Struktur Bumi - Hai sobat geologinesia, artikel yang kamu baca saat ini adalah tentang Struktur Bumi Menurut Perspektif Geologi. Tujuan kam...
Jenis-Jenis Sumber Energi yang Ada di Bumi

Jenis-Jenis Sumber Energi yang Ada di Bumi

Segala bentuk aktivitas yang Anda lakukan sehari-hari sangat terbantu karena adanya energi. Bentuknya memang tidak terlihat namun manfaatnya bisa dirasakan. Secara umum ada 2 jenis sumber energi di dunia ini, yaitu yang terbaharukan dan yang tidak. Jumlahnya terbatas namun ada juga yang memiliki cadangan yang cukup besar.

Agar sumbernya tidak cepat habis sebaiknya lakukan penghematan. Contohnya pemakaian bahan bakar minyak, jika tidak dikontrol penggunaannya maka generasi selanjutnya tidak dapat merasakan kegunaan BBM tersebut. Banyak ilmuwan yang membuat energi alternatif agar minyak bumi tidak lekas habis.

Macam-macam Jenis Sumber Energi dan Pemanfaatannya

Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa sumber energi ada yang bisa diperbaharui dan tidak. Contoh yang bisa diperbaharui adalah air, angin, dan sumber lainnya yang jumlahnya melimpah. Sementara yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak bumi, gas alam, batu bara, dan lain sebagainya.

Fungsi keduanya sangat penting untuk menunjang kehidupan manusia. Perabot rumah tangga tidak akan berfungsi jika tidak ada listrik. Energi ini dapat diciptakan melalui pengolahan air, angin, dan sebagainya. Adapun jenis dan beberapa manfaat energi yang sering Anda temui sehari-hari adalah:

• Minyak Bumi
Sumber energi yang satu ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan untuk tenaga penggerak. Hasil yang sering kita temui adalah bensin, solar, avtur, dan sebagainya. Kendaraan bermotor tidak akan bisa berjalan jika tidak menggunakan bahan ini. Karena jumlahnya semakin hari kian terbatas, maka harus dilakukan penghematan. Industri otomotif kini mulai menggunakan inovasi agar mesin kendaraan lebih irit bahan bakar. Selain itu polusi udara yang dihasilkan akan berkurang jika Anda menggunakan produk mobil atau motor terbaik.

• Air
Pemanfaatan sumber energi air ini cukup luas, salah satunya sebagai penggerak kincir. Dari sinilah aliran listrik didapatkan atau yang sering disebut dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Tidak hanya itu air juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan transportasi misalnya kapal, perahu, dan lain-lain. Meskipun jumlahnya melimpah, penggunaannya harus sesuai dengan kebutuhan agar pasokan tetap lancar.

• Matahari
Matahari memiliki peran yang penting dalam kehidupan di bumi. Tak hanya bagi manusia saja, tanaman juga membutuhkan cahaya untuk melakukan fotosintesis. Energi panas yang dihasilkan dapat mempermudah pekerjaan Anda sehari-hari seperti untuk menjemur pakaian. Anda juga bisa menyimpan panas matahari untuk dijadikan cadangan listrik. Panel surya ini sudah banyak diedarkan di pasaran sehingga ketika lampu mati Anda bisa menggunakannya tanpa perlu membeli bahan bakar.

• Angin
Kincir angin merupakan salah satu alat yang bisa menyimpan tenaga. Penggeraknya tentu saja angin sehingga simpanan energi semakin besar. Tidak hanya itu angin juga dimanfaatkan oleh nelayan untuk mencari ikan di tengah laut dan saat pulang ke daratan. Tenaga ini merupakan jenis energi terbaharukan yang jumlahnya cukup melimpah di bumi.

• Listrik
Sumber energi listrik berasal dari pembangkit yang digerakkan dengan air, angin, ataupun uap. Karena ketersediaannya cukup terbatas, maka harus dilakukan penghematan. Banyak yang mencari cara alternatif agar dapat menggunakan listrik tanpa harus membayar mahal.

Anda bisa memanfaatkan sungai yang ada di sekitar untuk menghasilkan tenaga tersebut. Hampir semua perabot rumah tangga seperti tv, kipas angin, lampu, dan lain-lain hanya bisa bekerja jika ada aliran listrik yang masuk kedalamnya.

Dari beberapa sumber energi yang sudah disebutkan diatas, membuktikan bahwa makhluk hidup sangat membutuhkan kelimanya. Agar Anda bisa menikmati fungsinya dalam jangka panjang, sebaiknya lakukan penghematan supaya jumlahnya tidak cepat habis.
Baca selengkapnya »
Teori Atom Dalton | Sang Teori Tertua sebagai Dasar Pengetahuan Atom

Teori Atom Dalton | Sang Teori Tertua sebagai Dasar Pengetahuan Atom

Apa itu Atom ?

Atom adalah partikel paling kecil dari setiap zat yang ada di muka bumi ini. Karena menjadi bagian terkecil, maka atom sudah tidak bisa dibagi ataupun dipecah lagi. Penjelasan tentang definisi ataupun sifat-sifat atom sendiri sudah muncul sejak berabad-abad yang lalu. Penjelasannya pun berbeda-beda antara ilmuwan satu dengan ilmuwan lainnya. Salah satu ilmuwan yang  mengemukakan teori tentang atom paling tua adalah John Dalton dengan teori model atomnya. Teori atom Dalton inilah yang menjadi latar belakang ilmuwan lain mengemukakan teorinya tentang atom.

Dalil Teori Atom Dalton dan Kelemahannya

John Dalton sendiri merupakan seorang guru dari Inggris. Ia mengemukanan teori atom bukannya tanpa dasar. Teori yang diciptakannya ini berani Ia kemukakan tentu saja setelah melakukan penelitian serta pengombinasian dengan hukum kombinasi kimia.

Dengan dua dasar itulah Dalton kemudian mengemukakan pendapatnya tentang atom ini. Namun seperti teori-teori lainnya, teori yang dikemukakan ole Dalton ini sudah pasti memiliki keunggulan maupun kekurangan. Sebelumnya, berikut ini adalah dalil tentang atom yang dikemukakan oleh Dalton.

1. Atom adalah Partikel Terkecil
Teori atom Dalton terkenal karena menjadi dasar dari teori atom lainnya. Salah satunya adalah konsep yang menyatakan bahwa atom adalah partikel terkecil dari semua unsur materi yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, atom tidak bisa diciptakan ataupun dihancurkan. Namun dalil ini kemudian dibantah oleh peneliti lain yang menemukan bahwasanya atom masih bisa dibagi lagi menjadi bagian yang disebut elektron, proton dan neutron.

2. Atom yang Sama adalah Serupa
Konsep atau dalil dari teori atom Dalton yang kedua menyatakan bahwa atom adalah sama jika berasal dari unsur yang sama, namun atom ini berbeda antara satu unsur dengan unsur lainnya. Dalil kedua ini pun ternyata memiliki kelemahan karena penelitian selanjutnya menunjukkan jika atom memiliki perbedaan dalam beberapa hal seperti massa dan kepadatan. Atom yang berasal dari unsur yang sama namun memiliki perbedaan dalam massanya biasa disebut sebagai Isotop.

3. Atom dari Unsur yang Berbeda bisa Bergabung Membentuk Senyawa
Dalil selanjutnya dari teori atom Dalton yang juga kemudian dibantah karena kelemahan teorinya adalah dalil yang menyatakan bahwa atom yang berasal dari unsur yang berbeda bisa digabungkan asal dalam rasio tertentu dan bisa membentuk sebuah senyawa. Hal ini dibantah dengan adanya pembuktian dari teori ini yang tidak bisa diterapkan pada senyawa organik yang kompleks. Senyawa organik kompleks itu misalnya adalah senyawa gula.

4. Atom Elemen Berbeda dalam Segala Hal
Yang terakhir, teori atom dari Dalton menyatakan bahwa atom elemen berbeda dalam segala hal. Pendapat ini kemudian dibantah dengan penemuan yang membuktikan jika pada kasus-kasus tertentu ada atom yang ternyata memiliki massa yang sama. Konsep yang menyatakan bahwa ada atom unsur yang berbeda namun memiliki massa yang sama ini kemudian disebut sebagai Isobar.

Atom sebagai sebuah unsur terkecil dari partikel atau zat memang sudah dipelajari dan ditemukan sejak dahulu. Namun, perkembangan keilmuannya tidak pernah berhenti. Selalu ada penelitian yang terus memperbarui konsep dari teori atom itu sendiri.

Namun, dari semua itu ada satu teori yang menjadi dasar atau peletak pertama dari teori atom yang berkembang saat ini. Teori atom Dalton adalah teori atom tertua yang menjadi dasar pemikiran bagi ilmuwan-ilmuwan untuk terus mengembangkan konsep maupun teori modern tentang atom.
Baca selengkapnya »
Massa Jenis Air dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan Sehari-Hari

Massa Jenis Air dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan Sehari-Hari

Apa itu Massa Jenis Air ?

Air adalah salah satu elemen yang paling penting dalam kehidupan manusia. Hal ini dibuktikan dengan tersusunnya tubuh manusia yang terdiri dari 70% air. Untuk itulah, mempelajari tentang air dan segala hal yang berkaitan dengannya adalah hal yang penting. Salah satunya adalah mempelajari massa jenis air.

Massa jenis sendiri merupakan sebuah proses pengukuran massa pada setiap satuan volume dari benda tertentu. Massa jenis ini adalah besaran massa (massa zat) yang dihitung pada setiap satuan berupa volume.

Penerapan Konsep Massa Jenis Air dalam Kehidupan

Sedangkan massa jenis air sendiri merupakan suatu pengukuran terhadap massa air pada satuan volume air yang akan diukur tersebut. Pengukuran ini bisa dilakukan secara langsung dengan menggunakan sebuah alat bernama Hidrometer.

Mempelajari konsep massa jenis ini bukannya tanpa manfaat. Ada beberapa hal dalam kehidupan yang merupakan hasil penerapan dari konsep massa jenis ini. Berikut beberapa penerapannya.

1. Cara Kerja Kapal Selam berdasarkan Massa Jenis Air
Perbedaan massa jenis air dan benda lain tentu berbeda. Perbedaan massa jenis inilah yang membuat benda bisa mengapung ataupun tenggelam di dalam air. Jika benda terapung itu berarti massa jenisnya lebih kecil dibandingkan air, begitu juga sebaliknya.

Hal ini jugalah yang diterapkan pada kapal selam. Ketika mengapung, maka kapal selam memiliki massa jenis total yang lebih kecil dibandingkan massa jenis dari air laut. Sedangkan ketika tenggelam massa jenisnya lebih besar. Hal tersebut bisa terjadi karena di dalam kapal selam terdapat tangki pemberat yang bisa memperbesar massa jenis total kapal selam sehingga memungkinkan kapal untuk tenggelam maupun melayang.

2. Endapan Kapur pada Air Es
Pernahkah Anda melihat adanya endapan seperti kapur di permukaan air yang diletakkan di dalam lemari pendingin? Ya, ini adalah salah satu penerapan dari konsep massa jenis air yang paling sederhana. Pada dasarnya, meskipun berwarna jernih, di dalam air bisa juga mengandung kapur.

Ketika air berada pada suhu normal, massa jenis antara air dan kapur itu sama sehingga kapur tidak terlihat. Sedangkan ketika didinginkan, massa jenis pada air menjadi mengecil sehingga mengubah posisi. Massa jenis dari air yang lebih kecil dari kapur membuat zat kapur itu turun ke dasar wadah air dan mengendap disana.

3. Berenang dengan Ban
Penerapan konsep massa jenis air yang terakhir ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari Anda. Jika Anda pernah berenang di sungai atau di kolam renang dengan menggunakan ban bekas yang dipompa udara, maka Anda sudah menerapkan konsep massa jenis ini, terutama massa jenis pada air.

Ketika ban bekas dipompa dan diisi udara di dalamnya, hal tersebut membuat massa jenis ban menjadi lebih kecil dari massa jenis pada air. Karena itulah ban bisa mengambang di atas permukaan air dan bisa dimanfaatkan untuk berenang.

Ilmu pengetahuan diciptakan dan dipelajari tidak lain agar bisa dimanfaatkan untuk membantu kehidupan sehari-hari. Mempelajari ilmu pengetahuan dan menerapkannya akan semakin membantu dalam mempermudah kehidupan. Seperti contohnya adalah penerapan konsep massa jenis air dalam kehidupan sehari-hari.

Penerapan konsep massa jenis pada air di atas merupakan beberapa contoh sederhana yang bisa Anda terapkan sendiri. Hal-hal di atas adalah hal yang sering dilihat maupun dilakukan secara langsung. Namun, tidak banyak orang yang menyadari jika hal-hal sederhana seperti yang sudah disebutkan di atas adalah hasil penerapan dari ilmu pengetahuan yang ada. Semoga informasi ini bisa bermanfaat bagi Anda.
Baca selengkapnya »
Macam-Macam Jenis Erosi Lengkap dengan Penyebab Terjadinya

Macam-Macam Jenis Erosi Lengkap dengan Penyebab Terjadinya

Apa itu Erosi ?

Dalam ilmu Geografi ada istilah-istilah yang merujuk pada perubahan pada alam yang juga disebabkan karena fenomena alam. Misalnya erosi. Ya, istilah ini biasanya disandingkan dengan proses pelapukan, namun nyatanya kedua proses ini adalah proses alam yang berbeda.

Erosi adalah sebuah proses pengikisan yang terjadi pada padatan, seperti batuan, tanah, batuan dan jenis-jenis padatan lain. Erosi ini pada dasarnya diakibatkan oleh adanya transportasi pada air, angin, es, aktivitas makhluk hidup serta karena pengaruh gravitasi.

Jenis-Jenis Erosi beserta Penyebabnya

Sebagai sebuah fenomena alam yang sudah lazim terjadi, sebenarnya erosi adalah sebuah proses yang menguntungkan. Dengan adanya proses erosi ini, keseimbangan dan proses alam selanjutnya bisa terjadi bisa menjadi lebih baik.

Namun, faktor adanya tindakan manusia yang memperparah intensitas erosilah yang membuat erosi akhirnya memberikan dampak buruk. Berkurangnya kemampuan (degradasi) lahan, menurunnya daya serap terhadap air tanah, bahkan bisa menyebabkan timbulnya bencana alam. Berdasarkan penyebabnya, erosi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Ablasi
Ablasi adalah pengikisan tanah oleh aktivitas air, atau erosi yang terjadi tepatnya di sekitar aliran air. Terjadinya Ablasi sebagian besar diakibatkan oleh pergerakan air. Cepat lambatnya proses erosi jenis ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Misalnya saja banyaknya air dan juga pasir yang diangkut serta kecepatan air yang mengangkut adalah faktor penentu yang signifikan. Proses pengikisan yang disebabkan oleh aliran air pada sisi sungai ataupun pada permukaan sungai yang terus terjadi ini kemudian menimbulkan dampak. Dampak yang bisa dilihat misalnya terbentuknya lembah, jurang maupun ngarai.

2. Abrasi
Jenis erosi yang kedua ini disebut abrasi yang bisanya sering terjadi di daerah pesisir atau di sekitar laut. Pada abrasi, yang dimaksud erosi adalah pengikisan oleh aktivitas gelombang laut. Penyebabnya adalah karena es di kutub yang mencair kemudian mengakibatkan air laut mengalami kenaikan pada permukaannya.

Hal ini kemudian mengakibatkan daerah dengan permukaan yang lebih rendah kemudian mengalami pengikisan. Sama seperti ablasi, abrasi juga bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah cepat ataupun lambatnya gelombang dari air laut serta besar kecilnya gelombang itu sendiri.

3. Eksharasi
Jenis erosi yang selanjutnya adalah pengikisan yang disebabkan oleh gerakan dari lapisan es ataupun disebabkan karena es yang mencair. Karena itulah erosi ini juga disebut sebagai gletser atau erosi es. Akibat dari erosi gletser adalah, timbulnya bentang alam yang disebut fyord, yaitu suatu wilayah pantai yang lebih menjorok ke wilayah daratan.

4. Korosi/Deflasi
Jenis erosi yang terakhir adalah Korosi. Pada proses ini, erosi yang terjadi berupa pengikisan yang disebabkan terutama oleh angin. Erosi atau pengikisan jenis ini lebih banyak terjadi di wilayah gurun. Aktivitas yang menjadi penyebab terjadinya korosi ini mengakibatkan pasir mengendap hingga kemudian membentuk bukit pasir. Proses alam ini juga mengakibatkan terbentuknya bentang alam yang disebut loess. Bentang alam ini bisa ditemukan di daerah Cina Utara yang merupakan hasil dari Korosi Gurun Gobi.

Sebagai sebuah proses alami, erosi adalah proses alam yang juga disebabkan oleh faktor alam sendiri. Nah, jenis-jenis erosi di atas adalah jenis-jenis erosi yang disebabkan oleh fenomena alam yang umum terjadi. Beberapa fenomena alam seperti angin, pergerakan air, gelombang laut dan lainnya membuat proses pengikisan dapat berlangsung secara alami dan bisa memberikan dampak positif bagi keseimbangan alam. Namun pada beberapa jenis erosi, aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab membuat erosi akan berdampak semakin parah.
Baca selengkapnya »
Macam-Macam Zona Alterasi Hidrotermal Menurut Ahli Geologi

Macam-Macam Zona Alterasi Hidrotermal Menurut Ahli Geologi

Zona Alterasi - Seperti yang kita ketahui bersama bahwa alterasi merupakan suatu perubahan batuan dan mineral di dalamnya baik secara fisik maupun kimia, yang disebabkan oleh larutan hidrotermal. Meyer dan Hemley (1967), Rose and Burt (1979) dalam Evans (1987) membagi zona alteasi menjadi 10 bagian yaitu advanced argilic, sericitization, intermedit argillic, propylitic, chloritization, carbonatization, potasium silicate, silicification, feldspathization, dan tourmalinization.

Model alterasi - mineralisasi juga dibuat oleh Lowell dan Guilbert (1970), dengan menambahkan istilah zona filik untuk himpunan mineral seperti kuarsa, pirit, serisit, rutil, kalkopirit dan klorit. Dibawah ini disajikan penjelasan lengkap beberapa zona alterasi yang sering dijumpai di lapangan.

1. Propilitik
Dicirikan oleh kehadiran klorit disertai dengan beberapa mineral epidot, illit/serisit, kalsit, albit dan anhidrit. Terbentuk pada temperatur 200-300 C pada salinitas yang beragam, dan pH near-neutral,  umumnya pada daerah yang mempunyai permebealitas yang rendah.

2. Argilik
Pada tipe argilik terdapat dua kemungkinan himpunan mineral, yaitu muskovit – kaolinit – monmorilonit dan muskovit – klorit – monmorilonit. Kumpulan mineral-mineral argilik pada umumnya terbentuk di suhu 200-300 C, salinitas yang rendah, dan fluida asam hingga netral.

3. Potassik
Tipe ini dicirikan oleh melimpahnya himpunan muskovit-biotit-alkali feldspar-magnetit. Anhidrit sering hadir sebagai assesori, serta sejumlah kecil albit dan titanit (sphene) atau rutil kadang terbentuk. Potassik terbentuk disekitar zona batuan beku intrusif yang terkait, salinitas tinggi, fluida panas (>300 C), dan dengan karakter magmatik yang kuat.

4. Fillik
Tersusun oleh himpunan mineral kuarsa-serisit-pirit, yang umumnya tidak mengandung mineral – mineral lempung atau alkali feldspar. Kadang mengandung sedikit Anhidrit, Klorit, Kalsit dan Rutil. Terbentuk pada temperatur sedang sampai tinggi (sekitar 230 – 400 C), fluida asam hingga netral dengan salinitas yang beragam, pada zona yang permeable dan pada batas dengan urat.

5. Propilitik Dalam (Inner Propylitic)
Menurut Hedenquist dan Lindquist (1985) dalam Pirajno, 1992 zona ubahan pada sistem epitermal sulfidasi rendah (fluida kaya akan klorida, pH mendekati netral). Umumnya juga menunjukkan zona ubahan seperti pada sistem porfiri, tetapi menambahkan istilah inner porpylitic untuk zona pada bagian yang bertemperatur tinggi (>300 C), yang dicirikan oleh kehadiran epidot, aktinolit, klorit, dan illit.

6. Advanced Argillic
Untuk sistem epitermal sulfidasi tinggi (fluida kaya asam-sulfat), ditambahkan istilah advanced argilic yang dicirikan oleh kehadiran himpunan mineral pirofilit + diaspor ± kuarsa ± tourmaline ± enargit - luzonit (temperatur tinggi, 250-350 C), atau kumpulan mineral kaolinit + alunit ± kuarsa ± pirit ± kalsedon (untuk temperatur rendah < 180 C).

7. Skarn
Skarn adalah batuan calc – silicate yang dibentuk oleh reaksi dari Si, Al, dan Fe yang dibawa oleh fluida magmatik , dengan Ca dan atau Mg sedimen karbonat. Batasan mineralogi skarn sampai sekarang masih kabur (Taylor, 1996). Masalah yang lain, banyak batuan skarn yang memperlihatkan tekstur ukuran butir halus, yang mempersulit dalam identifikasi mineral pada batuan skarn.

Walaupun demikian, terdapat mineralogi yang sangat umum yang didapatkan pada batuan skarn, yaitu kelompok garnet, piroksin, amfibol, epidot, dan magnetit. Mineral lain yang umum adalah wolastonit, klorit, biotit, dan kemungkinan vesuvianit (idokras).

Garnet-piroksin-karbonat adalah kumpulan mineral yang paling umum dijumpai pada batuan induk karbonat yang orisinil (Taylor 1996). Amfibol umumnya hadir pada skarn sebagai mineral tahap akhir yang meng-overprint mineral – mineral tahap awal.

Aktinolit (CaFe) dan tremolit (CaMg) adalah mineral amfibol yang paling umum hadir pada skarn. Mineral piroksin yang sering hadir adalah jenis hedenbergit (CaFe) dan diopsid (CaMg). Terbentuk pada fluida yang mempunyai salinitas tinggi dan temperatur tinggi (sekitar 300 – 700 C).

8. Greisen
Himpunan mineral pada greisen adalah kuarsa-muskovit (atau lepidolit) dengan sejumlah mineral asesori seperti topas, turmalin, dan fluorit yang dibentuk oleh ubahan metasomatik post-magmatik granit (Corbett dan Leach,1993).

Selain diatas, Seager et al. (1982) dalam Evans (1987) membagi zona alterasi menjadi 5 zona berdasarkan kumpulan mineral ubahan yang terkandung di dalamnya, yaitu:

1. Zona Potassik
Zona alterasi ini tidak selalu hadir dan merupakan zona alterasi yang berada pada bagian dalam sistem hidrotermal dengan kedalaman bervariasi, umumnya lebih dari beberapa ratus meter. Alterasi tipe ini diakibatkan karena bertambahnya unsur potassium dalam peristiwa metasomatis serta disertai sedikit banyak unsur sodium dan kalsium .

Dicirikan oleh mineral ubahan ortoklas dan biotit sekunder atau ortoklas klorit, ortoklas-biotit-klorit, serisit, k-feldspar, kuarsa dan magnetit. Kuarsa hadir dalam bentuk stockwork. Dijumpai core derajat rendah dengan kandungan klorit dan serisit yang mencolok. Kalkopirit dan Pirit memiliki perbandingan 1:1 hingga 1:3. Endapan dijumpai berupa mikroveinlet, veinlet atau disseminated.

2. Zona Serisitisasi (Phyllic Zone)
Zona serisitisasi ini terletak dibagian luar zona potassik. Dicirikan oleh kumpulan kuarsa – serisit – pirit yang melimpah dan biasanya disertai minor klorit, llit dan rutil. Propillit mungkin hadir. Bagian dalam zona alterasi ini didominasi oleh serisit. Volume pirit mencapai 10% dari volume batuan dalam bentuk disseminated dan kalkopirit hanya sekitar 0,5%. Alterasi ini berhubungan dengan tingginya rekahan dimana bentuk endapannya berupa veinlet atau vein yang diisi oleh serisit, kuarsa dan mineral sulfida.

3. Zona Argilik
Zona alterasi ini tidak selalu hadir. Dicirikan oleh kumpulan mineral lempung, kuarsa dan karbonat. Pirit umum, tetapi lebih sedikit dibanding zona phyllic. Bagian atas tipe zona alterasi ini biasanya dijumpai zona advanced argilic yang tersusun oleh mineral diaspor, silika amorf atau kuarsa, korundum, andalusit dan alunit dalam keadaan asam tinggi. Argilik muncul pada bagian terluar dari sebuah sistem hidrotermal.

4. Zona Propilitik
Jenis zona alterasi ini selalu hadir, berkembang pada bagian terluar dari suatu zona alterasi (the outer and peripheral alteration zone), yang dicirikan oleh kumpulan mineral epidot maupun karbonat terutama kalsit dan juga mineral klorit.

Alterasi ini dipengaruhi oleh penambahan unsur H+ dan CO2. Mineral mafik primer (biotit dan hornblende) teralterasi oleh sebagian atau keseluruhan menjadi klorit dan karbonat. Plagioklas mungkin terubah.

Tipe ini akan berangsur-angsur mengelilingi batuan hingga radius yang cukup besar (bisa lebih dari ratusan meter). Logam sulfida seperti pirit juga mendominasi zona propilitik dengan mengganti fenokris hornblende maupun piroksin, sedangkan kalkopirit jarang dijumpai.

5. Alterasi Skarn (Calc-Silikat Zone)
Alterasi ini terbentuk akibat kontak antara batuan sumber dengan batuan karbonat. Tipe ini sangat dipengaruhi oleh komposisi batuan yang kaya akan kandungan kalsit. Pada kondisi minim air, tipe ini dicirikan oleh hadirnya mineral garnet, wollastonit, klinopiroksin, serta magnetit dalam konsentrasi besar pada kondisi kaya air. Zona ini ditandai dengan kehadiran mineral klorit, tremolit - aktinolit dan kalsit dari larutan hidrotermal.
Baca selengkapnya »
Macam-Macam Jenis Patahan (Sesar) | Lengkap dengan Klasifikasinya

Macam-Macam Jenis Patahan (Sesar) | Lengkap dengan Klasifikasinya

Apa itu Patahan (Sesar) ?

Patahan (Sesar) adalah satu bidang rekahan atau zona rekahan yang mengalami pergeseran (D.M Ragan, 1973).  Menurut Billings, 1990, Sesar atau Patahan atau Fault  adalah "are reptures along with opposites wall have moved past each other". Jadi sesar merupakan suatu rekahan yang telah mengalami pergeseran.

Berdasarkan tipe gerakannya, secara umum, sesar dibedakan atas:
  1. Sesar translasi: sesar yang pergeserannya sepanjang garis lurus.
  2. Sesar rotasi: sesar yang pergeserannya mengalami perputaran

Baca juga: Bagaimana bisa terbentuk Patahan ?

Komponen dari suatu sesar antara lain separation yang merupakan jarak tegak lurus antara 2 bidang yang tergeser dan diukur pada bidang sesar. Komponen separation yang dapat diukur sejajar strike sesar disebut strike separation sedangkan yang dapat diukur dengan dip sesar disebut dip separation.

Slip merupakan pergeseran relatif pada sesar yang nilainya diukur dari  blok yang satu ke blok yang lainnya  yang merupakan pergeseran titik-titik sebelumnya yang berimpit. Total pergeseran relatifnya disebut dengan net slip.

Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam suatu bidang yang telah tersesarkan antara lain:
  1. Bidang sesar, yaitu suatu bidang sepanjang rekahan dalam batuan yang tergeser.
  2. Dip sesar, yaitu sudut antara bidang sesar dengan bidang horizontal dan diukur tegak lurus dengan jurus sesar.
  3. Strike sesar, menunjukkan arah dari bidang sesar.
  4. Throw, yaitu komponen vertikal dari slip/ separation yang diukur pada bidang vertikal yang tegak lurus dengan jurus sesar.
  5. Heave, komponen horizontal dari slip/separation yang diukur pada bidang vertikal yang tegak lurus dengan jurus sesar.
  6. Hanging wall dan footwall yaitu blok yang terletak di atas bidang sesar dan di bawah bidang sesar.

Klasifikasi Patahan (Sesar)

Klasifikasi penamaan sebuah sesar sangat mengacu pada dasar klasifikasi yang digunakan, antara lain sebagai berikut:
1. Berdasarkan orientasi pola tegasan utama yang menyebabkannya (Anderson, 1951)
  • Thrust fault, jika tegasan utama maksimum dan intermediet adalah horizontal.
  • Normal fault, jika pola tegasan utama maksimum adalah vertikal
  • Wrench fault / strike slip fault,jika pola tegasan utama maksimum dan minimum adalah horizontal.

2. Menurut Billings, 1977, thrust fault digunakan untuk sesar naik dengan dip sesar  < 45 derajat sedangkan jika > 45 derajad disebut reverse fault dan apabila dip sesar relatif landai disebut overthrust fault. Sesar normal yang kemiringan bidangnya kecil disebut detachment fault.

3. Berdasarkan separation dan slip
Separation
  • Dip separation, yang terdiri dari normal separation fault, reverse separation fault, thrust separation fault.
  • Strike separation, yang terdiri dari left lateral separation fault dan right lateral separation fault.

Slip
  • Dip slip yang terdiri dari normal slip fault, reverse slip fault dan thrust slip fault
  • Strike slip, terdiri dari right lateral slip fault, left lateral slip fault.
  • Oblique slip, terdiri dari normal right lateral slip fault dan reverse left lateral slip fault.

Baca juga: Patahan Lembang Jawa Barat Menyimpan Potensi Gempa Dahsyat

4. Berdasarkan besar rake dari netslip (Billings, 1977)
  • Strike slip fault, jika net slipnya sejajar dengan strike sesar tidak ada komponen dip slip.
  • Dip slip fault, jika rake netslip adalah 90 derajat sehingga tidak ada komponen strike slip.
  • Diagonal slip fault, jika rake net slip lebih besar dari 0 derajat dan lebih kecil dari 90 derajat.

5. Berdasarkan orientasi pola tegasan utama yang menyebabkannya (Anderson, 1951)
  • Thrust fault, jika tegasan utama maksimum dan intermediate adalah horizontal
  • Normal fault, jika pola tegasan utama adalah vertikal 
  • Wrench fault, jika pola tegasan utama maksimum dan minimum adalah horizontal.
Baca selengkapnya »
Alterasi dan Mineralisasi Hidrotermal

Alterasi dan Mineralisasi Hidrotermal

Alterasi adalah perubahan suatu batuan dan mineral penyusunnya, baik itu sifat kimia maupun sifat fisiknya yang disebabkan oleh larutan hidrotermal (Pirajno,1992). Secara alami alterasi hidrotermal terhadap batuan agak bervariasi seiring dengan temperatur formasi dari bijih maupun batuannya.

Kehadiran demikian dari sebuah lingkaran alterasi dari batuan teralterasi mengindikasikan aksi hidrotermal, yang secara umum berarti keberadaan endapan mineral hidrotermal yang boleh jadi tersembunyi atau belum tersingkap ke permukaan. Jadi, sebuah lingkaran alterasi hydotermal dapat digunakan sebagai sebuah petunjuk praktis di dalam menemukan mineral bijih (Bateman,1951).

Batuan samping secara umum membatasi endapan bijih dari hidrotermal yang teralterasi oleh larutan panas yang melewatinya serta bersama dengan asosiasi bijihnya. Alterasi dianggap benar  untuk sebagian besar proses mineralisasi terhadap endapan bijih itu sendiri.

Secara alamiah produk alterasi tergantung atas beberapa faktor (Park dan MacDiarmid, 1964; Corbett dan Leach, 1993), yaitu:

  1. Karakter batuan asal (batuan induk)
  2. Karakter aliran fluida
  3. Karakter temperatur dan tekanan pada tempat berlangsungnya reaksi
  4. Permeabilitas
  5. Reaksi kinetik gas/cairan/padat
  6. Waktu aktivitas atau derajat keseimbangan .

Secara umum tipe batuan asal mempengaruhi jenis alterasi yang terjadi akibat pengaruh larutan hidrotermal, walaupun ada beberapa pengecualian (Boyle,1970 dalam Evans, 1987). Umumnya batuan yang bersifat asam akan terjadi proses sericitization, argilization, silicification dan pyritization.

Batuan intermedit dan basa secara umum menunjukkan chloritization, carbonatization, sericitization, pyritization dan propylitizaztion. Pada batuan karbonat alterasi temperatur tinggi berupa skarnification, sedangkan batulempung, slate dan sekis mempunyai karakteristik tourmalinization, dan secara khusus menghasilkan endapan tin dan tungsten.

Boyle (1970) dalam Evans (1987) juga menunjukkan bahwa tipe tertentu mineralisasi biasanya bersama dengan karakteristik alterasi pula tetapi hanya pada beberapa conto tergantung rekahan yang ada. Red uranium, vanadium, copper dan endapan perak secara umum disamakan dengan proses pemutihan. Endapan tipe vein perak biasanya mempunyai karakteristik terjadinya carbonatization, chloritization, dan vein Molybdenum-bearing, oleh proses silicification dan sericitization.

Pada kesetimbangan tertentu, proses hidrotermal akan menghasilkan kumpulan mineral tertentu yang dikenal sebagai kumpulan mineral (mineral assemblage) (Guilbert dan Park, 1986). Setiap himpunan mineral akan mencerminkan tipe ubahan (type of Alteration) yang secara umum dikelompokkan menjadi tipe potassik, filik, argilik, profilik, advanced argilic, skarn dan greissen.

Satu mineral dengan mineral tertentu sering kali dijumpai bersama (asosiasi mineral), walaupun mempunyai tingkat stabilitas pembentukan yang berbeda, sebagai contoh adalah klorit sering berasosiasi dengan piroksin atau biotit. Area yang memperlihatkan penyebaran kesamaan himpunan mineral yang hadir dapat disatukan sebagai suatu zona ubahan.

Berdasarkan asumsi tersebut, Lowel dan Guilbert (1970) dalam Corbett dan Leach (1993), membuat model alterasi – mineralisasi pada endapan bijih porfiri, menggunakan  istilah zona filik, untuk himpunan mineral Kuarsa + Serisit + Pirit + Klorit + Rutil + Kalkopirit; disamping juga menggunakan isitilah zona potasik, zona argilik, dan zona propilik.

Menurut Hedenquist dan Lindquist (1985) dalam Pirajno (1992) zona ubahan pada sistem epitermal sulfidasi rendah (fluida kaya klorida, pH mendekati netral) umumnya juga menunjukkan zona ubahan seperti pada sistem porfiri, tetapi menambahkan isitilah propilitik dalam (inner propylitic), untuk zona pada bagian yang bertemperatur  tinggi (> 300 C), yang dicirikan oleh kehadiran epidot, aktinolit, klorit dan illit.

Sedangkan untuk sistem epitermal sulfidasi tinggi (fluida kaya asam – sulfat), ditambahkan istilah  advanced argillic yang dicirikan oleh kehadiran himpunan mineral pirofilit + diaspor + andalusit + enargit + kuarsa + turmalin – luzonit (temperatur tinggi 250 – 350 C), atau kumpulan mineral kaolinit + alunit + kalsedon + kuarsa + pirit (temperatur rendah < 180 C).

Steven and Ratté (1960) dalam Hedenquist et al, (2000) mengilustrasikan zona alterasi ke arah luar dari inti silisik yang bertekstur vuggy-quartz tersebut (lihat gambar).

alterasi dan mineralisasi hidrotermal
Gambar Penampang tipikal tubuh bijih High Sulfidation yang memperlihatkan zona inti silisik (Stoffregen, 1987; Steven and Ratté, 1960; White, 1991; dalam Hedenquist et al., 2000).

Inti silisik merupakan host utama bijih HS, walaupun zona advanced argillic juga dapat mengandung bijih, terutama jika pirofilit mendominasi zona silisiknya. Terlihat juga bahwa bagian dari advanced argillic (kuarsa-alunit) bisa terkandung di dalam inti silisik, yang terjadi karena variasi permeabilitas akibat adanya zona-zona tertentu yang tidak tercuci secara sempurna.

Lowell dan Guilbert (1970) dalam Corbett dan Leach (1993), membuat model alterasi – mineralisasi juga pada endapan bijih porfiri, menambahkan isitilah zona filik, untuk himpunan mineral Kuarsa + Serisit + Pirit + Klorit + Rutil + Kalkopirit. Sedangkan Meyer dan Hemley (1967) dalam Guilbert and Park (1986) membagi zona alterasi menjadi 6 bagian yaitu Propylitic, Phyllic (sericitic), Argillic, Advanced Argillic, Greissen dan Skarn.
Baca selengkapnya »
Beranda