Kamis, 12 Oktober 2017

Teori Pembentukan Tata Surya Menurut Perspektif Sains

Teori pembentukan tata surya merupakan suatu hal yang sering menimbulkan perdebatan panjang yang tidak ada ujung pangkalnya. Banyak kaum agamawan yang menolak kehadiran teori-teori seperti ini. Diluar dari itu, sebagai seorang saintis, alangkah baiknya jika kita tidak bersikap skeptis terhadap teori yang pernah ditelurkan oleh beberapa ahli astronomi tersebut.

Geologinesia sebagai sebuah media informasi sains, melalui artikel ini akan memberikan pemaparan singkat beberapa teori pembentukan tata surya kita yaitu teori nebula, teori planetesimal, teori bintang kembar, teori pasang surut gas, dan teori big bang.

Teori Nebula

Teori pembentukan tata surya nebula juga sering disebut dengan teori kabut. Nebula berasal dari bahasa latin yang artinya kabut. Pada awalnya ada seorang ilmuwan bernama Emanuel Swedenborg yang pada tahun 1734 menyatakan teori tentang nebula, akan tetapi teorinya masih ruang lingkup tertentu. Teori pembentukan tata surya ini secara sempurna dikemukakan oleh Immanuel Kant pada tahun 1755 dan Pierre d Laplace pada tahun 1796 sehingga disebut dengan teori kabut kant laplace.

Pada teori ini dijelaskan bahwa di jagat raya terdapat gas yang berbentuk kabut atau nebula. Kabut ini terdiri dari kumpulan gas, yang sebagian besar berupa gas hidrogen, ada es, plasma, maupun debu, di dalam kabut terjadi tarik menarik antar gas sehingga menjadi kumpulan kabut yang sangat besar, kabut yang besar tersebut berputar-putar semakin cepat lalu terjadi pemadatan pada pusat lingkaran sehingga terbentuklah matahari.

Matahari yang telah terbentuk, memiliki bentuk seperti bola yang melebar pada sisi ekuatornya. Matahari yang sudah terbentuk tersebut kemudian mengalami penyusutan ukuran dan berputar semakin cepat. Perputaran matahari yang semakin cepat menjadikannya materi-materi yang ada disekitar ekuator terlempar keluar.

Materi-materi lain yang ada membentuk massa yang lebih kecil dari matahari dan disebut dengan planet. Pada teori pembentukan tata surya ini planet terbentuk akibat adanya gaya gravitasi yang kemudian memadat dan menjadi planet. Planet yang terbentuk ini akan mengelilingi matahari secara teratur dengan lintasan tertentu yang disebut dengan orbit. Bentuk dari matahari sendiri berupa gas pijar yang dikelilingi oleh planet.

Teori Planetesimal

Teori pembentukan tata surya planetesimal ini dikemukakan oleh seorang ahli di bidang astronomi pada awal abad ke-20 asal amerika yang bernama Forest Ray Moulton dengan temannya yang bernama Thomas C. Chamberlain seorang ahli geologi dari universitas Chicago.

Pada teori pembentukan tata surya yang dikemukakan oleh kedua orang sarjana ini mengemukakan teori bahwa matahari terbentuk oleh massa gas yang sangat besar, kemudian pada suatu saat ada bintang lain yang melintas dan hampir bertabrakan dengan matahari. Pada saat posisi matahari dan bintang lain itu berdekatan terjadi tarik menarik antara matahari dan bintang tersebut karena kedua benda ini memiliki gaya gravitasi yang besar.

Dampak dari adanya tarik menarik tersebut berakibat pada tertariknya material-material gas yang ada pada tepian kedua bintang ini. Material-material yang terpental baik dari bintang maupun dari matahari tersebut kemudian menyusut dan menjadi gumpalan-gumpalan dan menjadi padat yang ada akhirnya gumpalan-gumpalan tersebut menjadi planet.

teori pembentukan tata surya planetesimal

Planet-planet yang telah terbentuk akan bergerak mengelilingi matahari karena gravitasi yang dimiliki oleh matahari, sehingga planet-planet tersebut memiliki lintasan tersendirri dalam mengelilingi matahari yang disebut dengan orbit. Diantara planet-planet yang mengitari matahari pada orbitnya tersebut salah satunya adalah planet yang kita tempati yaitu planet bumi.

Proses yang terjadi pada teori pembentukan tata surya planetesimal ini terjadi sekitar 3,8 miliar tahun yang lalu. Beberapa gumpalan-gumpalan yang terbentuk ada yang berukuran besar yang menjadi plalnet seperti planet bumi yang manusia tempati bisa pula berukuran kecil menjadi satelit seperti satelit bumi yang bernama bulan.

Istilah planetesimal sendiri berasal dari konsep matematika yang berarti fraksi kecil dari planet, bagi beberapa ilmuwan istilah planetisimal mengacu pada benda-benda kecil dalam tata surya baik itu planet, satelit, asteroid, mapun komet.

Teori Pasang Surut Gas (Tidal)

Teori pembentukan tata surya Pasang Surut Gas (Tidal) ini dikemukakan oleh James Jeans dan Harold Jeffrey pada tahun 1918. Pada teori pembentukan tata surya yang satu ini menyatakan bahwa bintang besar mendekati matahari. Posisi antara matahari dan bintang besar yang berdekatan ini menjadikan pasang surut pada matahari yang berbentuk gas dikarenakan daya tarik yang ada antara bintang besar dan matahari maka akan menjadikan bagian dari matahari tertarik pada bintang karena gaya gravitasi bintang besar sangat kuat.

Hal ini menyebabkan terlihatnya bagian dari matahari seperti lidah menjulur ke arah bintang besar. Lidah matahari yang menjulur tersebut lama-kelamaan akan pecah menjadi planet-planet, dan bintang besar tersebut melanjutkan pergerakannya kembali sehingga lambat laun pengaruh gravitasi dari bintang besar tersebut akan menjadi hilang.

Teori Bintang Kembar

Teori pembentukan tata surya bintang kembar dikemukakan oleh seorang ahli astronomi R.A Lyttleton yang berasal dari negara Inggris pada sekitar tahun 1930-an. Pada teori pembentukan tata surya ini  dikemukakan bahwa terdapat sepasang matahari kembar, dimana dua bintang ini saling mengelilingi satu sama lainnya. Kemudian melintaslah bintang lain yang menabrak salah satu bintang kembar tersebut, dari hasil tabrakan yang telah terjadi menimbulkan salah satu dari bintang kembar tersebut menjadi pecah berkeping-keping.

teori pembentukan tata surya bintang kembar

Pecahan yang dihasilkan oleh salah satu dari bintang kembar tersebut akhirnya menjadi planet-planet yang mengelilingi matahari karena gaya gravitasi yang dimiliki matahari sebagai  bintang kembar yang tersisa karena tidak bertabrakan dengan bintang lainya. Planet-planet yang terbentuk dikarenakan pecahan salah satu bintang kembar ini mendingin dan kemudian menjadi planet.

Teori Big Bang

Teori pembentukan tata surya lainnya yaitu teori big bang, teori ini berbeda dengan teori-teori lain tentang terbentuknya tata surya. Pada teori ini dijelaskan bagaimana terbentuknya alam semesta ini, dan perkiraan bagaimana pula akhir dari alam semesta ini.

Teori big bang pertama kali dikemukakan oleh kosmolog asal Belgia yang bernama Abbe Georges Lemaitre pada tahun 1920-an. Pada teori ini dikatakatan bahwa awal dari alam semesta adalah sebuah bola api kecil yang memiliki ukuran sangat kecil yang dianggap sebagai titik nol volume.

Gumpalan kecil ini bertambah ukurannya menjadi berdiameter mencapai 1,75 cm. Ukuran dari gumpalan kecil tersebut semakin menjadi besar dengan sangat cepat dan tepat pada waktu 0 detik (dimulainya waktu) peristiwa ledakan ini terjadi sekitar 15 miliyar tahun yang lalu.

Pada teori pembentukan sistem tata surya yang satu ini dijelaskan tentang awal alam semesta terjadi. Setelah terjadi ledakan yang berasal dari gumpalan tersebut hasilnya berupa anergi yang membentuk alam semesta. Atom hidrogen terbentuk pada saat energi dari big bang keluar.

Atom hidrogen yang telah terbentuk meluas makin lama makin padat dengan suhu termperatur yang mencapai jutaan derajat celsius. Berawal dari atom hidrogen inilah asal muasal pembentuk bintang yang ada di galaksi hingga tata surya yang kita tinggali sekarang ini.

Kekuatan dari big bang ini masih terasa hingga saat ini dan akan terus meluas hingga sampai mencapai batas tertentu dan jika sudah mencapai batas tersebut maka akan kembali ke titik semula awal dari big bang dimulai.