Thursday, January 12, 2017

#15 Busur Magmatik di Indonesia

Di indonesia teridentifikasi ada 15 busur magmatik yang terbentuk pada Akhir Mesozoik sampai Kenozoik dengan panjang pelamparan berupa daratan sekitar 15000 km. Dari data estimasi sumberdaya/cadangan dan sejarah produksi pertambangan, lebih dari 98% keberadaan potensi bahan galian logam dihasilkan hanya dari 6 busur yang terbentuk pada umur Tersier atau yang lebih muda. Panjang total 6 busur tersebut mencapai 7000 km dan masih menerus ke arah negara tetangga yaitu Papua New Guinea, Filipina, dan malaysia dimana di negara tersebut juga merupakan busur utama sebagai daerah prospek mineralisasi logam.


Selain 6 busur di atas, 7 busur lainnya telah mengalami erosi sangat kuat dan sampai saat ini hanya sedikit data kegiatan eksplorasinya, sedangkan 2 busur lainnya yaitu Busur Talaud dan Busur Pantai Irian Jaya masih cukup spekulatif untuk dilakukan penyelidikan. Penjelasan secara ringkas mengenai 15 busur magmatik di Indonesia dapat dilihat dalam tulisan dibawah ini.

1. Busur Sulawesi-Mindanao Timur
Pada Miosen Awal hingga pertengahan, busur ini menerus dari Sulawesi bagian barat daya melewati lengan utara Sulawesi terus ke arah Pulau Sanghie sampai bagian timur dari Mindanao, Filipina. Di bagian utara Pulau Sulawesi terindikasi pada Akhir Paleogen sampai awal Miosen batuan gunungapi marin dan batuan sedimen terangkat ke arah utara menumpang pada batuan dasar yang lebih tua pada Awal Miosen. Kegiatan magmatik pada Awal Miosen menunjukkan umur berdasarkan K/Ar pada granit dan granodiorit pada 18,5 juta tahun dan 22,2 juta tahun di dekat Gorontalo dan Soroya (Bellon dan Rangin, 1991), dan diorit menerobos batuan andesitik pada 16 juta tahun di Tapadaa (Lowder dan Dow, 1977).

2. Busur Sumatera-Meratus
Busur ini adalah busur kontinen yang memanjang pada ujung bagian selatan Paparan Sunda dari utara Sumatera melewati ujung timur Jawa Barat menerus ke arah timur Kalimantan. Paparan Sunda bersifat kontinen masif dengan batuan dasar berumur Paleosen atau lebih tua menerus ke arah utara melalui Semenanjung Malaysia ke arah Thailand, Myanmar, dan Indocina. Penunjaman ke arah utara menyebabkan pembentukan busur magmatik pada Awal Kapur sampai Akhir Kapur yang melampar melewati Pulau Sumatera (Cameron dkk, 1980;W.McCourt, 1991) dan Laut Jawa (Hutchison, 1989) terobosan-terobosan berasosiasi dengan kelompok batuan volkanik Manunggal di Pegunungan Ulai, Batolit Manunggal dan Batolit Sikuleh (Aspden dkk, 1982b; Aldiss dkk, 1983).

3. Busur Halmahera
Busur Halmahera melampar dari Pulau Bacan di bagian Selatan menerus ke arah bagian utara lengan Pulau Halmahera menerus ke bagian barat Pulau Morotai. Batuan dasar tersingkap di bagian selatan dari Busur Halmahera di Pulau Bacan terdiri dari sekis, dengan batuan basaltik dan andesitik berumur Paleogen terdapat di bagian utara (Sulfini Hakim dan Hall, 1991). Busur andesitik di Halmahera terdiri atas batuan terobosan dan batuan gunungapi Neogen yang setempat-setempat tertutup oleh endapan hunungapi Kuarter. Batuan Eruptif Neogen terbentuk pada Akhir Miosen atau Pliosen (Sufni Hakim dan Hall, 1991).


4. Busur Sunda-Banda
Busur ini merupakan busur paling panjang di Indonesia, melampar dari utara Pulau Sumatera melewati Pulau Jawa ke arah timur dan berakhir di Pulau Banda. Segmen barat terdiri atas Sumatera, Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah, dan terbentuk pada tepian selatan Paparan Sunda, bagian timur dari Jawa Tengah ditafsirkan sebagai busur kepulauan terbentuk pada kontinen yang tipis atau kerak intermedier.

5. Busur Aceh
Busur ini berbatasan dengan bagian utara Pulau Sumatera. Penunjaman di lepas pantai bagian utara Pulau Sumatera dimana pada daerah ini ndapan gunungapi muda berhubungan dengan yang terdapat di daratan (Stephenson dkk, 1982). Penunjaman tersebut kemungkinan juga aktif pada awal Miosen Tengan, diduga bahwa penunjaman ke arah selatan dari Cekungan Mergui yang bersifat oseanik menunjam di bawah batuan dasar bagian utara Sumatera dari Paparan Sunda.

6. Busur Paparan Sunda
Data tentang busur ini relatif kurang, terdapat pluton granit yang terpencar-pencar. Granit dijumpai mulai umur 85 juta tahun di Kepulauan Anambas dan monzonit kuarsa Akhir Kapur di Kepulauan Tambelan sampai 74 juta tahun berupa granit-granodiorit di Pulau Karimata (Hutchinson, 1989). Busur ini kemungkinan menerus ke selatan dari Pegunungan Schwaner menjadi dasar dari cekungan Barito dan kemungkinan juga beberapa pluton yang berada di bagian timur Pegunungan Meratus.

7. Busur Kalimantan Tengah
Busur kontinen ini melampar dari Kalimantan bagian timur laut ke arah selatan melewati Kalimantan Tengah dan Barat dan menerus ke Serawak. Busur magmatik di tengah Pulau Kalimantan ini diketahui pada beberapa tahun terakhir dari sisa-sisa erosi batuan andesitik sampai trakhit-andesitik dari volkanik fasies sentral yang berumur Oligosen Akhir sampai Awal Miosen. Busur ini sangat berkaitan dengan penunjaman ke arah selatan dengan jalur penunjaman umumnya terletak pada bagian barat laut Serawak.

busur magmatik Indonesia
Gambar penyebaran busur magmatik di Indonesia (atas) dan beberapa busur magmatik yang menghasilkan deposit mineral ekonomis (bawah).

8. Busur Irian Jaya Tengah
Busur Irian Jaya Tengah merupakan busur tepi kontinen yang melampar dari leher kepala burung Irian (sekarang Papua) menerus ke arah Papua New Guinea. Busur ini merupakan superimpos pada busur New Guinea yang bersifat mobile, zona pada patahan naik dan perlipatan selatan dari jalur malihan Rouffaer dan pada ofiolit New Guinea dimana pada kondisi secara struktural lebih tinggi miring ke arah utara (Dow dkk, 1988). Batuan magmatik yang terkait dengan penunjaman ke arah selatan yaitu batuan terobosan berupa "stock" pada daerah mineralisasi Ertsberg yang berumur Akhir Pliosen dan batuan eruptif dan terobosan pada daerah-daerah tersebar menerus ke arah timur ke daerah Papua New Guinea.

9. Busur Pegunungan Schwaner
Di Pegunungan Schwaner dan sebelah utaranya, busur kalk-alkali yang luas ke arah timur, dominan berupa batolit tonalit sampai granodioritik, mengindikasikan adanya busur magmatik pada Kapur Awal (Williams dkk, 1988). Beberapa cebakan tipe skarn dijumpai berasosiasi dengan pluton Kapur Bawah.


10. Busur Moon-Utawa
Pada busur ini termasuk batuan gunungapi Moon berumur Miosen Tengah yang terdapat pada bagian utara Kepala Burung (Pulau Papua) dan Diorit Utawa berumur Miosen Tengah pada bagian leher menerus ke arah tenggara. Batuan Volkanik Moon, batuan sedimen Mesozoik Akhir yang termasuk dalam Paparan New Guinea (Dow dkk, 1986, 1988) diterobos oleh stok-stok diorit.

11. Busur Barat Sulawesi
Busur ini melampar pada bagian barat Pulau Sulawesi dimana volkanisme sosonitik (leterrier dkk, 1990) terkait dengan gerakan penunjaman ke arah timur di palung Tolo (Rehault dkk, 1991), kemungkinan disertai dengan pemekaran pada teluk Bone. Di bagian utara Teluk Bone, terdapat jalur pluton granit yang tidak menerus sepanjang 400 km, dan granit Dondo yang menerus ke arah timur laut pada arah leher Sulawesi (Priadi dkk, 1991 and Kavalieris dkk, 1992). Granit Dondo berumur 6,5 - 3,8 juta tahun kemungkinan merupakan petunjuk adanya pelelehan kerak selama adanya pensesaran naik ke arah barat saat tubrukan pada Akhir Miosen di bagian barat Sulawesi (Priadi dkk, 1991). Batuan ini tidak ekuivalen dengan batuan volkanik sosonitik tersebut (van Leeuwen dkk, 1994).

12. Busur Sumba-Timor
Busur ini merupakan busur magmatik minor berumur sekitar Paleogen, dijumpai di segmen Sumba-Palelo-Lolotai di Sumba dan Timor. Di daerah Sumba, batuan volkanik dan terobosan andesit porfiri menempati daerah sempit pada daerah tenggara, tengah, dan barat daya Pulau Sumba.

13. Busur Barat Laut Borneo
Busur ini berumur Miosen Tengah ditandai dengan adanya batuan andesitik yang tersebar pada beberapa daerah di barat laut Kalimantan dan bagian timur Serawak (Hutchison, 1989).


14. Busur Talaud
Pada busur ini di daratan hanya terwakili oleh batuan volkanik andesitik Miosen di Pulau Talaud dan bongkah andesit pada batuan bancuh di timur laut Pulau Sulawesi dan terbentuk pada lingkungan laut (Simandjuntak, 1986).

15. Busur Pantai Iran Jaya
Di busur ini dijumpai batuan diorit dengan mineralisasi porfiri di jalur Mamberamo dekat pantai utara Papua, terbentuk pada umur Neogen, terobosan kecil yang lain dijumpai juga pada busur ini (D.Bennett, kom.pers, 1993).
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner