kita sebut “extension fracture” atau juga disebut "cleavage fracture". Di alam dapat disamakan dengan apa yang disebut “tension gashes” tetapi ini biasanya diisi oleh bahan-bahan dari magma dan membentuk "gash fracture"(Q), Sedangkan tekanan R tegak lurus dengan P, sehingga apabila tekanan P berkurang atau hilang sama sekali, maka  akan terbentuk bidang-bidang pecah yang arahnya tegak lurus pada P, inilah yang disebut “release fracture”. Semua Gejala-gejala diatas sangat penting dalam memberi informasi pada keterakan daripada batuan.
thumbnail

Deskripsi dan Kegunaan Mineral Feldspar

Pengertian Feldspar

Kata feldspar berasal dari dua kata dalam bahasa Swedia yaitu "feldt atau falt" yang berarti medan dan "spath" yang bermakna pecahan batuan dalam batuan granit (Deer dkk, 1966).  Pengertian "spar" lebih diperjelas lagi oleh Castle dan Gilson (1960) yang mengutip istilah "spat" dalam bahasa Jerman dan mengacu kepada setiap mineral transparan atau translusen berkarakter bidang belah.


Pada awalnya istilah "spar" digunakan untuk menamakan setiap mineral selain dari feldspar itu sendiri, seperti kepada barit, kalsit dan fluorit (Rogers dan Neal, 1975), sebagai contoh istilah barium feldspar. Dalam hal ini pengertian feldspar untuk keperluan komersial hanya mengacu kepada 3 mineral silikat yang mempunyai formula K3AlSi3O8 (ortoklas atau mikroklin), NaAlSi3O8 (albit) dan CaAl2Si2O8 (anortit). Dua yang terahir adalah mineral-mineral yang termasuk ke dalam kelompok plagioklas. Di alam ketiganya hampir tidak ditemukan dalam bentuk murni tetapi terdapat bersamaan secara melimpah.

Deskripsi dan Kegunaan Feldspar
Gambar mineral feldspar (K-feldspar).

Bagaimana Feldspar Terbentuk ?

Mineral pembentuk batuan dibedakan atas mineral mafik dan felsik; yang pertama mengacu kepada mineral-mineral feromagnesian berupa mineral-mineral silikat mengandung unsur besi (Fe) dan atau magnesium (Mg) sebagai unsur dominan. Mineral mafik dikelompokkan menjadi olivin, hipersten, augit, hornblende, dan biotit.  Warna mineral-mineral tersebut umumnya gelap (hijau gelap, coklat atau hitam).

Felsik (akronim dari feldspar - silika) digunakan untuk mineral-mineral silikat berwarna lebih terang seperti kuarsa, feldspar dan felspatoid.  Batuan yang mempunyai komposisi mineral mafik lebih dominan disebut batuan basa sebaliknya bila komposisi mineral felsik lebih abnyak di sebut batuan asam, sedangkan batuan dengan komposisi mineral mafik dan felsik seimbang digolongkan ke dalam batuan intermedier.

Terbentuk dari proses kristalisasi magma, feldspar biasanya berasosiasi dengan batuan granitis dan metamorfis, paling umum dijumpai pada korok pegmatis. Pegmatit yang mempunyai nilai komersial umumnya mempunyai bentuk seperti lensa dengan panjang bervariasi dari 0,3 sampai 1500 m. Karena terbentuk langsung dari proses kristalisasi magma, jenis feldspar ini disebut feldspar primer, berukuran kasar dan terdapat berasosiasi dengan kuarsa.  Kehadiran kuarsa ini bersifat pengotor yang harus dipisahkan pada saat pengolahan. Untuk keperluan komersial, feldspar primer harus mempunyai kadar alkali total (K2O + Na2O) lebih dari 10%.

Selain feldspar primer, terdapat pula jenis lain yang digolongkan ke dalam feldspar diagenetis dan aluvial. Kedua jenis feldspar di atas adalah feldspar sekunder. Yang pertama terbentuk karena proses diagenesis sedimen piroklastik halus asam yang terendapkan dalam lingkungan air lakustrin, yang berasosiasi dengan cekungan sedimen tersier, umumnya endapan bentonit atau zeoilit, feldspar diagenetis mempunyai kadar alkali total (K2O + Na2O) relatif rendah (5%). feldspar aluvial terjadi sebagai akibat rombakan batuan granit dan batuan asam lainnya. Kadar alkali total berkisar antara 5- 10%. Kedua jenis feldspar banyak terkandung mineral ikutan, seperti mika, hematit, tourmalin, garnet dan kuarsa (Hardjatmo dkk, 1992).

Deskripsi Mineralogi Feldspar

Sebagai mineral silikat pembentuk batuan, feldspar mempunyai kerangka struktur tektosilikat yang menunjukkan 4 (empat) atom oksigen dalam struktur tetrahedra SiO2 yang dipakai juga oleh struktur tetrahedra lainnya.  Kondisi ini menghasilkan kisi-kisi kristal seimbang terutama bila ada kation-kation lain yang masuk ke dalam struktur tersebut seperti penggantian silikon oleh aluminium.

Terlepas dari bentuk strukturnya, apakah triklin atau monoklin, feldspar secara kimiawi dibagi menjadi empat kelompok mineral yaitu kalium feldspar (rumus kimia: KAlSi3O8), natrium feldspar (Rumus Kimia: NaAlSi3O8), kalsium feldspar (Rumu kimia: CaAl2Si2O8) dan barium feldspar (Rumus Kimia: Ba Al2Si2O8). Sedangkan secara mineralogi feldspar dikelompokkan menjadi Plagioklas dan K-Feldspar. Plagioklas merupakan seri yang menerus suatu larutan padat tersusun dari variasi komposisi natrium feldspar dan kalsium feldspar. Kelompok feldspar mempunyai struktur kristal triklin, terdiri dari Na-plagioklas murni (albit, disingkat Ab) sampai Ca-plagioklas murni (anortit, disingkat An).

Mineral yang termasuk kelompok K-feldspar diklasifikasikan berdasarkan suhu kristalisasinya, mulai dari sanidin (suhu tinggi), ortoklas, mikroklin sampai adu-laria (suhu rendah).  Keempat mineral mempunyai rumus kimia sama yaitu KAlSi3O8 dan (terutama) ditemukan  pada batuan beku asam seperti granit dan sienit, selain itu ditemukan pula pada batuan metamorfosis dan hasil rework pada batuan sedimen.

Kegunaan dan Spesifikasi Feldspar

Keberadaan feldspar dalam kerak bumi cukup melimpah. Walaupun demikian untuk keperluan komersial dibutuhkan feldspar yang memiliki kandungan (K2O + Na2O) lebih dari 10%. Selain itu, material pengotor oksida besi, kuarsa, oksida titanium dan pengotor lain yang berasosiasi dengan feldspar diusahakan sesedikit mungkin.

feldspar dari alam setelah diolah dapat dimanfaatkan untuk batu gurinda dan  feldspar olahan untuk keperluan industri tertentu. Mineral ikutannya dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri lain sesuai spesifikasi yang ditentukan.  Industri keramik halus dan kaca/gelas merupakan dua industri yang paling banyak mengkonsumsi feldspar olahan, terutama yang memiliki kandungan K2O tinggi dan CaO rendah.

Sebagai industri yang banyak mengkonsumsi feldspar, industri keramik mensyaratkan beberapa hal untuk feldspar olahan agar bisa digunakan. Untuk pembuatan glasir dengan bahan feldspar, tergantung kelasnya yang mengharuskan memiliki kandungan oksida natrium dan besi dalam jumlah tertentu. Industri kaca/gelas, gelas amber dan kaca lembaran mempunyai spesifikasi tertentu pula yang harus dipenuhi agar produk yang dihasilkan sesuai dengan keinginan pasar.

Sebagai komponen batuan granit bersama kuarsa, mika dan mineral aksesori, keindahan mineral feldspar dimanfaatkan untuk batu hias (ornament stone).  Keindahan ini akan terlihat bila batuan granit tersebut telah dipotong dalam bentuk lembaran (slab) dan dipoles. Istilah bahwa feldspar adalah batuan adalah sesuatu yang salah kaprah.  feldspar berdiri sendiri dan material lain penyusun granit tetap berperan sebagai mineral, bukannya batuan. Masyarakat awam banyak yang tidak mengerti tentang ini.
thumbnail

Pemanfaatan dan Proses Terbentuknya Logam Nikel

Apa itu Logam Nikel ?

Logam Nikel adalah logam putih keperakan yang digunakan terutama untuk membuat stainless steel dan paduan lainnya yang lebih kuat dan lebih mampu menahan suhu ekstrim dan lingkungan korosif. Nikel pertama kali diidentifikasi sebagai elemen unik pada tahun 1751 oleh Baron Axel Fredrik Cronstedt, seorang mineralogist dan ahli kimia dari Swedia. Dia awalnya menyebut nikel sebagai "Elemen Kupfer" karena ditemukan di batu yang tampak seperti bijih tembaga (Kupfer). Penambang saat itu melihat elemen ini menjadi "momok" di pada batuan yang membawa tembaga,  mereka berpikir bahwa kehadiran elemen ini (nikel) membuat mereka sulit mengekstrak tembaga dari batuan asalnya.


Pemanfaatan Nikel

Sekitar 80 persen dari nikel primer (tidak didaur ulang) dikonsumsi di Amerika Serikat pada tahun 2011 digunakan dalam paduan, seperti "stainless steel" dan "superalloy". Karena nikel meningkatkan resistensi paduan untuk korosi dan kemampuannya untuk menahan suhu ekstrim, maka peralatan dan bagian yang terbuat dari paduan tersebut sering digunakan dalam lingkungan yang keras, seperti di pabrik kimia, kilang minyak bumi, mesin jet, fasilitas pembangkit listrik, dan instalasi lepas pantai, peralatan medis, peralatan masak, peralatan makan dan sering dibuat dari stainless steel karena mudah untuk membersihkan dan mensterilkan.

Hampir semua uang koin yang beredar terbuat dari paduan yang mengandung nikel. Paduan nikel semakin sering digunakan dalam pembuatan baterai isi ulang untuk komputer portabel, alat-alat listrik, dan kendaraan hybrid atau listrik. Nikel juga dapat digunakan sebagai pelapis barang-barang seperti perlengkapan kamar mandi untuk mengurangi korosi dan memberikan kesan menarik.
Pemanfaatan dan proses terbentuknya nikel
Gambar bijih nikel pada batuan (kiri) dan meteorit (kanan).

Proses Terbentuknya Nikel Sulfat dan Nikel Laterit

Nikel adalah unsur kelima yang paling melimpah di bumi, tetapi kebanyakan dari nikel terletak di inti bumi, lebih dari 1.800 mil di bawah permukaan. Dalam kerak bumi, dua jenis  deposit utama bijih memasok sebagian besar nikel yang digunakan saat ini: deposit nikel sulfat (seperti yang ditemukan di Norilsk, Rusia, Sudbury, Kanada, dan Kambalda, Australia) dan deposit laterit (termasuk yang ditemukan di Kuba, Kaledonia Baru, dan Indonesia).

Deposit nikel sulfat atau nikel sulfida mengandung sekitar 40 % sumberdaya nikel di dunia, dan saat ini menyumbang hampir setengah pasokan nikel global. Bijih nikel dapat berkembang jika magma yang mengandung jumlah rendah silika dan jumlah tinggi magnesium menjadi jenuh dalam sulfur, biasanya bereaksi melalui batu di kerak bumi. Cairan yang kaya belerang dapat terpisah dari magma; ion nikel, dan beberapa elemen lainnya bisa bergerak ke dalamnya. Karena cairan magma kaya belerang padat, maka cairan akan tenggelam dan terakumulasi di sepanjang dasar "magma chambers", intrusi, atau aliran lava, di mana mineral-mineral "nikel bearing sulfida" kemudian mengkristal. Nikel Sulfida sering mengandung kobalt, tembaga, atau logam platinum.

"Sudbury Igneous Complex" adalah sumber terkemuka bijih nikel di Kanada dan terbesar kedua endapan nikel sulfida di dunia. Kompleks ini unik karena terbentuk ketika bumi kemungkinan ditabrak komet, bumi ditabrak sekitar 1.850 juta tahun yang lalu. Bagian yang terdekat dari kerak bumi terkena dampak dan meleleh membentuk lapisan magma besar di kawah yang dihasilkan dari benturan tadi ; cairan "sulfida nikel bering" kemudian terkumpul sepanjang dasar lapisan magma dan kemudian mengkristal.

Deposit asal laterit atau biasa disebut nikel laterit merupakan penyumbang 60% dari sumber daya nikel di dunia. Nikel laterit terbentuk di lingkungan yang hangat, lembab, tropis atau subtropis ketika batuan beku dengan jumlah rendah silika dan jumlah tinggi magnesium dihancurkan oleh pelapukan kimia. Pelapukan ini menghilangkan beberapa komponen batu asli, menciptakan deposit sisa di mana unsur-unsur seperti nikel dapat terkonsentrasi.


Pasokan dan Permintaan Nikel Global

pada tahun 2011, Rusia adalah produsen utama bijih nikel, diikuti oleh Indonesia, Filipina, dan Kanada. Dari 2007 sampai 2010, Kanada memasok sekitar 38 % dari impor nikel, diikuti oleh Amerika Serikat. Dalam urutan jumlah impor, Rusia (17 %), Australia, Norwegia, dan negara-negara lainnya mengikut di belakang. Sebagian besar cadangan nikel dunia yang terkonsentrasi di Australia, Brasil, Kanada, Kuba, Kaledonia Baru, dan Rusia.

Untuk membantu memprediksi di mana pasokan nikel masa depan terletak, ilmuwan USGS mempelajari bagaimana dan dimana sumberdaya nikel terkonsentrasi. Dengan menggunakan ilmu pengetahuan kemungkinan bahwa deposit nikel yang belum ditemukan masih sangat besar. Teknik untuk menilai sumberdaya mineral telah dikembangkan oleh USGS untuk mendukung pengelolaan lahan dan mengevaluasi ketersediaan sumberdaya mineral dalam konteks global. USGS juga mengkompilasi statistik dan informasi tentang pasokan, permintaan, dan aliran nikel di seluruh dunia. (sumber referensi: USGS)
thumbnail

Geologi Pulau Waigeo Papua Barat

Menurut Supriatna, Hakim, dan Apandi (1995), bentuk Kepulauan Waigeo kurang lebih searah dengan struktur umum daerah itu yaitu barat – timur. Kenampakan itu ditandai oleh banyaknya kelurusan yang terdapat pada potret udara yang melingkup daerah itu. Dibagian tengah arah tersebut terpotong oleh arah barat laut – tenggara yang sejajar dengan bentuk Teluk Mayalibit. Di lapangan kelurusan tersebut berhubungan dengan bidang sesar naik dan sesar itu memindahkan batuan  ultramafik ke arah atas batuan sedimen pelagos berumur Jura.


Supriatna, Hakim dan Apandi (1995) dalam penelitiannya menyatakan bahwa batuan ultramafik di Pulau Waigeo dibentuk kurang lebih 148 juta tahun yang lalu atau berumur Jura. Sedangkan Simanjuntak, 1995 (dalam Gierge, 1998) menyatakan bahwa Formasi Batuan Ultramafik (Jum) ini merupakan produk dari pemekaran lantai samudera Atlantik (sea floor spreading) yang terbentuk selama proses pemisahan Papua dari Benua Australia (Perm – Trias) dan bergerak ke arah utara hingga menumbuk Lempeng Pasifik pada Miosen Akhir.
Peta Geologi Waigeo
Peta geologi waigeo (kompilasi).

Sejarah ketektonikan Pulau Waigeo diawali oleh pemekaran (spreading) Samudera Pasifik pada Akhir Jura. Pemekaran tersebut dibarengi oleh pembentukan laut dalam yang mengakumulasi endapan laut dalam Formasi Tanjung Bomas. Selama proses itu berlanjut banyak sesar geser terbentuk dan gejala itu mengakibatkan pelengseran yang selanjutnya membentuk endapan rombakan Formasi Lamlam.

Pada Akhir Kapur, Benua Australia bergerak ke utara dan membentuk busur kepulauan yang beralaskan batuan ofiolit hasil penunjaman supra. Kegiatan itu membentuk Formasi Rumai yang sebagian terbentuk di bawah permukaan air dan kegiatan itu mencapai puncaknya antara Eosen dan Miosen. Setelah busur kepulauan terbentuk.


Formasi Waigeo berkembang di sekitar kepulauan itu  mulai dari Miosen Awal hingga Miosen Akhir. Formasi ini terbentuk bersama-sama dengan yang membentuk gamping klastika Formasi Puri. Sedangkan Formasi Yeben yang mengandung fragmen kuarsa diduga berasal dari benua Australia di sebelah selatan. Pembentukan satuan itu diduga menyelingi pengendapan kawasan batugamping di barat daya kepulauan tersebut. Pengangkatan yang terjadi di pulau tersebut diikuti oleh pengikisan yang hasilnya membentuk endapan aluvium dan terumbu di beberapa tempat. (Referensi: S.Supriatna, et, all, 1995, Peta Geologi Lembar Waigeo, Badan Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung).
thumbnail

Jenis-jenis Sumber Data Spasial SIG

Sistem informasi Geografi (SIG/GIS) adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang tidak dapat berdiri sendiri. SIG Memiliki perangkat keras komputer beserta dengan perangkat lunaknya yang sudah pasti membutuhkan sumber data. Sebagaimana sistem komputer pada umumnya, SIG hanyalah sebuah ‘alat’ yang mempunyai kemampuan khusus.

Kemampuan sumberdaya manusia untuk mengolah sumber data, memformulasikan persoalan, dan menganalisa hasil akhir sangat berperan dalam keberhasilan sistem SIG. Sebagaimana telah kita ketahui, SIG membutuhkan masukan data yang bersifat spasial maupun deskriptif. Jenis-jenis sumber data spasial SIG antara lain adalah data sistem penginderaan jauh, peta analog, GPS dan hasil pengukuran lapangan.

Jenis sumber data spasial sig
Gambar citra satelit sebagai salah satu jenis data

Sumber Data dari Sistem Penginderaan Jauh

Data dari pengindraan jauh antara lain adalah citra satelit, foto-udara, dsb. Data Pengindraan Jauh dapat dikatakan sebagai sumber data yang terpenting bagi SIG karena ketersediaanya secara berkala. Dengan adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing, kita bisa menerima berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster.

Sumber Data dari Peta Analog

Data dari peta analog antara lain peta topografi, peta tanah, dsb. Peta analog adalah peta dalam bentuk cetakan. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, sehingga sudah mempunyai referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin, dsb. Peta analog dikonversi menjadi peta digital dengan berbagai cara yang akan dibahas pada postingan selanjutnya. Referensi spasial dari peta analog memberikan koordinat sebenarnya di permukaan bumi pada peta digital yang dihasilkan. Biasanya peta analog direpresentasikan dalam format vektor.


Sumber Data Dari GPS dan Hasil Pengukuran Lapangan

Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor. sedangkan contoh data hasil pengukuran lapang adalah data batas administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dsb., yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut. (Referensi: Atie Puntodewo,dkk,. 2003. Sistem Informasi Geografis Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam, Bogor, Indonesia).
thumbnail

Sejarah Pertambangan Timah Putih di Indonesia

Pertambangan Timah di Indonesia

Dalam sejarah peradaban manusia, timah putih merupakan salah satu logam yang dikenal dan digunakan paling awal. Timah digunakan sejak 3.500 tahun sebelum masehi untuk logam paduan. Sebagai logam murni digunakan sejak 600 tahun sebelum masehi. Sekitar 35 negara menghasilkan timah putih untuk memenuhi kebutuhan dunia (minerals.usgs dotgov).


Sejarah Pertambangan Timah Putih di Indonesia telah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu. Penggunaan timah putih untuk bahan uang koin oleh Kesultanan Palembang telah berlangsung lama, yaitu dengan diketemukannya koin uang logam timah putih dengan tertera tahun 1091 H. Uang koin ditemukan terbuat dari timah putih, tertulis Masruf fi Balad Palembang 1091 dan koin Sultan Fi Balad Palembang 1113. Koin ini dibuat pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Saidul Iman. Dijumpai beberapa seri koin, ada yang tertulis tahun 13, 113, dan 1113 dengan bentuk yang sama tapi berbeda cara penulisan tahun.

Jalur sebaran timah putih
Gambar Jalur sebaran timah putih

Sebagian besar uang koin Kesultanan Palembang terbuat dari timah putih. Hal ini karena bahan baku inilah yang banyak ditemukan di wilayah Kesultanan Palembang, yaitu Bangka dan Belitung. Koin terbuat dari timah lebih cepat rusak, mudah aus, dan patah (Muhibat, 2007). Pulau Bangka tidak begitu besar, dekat dengan Sumatera. Nama Bangka dikenal pada abad ke-7, ketika ditemukan prasasti Kotakapur di muara sungai Mendu, Bangka Barat. Prasasti ini adalah peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Pada prasasti tertulis kata Vanca, yang berarti timah. Kata inilah yang kemudian diyakini sebagai asal kata Bangka.

Pencarian lainnya yang terkait artikel ini adalah daerah penghasil timah, pertambangan timah di bangka belitung, pertambangan timah di indonesia, tambang timah di belitung, penambangan timah, tambang timah belitung, timah belitung, perusahaan timah di bangka, lokasi tambang timah, pengolahan timah, perusahaan timah, mineral timah, kegunaan timah, tambang timah di bangka belitung.

Daerah Penghasil Timah

Pulau yang terkenal menghasilkan timah terbesar di indonesia adalah Pulau Bangka. Berdasarkan temuan tersebut diatas, para ahli pertambangan meyakini di Pulau Bangka terdapat deposit timah dalam jumlah besar. Timah pertama kali ditemukan di Pulau Bangka pada sekitar tahun 1709 melalui penggalian di Sungai Olin di Kecamatan Toboali oleh orang-orang Johor, Malaysia. Sejak saat itu, maka Pulau Bangka mulai terkenal sebagai daerah penghasil timah putih (Muhibat, 2007).

Catatan lain menyebutkan pertambangan timah dimulai Kesultanan Palembang sejak tahun 1850 dan berlangsung dibawah Pemerintah Kolonial Belanda. Dimasa kolonial Belanda, pertambangan timah Bangka dikelola oleh badan usaha milik pemerintah bernama Banka Tin Winning Bedrijf (BTW); sementara di P. Belitung dan P. Singkep dilakukan oleh perusahaan swasta Belanda, masing-masing Gemeenschappelijke Mijnbow Maatschappij Biliton (GMB) dan NV. Singkep Tin Explitatie Maatschappij (NV.SITEM).

Setelah kemerdekaan Negara RI yaitu antara tahun 1953 - 1958, ketiga perusahaan di atas dinasionalisasikan menjadi tiga Perusahaan Negara terpisah. Pada tahun 1961 dibentuk Badan Pimpinan Umum Perusahaan Tambang-tambang Timah Negara (BPU PN Tambang Timah) untuk mengkoordinasikan ketiga perusahaan dimaksud dan pada tahun 1968 keempat perusahaan tersebut digabungkan menjadi satu perusahaan bernama Perusahaan Negara (PN) Tambang Timah (timah dotcom).

Pada tahun 1950an timah putih merupakan hasil pertambangan yang memberikan kontribusi kedua sesudah minyak bumi. Sebagian besar produksi timah putih Indonesia saat itu berasal dari Bangka, lainnya berasal dari Belitung dan Singkep. Keadaan di pasar dunia pada pertengahan tahun 1950an menunjukkan akan kebutuhan timah yang meningkat, sehingga memberikan sedikit dorongan ke arah perluasan pertambangan timah (Bappenas, 1955).

Perusahaan Timah di Indonesia

Pada tahun 1976, berdasarkan UndangUndang No.9 Tahun 1969 dan Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 1969; status PN.Tambang Timah dan Proyek Peleburan Timah Mentok diubah menjadi bentuk Perusahaan Perseroan (Persero) dengan kepemilikan seluruh saham oleh Negara Republik Indonesia, dan berubah nama menjadi PT Tambang Timah (Persero). Pada tahun 1995 status PT Timah menjadi PT Timah Tbk, dengan struktur kepemilikan 35% saham perusahaan dimiliki oleh masyarakat dalam dan luar negeri, dan 65% saham dimiliki oleh Negara Republik Indonesia.


Saat ini PT. Timah Tbk dikenal sebagai perusahaan penghasil logam timah terbesar di dunia dan sedang dalam proses pengembangan usaha diluar penambangan timah dengan tetap berpijak pada kompetensi yang dimiliki. Seiring bergulirnya era otonomi daerah dan semakin meningkatnya harga timah dipasaran dunia, maka kegiatan usaha pertambangan semakin marak. Hal ini berdampak terhadap wilayah usaha pertambangan timah PT Timah yang ketika restrukturisasi dilepas, maka oleh pelaku usaha pertambangan setempat kembali diusahakan. Bahkan sebagian telah ditambang kembali oleh masyarakat dengan cara semprot maupun dengan menggunakan alat sangat sederhana berupa saringan, dulang dan sekop.

Referensi:
Sabtanto Joko Suprapto, Kelompok Program Penelitian Konservasi-Pusat Sumber Daya Geologi).
thumbnail

Perkembangan Puskesmas dan Rumah Sakit di Indonesia

Menurut Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, sarana kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan  upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, kuratif, preventif maupun rehabilitasi yang dilakukan pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Sarana kesehatan dalam publikasi ini mencakup Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dan Rumah Sakit.


Perkembangan Puskesmas di Indonesia

Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehetan di wilayah kerjanya.  Puskesmas memiliki fungsi sebagai pusat pembangunan berwawasan kesehatan, pusat  pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer, dan pusat pelayanan kesehatan perorangan primer. Dalam menjalankan fungsinya puskesmas  berkewajiban memberikan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan.

Pada Gambar 1 dibawah memperlihatkan perkembangan puskesmas yang tercatat hingga akhir tahun 2014 adalah sebanyak 9.731 unit. Jumlah puskesmas ini mengalami peningkatan sebanyak 76 unit dibandingkan tahun 2013 yang berjumlah 9.665 unit.
Jumlah Puskesmas di Indonesia 2009-2014
Gambar 1. Jumlah Puskesmas di Indonesia, 2009-2014 (Sumber: Kemenkes, Profil Kesehatan Indonesia 2009-2013 dan Data dan Informasi Tahun 2014).

Salah satu indikator yang menggambarkan terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan fasilitas kesehatan adalah rasio puskesmas per 30.000 penduduk. Semakin besar rasio puskesmas per 30.000 penduduk, semakin baik kondisi fasilitas kesehatan di suatu daerah. Pada tahun 2014, besarnya rasio puskesmas per 30.000 penduduk adalah 1,08  artinya setiap 30.000 penduduk dilayani oleh 1 sampai 2 puskesmas (Gambar 2). Besarnya rasio  puskesmas per 30.000 penduduk selalu meningkat dari tahun 2009 hingga 2010 dan  sedikit menurun tahun 2014. Namun peningkatan maupun penurunannya tidak signifikan.
Rasio Puskesmas per 30.000 Penduduk di Indonesia 2009-2014
Gambar 2. Rasio Puskesmas per 30.000 Penduduk di Indonesia, 2009-2014 (Sumber: Kemenkes, Profil Kesehatan Indonesia 2009-2013 dan Data dan Informasi Tahun 2014).

Dalam pelayanan kesehatan secara medis, puskesmas dibagi menjadi dua kelompok yaitu  puskesmas rawat inap dan puskesmas non rawat inap. Puskesmas rawat inap adalah puskesmas yang melayani rawat jalan dan rawat inap, sedangkan puskesmas non rawat  inap hanya melayani rawat jalan. Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan  masyarakat di puskesmas, beberapa puskesmas non perawatan ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas perawatan (Kemenkes, 2014). Pada tahun 2014 jumlah puskesmas rawat  inap adalah 3.378 unit, naik sebesar 61 unit dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan puskesmas non rawat inap sebanyak 6.353 unit, naik sebesar 15 unit dibandingkan 2013.
Jumlah Puskesmas Rawat Inap dan Non Rawat Inap di Indonesia 2009-2014
Gambar 3. Jumlah Puskesmas Rawat Inap dan Non Rawat Inap di Indonesia, 2009-2014 (Sumber: Kemenkes, Profil Kesehatan Indonesia 2009-2013 dan Data dan Informasi Tahun 2014).


Perkembangan Rumah Sakit di Indonesia

Upaya kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif dapat diperoleh melalui rumah sakit yang juga berfungsi sebagai penyedia pelayanan kesehatan rujukan (Kemenkes, 2013). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 147/Menkes/PER/I/2010 tentang Perizinan Rumah Sakit mengelompokkan rumah sakit berdasarkan kepemilikan, yaitu rumah sakit publik dan rumah sakit privat. Rumah  sakit publik adalah rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah, pemerintahdaerah, dan badan  hukum yang bersifat nirlaba. Sedangkan rumah sakit privat adalah rumah sakit yang dikelola oleh badan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk perseroan terbatas atau perseroan.
Jumlah Rumah Sakit Menurut Pengelola RS di Indonesia, 2011-2014
Gambar 4. Jumlah Rumah Sakit Menurut Jenis Pengelola/Kepemilikan Rumah Sakit di Indonesia, 2011-2014 (Sumber: Kemenkes, Profil Kesehatan Indonesia 2009-2013 dan Data dan Informasi Tahun 2014).

Jumlah Rumah Sakit Umum dan Khusus di Indonesia, 2009-2014
Gambar 5. Jumlah Rumah Sakit Umum (RSU) dan Khusus di Indonesia, 2009-2014 (Sumber: Kemenkes, Profil Kesehatan Indonesia 2009-2013, Data dan Informasi Tahun 2014).

Pada tahun 2014 Perkembangan Rumah Sakit Umum (RSU) dan Rumah Sakit Khusus (RSK) masing-masing sebanyak 1.855 unit dan 553 unit RSU dan RSK masing-masing mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, sebanyak 130 unit RSU dan 50 unit RSK. Menurut jenisnya rumah sakit ibu dan anak merupakan jenis RSK terbanyak yaitu mencapai 159 unit, kemudian rumah sakit bersalin sebanyak 99 unit, rumah sakit jiwa sebanyak 51 unit, rumah sakit kusta sebanyak 18 unit, rumah sakit mata sebanyak 15 unit, rumah sakit TB Paru sebanyak 11 unit, dan RSK lainnya sebanyak 150 unit (Gambar 4 ).
Jumlah Rumah Sakit Khusus di Indonesia, 2009-2013
Gambar 6. Jumlah Rumah Sakit Khusus Menurut Jenis Rumah Sakit di Indonesia, 2009-2013 (Sumber: Kemenkes, Profil Kesehatan Indonesia 2009-2013 ; Catatan* Menurut Profil Kesehatan Indonesia 2010 jumlah RS khusus 333)

Peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada jumlah rumah sakit ibu dan anak, yaitu 95 unit (tahun 2009) menjadi 159 unit (tahun 2013). Begitu juga dengan rumah sakit bersalin mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dari 61 unit tahun 2009 menjadi 99 unit tahun 2013. Sementara untuk jenis rumah sakit yang lainnya relatif tidak mengalami peningkatan. (Referensi: Profil statistik kesehatan, 2015, Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia).
thumbnail

Jenis-jenis Data Spasial SIG (Sistem Informasi Geografi)

Pengertian Data Spasial

Data spasial SIG mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi dan informasi atribut. Data spasial SIG yang berisi informasi lokasi (informasi spasial) contohnya adalah informasi lintang dan bujur, termasuk diantaranya informasi datum dan proyeksi. Contoh lain dari informasi spasial yang bisa digunakan untuk mengidentifikasikan lokasi misalnya adalah Kode Pos. Sedangkan Informasi Atribut (deskriptif) biasa disebut juga dengan informasi non spasial. Suatu lokalitas bisa mempunyai beberapa atribut atau properti yang berkaitan dengannya; contohnya jenis vegetasi, populasi, pendapatan per tahun, dsb.


Informasi lokasi (spasial) ditentukan berdasarkan sistem koordinat, yang di antaranya mencakup datum dan proyeksi peta. Datum adalah kumpulan parameter dan titik kontrol yang hubungan geometriknya diketahui, baik melalui pengukuran atau penghitungan. Sedangkan sistem proyeksi peta adalah sistem yang dirancang untuk merepresentasikan permukaan dari suatu bidang lengkung atau spheroid (misalnya bumi) pada suatu bidang datar. Proses representasi ini menyebabkan distorsi yang perlu diperhitungkan untuk memperoleh ketelitian beberapa macam properti, seperti jarak, sudut, atau luasan. Jenis data Spasial SIG direpresentasikan dalam dua format, yaitu data vektor dan data raster.
Jenis data spasial SIG
Contoh data vektor (kiri) dan data raster (kanan).

Data Vektor

Data vektor adalah data yang direpresentasikan sebagai suatu mosaik berupa garis (arc/line), polygon (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik/point (node yang mempunyai label), dan nodes (merupakan titik perpotongan antara dua buah garis). Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus.

Kegunaan Data Vektor untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada basis data batas-batas kadaster. Contoh penggunaan lainnya adalah untuk mendefinisikan hubungan spasial dari beberapa fitur. Kelemahan data vektor yang utama adalah ketidakmampuannya dalam mengakomodasi perubahan gradual.

Data Raster

Data raster adalah data yang dihasilkan dari Sistem Penginderaan Jauh. Data Raster sering disebut juga dengan sel grid. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut dengan pixel (picture element). Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran pixel-nya. Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada citra.

Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah, dsb. Kelemahan utama dari data raster adalah besarnya ukuran file; semakin tinggi resolusi grid-nya semakin besar pula ukuran filenya.

Masing-masing format data mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemilihan format data yang digunakan sangat tergantung pada tujuan penggunaan, data yang tersedia, volume data yang dihasilkan, ketelitian yang diinginkan, serta kemudahan dalam analisa. Data vektor relatif lebih ekonomis dalam hal ukuran file dan presisi dalam lokasi, tetapi sangat sulit untuk digunakan dalam komputasi matematik. Sebaliknya, data raster biasanya membutuhkan ruang penyimpanan file yang lebih besar dan presisi lokasinya lebih rendah, tetapi lebih mudah digunakan secara matematis. (Referensi: Atie Puntodewo,dkk,. 2003. Sistem Informasi Geografis Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam, Bogor, Indonesia).
thumbnail

Fungsi Laut Pada Siklus Karbon Global

Sejak tahun 1970-an, secara keseluruhan laut merupakan resapan (sink) bagi CO2 antropogenik. Tetapi seberapa besarkah CO2 yang diserap, proses apa sajakah yang menggerakannya, dan bagaimanakah ia berubah di masa depan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, pertama-tama kita perlu terlebih dahulu harus memahami fungsi laut pada siklus karbon secara global.

Peredaran karbon dalam berbagai bentuk organik dan anorganiknya, dan transpor karbon dari permukaan ke laut dalam dibangun oleh proses-proses fisis dan biologis. Proses-proses ini biasa disebut sebagai pompa fisis (physical pump atau pompa daya larut) dan pompa biologis (biological pump). Kedua pompa ini bertindak meningkatkan konsentrasi CO2 di dalam interior laut.

Siklus Pompa Fisis (Physical Pump)

Pompa fisis dibangkitkan oleh sirkulasi balik laut yang lamban dan lebih mudah terlarutnya CO2 di air dingin daripada di air hangat. Massa air  yang hangat dan rapat (dense) di laut lintang tinggi, terutama di Atlantik Utara dan Samudra bagian Selatan (Southern Ocean), menyerap CO2 atmosferik sebelum tenggelam (sink) ke interior laut.

Air yang tenggelam ini akan diimbangi oleh transpor vertikal (upwelling) di bagian laut lainnya. Air yang naik ke atas ini akan menjadi hangat ketika mencapai permukaan sehingga CO2 menjadi kurang dapat larut dan sebagian diantaranya akan terlepas kembali ke atmosfer (melalui sebuah proses yang disebut pelepasan gas atau outgassing). Efek bersih dari proses-proses ini adalah pemompaan CO2 ke dalam interior laut.
Fungsi laut pada siklus karbon
Gambar siklus karbon di laut.

Siklus Pompa Biologis (Biological Pump)

Penyerapan karbon oleh fitoplankton–organisme mikroskopis yang hidup di permukaan laut yang terkena sinar matahari dan ekspornya ke interior dan sedimen laut disebut pompa biologis. Fotosintesis adalah proses dimana fitoplankton mengambil karbon: laju fotosintesis dikenal sebagai produktivitas primer. Fitoplankton adalah mesin bagi pompa biologis.

Pompa biologis memainkan peranan yang penting dalam kemampuan laut menyerap CO2 atmosferik. Tanpa adanya fotosintesis di laut, CO2 atmosferik akan menjadi 1000 ppm jika dibandingkan dengan kondisi saat ini yang 365 ppm. Sebaliknya, jika pompa biologis berfungsi dengan efisiensi yang maksimum, maka tingkat CO2 di atmosfer akan turun menjadi 110 ppm.

Meskipun penting, sejauh ini pompa biologis masih belum banyak diukur. Sebagian besar penelitian telah difokuskan pada perluasan pemahaman mengenai proses-proses biologis, variasinya terhadap musim, dan kejadian khusus dan klimatis dalam skala besar yang mempengaruhi berfungsinya pompa ini. (Referensi: Agus Setiawan, 2000, tentang biogeokimia laut dan perubahan global, Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, diterjemahkan dari IGBP Science No.2).
thumbnail

Upaya Peningkatan Standar Mutu Pendidikan Nasional

Standar Penilaian Pendidikan

Reformasi pendidikan merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan zaman yang sedang berkembang. Standar Mutu pendidikan Nasional dicerminkan oleh kompetensi lulusan yang dipengaruhi oleh kualitas proses dan isi pendidikan. Pencapaian kompetensi lulusan yang memenuhi standar harus didukung oleh isi dan proses pendidikan yang juga memenuhi standar.

Perwujudan proses pendidikan yang berkualitas dipengaruhi oleh kinerja pendidik dan tenaga kependidikan, kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana, kualitas pengelolaan, ketersediaan dana, dan system penilaian yang valid, obyektif, dan tegas. Banyak pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor penyebab dan solusi mengatasi kemerosotan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan masukan ilmiah dari para ahli inilah, diharapkan pemerintah akan mengambil berbagai kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Upaya peningkatan standar mutu pendidikan
Gambar ilustrasi upaya peningkatan standar mutu pendidikan.

Program Peningkatan Mutu Sekolah

Berbagai upaya pemerintah untuk peningkatan standar mutu pendidikan telah dilakukan secara terencana sejak sepuluh tahun yang lalu. Hasilnya cukup membanggakan untuk sekolah-sekolah tertentu di beberapa kota di Indonesia tetapi belum merata dan kurang memuaskan secara nasional. Adapun program-program yang telah diluncurkan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, diantaranya ialah Program Pembangunan Kurikulum, Program Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), Program Perpustakaan, Program Bantuan Meningkatkan Manajemen Mutu (BOMM), Program Bantuan Imbal Swadaya (BIS), Program Pengadaan Buku Paket, Program Peningkatan Mutu Guru, Dana Bantuan Langsung (DBL), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan Bantuan Khusus Murid (BKM).

Dengan memperhatikan sejumlah program tersebut, dapatlah kita simpulkan bahwa pemerintah telah banyak menghabiskan anggaran dana untuk membiayai program tersebut sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan. Kini berbagai elemen masyarakat mempertanyakan mengapa upaya yang begitu mahal belum menunjukkan hasil menggembirakan?. Ada yang berpendapat mungkin manajemennya yang kurang tepat dan adapula yang mengatakan bahwa pemerintah kurang konsisten dengan upaya yang dijalankan. Upaya-upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional saat ini yaitu : Memberikan Penghargaan dan Meningkatkan Profesionalisme Guru, Menyediakan Sarana dan Prasarana, serta Memberantas Korupsi di lingkungan pendidikan.

Upaya Peningkatan Sarana dan Prasarana Pendidikan

Dengan diberlakukannya kurikulum baru, kini guru lebih dituntut untuk mengkontekstualkan pembelajarannya dengan dunia nyata atau minimal siswa mendapat gambaran miniature tentang dunia nyata. Harapan itu tidak mungkin tercapai tanpa bantuan alat-alat pembelajaran (sarana dan prasarana pendidikan).

Menurut Kepmendikbud No. 053/U/2001 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPm), sekolah harus memiliki persyaratan minimal untuk menyelanggarakan pendidikan dengan serba lengkap dan cukup seperti luas lahan, perabot lengkap, peralatan/laboratorium/media, infrastruktur, sarana olahraga, dan buku rasio 1:2. Kehadiran Kepmendiknas itu dirasakan sangat tepat karena dengan keputusan ini diharapkan penyelenggaraan pendidikan di sekolah tidak “kebablasan cepat” atau tertinggal di bawah persyaratan minimal sehingga kualitas pendidikan menjadi semakin terpuruk.

Upaya Memberikan Penghargaan dan Meningkatkan Profesionalisme Guru

Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik (guru) terhadap perkembangan jasmaniah dan rohaniah anak didik menuju terbentuknya kepribadian dan penguasaan ilmu yang berkualitas. Staf (guru) akan termotivasi jika diberikan penghargaan ekstrinsik (gaji, tunjangan, bonus dan komisi) maupun penghargaan intrinsic (pujian, tantangan, pengakuan, tanggung jawab, kesempatan dan pengembangan karir).

Kecanggihan kurikulum dan panduan manajemen sekolah tidak akan berarti jika tidak ditangani oleh guru peofesional. UU Sisdiknas No. 20/2003 Pasal 42 ayat (1) menyebutkan pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Upaya Memberantas Korupsi Di Lingkungan Pendidikan

Korupsi itu berhubungan dengan dana yang berasal dari pemerintah dan dana yang langsung ditarik dari masyarakat. Jika selama ini anggaran pendidikan yang sangat minim dikeluhkan, ternyata dana yang kecil itupun tak luput dari korupsi. Hal ini tidak terlepas dari kekaburan system anggaran sekolah. Kekaburan dalam system anggaran (RAPBS) itu memungkinkan kepala sekolah mempraktikkan Pembiayaan Sistem Ganda (PSG). Misalnya dana operasional pembelian barang yang telah dianggarkan dari dana pemerintah dibebankan lagi kepada masyarakat.

Semakin terpuruknya peringkat SDM Indonesia, tak perlu hanya kita sesali, melainkan menjadikannya sebagai motivasi untuk bangkit dari keterpurukan. Jika kondisi itu mau diubah mulailah dari menerapkan konsep yang berpijak pada akar masalah. Dalam membangun pendidikan itu tidak mudah. Tidak cukup hanya dengan menyediakan anggaran, tetapi juga harus ada langkah dan program konkret atas dasar kebutuhan sekolah dan siswa.

Masyarakat juga harus dilibatkan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan ini, bukan hanya menyediakan anggaran sekolah dan menyelenggarakan sesuai rancangan pemerintah. Tanpa ada keterlibatan masyarakat, mustahil semuanya bisa berjalan baik. Jadi, upaya peningkatan standar mutu pendidikan nasional tidak hanya melibatkan pemerintah atau masyarakat saja, tetapi peran orang tualah yang paling penting dalam hal ini untuk menghasilkan generasi-generasi muda bangsa yang berkualitas dan memiliki akhlak yang baik. (Referensi: Bakar, Rosdiana, 2008., Pendidikan Suatu Pengantar, Bandung:Cita Pustaka. Wikipedia dotcom, mutu-pendidikan-nasional).
thumbnail

Perancangan Batas Akhir Penambangan (Pit Limit Design)

Konsep Dasar Perancangan Batas Akhir Penambangan

Istilah perancangan tambang biasanya dimaksudkan sebagai bagian dari proses perencanaan tambang yang berkaitan dengan masalah-masalah geometrik, yaitu: perancangan batas akhir penambangan, tahapan (pushback), urutan penambangan tahunan atau bulanan, penjadwalan produksi dan waste dump. Sedangkan aspek perancangan tambang (Adisoma, 1998) tidak berkaitan dengan masalah geometrik, meliputi: perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja, perkiraan biaya kapital dan biaya operasi.

Tujuan perancangan batas akhir penambangan adalah menentukan batas-batas penambangan pada suatu cebakan bijih (yakni: jumlah cadangan dan kadar), yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan bijih tersebut sebelum memasukkan faktor nilai waktu dari uang. Tidak diperhitungkannya nilai uang terhadap waktu akan menghasilkan bentuk pit yang paling yang paling besar untuk suatu set parameter ekonomik tertentu. Penambahan faktor bunga (interest), dimensi  pit akan berkurang.


Mengapa faktor nilai waktu dari uang tidak dimasukkan? alasannya adalah untuk proyek dengan jangka waktu panjang (misal: lebih dari 15 tahun), tahap-tahap penambangan terakhir memiliki dampak yang minimal terhadap tingkat pengembalian modal atau rate of return. Selain itu, untuk proyek yang berjangka panjang seperti ini, cukup masuk akal bahwa faktor teknologi yang semakin canggih akan mengimbangi faktor nilai waktu dari uang. Walaupun untuk proyek jangka panjang merupakan tujuan yang paling umum, ada beberapa kasus (terutama pada cebakan bijih dengan nisbah pengupasan besar) nilai uang terhadap waktu perlu dipertimbangkan pada tahap awal dari evaluasi.

Pada perancangan batas akhir penambangan, data yang digunakan adalah data tekno-ekonomik (termasuk sudut lereng) dengan metode blok bijih. Pertanyaannya: bagaimana menentukan batas akhir penambangan (bentuk/geometri dari final pit). Berdasarkan kadar batas pulang pokok (break even cut-off grade), nisbah pengupasan pulang pokok (break even stripping ratio), data ekonomik, perolehan (recovery) dapat ditabulasikan antara BECOG dan BESR untuk berbagai kadar batas.
Perancangan batas akhir penambangan
Gambar ilustrasi optimisasi pit.

Algoritma Perancangan Batas Akhir Penambangan

Beberapa algoritma perancangan (penentuan pit limit) antara lain: Metode penampang (manual cross section, 2D), Pemograman dinamik 2-dimensi (2-D Dynamic Programming atau metode Lerchs-Grossmann), Metode kerucut mengambang (floating cone) 3-D, Metode 3-D lainnya (Teori grapfik, 3-D dynamic programming, Aliran jaringan).

Pada fase kelayakan suatu proyek yang berjangka panjang, tahap-tahap penambangan terakhir akan memiliki dampak yang minimal terhadap  rate of return. Karena itu, mencurahkan terlalu banyak waktu untuk perancangan batas penambangan barangkali kurang memiliki alasan yang kuat. Usaha yang tidak begitu memakan waktu dapat meliputi penggunaan program floating cone atau 3-D Lerchs Grossmann untuk menentukan pit limit, dan melakukan pengecekan awal apakah hasilnya masuk akal.

Studi sensitivitas dengan melakukan perubahan-perubahan kecil pada parameter pokok seperti sudut lereng, harga komoditas, ongkos-ongkos, dan lain lain. Akan membantu dalam pemilihan skenario untuk dasar perancangan. Untuk proyek  pengembangan dengan jangka waktu yang relatif singgkat, misalnya kurang dari 15 tahun, diperlukan energi dan waktu yang lebih banyak untuk menentukan batas penambangan, terutama bila lereng akhir (final pit walls) akan dibuat pada tahap-tahap awal. Usaha yang lebih serius dapat meliputi perancangan dua geometri pit yang beda, lengkap dengan jalan angkutnya dan dengan lereng akhir pada berbagai posisi yang berlainan, kemudian dipilih alternatif mana yang terbaik.


Pada  tahap-tahap akhir, khususnya ketika lereng akhir dengan nisbah pengupasan yang relatif besar akan dibuat, perhatian perlu dicurahkan untuk perancangan pit limit ini. Studi kelayakan memakan waktu beberapa bulan dapat dilakukan. Beberapa alternatif rancangan dapat dibuat untuk melihat detail dari penjadwalan produksi, kebutuhan alat serta biayanya.

Sumber referensi: Adisoma, G.S., S. Waterman (2001), Reserve modeling for mining geology, Short Course, Indonesian Association of Geologist-GEOSEA 2001, 30th Annual Conference-10th Regional Congress, Yogyakarta, September, 1-87. Zhao, Y., Y.C. Kim (1994), A new optimum pit limit design algorithm, 23rd APCOM, Chapter 43, 421-434.
thumbnail

Dampak Negatif Pembatasan Transaksi Tunai

Pembatasan Transaksi Tunai adalah suatu mekanisme untuk membatasi transaksi dengan uang tunai, di mana semua transaksi di atas batas yang ditentukan harus dilakukan melalui sistem perbankan. Misalnya transaksi tunai dibatasi Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) atau Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dalam 1 (satu) hari, di mana transaksi di atas batas tersebut, harus dilakukan melalui sistem perbankan. Dengan pembatasan transaksi tunai tersebut, secara tidak langsung telah menjadikan seluruh bank yang ada di Indonesia untuk ikut berperan aktif dalam pencegahan korupsi dan money laundering.

Saat ini belum ada pengaturan yang secara spesifik mengatur mengenai pembatasan transaksi tunai di Indonesia, namun dalam Pasal 23 UU No 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU) diatur bahwa penyedia jasa keuangan wajib menyampaikan laporan kepada PPATK yang diantaranya meliputi transaksi keuangan tunai dalam jumlah paling sedikit Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) atau dengan mata uang asing yang nilainya setara, yang dilakukan baik dalam satu kali Transaksi maupun beberapa kali Transaksi dalam 1 (satu) hari kerja.

Dampak negatif pembatasan transaksi tunai
Gambar ilustrasi transaksi tunai.

Secara umum pembatasan transaksi tunai tidak menimbulkan dampak negatif yang besar karena transaksi tunai tidak dilarang, tetapi hanya dibatasi jumlahnya saja. Masyarakat tetap dapat melakukan transaksi tunai dalam batas tertentu. Selain itu, tersedia sarana beranekaragam alat transaksi nontunai yang telah dikenal masyarakat dewasa ini. Namun demikian, implikasi negatif pembatasan transaksi tunai dapat terjadi seperti dibawah ini.

Budaya Masyarakat Belum Akrab Dengan Alat Pembayaran NonTunai

Perbankan dan alat pembayaran nontunai telah dikenal oleh masyarakat perkotaan dengan baik, sedangkan pada masyarakat tertentu, misalnya pedesaan belum akrab dengan perbankan dan alat pembayaran nontunai, bahkan ada yang tidak memiliki rekening di bank, apalagi memahami cara menggunakan alat pembayaran nontunai.

Kurang Memadainya Ketersediaan Infrastruktur Keuangan

Sehubungan dengan pembatasan transaksi tunai, maka masyarakat yang ingin melakukan transaksi keuangan dalam nominal yang besar salah satu cara yang dapat digunakan adalah jasa transfer melalui perbankan. Namun tidak setiap desa/daerah terpencil memiliki kantor pelayanan bank dan perbankan tidak memberikan pelayanan transaksi keuangan pada hari Sabtu dan Minggu (waktu pelayanan perbankan juga dibatasi). Untuk daerah-daerah tertentu, kantor pelayanan bank hanya terdapat di ibu kota kecamatan/kabupaten yang jaraknya sangat jauh dari desa dan medannya berat.

Dalam keadaan tertentu, gangguan terhadap sistem informasi teknologi tersebut berpotensi terjadi baik gangguan teknis operasional maupun gangguan nonteknis, sehingga dapat mengganggu transfer/kliring antarbank atau antarkantor cabang, termasuk mengganggu penggunaan alat pembayaran nontunai.

Bahaya Kejahatan Cybercrime Terhadap Transaksi NonTunai

Pembatasan transaksi tunai yang akan mendorong penggunaan transaksi nontunai. Transaksi keuangan nontunai selain mendatangkan kemudahan/efisiensi dalam bertransaksi, juga berakibat pada meningkatnya angka kejahatan yang dilakukan terhadap transaksi keuangan nontunai. Dewasa ini marak terjadi kejahatan terhadap transaksi keuangan melalui jasa transaksi nontunai, misalnya SMS Banking, E-Banking, Kartu Debit, dan Kartu Kredit. Para pelaku kejahatan ini memiliki keahlian untuk membobol sistem keamanan IT suatu bank dan kerahasiaan data nasabah di dalamnya. Dengan keahlian tersebut, uang dalam jumlah jutaan bahkan miliaran dapat dicuri hanya dalam hitungan menit.

Semua dampak negatif pembatasan transaksi tunai diatas dapat dicegah dengan mendorong tercapainya pembatasan transaksi tunai dan penggunaan alat pembayaran nontunai. Beberapa upaya tersebut antara lain: pembangunan infrastruktur transaksi keuangan (bank) yang baik berikut sarana dan prasarananya disetiap wilayah, sosialisasi dan penggalangan masyarakat untuk menggunakan transaksi keuangan melalui jasa perbankan dan alat pembayaran nontunai, pembangunan sistem pengaturan dan pengawasan yang baik untuk menjaga keamanan transaksi keuangan nontunai. (Referensi: Buletin Hukum Kebanksentralan, Volume 12, Nomor 1/2015).
thumbnail

Gaya Gaya Geologi Penyebab Deformasi Batuan

Batuan yang terdapat di bumi merupakan subyek yang secara terus menerus mendapat gaya yang berakibat tubuh batuan dapat mengalami pelengkungan ataupun keretakan. Ketika tubuh batuan melengkung atau retak, maka kita akan menyebut batuan tersebut terdeformasi (berubah bentuk dan ukurannya). Penyebab deformasi pada batuan adalah gaya tegasan (stress). Oleh karena itu, sebelum membahas lebih jauh mengenai gaya tegasan (stress) sebagai penyebab utama deformasi batuan, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu konsep dasar tentang gaya gaya geologi yang bekerja pada batuan. Apa saja gaya-gaya tersebut ? simak contoh gaya tersebut pada pembahasan dibawah ini.

Pengertian Gaya (Force)

Gaya adalah suatu vektor yang dapat merubah gerak dan arah pergerakan suatu benda. Gaya dapat bekerja secara seimbang terhadap suatu benda (seperti gaya gravitasi dan elektromagnetik) atau bekerja hanya pada bagian tertentu dari suatu benda (misalnya gaya-gaya yang bekerja di sepanjang suatu sesar di permukaan bumi). Gaya gravitasi adalah gaya utama yang bekerja terhadap semua obyek/materi yang ada di sekeliling kita. Besaran (magnitud) suatu gaya gravitasi adalah berbanding lurus dengan jumlah materi yang ada, akan tetapi magnitud gaya di permukaan tidak tergantung pada luas kawasan yang terlibat.

Satu gaya dapat diurai menjadi 2 komponen gaya yang bekerja dengan arah tertentu, dimana diagonalnya mewakili jumlah gaya tersebut. Gaya yang bekerja diatas permukaan dapat dibagi menjadi 2 komponen yaitu: satu tegak lurus dengan bidang permukaan dan satu lagi searah dengan permukaan. Pada kondisi 3-dimensi, setiap komponen gaya dapat dibagi lagi menjadi dua komponen membentuk sudut tegak lurus antara satu dengan lainnya. Setiap gaya, dapat dipisahkan menjadi tiga komponen gaya, yaitu komponen gaya X, Y dan Z.

Tekanan Litostatik

Tekanan yang terjadi pada suatu benda yang berada di dalam air dikenal sebagai tekanan hidrostatik. Tekanan hidrostatik yang dialami oleh suatu benda yang berada di dalam air adalah berbanding lurus dengan berat volume air yang bergerak ke atas atau volume air yang dipindahkannya.

Batuan yang terdapat di dalam bumi juga mendapat tekanan yang sama seperti benda yang berada dalam air. Akan tetapi tekanannya jauh lebih besar ketimbang benda yang ada di dalam air. Hal ini disebabkan karena adanya tekanan litostatik. Tekanan litostatik ini menekan kesegala arah dan akan meningkat ke arah dalam bumi.

Gaya Tegasan (Stress Forces)

Tegasan adalah gaya yang bekerja pada suatu luasan permukaan dari suatu benda. Tegasan juga dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi yang terjadi pada batuan sebagai respon dari gaya-gaya yang berasal dari luar. Tegasan dapat didefinisikan sebagai gaya yang bekerja pada luasan suatu permukaan benda dibagi dengan luas permukaan benda tersebut: Tegasan (P)= Daya (F)/luas (A). Tegasan yang bekerja pada salah satu permukaan yang mempunyai komponen disebut tegasan prinsipal atau tegasan utama.

Dalam geologi struktur ada istilah "Tegasan Pembeda" untuk membedakan antara tegasan maksimal dan tegasan minimal. Sekiranya perbedaan gaya telah melampaui kekuatan batuan maka retakan/rekahan akan terjadi pada batuan tersebut. Kekuatan suatu batuan sangat tergantung pada besarnya tegasan yang diperlukan untuk menghasilkan retakan/rekahan.
Gaya gaya geologi penyebab deformasi
Gambar gaya tegasan sebagai penyebab deformasi batuan.

Gaya Tegangan (Tensional Force)

Gaya Tegangan merupakan gaya yang dihasilkan oleh tegasan, dan melibatkan perubahan panjang, bentuk (distortion) atau dilatasi (dilation) atau ketiga-tiganya. Bila terdapat perubahan tekanan litostatik, suatu benda (homogen) akan berubah volumenya (dilatasi) tetapi bukan bentuknya. Misalnya, batuan gabro akan mengembang bila gaya hidrostatiknya diturunkan.

Perubahan bentuk biasanya terjadi pada saat gaya terpusat pada suatu benda. Bila suatu benda dikenai gaya, maka biasanya akan dilampaui ketiga fasa, yaitu fasa elastisitas, fasa plastisitas, dan fasa pecah. Bahan yang rapuh biasanya pecah sebelum fase plastisitas dilampaui, sementara bahan yang plastis akan mempunyai selang yang besar antara sifat elastis dan sifat untuk pecah. Hubungan ini dalam mekanika batuan ditunjukkan oleh tegasan dan tarikan.

Kekuatan batuan, biasanya mengacu pada gaya yang diperlukan untuk pecah pada suhu dan tekanan permukaan tertentu. Setiap batuan mempunyai kekuatan yang berbeda-beda, walaupun terdiri dari jenis yang sama. Hal ini dikarenakan kondisi pembentukannya juga berbeda-beda. Batuan sedimen seperti batupasir, batugamping, batulempung kurang kuat dibandingkan dengan batuan metamorf (kuarsit, marmer, batusabak) dan batuan beku (basalt, andesit, gabro).

Diharapkan dengan pembahasan ini anda bisa mengerti konsep dasar gaya gaya geologi penyebab deformasi batuan. Pemahaman tentang Gaya (Force), Gaya Tegasan (Stress Forces), Tekanan Litostatik, dan Gaya Tegangan (Tensional Forces) akan sangat membantu anda dalam memahami mekanisme terbentuknya struktur geologi (Kekar, Lipatan, dan Sesar).
thumbnail

Hubungan Bank Indonesia Dengan DPR Berdasarkan Undang-undang

Dalam rangka menelaah hubungan Bank Indonesia dengan DPR berdasarkan undang-undang, perlu ditelaah kembali ketentuan Pasal 4 UU Nomor 3 Tahun 2004, yang menyatakan bahwa BI adalah lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan Pemerintah dan atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-undang Bank Indonesia.


Tugas dan Wewenang Bank Indonesia yang dimaksud dalam Pasal 4 tersebut dijabarkan dalam Pasal 7 dan Pasal 8 UU Bank Indonesia, yang mana disebutkan bahwa fungsi atau tujuan utama Bank Indonesia memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia diberi kewenangan untuk menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter, dan mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.

Hubungan BI dengan DPR
Gambar ilustrasi Bank Indonesia.

Ketentuan Pasal 4 tersebut menjadi penting ketika dinyatakan bahwa Bank Indonesia adalah lembaga negara independen, bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak lain, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat. Rumusan tersebut kemudian disambung dengan frasa “kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini”, maka dengan demikian rumusan Pasal tersebut bila dimaknai secara argumentum a contrario berarti Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hanya dapat mencampuri urusan BI untuk hal-hal yang memang diatur dalam UU Bank Indonesia. Dengan demikian, “campur tangan” tersebut dijabarkan dalam relasi yang tercermin dalam Pasal 58, 58A, dan 59.

Pada umumnya hubungan antara bank sentral dengan parlemen diatur secara umum terutama dalam bentuk pertanggungjawaban bank sentral kepada parlemen. Parlemen mempunyai hak untuk melakukan evaluasi terhadap rencana dan kegiatan bank sentral. Hal ini terjadi karena dianggap parlemen telah mendelegasikan wewenang dan kekuasaannya dalam kebijakan moneter, sehingga parlemen berwenang untuk meminta pertanggungjawaban dari bank sentral.

Parlemen pada umumnya mempunyai hak dan kesempatan untuk memberikan penilaian dan melakukan review performance dari bank sentral dalam hubungannya dengan kebijakan moneter. Sementara bank sentral pun mempunyai hak dan kewajiban untuk memberikan penjelasan dan pembenaran atas kebijakan tersebut. Pasal 58 ayat (1) menyebutkan bahwa BI wajib menyampaikan laporan tahunan, yang memuat antara lain: (a) pelaksanaan tugas dan wewenangnya pada tahun sebelumnya; dan (b) rencana kebijakan, penetapan sasaran, dan langkah-langkah pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia untuk tahun yang akan datang dengan memperhatikan perkembangan laju inflasi serta kondisi ekonomi dan keuangan.

Selanjutnya dalam Pasal 58 ayat (4) disebutkan dalam hal DPR memerlukan penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan wewenangnya, termasuk dalam rangka penilaian terhadap kinerja Bank Indonesia, Bank Indonesia wajib menyampaikan penjelasan secara tertulis. Selain laporan tahunan, berdasarkan Pasal 58 ayat (2), Bank Indonesia diwajibkan juga untuk menyampaikan laporan triwulan secara tertulis tentang pelaksanaan tugas dan wewenangnya kepada DPR dan Pemerintah. Laporan triwulan tersebut kemudian dievaluasi oleh DPR dan digunakan sebagai bahan penilaian tahunan terhadap kinerja Dewan Gubernur dan Bank Indonesia.

Lebih jauh dalam Pasal 58A disebutkan, untuk membantu DPR dalam melaksanakan fungsi pengawasan di bidang tertentu terhadap Bank Indonesia dibentuk Badan Supervisi dalam upaya meningkatkan akuntabilitas, independensi, transparansi, dan kredibilitas Bank Indonesia. Selanjutnya, dalam hal DPR menghendaki pemeriksaan secara khusus mengenai satu masalah atau kegiatan tertentu, maka DPR dapat meminta BPK melakukan pemeriksaan terhadap Bank Indonesia. (Sumber referensi: Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan, Volume 11, Nomor 3/2013).
thumbnail

Kekuatan Hukum Putusan Arbitrase Nasional

Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata diluar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian Arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Arbitrase merupakan peradilan yang dipilih dan ditentukan sendiri secara sukarela oleh pihak-pihak pengusaha yang bersengketa. Penyelesaian sengketa diluar Pengadilan Negara merupakan kehendak bebas pihak-pihak yang bersengketa. Kehendak bebas ini dapat dituangkan dalam perjanjian tertulis yang mereka buat sebelum atau sesudah terjadi sengketa sesuai dengan azas kebebasan berkontrak dalam hukum perdata. Arbitrase diatur dalam Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (UU AAPS), yang terdiri dari 82 pasal.

Gambar ilustrasi Arbitrase (sumber: pengacaraindonesia dotinfo).

Prosedur arbitrase dibentuk oleh ketentuan hukum, perjanjian para pihak dan arahan para arbiter. Apabila para pihak sepakat bahwa arbitrase akan dilaksanakan berdasarkan aturan suatu institusi atau aturan ad hoc maka prosedur arbitrase akan tunduk pada ketentuan institusi atau aturan ad hoc tersebut.

Kekuatan hukum putusan Arbitrase baik melalui lembaga Arbitrase berskala nasional maupun secara Internasional adalah final dan binding. Dengan kata lain putusan tersebut  adalah langsung menjadi putusan tingkat pertama dan tingkat terakhir. Serta putusan menjadi mengikat para pihak dan secara otomatis tertutup pula upaya untuk banding, dan kasasi sesuai pasal 60 UU AAPS.

Pelaksanaan putusan arbitrase nasional diatur dalam Pasal 59-64 UU AAPS. Pada dasarnya para pihak harus melaksanakan putusan secara sukarela. Agar putusan arbitrase dapat dipaksakan  pelaksanaanya, putusan tersebut harus diserahkan dan didaftarkan pada kepaniteraan pengadilan negeri, dengan mendaftarkan dan menyerahkan lembar asli atau salinan autentik putusan arbitrase nasional oleh arbiter atau kuasanya ke panitera pengadilan negeri, dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah putusan arbitase diucapkan.

Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri, final dan mengikat. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri, final dan mengikat (seperti putusan yang mempunyai kekeuatan hukum tetap) sehingga Ketua Pengadilan Negeri tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. Kewenangan memeriksa yang dimiliki Ketua Pengadilan Negeri, terbatas pada pemeriksaan secara formal terhadap putusan arbitrase nasional yang dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase.

Berdasar Pasal 62 UU AAPS sebelum memberi perintah pelaksanaan, Ketua Pengadilan memeriksa  dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi Pasal 4 dan pasal 5 (khusus untuk arbitrase internasional). Bila tidak memenuhi maka, Ketua Pengadilan Negeri dapat menolak permohonan arbitrase dan terhadap penolakan itu tidak ada upaya hukum apapun. (Sumber referensi: Undang-Undang RI Nomor 30, tahun 1999, tentang Arbitrase & Alternatif Penyelesaian Sengketa. Khristofel N. Izaak, 2015, Lex Privatum, Vol. III/No. 4/Okt/2015).
thumbnail

Proses Pencairan Gas Alam menjadi LNG (Gas Alam Cair)

Pengertian LNG

Singkatan LNG berasal dari istilah bahasa inggris "Liquefied Natural Gas", dalam bahasa indonesia berarti Gas Alam Cair. LNG adalah gas alam yang telah diubah menjadi cairan. Hal ini dilakukan untuk menghemat ruang, karena 610 kaki kubik gas alam dapat diubah menjadi 1 kaki kubik LNG. Mengkonversi gas alam menjadi LNG membuat kita lebih mudah untuk menyimpan dan lebih mudah untuk mengangkut disaat jaringan pipa tidak tersedia.

Proses pendinginan (refrigeration process) digunakan untuk mengkondensasi gas alam menjadi LNG dengan pendinginan sampai minus 260 derajat Fahrenheit. Proses pendinginan ini biasanya disertai dengan proses menghilangkan air, karbondioksida, hidrogen sulfida dan bahan/unsur pengotor lainnya.

Tangki Penyimpanan Gas Alam Cair (LNG)

Untuk mempertahankan suhu rendah selama penyimpanan dan transportasi, LNG harus ditempatkan ke dalam tangki kriogenik (cryogenic tanks). Tangki Kriogenik ini merupakan tangki penyimpanan gas yang besar yang terisolasi dan dilengkapi dengan unit pendingin.

Ketika pengiriman LNG mencapai tujuan atau bila LNG sedang dikeluarkan dari penyimpanan, maka LNG wajib di regasifikasi. Tujuan proses regasifikasi adalah untuk memanaskan LNG, sehingga memungkinkan LNG akan menguap kembali menjadi gas alam. Regasifikasi biasanya dilakukan di fasilitas di mana gas dapat ditempatkan ke dalam penyimpanan atau langsung ke pipa untuk transportasi.

Proses Pencairan Gas Alam

Ada dua jenis terminal LNG, yaitu terminal yang mengubah gas alam menjadi LNG dan terminal LNG yang mengkonversi kembali menjadi gas alam. Masimg-masing disebut sebagai terminal pencairan dan terminal regasifikasi. Terminal pencairan berada pada sisi transaksi ekspor dan terminal regasifikasi berada pada sisi transaksi impor.

Terminal pencairan umumnya menerima gas alam melalui jaringan pipa dari lapangan. Sebelum itu cair gas harus dibersihkan dari air, karbondioksida, hidrogen sulfida dan kotoran lainnya yang mungkin membeku dan menjadi korosif atau mengganggu proses pencairan. Setelah itu baru cairan LNG dikirim melalui pipa ke kapal pembawa LNG atau ke penyimpanan untuk menunggu transportasi.

Terminal regasifikasi menerima gas alam biasanya dengan kapal dari lokasi lain. Di terminal regasifikasi, LNG mungkin disimpan sementara atau dikirim langsung ke pabrik regasifikasi. Setelah regasifikasi, LNG dikirim oleh pipa untuk didistribusi atau ditempatkan di penyimpanan sementara sampai dibutuhkan.
Pencairan dan regasifikasi LNG
Gambar skema terminal pencairan dan regasifikasi LNG.
  

Sumber Gas Alam dan Konsumen LNG

Pengiriman besar gas alam cair pertama di dunia terjadi pada tahun 1964 ketika sebuah kapal penuh dengan LNG di Aljazair dan berlayar ke Le Havre, Prancis. Sebelum tahun 1964, gas alam di Aljazair adalah produk limbah dari produksi minyak. disebut "produk limbah" karena tidak ada pasar lokal untuk gas alam dan tidak ada pipa untuk mengangkut gas ke lokasi yang jauh. Gas alam hanya dibuang ke atmosfer atau terbakar di lokasi itu juga.

Saat ini LNG diekspor dari lokasi seperti: Aljazair, Mesir, Nigeria, Angola, Oman, Qatar, Yaman, Rusia, Trinidad dan Tobago, Australia, Malaysia, dan Indonesia dimana produksi gas alam jauh melebihi kemampuan konsumsi pasar lokal mereka. Di lokasi tersebut harga gas alam rendah karena jumlahnya yang berlimpah tetapi sedikit permintaan lokal. Harga yang rendah mengimbangi biaya membangun pabrik pencairan LNG, mengkonversi gas alam menjadi LNG dan membawanya ke pasar yang jauh.

Jepang, Korea Selatan dan Taiwan adalah pembeli utama pertama LNG. Daerah ini memiliki populasi yang sangat tinggi dan sangat sedikit akses ke sumber daya domestik bahan bakar fosil. LNG memberi mereka akses ke bahan bakar yang bersih, karena bahan bakar ini mudah untuk didistribusikan sekalipun pipa berada di tempat lain. Banyak negara-negara lain sekarang memiliki terminal regasifikasi, termasuk Belgia, Brasil, Kanada, Chili, Cina, Perancis, India, Italia, Yunani, Meksiko, Spanyol, Inggris dan Amerika Serikat.

Sistem Penyimpanan LNG

LNG disimpan dalam tangki penyimpanan yang sangat terisolasi dan khusus dirancang untuk menahan cairan-suhu dingin. Kebanyakan memakai dinding tangki ganda dengan dinding luar dari beton yang tebal dan dinding bagian dalam dari baja berkualitas tinggi. Antara dinding ada lapisan isolasi yang tebal. Banyak yang memiliki fasilitas  tangki penyimpanan bawah tanah untuk lebih meningkatkan daya isolasi terhadap LNG.

Akan tetapi, seberapapun baiknya sebuah tangki terisolasi, beberapa LNG akan mudah mendidih dan menguap seperti gas alam. Gas yang munguap ini umumnya dikeluarkan dari tangki. Hal ini baik untuk digunakan secara lokal sebagai bahan bakar atau bisa di regasifikasi kembali sehingga menjadi cair dan dialirkan kembali ke tangki.

Sistem Transportasi dan Dampak Lingkungan Proyek LNG

Kebanyakan LNG diangkut dalam kapal yang dirancang khusus yang dikenal sebagai "operator LNG". Kapal ini memiliki lambung ganda untuk melindungi kargo dari kerusakan dan sebagai perlindungan terhadap kebocoran. Jumlah yang lebih kecil dari LNG diangkut dalam truk dan gerbong yang dirancang khusus.

Gas alam memiliki dampak lingkungan yang jauh lebih rendah ketika dibakar daripada bahan bakar fosil lainnya. LNG sedikit karbon dioksida kurang, sedikit partikel dan sedikit menghasilkan abu. Meskipun LNG dibakar dalam bentuk gas alam,  tetap saja LNG memiliki dampak lingkungan yang lebih besar dibandingkan gas alam yang belum cair. Hal ini dikarenakan LNG membutuhkan pengeluaran energi untuk mencairkan, mentransportasi dan meregasifikasi. jadi kesimpulannya, LNG memiliki dampak lingkungan yang lebih besar dari gas alam tetapi umumnya memiliki dampak lebih rendah dari bahan bakar batubara atau minyak.

Dukungan Publik Terhadap Proyek LNG

Dukungan publik untuk proyek-proyek LNG umumnya beranekaragam, terutama pada sisi impor di mana sejumlah besar orang mungkin terletak dekat fasilitas regasifikasi. Meskipun beberapa orang berharap bahwa LNG akan membawa mereka kepada gas alam ekonomis, tetapi ada juga yang memiliki kekhawatiran bahwa proses regasifikasi atau kendaraan angkut LNG mungkin akan mudah meledak atau terbakar. Beberapa orang juga khawatir bahwa fasilitas LNG adalah target teroris, meskipun LNG memiliki sejarah keselamatan yang sangat baik.

Penemuan gas alam baru, jaringan pipa baru, dan terminal LNG baru akan dapat meningkatkan pasokan lokal. Peningkatan pasokan lokal dapat menurunkan harga yang dapat merangsang permintaan. Meningkatnya permintaan bisa menaikkan harga, merangsang aktivitas pengeboran, meluncurkan proyek pipa dan membawa investasi di fasilitas LNG.
loading...
loading...
loading...

Copyright © Geologinesia. Powered by Blogger