Sunday, January 22, 2017

Mengenal Batuan Vulkanik Tersier Sulawesi

Penyebaran batuan vulkanik di Sulawesi berkaitan dengan aktivitas vulkanisme yang terbentuk di bagian kaki Sulawesi sekitar Gowa, Maros, Soppeng, Luwu, dan Toraja hingga ke bagian barat Sulawesi sekitar Polewali, Mamuju, dan Majene yang dibatasi oleh sesar besar Palu Koro yang masih aktif. Kemudian muncul kembali di Sulawesi bagian utara terutama di sekitar Pohuwato, Boalemo, Gorontalo, dan Bolaang Mongondow hingga ke Sulawesi Utara.


Munculnya batuan vulkanik yang berumur Tersier di Sulawesi berhubungan dengan aktifitas tumbukan yang diakibatkan oleh terdorongnya mikro kontinen Banggai Sula yang berasal dari Pasifik, bergerak ke arah barat dan kaki Sulawesi bagian tenggara akibat bergeraknya lempeng Australia ke utara.

Batuan vulkanik yang terbentuk di atas batuan dasar terdiri dari beberapa jenis batuan dengan umur yang berbeda, yaitu sebagai hasil dari kegiatan vulkanisme sejak Paleosen sampai Pliosen. Batuan vulkanik tersebut umumnya berupa lava, breksi, tufa, konglomerat vulkanik, dan endapan piroklastik. Vulkanisme Paleosen menghasilkan batuan vulkanik berupa lava dan endapan piroklastik yang berkomposisi andesitik sampai traki-andesitik, yang setempat diinterkalasi oleh batugamping dan serpih ke arah atas sekuennya.

Vulkanisme Eosen - Miosen terdiri dari tufa, lava bantal dan lava masif, konglomerat vulkanik, dan breksi vulkanik. Vulkanik Pare-pare merupakan sisa dari suatu strato-vulkanik yang tersusun oleh selang-seling lava flows dan breksi piroklastik yang berumur Miosen Akhir. Lava tersebut berkomposisi intermediet sampai asam.

Pada masa ini terbentuk juga beberapa tubuh intrusi yang menunjukkan umur Miosen Awal. Tubuh-tubuh intrusi ini dihubungkan dengan vulkanik kalk-alkalin pada anggota bagian bawah Formasi Camba yang diperkirakan keduannya berasal dari subduksi pada Miosen Awal.


Selain batuan vulkanik, di atas batuan dasar terendapkan beberapa batuan sedimen hasil sedimentasi sejak Kapur Akhir sampai Resen. Batuan sedimen berumur Kapur Akhir diantaranya menyusun bagian timur dan barat Sulawesi Selatan bagian barat yang terdiri selang-seling batupasir dan batulanau-batulempung dengan sedikit konglomerat, pebble batupasir, serta breksi konglomerat.

Formasi batugamping juga terbentuk, yaitu ketika proses sedimentasi pada kala Eosen sampai Miosen Tengah dan pada Miosen Atas sampai Pliosen. Pembentukan batugamping pada Miosen Atas sampai Pliosen bersamaan dan berhubungan menjemari dengan batuan sedimen Formasi Walanae. Struktur geologi cukup intensif, umumnya berupa sesar mendatar dan sesar normal berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya.

Menurut Priadi dkk, 1994 kenampakan batuan vulkanik di Sulawesi dikelompokan menjadi 4 grup yaitu:
  1. Island Arc Tholeitic
  2. Calc-Alkaline
  3. Potasic Calc-Alkaline
  4. High Potassium

Perkiraan batuan vulkanik yang berumur lebih tua pada kisaran Eosen hingga Miosen Tengah adalah tipe Tholeitik atau Calc-Alkaline, kemudian High Pottasium dan diakhiri oleh Potassic Calc-Alkaline.

geologi regional sulawesi
Gambar Geologi Regional Pulau Sulawesi (Hall, R., and Wilson, M.E.J., 2000).

Ciri dari tholeitik umumnya didominasi batuan andesit dan basalt, seperti yang muncu di sekitar Palopo. Daerah Sulawesi bagian barat seperti di Polewali dan juga daerah Massepe sangat khas dengan tipe Calc-Alkalinya. Secara megaskopis, batuan vulkanik dengan komposisi tersebut memiliki ukuran mineral feldspar yang relatif besar bisa mencapai 2 cm dan kecenderungannya bersifat menengah ke asam.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner