Selasa, 25 April 2017

Potensi Daerah Penghasil Nikel di Indonesia, Pongkalero Kabaena Selatan

Tulisan ini merupakan tinjauan pendahuluan terhadap potensi nikel pada izin usaha pertambangan (IUP) Eksplorasi PT AAA yang secara umum mewakili salah satu daerah penghasil nikel di Indonesia yaitu Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Tinjauan ini merupakan tahapan eksplorasi paling awal sebelum kegiatan lapangan dilakukan. Lokasi IUP yang dimaksudkan terletak sekitar ± 80 kilometer di sebelah selatan Kota Rumbia Ibu Kota Kabupaten Bombana pada koordinat titik centroid = 9410500, 380250 UTM. Properti IUP masuk dalam Kecamatan Kabaena Selatan, tepatnya di Desa Pongkalaero.

Secara legalitas, IUP PT AAA terletak di Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan SK Bupati Bombana Nomor xxx Tahun 2012; Tanggal xxx Desember 2012. Luas lokasi IUP Operasi Produksi PT AAA yaitu 4888 ha sedangkan berdasarkan hasil plot koordinat yaitu 4971.23 Ha. Izin bahan galian berupa mineral logam (bijih nikel).


Berdasarkan dari peta perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dan penunjukkan kawasan hutan di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2011 (Lampiran SK Menteri Kehutanan No SK.465/Menhut-II/2011; Tanggal 9 Agustus 2011), lokasi IUP PT AAA termasuk dalam areal penggunaan lain, hutan produksi terbatas dan hutan lindung dengan luasan sebagai berikut:
1. Hutan Lindung = 3575,25 Ha ( 71.92% )
2. Area Penggunaan Lain = 1307,14 Ha ( 26.29 % )
3. Hutan Produksi Terbatas = 88,84 Ha ( 1.79 % )

daerah penghasil nikel di indonesia
Gambar peta lokasi IUP dan status hutan.

Berdasarkan dari peta geologi regional lembar Kolaka, Sulawesi Skala 1 : 250.000 (Simandjuntak, dkk., 1993), lokasi IUP PT AAA ini berada pada Komplek Ultramafik, Formasi Langkowala dan kompleks Pompangeo. Komplek Ultramafik merupakan susunan atas harsburgit, dunit, wherlit, serpentinit, gabro, basal, dolerit, diorit, mafik meta, ampibiolit, magnesit dan setempat rodingit. setempat kalkarenit. Formasi Langkowala tersusun atas konglomerat, batupasir, serpih, dan setempat kalkarenit. Sedangkan Kompleks Pompangeo tersusun atas sekis mika, sekis glokofan, sekis amfibolit, sekis klorit, rijang berlapis sekis genesan, pualam, dan batugamping meta.


Berdasarkan dari peta analisa slope daerah IUP PT AAA berada pada daerah morfologi perbukitan bergelombang miring dan morfologi perbukitan terjal. Morfologi perbukitan terjal tersebar pada bagian tengah dari lokasi IUP PT AAA, dicirikan oleh daerah perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 400 – 1200 mdpl dan kemiringan lereng berkisar > 16 derajat.

Sedangkan morfologi perbukitan bergelombang miring tersebar dibagian utara dan selatan dari IUP, dicirikan dengan kemiringan lereng berkisar < 16 derajat. Endapan nikel laterit akan berkembang baik pada kemiringan lereng (slope) antara 2-120, jika disusun oleh litologi batuan ultramafik.

daerah penghasil nikel di indonesia
Peta geologi IUP secara regional dan analisa slope.

Dari hasil data eksplorasi terdahulu terdapat 10 titik auger, 27 titik testpit dan 33 titik pengeboran dengan total kedalaman yaitu 264 m. Dari hasil evaluasi terdapat beberapa titik yang memiliki kandungan Ni dengan kadar yang bagus. Terdapat endapan nikel yang potensial dimana terdapat beberapa titik yang memiliki kadar Ni tinggi > 1,8 %. Oleh karena itu lokasi ini disarankan untuk ditindaklanjuti dengan due diligence (site visit dan pemetaan geologi semi detail) untuk memastikan potensi dan sebaran bahan galian tersebut.


daerah penghasil nikel di indonesia
Peta sebaran kadar nikel hasil compilasi data terdahulu.

Selain itu perlu pula diperhatikan masalah izin pinjam pakai kawasan hutan untuk kegiatan eksplorasi dan operasi produksi, karena sebagian besar prospek area pada IUP PT AAA termasuk dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas.