Sabtu, 25 November 2017

Kalsium Karbonat Menurut Perspektif Geologi

Kalsium karbonat merupakan salah satu jenis senyawa kimia. Adapun formula dari senyawa kimia tersebut adalah CaCO3. Senyawa kimia ini dapat ditemui pada seluruh batu di dunia. Ia juga adalah salah satu komponen utama dari kulit telur, cangkang organisme atau makhluk laut, bola arang, mutiara dan siput. Salah satu jenis batuan yang mengandung kalsium ini adalah dolomite dan limestone (gamping). Keistimewaan utama batuan karbonat terletak pada cara pembentukannya. Pembentukan batuan tersebut terjadi secara kimiawi serta adanya keikutsertaan organisme dalam larutan yang berada di perairan, baik laut maupun sungai.

Proses sedimentasi batuan karbonat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor lingkungan menjadi sebuah faktor yang paling memengaruhi proses pembuatan batuan ini. Karena banyak dari batuan sedimen karbonat terbentuk di dasar laut atau lingkungan perairan, maka faktor lingkungan yang berpengaruh pun berkaitan dengan aspek-aspek yang ada di lingkungan perairan, yakni kedalaman air, kejernihan air, kadar garam dan suhu air. Kalsium karbonat merupakan senyawa yang mencakup 20%-30% dari seluruh zat yang membentuk batuan.

Batuan karbonat mengalami beberapa fase, yakni fase primer, sekunder dan butiran. Tahap primer ditentukan oleh presipitasi yang berasal dari organisme. Tahap sekunder ditentukan oleh presipitasi yang berasal dari alami non organik. Tahap butiran ini dapat dikatakan sama dengan mekanisme pada batuan klastik terigen, yakni hasil dari pelapukan batu sebelumnya. Batuan karbonat memiliki komposisi aragonite sebagai salah satu mineral utamanya. Komposisi aragonite ini di kemudian hari berubah dan menjadi dolomit dan kalsit.

Batuan kalsit dapat muncul dalam tiga bentuk tekstur, yakni butiran karbonat, mikrokistalin kalsit dan sparry calcite. Butiran karbonat bertekstur lebih kasar dan lebih mirip kristal kalsit. Mikrokistalin kalsit lebih mirip dengan lumpur pada batuan sedimen silisiklastik, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil lagi. Sementara sparry calcite cukup mirip dengan kristal kalsit, namun dengan tekstur yang lebih kasar. Berbeda dengan tekstur yang lain. sparry calcite hanya bisa dilihat dengan bantuan mikroskop.


kalsium karbonat
Gambar sparry kalsit dalam mikroskop.

Secara umum, batuan sedimen karbonat terbagi menjadi empat jenis, yaitu batuan karbonat yang memiliki sifat klastik, batuan karbonat yang memiliki sifat afanitik (sering disebut juga sebagai batu gamping halus), batuan karbonat yang bersifat kerangka atau terumbu, dan bantuan sedimen karbonat yang bersifat kristalin atau dolomit. Paragraf selanjutnya akan membahas lebih lanjut mengenai syarat-syarat pembentukan batuan yang berasal dari kalsium karbonat sebagai berikut:

1. Kejernihan air
Batuan yang berasal dari kalsium karbonat berasal dari hasil sekresi organisme atau makhluk laut serta presipitasi air laut yang terjadi secara kimiawi. Dengan kata lain, pembentukan batuan sedimen karbonat sangat bergantung pada organisme yang berada di sekitarnya. Kejernihan air menjadi penting agar sinar matahari dapat menembus perairan tanpa gangguan dari polusi air. Tanpa air yang jernih, kecil kemungkinan bagi batuan karbonat untuk terbentuk dengan baik.

2. Kedangkalan air
Kedangkalan air menjadi faktor utama lain yang memengaruhi pembentukan batuan yang berasal dari kalsium karbonat. Selama kedalaman laut tersebut masih dapat ditembus matahari, maka kemungkinan pembentukan batuan masih tinggi. Adapun batas kedangkalan air disebut sebagai zona fotik. Zona fotik merupakan wilayah yang masih mampu dimasuki oleh cahaya matahari, sehingga organisme yang berada di dalamnya mampu menjalankan proses fotosintesis. Batas kedalaman yang harus diteliti terutama adalah batas kedalaman ketika mineral karbonat dapat terendapkan.

3. Salinitas air
Batuan sedimen karbonat tersusun pada kisaran 25%-35%, dengan rata-rata kisaran salinitas berada pada persen 22%-40%. Berdasarkan persen tersebut, maka kita dapat menyimpulkan bahwa laut dengan salinitas yang tinggi mampu membentuk bantuan karbonat dengan baik.

4. Temperatur air
Organisme yang membentuk batuan karbonat biasanya mampu bertahan hidup pada suhu 36°. Kondisi temperatur yang hangat mampu membantu organisme untuk tetap hidup di bawah air. Organisme inilah yang membantu pembentukan batuan karbonat.

Berdasarkan definisi kalsium karbonat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kelangsungan organisme yang berada di dalam lautan menjadi sangat penting untuk membentuk batuan sedimen karbonat. Selain syarat-syarat tersebut, keberadaan mineral karbonat dan produktivitasnya ditentukan oleh organisme yang menyusun batuan karbonat. Anda bisa menemui contoh batuan kalsium karbonat di beberapa titik di Indonesia. Batu gamping bisa banyak ditemukan di Kalimantan Timur, Jepara, maupun Jawa Tengah. Karbonat jenis ini pada dasarnya memiliki pembagian yang sangat luas dengan jenis yang sangat banyak.

Fragmen batuan karbonat yang kompleks dapat dihasilkan dari berbagai peristiwa alam, seperti misalnya erosi batu gamping yang terjadi di darat maupun di laut yang kemudian diendapkan. Untuk itu, studi mengenai batuan karbonat menjadi cukup kompleks. Perlu adanya penelitian lapangan yang disertai peralatan yang mumpuni untuk memahami lebih lanjut proses pembentukan batuan karbonat.