thumbnail

Preparasi Sampel Bor Nikel Laterit

Pengertian Preparasi Sampel

Preparasi sample adalah suatu proses pengambilan sampel yang representatif untuk keperluan penyelidikan analisis. Komposit sampel merupakan sampel yang terdiri dari dua atau lebih yang dikumpulkan pada waktu tertentu dan ditambahkan bersama-sama. Standar operional prosedur ini berlaku di semua kegiatan preparasi sampel bor yang dengan ruang lingkup preparasi sample meliputi persiapan, preparasi, penyaringan material, pengecekan ulang, dan laporan produksi.

Peringatan Umum

Gunakan alat pelindung diri (APD), pekerjaan ini memiliki potensi bahaya dan kerugian yang sedang (cedera sedang dan barang rusak), kesalahan dalam penanganan sample berakibat data tidak valid. Ketidakhati-hatian dalam preparasi sample dapat mengakibatkan cedera, hindari pemberian nomor sekaligus untuk beberapa sample karena dapat berakibat tertukarnya nomor di antara sample. Prosedur ini harus diikuti agar potensi bahaya/kerugian dapat dihindari. Standar PPE (Personal Protective Equipment) yang disesuaikan dengan perkerjaan di lapangan yaitu diantaranya: Sarung tangan, Sepatu Safety, Masker, Helmet, Kaca mata.


Peralatan Preparasi

Perlengkapan atau peralatan tambahan yang menunjang terlaksananya kegiatan preparasi sampel yaitu diantaranya: Lori-lori (Tambahan), 1 Set Sample Screen (Screen 2", Screen 6"), Kwartering, Sendok sample dan palu-palu, Kantong sampel dan plastik nomor sampel, Tali rafia, Alat pengaduk sample, Timbangan Digital, Wadah tempat sample (Talang), Barcode, Form isian preparasi, Buku logbook preparasi, Karung. Kuas, 1 set komputer, Peralatan tulis menulis: pulpen, spidol permanen, spidol white board, pensil.

preparasi sampel bor nikel
Gambar beberapa peralatan preparasi sampel bor nikel.

Urutan Kerja Preparasi Sampel

Persiapan Umum
Siapkan peralatan kerja dan peralatan safety yang akan digunakan, siapkan alat tulis menulis. Rangkaikan alat saringan sebagai berikut: Letakkan saringan berukuran 6" pada rak Screening I (bagian atas), saringan ukuran 2" pada rak 2 (Bagian Tegah), dan talang di rak III (Paling bawah). Siapkan sendok sample, palu – palu dan pengaduk sample, siapkan talang yang bersih sebagai wadah sample. Siapkan timbangan (nolkan atau kalibrasi), Siapkan nomor-nomor sample (XXXXXXX), Siapkan sample bag plastik, Siapkan plastik nomor sample, Siapkan karung sample, Siapkan form penulisan data preparasi dan data logging. Perhatikan sekeliling untuk menghindari hal-hal yang sekiranya berpotensi bahaya, misalnya lantai yang licin, barang berserakan dilantai dsb.

Persiapan Sampel Bor
Pastikan apakah sample/core yang akan dipreparasi sudah difoto atau belum oleh logger dengan mengecek pada logbook logging dan foto serta konfirmasi dengan logger. Siapkan form preparasi yang telah diisi sesuai dengan nomor holes dan logging yang ada. Check label-label material yang akan di preparasi seperti: Label depth (interval), Label Hole_ID, Label deposit. Dilakukan per interval depth atau sesuai dengan geological break.


Persiapan Preparasi
Tempatkan sample/core box secara berurut mulai dari meteran awal hingga akhir di dekat meja preparasi. Lakukan preparasi hole per hole dimulai dari sample pada meteran awal dilanjutkan hingga ke meteran akhir. Perhatikan jenis material (LIM, SAP, BLD, BRK). Sendok material tersebut (dari top ke bottom) dari core box, yakinkan semuanya terambil, dan dikumpulkan dalam satu wadah.

Penyaringan Material Limonit
Untuk material limonit/tanah (yakinkan dengan cara visual atau di remas-remas) perlakukan sbb: Ditimbang dan catat pada lembar atau form pada kolom material –2" yang disediakan. Tumpahkan di atas meja preparasi. Hancurkan, aduk-aduk dan composite sample hingga benar-benar homogen sebanyak 10 – 15 kali. Ambil Ring Flat, masukkan semua sample ke dalamnya dan diratakan. Lakukan kwartir didalam ring tersebut. Kemudian sample yang sudah terbagi menjadi 4 bagian tersebut tumpuk mulai dari bagian I,ke-II, ke-III dan ke-IV. Kompositkan kembali hingga benar-benar homogen.

Kemudian ambil kembali ring flat, masukkan semua sample tersebut secara merata. Kwartir sample tersebut didalam ring. Bagian sample yang telah terbagi kembali ditumpuk mulai dari bagian I, ke II, ke III dan tumpukan paling atas adalah bagian ke IV. Setelah sample tersebut ditumpukkan ambil kwartir dan lakukan kembali peng-kwartiran sample. Ambil sampel dari dua sisi alat kwartir yang saling bersilangan dan gabungkan menjadi satu sebagai sample regular yang akan dikirim ke laboratorium. Beri nomor sample dan masukkan ke dalam sample bag plastik.

Pemberian nomor sample dimulai dari nomor yang terkecil ke nomor yang terbesar/fraksi yang terbesar ke fraksi yang terkecil yang disusun secara berurutan dari kiri ke kanan kru preparasi. Kemudian ambil juga sisa sample dari dua sisi kwartir yang lainnya, gabungkan dan masukkan kedalam kantong sample sebagai sample backup. Masukkan no sample yang sama dengan no sample original dan pita merah sebagai tanda bahwa sample tersebut adalah sample backup yang akan di simpan di gudang, tuliskan "Backup" atau initial "B" di bagian luar plastik sample.

Untuk sample yang jumlahnya sedikit dan hanya cukup untuk dikirim ke lab tidak perlu di buatkan backup samplenya. Catat nomor sample ke dalam form preparasi sample pada baris interval yang sebenarnya. Untuk pengerjaan jenis sample yang sama, jika terdapat material asing berupa fraksi atau yang lainnya dilakukan penyaringan pada screening.

Penyaringan Material Saprolit dan Bedrock
Setelah melakukan preparasi untuk sample limonit dilanjutkan dengan sample saprolit dan bedrock, sebelum melakukan preparasi sample saprolit terlebih dahulu peralatan yang telah dipakai untuk layer limonit tadi dicuci sampai bersih dan begitu juga meja yang digunakan dibersihkan untuk menghindari kontaminasi antar material yang satu dengan material yang lain, pada saat layer saprolite selesai dipreparasi dan memasuki layer bedrock ataupun boulder proses tersebut diatas dilakukan kembali.


Untuk material saprolit yang ditandai dengan hadirnya material-material lebih kasar perlakuannya sebagai berikut: Sendok material tersebut dari core-box. Bila terdapat geological break, sendok material sampai batas dimana geological break tersebut, dimulai dari top ke bottom core. Tumpahkan di atas saringan dan diaduk-aduk sambil ditekan hingga material yang lebih kecil akan masuk ke dalam kisi-kisi saringan. Kumpulkan material yang tertinggal pada saringan 2", timbang dan catat pada form yang tersedia pada kolom material "+2 – 6". Masing-masing fraksi kemudian di komposit/diaduk dengan menggunakan sendok pengaduk kemudian di kwartirhingga menghasilkan sample kira-kira 2 Kg.

preparasi sampel bor nikel laterit
Gambar proses preparasi sampel nikel; penyendokan, quartering, dan screening.

Ambil sample dari 2 sisi alat kwartir yang saling bersilangan dan gabungkan menjadi satu sebagai sample regular/original yang akan dikirim ke Laboratorium. Beri nomor sample sesuai dengan urutannya dan masukkan ke dalam sample bag plastik. Sisa sample dari dua sisi kwartir lainnya kemudian diambil dan digabungkan serta dimasukkan kedalam kantong sample sebagai sample backup dengan no sample yang sama dengan no sample original yang akan dikirimkan ke laboratorium, Tuliskan "Backup" atau initial “B” di bagian luar plastic sampel.

Untuk sample yang jumlahnya sedikit dan hanya cukup untuk dikirimkan ke laboratorium tidak perlu di buatkan backup samplenya. Catat nomor sample ke dalam form preparasi sample pada baris interval yang sesuai. Lakukan hal yang sama untuk material yang tertampung pada saringan ke dua dan ketiga dan catat pada kolom-kolom yang sesuai, kerjakan setiap sample satu-persatu.

Setelah 4 sample selesai dipreparasi, ikat menjadi satu, masukkan sebanyak 4 ikatan pada karung sample yang sudah disiapkan. Setiap kelipatan 20 sample diduplicatekan sebagai Quality control preparasi, apabila dalam satu hole tersebut jumlah sample tidak cukup untuk kelipatan 20 maka sample tersebut harus tetap diduplikatkan sebanyak satu sample, begitu pula apabila sample tidak cukup untuk kelipatan 2 kali 20 sample maka duplikatnya tetap diambil 2 sample.


Tuliskan nomor Hole ID, no sample id pada bagian luar karung, pastikan sesuai dengan hole ID yang tercantum di coreloss dan form logging. Jika lebih dari satu karung dari setiap hole, berikan no urutan no karung sesuai dengan urutan nomor sample terkecil sampai terbesar. Setelah selesai satu hole, kumpulkan semua karung berisi sample-sample hasil preparasi per hole, lakukan pengecekan ulang.

Pengecekan Ulang
Yakinkan bahwa data-data timbangan material telah dimasukkan pada kolom yang sebenarnya. Pastikan pemberian no sample pada form preparasi sudah berurut, jika ada no sample yang tidak berurut atau loncat berikan keterangan pada form preparasi dan informasikan kepada datatech yang akan membuat waybill/surat pengatar ke laboratorium. Check kembali sample yang ada di karung dan pastikan sesuai dengan yang tertulis di dalam form preparasi.

Membuat Laporan Produksi Preparasi
Jangan lupa mencatat kedalaman material tersebut yang disesuaikan dengan pemisahan-pemisahan yang dilakukan oleh geologist ke dalam logbook preparasi. Catat total jumlah sample hasil preparasi per hole nya ke dalam buku laporan produksi preparasi sample. Catat dalam log book no Hole ID, Grid, End of Hole, Deposit, nomor sample id from-to setiap hole-nya dan crew yang melakukan preparasi. Kumpulkan alat kerja, cuci hingga bersih. Bersihkan tempat kerja. Simpan alat-alat kerja pada tempatnya masing-masing.
thumbnail

Prosedur Pemetaan Geologi Nikel Laterit

Tujuan dan Pengertian Pemetaan Geologi

Pemetaan dan penyelidikan geologi dimaksudkan untuk mengumpulkan berbagai data dan informasi geologi permukaan mencakup: sebaran batuan/litologi, morfologi, struktur geologi serta bahan galian. Hasil pemetaan dan penyelidikan diharapkan dapat berguna sebagai data dasar dalam menunjang perencanaan kegiatan eksplorasi lanjutan. Ruang lingkup cakupan aktivitas meliputi: perencanaan, pekerjaan lapangan, analisis dan evaluasi data, dan penyusunan laporan.

Pemetaan adalah suatu proses pencarian dan pengumpulan data dengan metode pengukuran, perhitungan maupun penggambaran sehingga diperoleh data yang cukup untuk dituangkan dalam bentuk peta. Peta adalah gambaran permukaan bumi yang diproyeksikan ke dalam bidang datar dengan skala tertentu. Peta geologi  adalah peta yang memberikan gambaran mengenai seluruh penyebaran dan susunan dari lapisan-lapisan batuan dengan memakai warna atau simbol, yang dapat memberikan pencerminan dalam tiga dimensi mengenai susunan batuan dibawah permukaan.

Safety Mapping

Kelalaian dan ketidak hati-hatian akan menyebabkan bahaya selama field mapping. Ketidaktelitian dalam field mapping akan menyebabkan data yang tidak benar/valid, Field mapping. Tidak boleh dilakukan seorang diri atau berpencar/memisahkan diri dari rekan satu tim, kecuali diyakinkan bahwa yang berpencar, melakukan mapping didaerah yang tidak jauh, masih dapat dipantau oleh rekan satu tim, dan waktunya hanya sebentar saja. Demikian pula, radio komunikasi dua arah dipastikan bisa berfungsi dengan baik ketika seorang diri/berpencar.


Jangan pernah melakukan field mapping sambil berlari-lari. Hati-hati dan waspada terhadap binatang liar (khususnya ular) dan serangga berbahaya. Perhatikan dan waspada terhadap bahaya pohon/kayu tumbang, berhati-hati terhadap bahaya terkena petir. Menggunakan alat pelindung diri seperti Safety Helmet, Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Hand Gloves, Safety Clothes (sebaiknya baju lengan panjang dan berwarna cemerlang, dapat memantulkan sinar), dan Safety Vest (sebaiknya rompi/vest berwarna cemerlang dan dapat memantulkan sinar).

Peralatan Lapangan

Peta topografi/geologi daerah yang akan di mapping, Palu geologi, Kompas geologi, GPS (Global Positioning System), Alat tulis menulis (buku catatan, pensil, pulpen, spidol anti air, stabilo, pensil warna). Radio Komunikasi dua arah, Arloji, Ransel/Backpack, Loupe, Pen magnet, Scratcher, Magnetometer (Alat pengukur magnetic susceptibility). Kamera, Pita ukur/rol meter (1m atau lebih), serta Map Holder.

Kantong sample, Pita berwarna, Senter dan battery cadangan (Untuk berjaga-jaga jika kemalaman di hutan), First Aid Kit, Survival Kit, Parang (Untuk berjaga-jaga dari binatang buas dan serangga berbahaya dan kegunaan lain), Korek api, Rain coat (jas hujan), Tenda kecil (jika aktivitas mapping diperkirakan akan lama dan ada kemungkinan menginap di hutan), Bekal makanan/minum secukupnya.

pemetaan geologi nikel
Ilustrasi prosedur pemetaan geologi nikel laterit.

Prosedur Kerja

Persiapan Pekerjaan
Tahap ini merupakan tahap untuk mempersiapkan segala perlengkapan dan peralatan yang akan digunakan dalam kegiatan pemetaan geologi sekaligus mendiskusikan rencana kerja pada lokasi yang akan di petakan.
1. Siapkan peta lokasi yang direncanakan (masukkan/plot semua data yang sebelumnya telah terdapat di daerah tersebut, jika ada).
2. Sesuaikan koordinat peta yang akan digunakan dengan sistem koordinat GPS.
3. Rencanakan rute field mapping yang baik dan aman
4. Siapkan semua alat pelindung diri dan peralatan yang dibutuhkan
5. Pastikan semua alat pelindung diri dan peralatan yang akan dibawa ke lapangan dapat digunakan dan berfungsi dengan baik.
6. Informasikan detail rencana field mapping yang akan dilakukan kepada atasan atau orang lain yang berwenang. Hal-hal yang perlu disampaikan adalah : rencana lokasi/daerah yang akan dimapping, rute yang akan dilalui, rencana waktu kembali/pulang , berapa orang dan siapa saja yang akan melakukan field mapping.
7. Tinggalkan copy dari detail rencana field mapping di basecamp/kantor, yaitu peta lokasi, rute perjalanan, personil yang ikut dan perkiraan waktu kembali/pulang.

Perjalanan ke Lokasi Mapping
Gunakan alat pelindung diri standard (safety shoes, safety helmet, safety hand gloves, safety clothes dan safety vest), Aktifkan radio komunikasi dua arah, Jika sebagian perjalanan dilakukan dengan mobil, berhentilah di tempat yang aman dan parkir mobil dengan benar dan aman di tempat yang aman. Lakukan pengaturan untuk meyakinkan bahwa semua alat dan peralatan terbawa oleh anggota tim.


Perhitungkan beban yang dibawa oleh semua anggota tim dan waktu perjalanan yang harus ditempuh untuk menghindari anggota tim terserang kelelahan. Berjalan dengan kecepatan yang cukup, tidak terburu-buru ataupun berlari-lari. Gunakan GPS dan kompas untuk memandu arah perjalanan. Plot jalur perjalanan yang dilalui supaya selalu bisa dibandingkan dengan rute yang telah direncanakan. Berhati-hatilah selama dalam perjalanan ke lokasi mapping, supaya tidak terpeleset, tergelincir, terjatuh, tertimpa kayu/pohon, atau tersandung akar kayu/pohon.

Waspada pada daerah yang mungkin terdapat binatang buas, ular atau serangga berbahaya. Misalnya semak belukar yang sering terdapat ular, pohon yang terdapat sarang lebah, atau daerah yang mungkin terdapat buaya, dll. Apabila terjadi hujan lebat dan petir, segera cari tempat berlindung yang aman, istirahatlah sejenak sampai keadaan reda dan dirasa aman untuk melanjutkan perjalanan

Pelaksanaan Mapping Dari Satu Titik Pengamatan ke Titik Pengamatan Berikutnya
Gunakan alat pelindung diri standard (safety shoes, safety helmet, safety hand gloves, safety clothes dan safety vest). Tetap aktifkan radio komunikasi  dua arah. Hati-hati dan waspada selama dalam perjalanan dari satu titik/lokasi pengamatan ke titik /lokasi pengamatan berikutnya. Berjalan dengan kecepatan yang cukup. Tidak terburu-buru, tidak berlari-lari, gunakan GPS dan kompas untuk menentukan posisi setiap titik/ lokasi pengamatan.

Plot jalur mapping yang dilalui supaya selalu bisa dibandingkan dengan rute yang telah direncanakan. Perhitungkan waktu tempuh dari satu titik pengamatan ke titik pengamatan lainnya supaya bisa memperkirakan waktu yang tersisa dan waktu yang masih diperlukan untuk sisa pekerjaan/mapping hari itu. Berhati-hatilah selama dalam perjalanan dari satu titik/lokasi pengamatan ke titik/lokasi pengamatan lainnya supaya tidak terpeleset, tergelincir, terjatuh, tertimpa kayu/pohon, atau tersandung akar kayu/pohon.

Baca juga: QAQC Nikel Laterit

Waspada pada daerah yang mungkin terdapat binatang buas, ular atau serangga berbahaya misalnya semak belukar yang sering terdapat ular, pohon yang terdapat sarang lebah, atau daerah yang mungkin terdapat buaya, dll. Apabila terjadi hujan lebat dan petir, segera cari tempat berlindung yang aman, istirahatlah sejenak sampai keadaan reda dan dirasa aman untuk melanjutkan perjalanan.

Mengambil Gambar/Foto Dengan Kamera dan Membuat Sketsa
Gunakan alat pelindung diri standard (safety shoes, safety helmet, safety hand gloves, safety clothes dan safety vest). Tetap aktifkan radio komunikasi  dua arah. Hati-hati dan waspada terhadap keadaan sekeliling. Pilih lokasi pengambilan gambar/foto dan lokasi membuat sketsa yang baik, sehingga gambar atau sketsa yang dihasilkan bagus dan mencerminkan data detail yang ingin ditonjolkan. Pastikan posisi tubuh dan pijakan kaki ketika mengambil gambar/foto dan membuat sketsa adalah aman, supaya terhindar dari bahaya. Gunakan pengaturan cahaya yang benar supaya gambar/hasil yang diperoleh bagus. Gunakan map holder supaya pembuatan sketsa dapat dilakukan dengan baik.

Melakukan Deskripsi Litologi, Geomorfologi, Stuktur, Serta Potensi Bahan Galian Pada Lokasi Sekitar Titik Pengamatan
Tetap gunakan alat pelindung diri standard (safety shoes, safety helmet, safety hand gloves, safety clothes dan safety vest). Tetap aktifkan radio komunikasi  dua arah, hati-hati dan waspada terhadap keadaan sekeliling. Pilih lokasi pembuatan deskripsi yang baik, sehingga deskripsi yang dihasilkan baik dan benar, serta mencerminkan data detail yang ingin ditonjolkan. Dekati obyek yang akan dideskripsi.

Jika mendeskripsi tanah penutup, limonite, saprolite atau bedrock, ambillah sample tersebut, pegang, rasakan dan amatilah sifat fisik obyek yang dideskripsi. Gunakan alat bantu deskripsi, yaitu loupe, pen magnet, scratcher dan magnetometer. Apabila ada yang perlu diukur dimensinya, ukurlah dengan pita ukur.


Apabila ada struktur yang dapat diukur, misalnya fracture, joint, vein, veinlet ukurlah dengan menggunakan kompas geologi. Rekamlah/catatlah sebanyak mungkin dan sedapat mungkin semua data yang dianggap perlu, sebab harus diingat, sekali kita telah meninggalkan suatu titik/lokasi pengamatan, adalah sangat sulit, tidak efektif dan tidak efisien untuk kembali ke lokasi tersebut.

Melakukan Sampling
Gunakan alat pelindung diri standard (safety glasses, safety shoes, safety helmet, safety hand gloves, safety clothes dan safety vest), tetap aktifkan radio komunikasi dua arah. Hati-hati dan waspada terhadap keadaan sekeliling, pilih lokasi pengambilan sample yang baik, sehingga sample yang dihasilkan representatif, serta  mencerminkan data detail yang ingin ditonjolkan. Pastikan posisi tubuh dan pijakan kaki ketika melakukan sampling adalah aman, supaya terhindar dari bahaya.

Ambillah sample sesuai yang diperlukan, apabila mengambil sample nikel laterit berupa soft material (soil, limonite atau soft saprolite), ambillah kira-kira 2 kg dan masukkan ke kantong sample. Apabila mengambil sample hard material (boulder, rocky saprolite atau bedrock), ambillah seukuran 2x kepalan tangan dan masukkan ke kantong sample. Beri tanda pengenal di kantong sample dengan spidol anti air. Cantumkan: Lokasi sampling, no.sample, tanggal sampling, jenis sample.

Plot Lokasi Pengamatan di Peta
Tetap gunakan alat pelindung diri standard (safety shoes, safety helmet, safety hand gloves, safety clothes dan safety vest). Tetap aktifkan radio komunikasi  dua arah, hati-hati dan waspada terhadap keadaan sekeliling. Plot lokasi pengamatan di peta dengan menyesuaikan arah utara sebenarnya di lapangan dan di peta dengan bantuan kompas dan juga GPS untuk mengetahui koordinat. Plotting di peta dapat dilakukan dengan orientasi terhadap medan sekitar untuk membandingkan kondisi sebenarnya di lapangan, dibandingkan dengan peta.


Plotting di peta dapat juga dilakukan dengan menggunakan alat bantu GPS. Untuk menggunakaan GPS, carilah/buatlah sehingga lokasi pengamatan menjadi area terbuka yang memungkinkan sinyal satelit dapat diterima oleh GPS. Apabila kondisi sekitar lokasi pengamatan belum "terbuka", pakailah parang untuk membersihkan dan membuat area tersebut lebih terbuka. Plot hal-hal yang diperlukan dengan kode dan symbol yang jelas dan lazim digunakan untuk memudahkan orang lain membaca dan mengerti peta tersebut.

Memberi Tanda Pengenal di Lokasi Pengamatan/Sampling
Gunakan alat pelindung diri standard (safety shoes, safety helmet, safety hand gloves, safety clothes dan safety vest). Tetap aktifkan radio komunikasi  dua arah, Hati-hati dan waspada terhadap keadaan sekeliling. Setelah semua tahapan mapping diatas telah selesai, informasi berupa: No.stasiun pengamatan, nama daerah, tanggal pengamatan, jenis sampling yang dilakukan harus dituliskan pada pita berwarna (pita survey) dengan menggunakan spidol anti air. Pita tersebut kemudian diikatkan pada batang kayu/pohon yang kuat dan keras, dan dianggap berumur cukup panjang.

Pulang ke Basecamp/Kantor
Gunakan alat pelindung diri standard (safety shoes, safety helmet, safety hand gloves, safety clothes dan safety vest). Tetap aktifkan radio komunikasi dua arah, berjalan dengan kecepatan yang cukup, tidak terburu-buru, tidak berlari-lari. Pastikan semua peralatan tidak ada yang tertinggal di lapangan. Semua data yang telah direkam/dicatat/dideskripsi beserta sample yang telah diambil, dibawa pulang dengan cara aman hingga sampai ke basecamp/kantor.

Gunakan GPS dan kompas untuk memandu arah perjalanan. Plot jalur perjalanan yang dilalui supaya selalu bisa dibandingkan dengan rute yang telah direncanakan. Waspada pada daerah yang mungkin terdapat binatang buas, ular atau serangga berbahaya misalnya semak belukar yang sering terdapat ular, pohon yang terdapat sarang lebah, atau daerah yang mungkin terdapat buaya, dll.


Apabila terjadi hujan lebat dan petir, segera cari tempat berlindung yang aman, istirahatlah sejenak sampai keadaan reda dan dirasa aman untuk melanjutkan perjalanan. Berhati-hatilah selama dalam perjalanan pulang ke basecamp/kantor supaya tidak terpeleset, tergelincir, terjatuh, tertimpa kayu/pohon,  atau tersandung akar kayu/pohon.

Laporan Hasil Pemetaan Geologi
Laporan dibuat pada saat kegiatan pemetaan geologi lapangan telah selesai dilakukan. Laporan ini berisi data hasil kegiatan lapangan yaitu diantaranya data litologi, gemorfologi, struktur, dan potensi bahan galian.
thumbnail

Potensi Daerah Penghasil Nikel di Indonesia, Pongkalero Kabaena Selatan

Tulisan ini merupakan tinjauan pendahuluan terhadap potensi nikel pada izin usaha pertambangan (IUP) Eksplorasi PT AAA yang secara umum mewakili salah satu daerah penghasil nikel di Indonesia yaitu Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Tinjauan ini merupakan tahapan eksplorasi paling awal sebelum kegiatan lapangan dilakukan. Lokasi IUP yang dimaksudkan terletak sekitar ± 80 kilometer di sebelah selatan Kota Rumbia Ibu Kota Kabupaten Bombana pada koordinat titik centroid = 9410500, 380250 UTM. Properti IUP masuk dalam Kecamatan Kabaena Selatan, tepatnya di Desa Pongkalaero.

Secara legalitas, IUP PT AAA terletak di Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan SK Bupati Bombana Nomor xxx Tahun 2012; Tanggal xxx Desember 2012. Luas lokasi IUP Operasi Produksi PT AAA yaitu 4888 ha sedangkan berdasarkan hasil plot koordinat yaitu 4971.23 Ha. Izin bahan galian berupa mineral logam (bijih nikel).


Berdasarkan dari peta perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dan penunjukkan kawasan hutan di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2011 (Lampiran SK Menteri Kehutanan No SK.465/Menhut-II/2011; Tanggal 9 Agustus 2011), lokasi IUP PT AAA termasuk dalam areal penggunaan lain, hutan produksi terbatas dan hutan lindung dengan luasan sebagai berikut:
1. Hutan Lindung = 3575,25 Ha ( 71.92% )
2. Area Penggunaan Lain = 1307,14 Ha ( 26.29 % )
3. Hutan Produksi Terbatas = 88,84 Ha ( 1.79 % )

daerah penghasil nikel di indonesia
Gambar peta lokasi IUP dan status hutan.

Berdasarkan dari peta geologi regional lembar Kolaka, Sulawesi Skala 1 : 250.000 (Simandjuntak, dkk., 1993), lokasi IUP PT AAA ini berada pada Komplek Ultramafik, Formasi Langkowala dan kompleks Pompangeo. Komplek Ultramafik merupakan susunan atas harsburgit, dunit, wherlit, serpentinit, gabro, basal, dolerit, diorit, mafik meta, ampibiolit, magnesit dan setempat rodingit. setempat kalkarenit. Formasi Langkowala tersusun atas konglomerat, batupasir, serpih, dan setempat kalkarenit. Sedangkan Kompleks Pompangeo tersusun atas sekis mika, sekis glokofan, sekis amfibolit, sekis klorit, rijang berlapis sekis genesan, pualam, dan batugamping meta.


Berdasarkan dari peta analisa slope daerah IUP PT AAA berada pada daerah morfologi perbukitan bergelombang miring dan morfologi perbukitan terjal. Morfologi perbukitan terjal tersebar pada bagian tengah dari lokasi IUP PT AAA, dicirikan oleh daerah perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 400 – 1200 mdpl dan kemiringan lereng berkisar > 16 derajat.

Sedangkan morfologi perbukitan bergelombang miring tersebar dibagian utara dan selatan dari IUP, dicirikan dengan kemiringan lereng berkisar < 16 derajat. Endapan nikel laterit akan berkembang baik pada kemiringan lereng (slope) antara 2-120, jika disusun oleh litologi batuan ultramafik.

daerah penghasil nikel di indonesia
Peta geologi IUP secara regional dan analisa slope.

Dari hasil data eksplorasi terdahulu terdapat 10 titik auger, 27 titik testpit dan 33 titik pengeboran dengan total kedalaman yaitu 264 m. Dari hasil evaluasi terdapat beberapa titik yang memiliki kandungan Ni dengan kadar yang bagus. Terdapat endapan nikel yang potensial dimana terdapat beberapa titik yang memiliki kadar Ni tinggi > 1,8 %. Oleh karena itu lokasi ini disarankan untuk ditindaklanjuti dengan due diligence (site visit dan pemetaan geologi semi detail) untuk memastikan potensi dan sebaran bahan galian tersebut.


daerah penghasil nikel di indonesia
Peta sebaran kadar nikel hasil compilasi data terdahulu.

Selain itu perlu pula diperhatikan masalah izin pinjam pakai kawasan hutan untuk kegiatan eksplorasi dan operasi produksi, karena sebagian besar prospek area pada IUP PT AAA termasuk dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas.
thumbnail

Proses Pengolahan Pasir Besi Menjadi Konsentrat Bijih Besi

Proses pengolahan pasir besi sebenarnya cukup sederhana, karena dapat dilakukan tanpa memakai bahan kimia. Kita ketahui bahwa pasir besi seperti juga bijih logam lainnya merupakan deposit yang tidak murni, biasanya tersusun atas mineral utama yang terdiri dari besi, titanium dan mineral pengotor yang terdiri dari alumunium, silikon, vanadium, fosfor, dan sulfur. Untuk mendapatkan logam besi diperlukan tahap pengolahan dengan menggunakan "magnetic separation".


Pengolahan pasir besi biasanya dilakukan secara fisik atau mekanik. Tujuan dari pengolahan ini adalah untuk meningkatkan kadar logam besi dengan cara membuang material yang tidak diinginkan. Secara umum, setelah proses pengolahan akan dihasilkan dua kategori produk, yaitu:
1. Konsentrat berupa logam besi
2. Tailing berupa kumpulan bahan-bahan kurang berharga (mineral pengotor)

proses pengolahan pasir besi menjadi konsentrat
Gambar proses pengolahan pasir besi menjadi konsentrat.

Dari gambar di atas dapat terlihat bahwa kunci untuk menghasilkan konsentrat ada pada magnetic separation. Pada magnetic separation dilakukan proses pemisahan material dengan memanfaatkan sifat kemagnetan mineral (lihat gambar di atas). Teknik pemisahan ini sangat berguna pada pengolahan pasir besi karena praktis dan ekonomis. Di dalam magnetic separator, ruah dilewatkan di bawah dua pasang elektromagnet.

Biasanya, pasangan elektromagnet pertama memiliki kuat magnet yang rendah (400-600 gauss), berguna untuk menarik logam besi yang ada. Pasangan elektromagnet yang kedua memiliki kuat magnet yang lebih kuat (5000-8000 gauss), berguna untuk menarik logam besi yang memiliki sifat kemagnetan yang lebih rendah.

Baca juga: Genesa Pasir Besi

Pengolahan yang menggunakan dua tahap pemisahan ini berguna untuk menghasilkan konsentrat akhir yang mengandung Fe lebih besar. Proses ini dapat dilakukan dengan bantuan air maupun tanpa air. Produk sisa dari magnetic separator pada pengolahan pasir besi adalah tailling berupa material bukan magnet.

Mineral besi yang masih terkait dengan mineral pengotornya disebut sebagai mineral middling. Mineral middling ini berpengaruh pada hasil pengolahan pasir besi. Pada saat proses pengolahan harus menghasilkan kandungan Fe tinggi maka mineral middling akan masuk kedalam jalur tailing. Hal ini menyebabkan reovery konsentrat yang dihasilkan menjadi turun.

Apabila recovery yang diinginkan tinggi, maka mineral middling dimasukkan ke dalam jalur konsentrat. Ini menyebabkan kosentrat yang dihasilkan akan memiliki kadar Fe yang rendah. Mineral middling mempengaruhi kadar dan recovery dari konsentrat pasir besi.


Selain mineral middling, ukuran partikel pasir besi juga sangat mempengaruhi hasil proses pengolahan pasir besi dalam bentuk konsentrat. Secara umum semakin halus ukuran partikel pasir besi maka kandungan Fe nya akan semakin besar, begitupula sebaliknya.
thumbnail

Mengenal Tipe Mineralisasi Emas Sulfida Rendah

Hai sobat geologinesia jumpa lagi kita dalam pembahasan mengenai mineralisasi emas sulfida. Setelah sebelumnya kita membahas mengenai mineralisasi emas sulfida tinggi, maka untuk postingan kali ini kita akan membahas mengenai tipe mineralisasi emas sulfida rendah (Au Low Sulfidation).

Emas sulfida rendah pada dasarnya terbentuk sama dengan mineralisasi emas di sistem porfiri. Untuk lebih mudah memahaminya, geologinesia akan membagi emas sulfida jenis ini menjadi 2 macam yaitu:
1. Emas-Kuarsa Sulfida Rendah (Au-Quartz Low Sulfidation)
2. Emas serta Logam Dasar Dalam Batuan Karbonat


Emas-Kuarsa Sulfida Rendah (Au-Qz Low Sulfidation)

Emas-kuarsa sulfida rendah terbentuk di tatanan tektonik yang berkaitan dengan sistem porfiri yaitu umumnya terbentuk di busur volkanik, hanya sedikit ditemukan di busur belakang. Mereka terbentuk pada tahap akhir sistem porfiri atau proses intrusi yang terdapat di sekeliling intrusi porfiri.

Kenampakan emas sulfida ini di lapangan dapat berupa urat kuarsa maupun breksi dengan tebal beberapa sentimeter hingga beberapa meter. Kuarsa di sistem ini biasanya bentuknya kasar serta banyak mengandung mineralisasi sulfida seperti pirit, kalkopirit, galena, sfalerit, arsenpirit, hematit maupun magnetit berbentuk kristal indah.


Disini emas diendapkan melalui proses pemanasan (boiling) maupun oleh pencampuran larutan sisa magma juga air meteorik (air dalam batuan). Jenis cebakan mineralisasi emas tipe ini adalah berupa lode emas kuarsa epitermal. Contoh cebakan jenis ini di Indonesia ada di Arinem (Garut), Cikondang (Cianjur), Jampang (Jawa Barat), Bengkayang (Kalimantan Barat), serta Kokap (Kulon Progo).

Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat model sistem hidrotermal berhubungan dengan pembentukan endapan mineral epitermal emas sulfida tinggi maupun sulfida rendah. Sistem emas sulfida rendah diasumsikan berada disisi struktur vulkanik. Garis titik-titik menunjukkan jalur penguapan bermuatan gas, sedangkan garis putus-putus memperlihatkan aliran perlahan ke bawah udara teroksidasi air asam sulfat (Giggenbach, 1992).

emas sulfida rendah
Gambar tekstur banded penciri emas sulfida rendah.

Emas dan Logam Dasar di Batuan Karbonat (Au Carbonate Base Metal)

Emas maupun logam dasar dalam batuan karbonat terbentuk pada busur volkanik serta letaknya lebih dekat ke permukaan dari intrusi porfiri. Endapan ini biasanya berasosiasi bersama diatrema tufa atau breksi hidrotermal, atau bisa juga di kubah akibat tektonik (endogenous dome).


Breksi merupakan batuan yang sangat penting karena biasanya akan selalu berasosiasi dengan pembentukan bijih emas. Breksi berupa batuan klastik tersusun oleh fragmen batuan yang diikiat oleh matriks. Mineral-mineral hidrotermal biasanya mengisi rongga-rongga antar fragmen.

emas sulfida rendah
Kenampakan mineralisasi logam dasar dalam batuan karbonat.

Model endapan ini terbentuk karena pencampuran larutan sisa magma bersama air dalam batuan kaya CO2 dekat permukaan. Kenampakannya emas sulfida rendah di lapangan dapat berupa stockwork maupun breksi karbonatan. Jenis endapan yang biasanya terjadi pada model cebakan seperti ini diantaranya adalah lode emas kuarsa epitermal. Prospek cebakan endapan model ini banyak terdapat di Kelian (Kalimantan Timur) juga di Ajibarang (Jawa Tengah).
loading...
loading...

Copyright © Geologinesia. Powered by Blogger