Tuesday, March 7, 2017

Mengenal Batugamping Terumbu (Kerangka)

Apa itu Batugamping Terumbu?

Batu gamping terumbu adalah sebuah bentuk struktur organisme yang dibentuk oleh koloni organisme, tahan terhadap gelombang, dan memiliki relief topografi di atas pengendapan sedimen yang ada di sekelilingnya. Batu gamping terumbu sering disebut juga sebagai batugamping kerangka. Kunci dari mempelajari jenis batugamping ini yaitu pada perkembangan terumbu, koloni organismenya, dan lingkungan pembentukannya.

Terumbu mempunyai potensi ekologi untuk membentuk kerangka yang  kokoh, jadi terumbu yang dimaksudkan disini bukan merupakan hasil akumulasi hancuran kerangka, karena akumulasi hancuran kerangka pada umumnya mengacu kepada pembentukan batugamping bioklastik (baca pembahasan geologinesia sebelumnya mengenai jenis-jenis batugamping).


Terdapat beberapa bentuk struktur koloni organisme yang dikenal dan masing-masing memiliki pengertian yang berbeda, yaitu:
1. Bank
2. Bioherm
3. Biostrome
4. Reef

Bank adalah akumulasi kerangka dan cangkang yang dibentuk oleh organisme, akan tetapi tidak mempunyai potensi ekologi untuk tumbuh tegak dan membentuk struktur yang tahan gelombang (Nelson, 1960).

Bioherm adalah suatu struktur yang dibentuk oleh bangunan kerangka organisme (Cummings & Shrock, 1928). Cummings (1930) memberikan batasan pengertian untuk bioherm, yakni suatu bentuk yang menyerupai kubah, tonjolan bukit kecil, lensa, ataupun bentuk lain yang penyebarannya terbatas, dibangun seluruhnya atau terutama oleh organisme seperti koral, stromatoporoid, algae, brachiopoda, moluska, dan organisme lain yang dikelilingi oleh litologi yang berbeda.

Pada tahun 1952 Cummings memberikan definisi untuk bioherm lebih singkat tetapi mengandung pengertian lebih luas, yakni bioherm merupakan terumbu, bukit kecil, lensa atau yang serupa, mempunyai struktur penyebaran terbatas, terbentuk dari kerangka dan cangkang organisme keras, serta terikat pada litologi yang berbeda.

Biostrom adalah struktur batugamping yang berlapis sebagai shell-beds, crinoid-beds, coral-beds yang merupakan hasil akumulasi sisa organisme yang belum terangkut dan tidak membentuk bukit atau lensa (Cummings, 1932).

Sedangkan Reef adalah hasil aktifitas membangun dari suatu ikatan sedimen biotik tertentu (Lowenston, 1950). Reef mempunyai potensi tahan gelombang, sehingga mampu untuk tumbuh tegak membentuk struktur topografi yang tahan terhadap gelombang.


Kita kembali kepada pengertian mengenai batugamping terumbu. Terumbu menurut bentuknya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Atol
Atol adalah batugamping terumbu/kerangka yang diendapkan di laut yang berair jernih, banyak sinar matahari, dengan kedalaman maksimal 60 m, dan kondisi laut yang bergelombang. Bentuk atol umumnya agak melingkar, shingga membentuk laguna dan seringkali terdapat celah-celah yang luas di sekitar terumbu.

2. Terumbu Menepi (Fringing Reef)
Terumbu Menepi (Fringing Reef) adalah terumbu dengan bentuk kecil yang membatasi pulau dan pantai benua. Terumbu ini terletak dekat pantai yang hanya dipisahkan oleh terusan sempit berair dangkal. Permukaan bagian atasnya berada pada posisi pasang rendah.

3. Terumbu Penghalang
Jenis terumbu ini terletak di lepas pantai benua dan pulau, umumnya terletak lebih jauh dari pantai apabila dibandingkan dengan terumbu menepi. Umumnya pada terumbu penghalang terdapat retakan dan terbuka akibat aktifitas air pasang, sehingga membentuk laguna yang relatif dalam diantara pantai dan terumbu penghalang. Terumbu penghalang umumnya mempunyai ketinggian kurang dari 3 meter.

jenis-jenis terumbu
Gambar macam-macam jenis terumbu.

Disamping ketiga jenis terumbu di atas, beberapa ahli geologi menambahkan beberapa macam terumbu yang memiliki ciri yang berbeda satu dengan lainnya. Tayama (1935) memberikan nama "table reef" untuk suatu bentuk terumbu yang relatif kecil dan terisolir, dengan atau tanpa pulau yang tidak memiliki laguna. Shepard (1948) memberikan nama "pinnacle" untuk pertumbuhan terumbu yang terjal ke atas.

Menurut Lahee (1961), table reef erat kaitannya atau bahkan mirip dengan pinnacle. Henson (1950) didalam pembahasannya mengenai terumbu di Timur Tengah membuat penggolongan terumbu menjadi beberapa macam, antara lain: bank reef dan shoal reef. Bank reef adalah penamaan untuk pertumbuhan terumbu yang besar dengan bentuk tidak teratur, tumbuh di atas dasar yang tenggelam oleh gejala tektonik, dan dikelilingi oleh air dalam.

Sedangkan shoal reef adalah penamaan untuk suatu formasi yang terdiri dari pertumbuhan tak teratur dari beberapa terumbu di daerah shoal di tengah-tengah hancuran gampingan (calcareous debris). Shoal reef dapat berkembang secara lokal atau berpencar dalam kondisi air jernih.

Pembentukan Terumbu

Organisme utama pembentuk terumbu adalah: bioklas atau fragmen-fragmen lainnya, seperti foraminifera terutama foram besar dan moluska yang biasanya merupakan kerangka tersendiri seperti Ostrea; Bryzoa; Crinoid, terutama pada Paleozoik (Devon); Ganggang antara lain Halimeda (termasuk family Codicea) dan Lithothamnism (termasuk Corallinaceae), Lithophyllum, Coniophyllum, Penicillus (Codideae), Acialaria dan Meomen (Pascycladoceae, Amphiro), yang umumnya merupakan ganggang yang memiliki struktur berlapis halus,  berombak,  dan sebagai pengikat atau mengisi kerangka organisme. Organisme penyusun utama koral adalah: porites, meandrina, acropora, siderastrea, dan rudits (lamellibranches, terutama pada zaman Kapur).


Terumbu tumbuh di lingkungan laut yang tidak begitu dalam, berair jernih sehingga sinar matahari dapat menembus kedalaman laut. Batas kedalaman dimana terumbu dapat tumbuh tergantung turbulensi air dan banyaknya plankton atau material mengambang lain yang mempengaruhi dalamnya penetrasi sinar matahari.

Kedalaman yang umum adalah berkisar antara 50 m hingga 65 m, tetapi pada air laut yang sangat jernih ditemukan kehidupan terumbu pada kedalaman hingga 450 m. Sartono (1954) menyatakan bahwa terumbu dapat tumbuh subur pada kedalaman 40 m hingga 45 m dari permukaan air laut.

Suhu air laut dimana terumbu dapat hidup dan tumbuh harus hangat, suhu terendah berkisar 18 derajad celcius, dan tidak boleh lebih dari 30 derajad celcius. Sedangkan kisaran suhu yang optimum untuk pertumbuhan terumbu adalah berkisar antara 25 - 29 derajad celcius. Kadar garam air laut normal merupakan kondisi yang menunjang pertumbuhan reef. Kadar garam yang baik untuk pertumbuhan terumbu adalah berkisar antara 35 - 38 %.

Sirkulasi atau agitasi air sangat diperlukan, karena koral yang umumnya sebagai organisme utama pembentuk terumbu makanannya tergantung pada arus air laut yang membawa plankton. Jumlah oksigen dalam air laut dipengaruhi oleh sirkulasi air atau ombak.

Pertumbuhan terumbu memerlukan batuan dasar yang kokoh dan tidak berlumpur. Kuenen (1933) dan Umbgrove (1947) menyebutkan bahwa bioherm dapat memulai pertumbuhannya pada lantai dasar yang stabil, berlumpur, dan lunak. Adanya perubahan permukaan air laut juga berpengaruh terhadap pertumbuhan suatu terumbu.


Konsep transgresi dan regresi suatu terumbu pada dasarnya membentuk pola pertumbuhan dan migrasi organisme pembentuk terumbu selaras dengan berubahnya permukaan air laut. Keadaan ini menyebabkan munculnya pertumbuhan terumbu secara berulang dari tipe terumbu genang laut dan terumbu susut laut dengan ciri-ciri yang berbeda.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner