thumbnail

Penelitian Logam Tanah Jarang (LTJ/REE) di Indonesia

Merespon kondisi pasar yang demikian bagusnya, berbagai negara disamping penghasil utama, Tiongkok, berlomba-lomba mencari potensi dan mengembangkan LTJ secara serius, seperti Amerika, Kanada, Jepang, maupun negara-negara lainnya, tidak ketinggalan juga Indonesia. Khusus Jepang, Tiongkok, negara-negara Asia lainnya rupanya melirik Indonesia menjadi lokasi pilihan bagi investor atau para peminat dari negara-negara tersebut dalam mengembangkan komoditas REE. Badan geologi dan institusi terkait lainnya merespon dengan mengadakan berbagai seminar maupun kelompok diskusi, survey, dan eksplorasi secara rutin guna mengembangkan penelitian potensi REE di Indonesia.


Secara historis, sebetulnya Indonesia sudah melakukan penyelidikan LTJ setidaknya berdasarkan laporan penyelidikan yang tersedia sejak tahun 1991. Misalnya, berdasarkan kompilasi data kadar monazit dan xenotim pada endapan aluvial di wilayah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung menunjukkan kandungan yang cukup signifikan (lihat gambar di bawah).

Pada tahun 1990-an, PSDG yang pada waktu itu masih bernama Direktorat Sumber Daya Mineral, membentuk seksi khusus untuk melakukan berbagai penyelidikan tentang LTJ. Hasilnya, banyak indikasi di Sumatera dan Bangka Belitung dan juga indikasi berupa zircon di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Semenjak maraknya permintaan pasar dunia, Badan Geologi telah secara rutin melakukan survey dan penyelidikan LTJ secara rutin.

Hal yang menjadi fokus utama bagi para peneliti di Indonesia adalah tetap mengarah kepada penelitian mineral-mineral yang mengandung unsur tanah jarang (monazit, xenotim, dan zircon) yang tersebar sebagai ikutan terutama di dalam cebakan aluvial (placer) timah. Hal ini disebabkan potensi cebakan tersebut diperkirakan melimpah sebarannya di lingkungan laut dan daratan kepulauan Bangka, Belitung, dan Riau yang merupakan bagian dari jalur sumberdaya timah Asia Tenggara.

penelitian logam tanah jarang
Kandungan monasit dan xenotim mengandung LTJ di Kepulauan Riau dan Bangka Belitung.

Disamping lembaga penelitian pemerintah, BUMN seperti PT Timah,Tbk juga aktif melakukan penelitian pemanfaatan sisa buangan tambang timah yang dimiliki terutama di wilayah Bangka Belitung dan Riau. Perusahaan ini juga menjalin kerjasama dengan BATAN, Kementrian Perindustrian, Badan Geologi, dan Balitbang ESDM guna melakukan penelitian bersama dalam mengembangkan LTJ.


Baru-baru ini telah dibentuk secara bersama-sama suatu konsorsium LTJ yang melibatkan para ahli yang ada untuk menangani penyelidikan mulai dari hulu, inventarisasi atau penyelidikan sumberdaya, hingga bagian hilir yaitu pengolahan dan ekstraksi unsur LTJ maupun industri pembuatan aneka produk di dalam negeri. Suatu langka nyata yang sudah terlihat hingga sekarang diantaranya adalah telah terbangunnya suatu pilot plant industri pengolahan LTJ dengan bahan baku berupa sisa buangan tambang timah, dimana pabrik percobaan tersebut ditempatkan di Bangka Barat (Mentok) dengan kapasitas uji coba sekitar 50 kg monasit per hari.

Disamping itu, Badan Geologi telah banyak mempublikasikan hasil-hasil penyelidikan LTJ baik dalam endapan sisa buangan timah, tambang emas plaser maupun jenis primer di berbagai lokasi. Peta kandungan monasit sebagai mineral utama LTJ untuk Kepulauan Bangka Belitung telah dipublikasikan pada tahun 2013 yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam penyelidikan LTJ di Pulau Bangka. Hasil penyelidikan pada pelapukan granit di Sumatera Utara yang menunjukkan adanya indikasi LTJ yang cukup signifikan di daerah ini juga telah dipublikasikan hasilnya pada tahun 2012.


Penemuan indikasi LTJ dalam monasit juga merupakan hal penting yang ditemukan oleh Badan Geologi di Kepulauan Natuna, Riau baru-baru ini yang masih terus dikembangkan hingga diperoleh sumberdayanya. Masih banyak program penyelidikan yang akan dilaksanakan pada masa mendatang untuk memastikan layak tidaknya industri LTJ dibangun di Indonesia dalam berbagai skala atau tingkatannya.
thumbnail

Pemegang Rekor Danau Terdalam di Dunia

Dengan kedalaman sekitar 1,6 kilometer (5.387 kaki), Danau Baikal di Rusia Selatan dinobatkan sebagai pemegang rekor danau terdalam di dunia. Selain sebagai danau terdalam, Danau Baikal juga merupakan danau dengan volume air tawar terbesar di dunia. Cukup sulit untuk memahami bagaimana sebuah danau yang berada ditengah-tengah daratan memiliki dasar hingga hampir mencapai 2 kilometer. Dibawah ini adalah penjelasannya.

Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini adalah: danau paling dalam, danau terdalam di dunia, gambar danau, danau terdalam, danau siberia, nama danau. Kedalaman danau, danau siberias, danau baikal, danau terkenal di rusia, danau di dunia, danau terkenal di dunia.


Danau ini begitu dalam karena berada di zona aktif pemekaran benua (continental rift). Zona Continental rift di daerah ini tiap tahun melebar sekitar 2,5 cm. Pemekaran bukan hanya terjadi secara horizontal (melebar), tetapi juga tumbuh lebih dalam melalui peristiwa subsidence. Jadi sebenarnya, Danau Baikal kedepannya akan terus melebar dan semakin dalam selama masih aktifnya continental rift di daerah tersebut.

baikal lake, danau terdalam di dunia
Gambar danau terdalam di dunia (Baikal Lake, Rusia).

Danau Baikal (Baikal Lake) yang juga dikenal dengan sebutan “mata biru Siberia” merupakan danau dengan ekosistem besar. Kurang lebih 1.700 spesies flora dan fauna hidup di dalam danau ataupun disekitar danau tersebut. Ahli geologi memperkirakan danau ini berumur 25 - 30 juta tahun yang lalu dan menjadikannya sebagai salah satu danau paling tua di dunia.
thumbnail

Batu Gamping (Batu Kapur) : Genesa, Ciri-ciri, dan Sifat Fisiknya

Batugamping dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organik, mekanik, dan kimia. Sebagian besar batugamping di alam terjadi secara organik. Jenis ini berasal dari kumpulan endapan cangkang kerang, siput, foraminifera, ganggang, atau berasal dari kerangka binatang yang telah mati.


Batugamping yang terjadi secara mekanik bahannya tidak jauh berbeda dengan jenis batugamping yang terjadi secara organik. Perbedaan dengan batugamping jenis pertama adalah terjadinya perombakan dari bahan batugamping organik yang kemudian terbawa oleh arus dan biasanya diendapkan tidak jauh dari tempat semula.

Batugamping yang terjadi secara kimia adalah jenis batugamping yang terjadi dari pengendapan kalsium karbonat dalam kondisi iklim lingkungan tertentu, baik di dalam air laut maupun air tawar. Mata air mineral dapat pula mengendapkan batu gamping yang biasa disebut endapan sinter kapur. Jenis batugamping ini terjadi karena peredaran air panas alam yang melarutkan lapisan batugamping di bawah permukaan, yang kemudian diendapkan kembali di permukaan bumi.

Batugamping dengan sifat keras dan padat memiliki berat jenis lebih dari 2, sedangkan batugampig yang bersifat lunak memiliki berat jenis kurang dari 2. Batugamping bersifat poros atau sarang, warna bervariasi yakni putih susu, abu-abu muda hingga tua, coklat, merah sampai kehitaman yang dipengaruhi oleh pengotor di dalam batuan.

Sifat fisik, mineralogi, dan kenampakan batugamping dapat berubah apabila mengalami diagenesa hingga pemalihan yang disebabkan oleh perubahan tekanan dan temperatur, sehingga terjadi penghabluran kembali material penyusun batugamping, contohnya seperti yang dijumpai pada batu pualam atau batu marmer.

bentuk-bentuk batugamping
Gambar macam-macam bentuk batugamping.

Batugamping bersifat reaktif, terutama terhadap air hujan yang mengandung CO3 dari udara maupun dari hasil pembusukan zat-zat organik di permukaan tanah. Batugamping yang dilalui air tersebut dapat larut dengan reaksi kimia sebagai berikut:
CaCO3 + 2CO2 + H2O >>>>>> Ca(HCO3)2 + CO2
Ca(HCO3)2 dapat larut dalam air, sehingga lambat laun terjadi rongga dalam tubuh batugamping.


Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini adalah: rumus kimia batu kapur gambar batu kapur, ciri ciri batu kapur, ciri ciri batu gamping, deskripsi batu gamping, gambar batu gamping. Proses terbentuknya batu kapur, genesa batu gamping, rumus kimia batu gamping, jenis jenis batu gamping, berat jenis batu kapur, proses terbentuknya batu gamping, jenis jenis batu kapur, apa itu batu kapur, apa itu batu gamping. Pembentukan batu kapur, jenis batu gamping, jenis batu kapur, asal batu kapur, kandungan batu kapur.
thumbnail

Sistem Panas Bumi (Geothermal) Vulkanik

Sesuai dengan judul postingan diatas maka pada kesempatan ini Geologinesia.Com akan coba membahas mengenai Sistem Panas Bumi (Geothermal) pada Lingkungan Vulkanik. Sebagai dasar untuk memahami pembahasan ini diharapkan sobat geologinesia telah membaca postingan sebelumnya mengenai apa itu sistem panas bumi (geothermal). Seperti kita ketahui bahwa khususnya di Indonesia, potensi panas bumi terbagi atas dua lingkungan geologi, yaitu lingkungan vulkanik dan non-vulkanik. Pembahasan kita saat ini akan lebih fokus membahas mengenai panas bumi di lingkungan vulkanik.


Secara umum, lingkungan vulkanik memiliki sumber panas bumi yang terdistribusi di sepanjang jalur vulkanik dan biasanya memiliki kandungan panas yang tinggi, sehingga sudah banyak dikembangkan dan menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan. Sebagian besar sumber panas bumi di Indonesia tergolong dalam kelompok vulkanik, seperti yang tersebar di Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi Bagian Utara, hingga Maluku Bagian Utara.

potensi panas bumi
Gambar potensi panas bumi vulkanik dan non-vulkanik di Indonesia.

Kasbani (2009) menyebutkan bahwa pembentukan sistem panas bumi kelompok vulkanik biasanya tersusun oleh batuan vulkanik menengah (andesit-basaltis) hingga asam dan umumnya memiliki karakteristik reservoir pada kedalaman sekitar 1,5 km dengan temperatur tinggi berkisar 250 derajat celcius sampai dengan 370 derajat celcius.

Pada daerah vulkanik aktif biasanya memiliki umur batuan yang relatif muda dengan kondisi temperatur yang sangat tinggi dan kandungan gas magmatik besar. Sedangkan untuk daerah vulkanik yang tidak aktif biasanya berumur relatif lebih tua dan telah mengalami aktivitas tektonik yang cukup kuat untuk membentuk permeabilitas batuan melalui rekahan dan celah yang intensif.


Pada kondisi tersebut diatas, akan terbentuk temperatur menengah hingga tinggi dengan konsentrasi gas magmatik yang lebih sedikit dibandingkan dengan daerah vulkanik aktif. Sistem vulkanik dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipe, yaitu sistem tubuh gunungapi strato, sistem komplek gunungapi, sistem kaldera, dan sistem vulkano-tektonik (Anonim, 2010).
thumbnail

Perkembangan Logam Tanah Jarang (REE) di Dunia dan Indonesia

Logam Tanah Jarang (LTJ / REE) sesuai dengan namanya merupakan senyawa mineral dengan unsur tanah jarang yang sangat langka atau kelimpahannya sangat sedikit. Keterdapatan di alam berupa senyawa kompleks umumnya senyawa fosfat dan karbonat. Dengan perkembangan teknologi pengolahan material, logam tanah jarang semakin dibutuhkan dan umumnya pada industri teknologi tinggi.


Logam tanah jarang banyak diburu bersama paduannya karena digunakan untuk banyak peralatan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya berupa: memori komputer, DVD, baterai isi ulang, telepon seluler, konventer katalis kendaraan bermotor, magnet, lampu fluoresen dan lain-lain. Bahkan kegunaan untuk komputer dan DVD telah tumbuh lebih cepat daripada telepon seluler. Berbagai tipe rechargeable batteries yang banyak mengandung cadmium (Cd) atau timbal, sekarang digantikan dengan baterai rechargeable lanthanum-nickel-hydride (La-Ni-H). Demikian halnya pada baterai komputer, baterai mobil dan peralatan komunikasi banyak menggunakan LTJ karena daya pakai yang lebih lama, mudah diisi ulang (recharge) dan mudah didaur ulang.

Di dalam negeri, logam tanah jarang sebagai komoditas pertambangan sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 23 tahun 2010 yaitu digolongkan sebagai bagian dari jenis mineral logam yang keseluruhannya 58 jenis, walaupun pada kenyataannya hingga saat ini belum ada Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterbitkan khusus untuk LTJ, namun dalam bentuk mineral monasit ((Ce, La, Pr, Nd, Th, Y)PO4) dan xenotim (YPO4) banyak diperdagangkan secara tidak resmi. Pengusahaannya sebagai komoditas tambang sudah pula diatur dalam PP nomor 1 tahun 2014 dan dalam Peraturan Menteri nomor 1 tahun 2014 sebagai produk mineral yang harus diolah atau dimurnikan di dalam negeri, akan tetapi produk LTJ ini diperoleh berupa produk sampingan timah (Sn). Hingga sekarang industri LTJ dalam pengertian industri hulu dengan produk unsur, senyawa oksida atau hidroksida belum ada di Indonesia walaupun perencanaan ke arah sana sudah dibahas dalam berbagai seminar berkali-kali.

perkembangan logam tanah jarang dunia
Perkembangan Logam Tanah Jarang secara Global (REE/LTJ).

Bila melihat kondisi pasar REE setidaknya pada dekade terakhir ini, kebutuhan dunia terus meningkat terutama disebabkan kegunaannya dalam industri berteknologi tinggi.  Pada teknologi tinggi berupa industri "magnetic refrigeneration" karena REE mempunyai daya magnet yang sangat kuat. Untuk memenuhi kebutuhan, dunia sudah sejak lama mengandalkan potensi yang ada di Tiangkok. Sekitar 90% kebutuhan dunia dipasok dari Tiongkok. Akan tetapi akhir-akhir ini pemerintah Tiongkok mulai membatasi produksinya hingga 60% yang berdampak semakin mahalnya dan langkanya komoditas ini di pasaran global. Harganya pun sempat meroket walau belakangan harga ini mulai menurun.


Sejalan dengan perhatian terhadap ketidaktergantungan pemanfaatan energi, perubahan iklim, dan isu-isu tentang penjualan kendaraan listrik yang menggunakan baterai, menyebabkan permintaan akan senyawa logam tanah jarang meningkat lebih cepat. Pemicu peningkatan permintaan senyawa-senyawa logam tanah jarang juga sejalan dengan peningkatan kebutuhan bahan pembuat katalis, fosfor, dan pemoles untuk pengendali pencemaran udara, layar iluminasi pada perangkat elektronik dan gelas optik.
thumbnail

Sejarah Penambangan Emas di Indonesia

Penambangan emas di Indonesia telah dimulai sejak lebih dari seribu tahun lalu dengan kedatangan imigran dari Cina yang menambang emas di beberapa wilayah, dilanjutkan pada Jaman Hindu, pendudukan Belanda dan Jepang. Selama zaman kolonial Belanda (1600-1942) perkembangan penambangan emas sangat terbatas. Beberapa cadangan bijih emas yang ditemukan pada periode ini di daerah Lebong, yaitu Lebong Donok dan Lebong Tandai, Provinsi Bengkulu. Penemuan cebakan emas lainnya yaitu di daerah Banten Selatan yang dikenal sebagai tambang emas Cikotok milik PT Aneka Tambang. Disamping itu pula terdapat penemuan-penemuan cebakan emas lainnya dalam jumlah yang relatif kecil.

Baca juga: Apa itu Emas ??

Pada tahun 1939, produksi logam emas total tercatat sebesar 2,5 ton, yang setengahnya berasal dari Lebong Tandai. Selama Perang Dunia II, semua tambang emas tersebut ditutup dan sesudah perang hanya beberapa tambang yang dibuka kembali termasuk Tambang Emas Cikotok. Produksi emas sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai pertengahan tahun 1980-an tidak menunjukkan peningkatan yang berarti. Produksi total yang tercatat pada tahun 1985 berjumlah sekitar 2,6 ton, dengan lebih dari 90% dari jumlah tersebut merupakan produk sampingan konsentrat tembaga yang dihasilkan PT Freeport Indonesia di Papua (dahulu Irian Jaya), sedangkan sisanya berasal dari produksi PT Aneka Tambang di Cikotok.

Di Pulau Sumatera, emas sudah lama diusahakan oleh rakyat. Kegiatan penambangan emas modern ditandai dengan dibukanya tambang Lebong Donok, Bengkulu pada tahun 1899. Jenis cebakan yang dikerjakan adalah cebakan emas primer. Usaha itu disusul oleh pembukaan tambang-tambang lain seperti Simau (1910), Salida (1914), Lebong Simpang (1921) dan Tambang Sawah (1923). Tambang Mangani di Sumatera Barat mulai berproduksi pada tahun 1913, tambang yang diusahakan oleh perusahaan Equator ini bertahan sampai tahun 1931, kemudian beralih kepemilikan dan dibuka kembali pada tahun 1939 oleh Marsman's Algemeen Exploratie Maatschappij atau lebih dikenal MAEM.

produksi emas indonesia
Data produksi emas 1996-2011 dan foto sejarah penemuannya di Indonesia.

Tambang-tambang lain yang dibuka sesudah era 1930-an yaitu daerah Belimbing, Gunung Arum pada tahun 1935 dan dikelola olehh perusahaan Barisan, daerah Bulangsi dikelola oleh Sumatra Goldmijn Ltd dan Muara Sipongi pada 1936. Selain menambang bijih emas primer, MAEM juga mengusahakan emas yang berasal dari endapan aluvial (sekunder) di Meulaboh Aceh yang dibuka pada tahun 1941 dan berlangsung hingga pecahnya Perang Dunia II. Tambang emas aluvial lain terdapat di Logas Riau dan diusahakan oleh perusahaan Bengkalis.


Di Kalimantan Barat, orang-orang Cina sejak dulu sudah melakukan penambangan emas, akan tetapi hasilnya kurang memadai dibandingkan dengan hasil tambang emas di Sumatera. Tambang-tambang emas yang berkembang merupakan tambang-tambang berskala kecil yang diusahakan oleh rakyat. Hal yang sama juga berlangsung di Sulawesi Utara.

Cebakan bijih emas primer yang ditemukan di daerah Cikotok mulai diproduksi pada 1940 dan diusahakan oleh perusahaan Zuid Bantam (Anonim, 1998). Pembangunan tambang emas Cikotok dilakukan oleh N.V Mynbouw Maatschappy Zuid Bantam (NV.MMZB) pada tahun 1936 sampai 1939, pada saat itu pabrik di Pasirgombong untuk pertama kalinya berproduksi. Cadangan bijih emas pada waktu itu adalah sebesar 569.041 ton dengan kadar Au 8,4 g/ton dan Ag 481 g/ton. Tambang emas Cikotok dan Cikondang dan sejumlah tambang emas di Sumatera (Simau, Lebong, Simpang, Mangani, Logas, dan Meulaboh) serta tambang emas di Sulawesi Utara (Tapaibekin) tetap berjalan walaupun pecah Perang Dunia II.

Di zaman Jepang, tambang-tambang tersebut tetap beroperasi dan dikelola oleh perusahan Jepang bernama Mitsui Kosha Kabunshiki Kaisha dengan tujuan utamanya mengambil timah hitam dari tambang Cirotan untuk kebutuhan militer. Antara tahun 1945-1948, yang merupakan tahun perjuangan kemerdekaan, tambang emas Cikotok dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia dibawah pengawasan Jawatan Pertambangan Pusat Republik Indonesia.


Selama masa aksi militer Belanda ke-2 pada tanggal 23 Desember 1948, Tambang Cikotok kembali dikuasai oleh Belanda sampai pengakuan kedaulatan pada akhir tahun 1949. Sementara itu NV.MMZB telah kembali untuk meneruskan usahanya, tetapi tambang dan pabrik mengalami kerusakan berat selama pendudukan Jepang dan selama tahun-tahun revolusi selanjutnya. Setelah mengetahui bahwa untuk merehabilitasi dan membangun kembali tambang tersebut membutuhkan biaya besar sekali, maka perusahaan tadi memutuskan untuk menjual tambang tersebut kepada NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan (NV.PPP).

NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan kemudian melakukan rehabilitasi tambang pada tahun 1954 dan mulai berproduksi pada tahun 1957. Pengelola terakhir tambang ini adalah Unit Pertambangan Emas Cikotok, namun dengan semakin menipisnya cadangan sehingga tidak ekonomis untuk di eksploitasi maka pada akhir tahun 1994 produksinya dihentikan dan pada Januari 1995 statusnya berubah menjadi Proyek Eksplorasi dan Pengembangan Emas dan Perak Cikotok yang dikelola oleh PT Aneka Tambang.

Umumnya dari tahun 1950 sampai dengan tahun 1970-an usaha pertambangan emas hanya melakukan atau merehabilitasi sisa perusahaan tembang emas sebelum perang dunia ke-2. Kegiatan pencarian emas pada waktu itu belum optimal karena undang-undang/peraturan, kebijakan pemerintah tentang emas, harga dan lain-lain kurang mendukung pembukaan tambang emas baru.


Tambang emas sebelum perang dunia ke-2 yang direhabilitasi kembali oleh NV PPP anak perusahaan Bank Industri Negara adalah Tambang Cikotok dan Logas di Riau. Beberapa bekas tambang sebelum perang diusahakan oleh rakyat dalam bentuk pertambangan rakyat, seperti di Bengkulu, Kalimantan, dan Sulawesi Utara. Minat swasta baru meningkat sesudah tahun 1970-an dengan membaiknya harga emas antara tahun 1974-1975. Hampir semua daerah yang mengandung potensi emas, Kuasa Pertambangan-nya (KP) telah dipegang oleh swasta nasional atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dari 369 KP Eksplorasi yang tercatat di tahun 1980, terdapat 56 KP Eksplorasi emas yang terdiri atas 22 KP dimiliki oleh BUMN dan 34 KP dimiliki oleh swasta nasional. Sedangkan KP Eksplorasi waktu itu baru berjumlah 2 buah yang dimiliki PT Aneka Tambang. Tahun 1982 terdapat 8 KP Eksploitasi, diantaranya 3 KP milik swasta nasional dan sisanya milik BUMN. Umumnya KP emas yang ditangani Swasta Nasional berjalan kurang lancar kerena kekurangan modal, ketrampilan, dan teknologi. Penemuan mineral emas yang penting di Indonesia antara tahun 1967 sampai 2005 terekam dalam tabel di bawah ini.

data penemuan emas di indonesia
Penemuan emas di Indonesia antara tahun 1967-2005.

Hasil kegiatan eksplorasi yang dilakukan pada periode 1980-an, pada saat ini sebagian perusahaan tambang emas masih berproduksi tetapi beberapa telah ditutup karena cadangan bijihnya sudah habis. Pada tahun 1990 produksi emas dan perak dihasilkan oleh PT Aneka Tambang, PT Lusang Mining, PT Ampalit Mas Perdana, PT Monterado Mas Mining, PT Aratutut, PT Bakri Hadis Perdana, PT Tambang Timah Perkasa, dan tambang rakyat.


Selain dari perusahaan-perusahaan tersebut, emas dan perak juga dihasilkan sebagai produk samping dalam konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia (PT FI) dan mulai tahun 2000, PT Newmont Nusa Tenggara juga menghasilkan emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang diolahnya. Hingga saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan emas terbesar di dunia, dengan produksi maksimal emas di Indonesia pada tahun-tahun tertentu.

Sumber Data dan Foto:
Data Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Koleksi Foto Pusat Sumberdaya Geologi.
thumbnail

#7 MANFAAT PENGINDERAAN JAUH

Tujuan utama dari sebuah sistem penginderaan jauh adalah untuk mengumpulkan data pada obyek tertarget. Data dari penginderaan jauh dapat diimplementasikan dalam bentuk data numerik (digital) dan data visual (manual). Data visual dapat dibedakan lagi menjadi data citra yaitu merupakan gambaran planimetriknya dan data non-citra yaitu dalam bentuk grafik yang mencerminkan beda suku yang direkam disepanjang daerah penginderaan. Secara umum, penginderaan jauh dapat sangat bermanfaat secara signifikan dalam mengurangi kegiatan survey terestrial saat melakukan inventarisasi dan monitoring sumberdaya alam dan lingkungan.


Penginderaan jauh makin banyak dimanfaatkan karena berbagai macam alasan diantaranya adalah karena: 1) dapat dibuat secara cepat meskipun pada daerah yang sulit ditempuh melalui daratan, contohnya hutan, rawa dan pegunungan; 2) Dapat menggambarkan obyek dipermukaan bumi dengan wujud dan letak objek yang mirip dengan aktualnya, mencakupan daerah yang luas, gambar relatif lengkap, dan sifat gambar yang permanen; 3) Dapat memberikan gambar tiga dimensi jika dilihat dengan menggunakan stereoskop. Gambar tiga dimensi itu sangat menguntungkan karena menyajikan model obyek yang jelas, pengukuran lereng dan pengukuran volume, memungkinkan pengukuran beda tinggi, dan relief lebih jelas; 4) Dapat memvisualisasikan benda yang tidak tampak sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya.

Penginderaan jauh (Inderaja) memiliki manfaat yang sangat besar dalam sistem informasi data dan pengelolaannya, antara lain untuk mendeteksi perubahan data dan pengembangan model di berbagai kepentingan. Di bawah ini disajikan beberapa manfaat penginderaan jauh diberbagai bidang.

Manfaat Inderaja di Bidang Meteorologi dan Klimatologi

Pemanfaatan aplikasi penginderaan jauh untuk bidang meteorologi dan klimatologi memiliki acuan yang sangat luas. Output data dari inderaja sangat penting diaplikasikan untuk mengetahui keadaan lingkungan atmosfer. Untuk memperoleh data lingkungan tentang atmosfer melalui inderaja, wahana yang diperlukan adalah satelit. Di antara satelit-satelit yang digunakan untuk informasi lingkungan atmosfer misalnya Synchronous Meteoroligical Satellite (SMS). Generasi ke-tiga dari satelit tersebut diganti namanya menjadi Geosyncronous Operational Environment Satellite (GOES). Aplikasi penginderaan jauh untuk bidang meteorologi dan klimatologi antara lain sebagai berikut :
  1. Melakukan perekaman terhadap pola awan guna mengetahui bidang pergerakan tekanan udara
  2. Mengamati iklim suatu daerah melalui pengamatan tingkat perawanan dan kandungan air dalam udara
  3. Membantu analisis cuaca dan peramalan/prediksi dengan cara menentukan daerah tekanan tinggi dan tekanan rendah serta daerah hujan badai dan siklon
  4. Mengamati sistem/pola angin permukaan
  5. Melakukan pemodelan meteorologi dan set data klimatologi

Manfaat Inderaja di Bidang Pemetaan

Pemanfaatan foto udara/citra hasil penginderaan untuk kegiatan pemetaan merupakan kegiatan yang umum dilakukan pada saat sekarang. Informasi spasial yang disajikan dalam peta citra merupakan data raster yang bersumber dari hasil perekaman citra satelit secara kontinu. Tahapan dalam pemetaan menggunakan hasil inderaja ini dengan membuat pola dengan menggunakan data inderaja yang diawali dengan penggabungan foto udara dalam bentuk mozaik guna membatasi wilayah yang akan dipetakan.


Salah satu contoh pemanfaatan teknologi inderaja untuk kegiatan di bidang pemetaan misalnya untuk pemetaan daerah rawan banjir. Beberapa keunggulan pemetaan menggunakan teknologi inderaja antara lain :
  1. Hasil inderaja dapat digunakan untuk memetakan daerah yang sangat luas dengan cepat, pemetaan manual biasanya hanya digunakan untuk memetakan daerah yang sangat sempit.
  2. Berbiaya lebih murah.
  3. Dapat memetakan bermacam-macam peta tematik sekaligus
  4. Proses pembuatan lebih cepat

Manfaat Inderaja di Bidang Kependudukan dan Perencanaan Wilayah

Pengeinderaan jauh menghasilkan data yang ringkas tentang lingkungan yan berkenaan dengan bumi. Salah satu aplikasi yang nyata dari pemanfaatan hasil pengeinderaan jauh dalam bidang kependudukan adalah untuk memetakan distribusi spasial penduduk. Selain pemetaan distribusi spasial kependudukan, data inderaja juga dapat dimanfaatkan untuk meneliti dampak keberadaan manusia dalam lingkungan hidup.

Oleh karena ukuran penduduk terlalu kecil, pola distribusinya hanya dapat diinterpretasi secara tidak langsung, yaitu berdasarkan pola permukiman penduduk atau bukti lain yang tampak. Pola permukiman penduduk itu sendiri dapat diketahui dengan menginterpretasikan bentuk lahan dan penggunaanya.

Manfaat Inderaja di Bidang Kehutanan

Bidang kehutanan berkenaan dengan pengelolaan hutan untuk kayu termasuk perencanaan pengambilan hasil kayu, pemantauan penebangan dan penghutanan kembali, pengelolaa dan pencacahan margasatwa, inventarisasi dan pemantauan sumber daya hutan, rekreasi, dan pengawasan kebakaran. Kondisi fisik hutan sangat rentan terhadap bahaya kebakaran maka penggunaan citra inframerah akan sangat membantu dalam penyediaan data dan informasi dalam rangka monitoring perubahan temperatur secara kontinu dengan aspek geografis yang cukup memadai sehingga implementasi di lapangan dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat.

Manfaat Inderaja di Bidang Kelautan (Oseanografi)

Manfaat penginderaan jauh di bidang oseanografi (kelautan) adalah 1) Mengamati sifat fisis laut, seperti suhu permukaan, arus permukaan, dan salinitas sinar tampak (0-200 m), 2) Mengamati pasang surut dan gelombang laut (tinggi, arah, dan frekwensi), 3) Mencari lokasi upwelling, singking dan distribusi suhu permukaan, 4) Melakukan studi perubahan pantai, erosi, dan sedimentasi (LANDSAT dan SPOT).

manfaat penginderaan jauh
Gambar Citra hasil penerapan teknologi penginderaan jauh.

Manfaat Inderaja di Bidang Ilmu Bumi dan Lingkungan

Manfaat penginderaan jauh di bidang ilmu bumi (geofisika, geologi, dan geodesi) diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Melakukan pemetaan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat terbang dan menggunakan aplikasi GIS; 2) Menentukan struktur geologi dan macam batuan; 3) Melakukan pemantauan daerah bencana (kebakaran), pemantauan aktivitasgunung berapi, dan pemantauan persebaran debu vulkanik; 4) Melakukan pemantauan distribusi sumber daya alam, seperti hutan (lokasi, macam, kepadatan, dan perusakan), bahan tambang (uranium, emas, minyak bumi, dan batu bara); 5) Melakukan pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut; 6) Melakukan pemantauan pencemaran udara dan pencemaran laut.


Manfaat Inderaja di Bidang Penggunaan Lahan

Inventarisasi penggunaan lahan penting dilakukan untuk mengetahui apakah pemetaan lahan yang dilakukan oleh aktivitas manusia sesuai dengan potensi ataupun daya dukungnya. Penggunaan lahan yang sesuai memperoleh hasil yang baik, tetapi lambat laun hasil yang diperoleh akan menurun sejalan dengan menurunnya potensi dan daya dukung lahan tersebut. Integrasi teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu bentuk yang potensial dalam penyusunan arahan fungsi penggunaan lahan. Dasar penggunaan lahan dapat dikembangkan untuk berbagai kepentingan penelitian, perencanaan, dan pengembangan wilayah. Contohnya penggunaan lahan untuk usaha pertanian atau budidaya dan permukiman.
thumbnail

Tsunami Terbesar (Tertinggi) di Dunia

Pada malam 9 Juli 1958, gempabumi sebesar 7,7 skala richter yang terjadi di sepanjang Sesar Fairweather Alaska merobohkan sekitar 30,6 juta meter kubik batuan dan es ke dalam pantai timurlaut Teluk Lituya. Massa batuan tersebut jatuh dari ketinggian sekitar 914 meter dan masuk ke dalam perairan Gilbert Inlet (lihat gambar di bawah). Akibatnya, menghasilkan tsunami lokal yang menabrak garis pantai baratdaya Gilbert Inlet.

Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini adalah: tsunami terbesar di dunia, tsunami terdahsyat di dunia, tsunami tertinggi di dunia. Tsunami Lituya Bay, tsunami alaska, tsunami gilbert inlet, gelombang tsunami tertinggi, kejadian tsunami, bencana alam tsunami. Foto tsunami, peristiwa tsunami, tsunami paling dahsyat.


Gelombang tsunami yang terbentuk menghantam dengan kekuatan penuh sepanjang pesisir Lituya Bay. Tinggi gelombang ini hingga mencapai ketinggian 524 meter (1720 kaki) diatas permukaan air laut dan menyapu jutaan pohon dan makhluk hidup lainnya yang berada disepanjang Lituya Bay. Tsunami dengan tinggi gelombang 524 meter tersebut dinobatkan sebagai Tsunami Terbesar di Dunia. Kejadian tsunami yang sebesar ini biasa disebut dengan megatsunami.

Gambar Lituya Bay, tempat terjadinya tsunami terbesar (tertinggi) di dunia.

Megatsunami merupakan sebuah kategori tsunami yang diukur berdasarkan atas ketinggian gelombangnya yang berada pada nilai ratusan bahkan ribuan meter. Megatsunami lebih banyak disebabkan oleh erupsi gunungapi dan longsoran massa batuan dalam jumlah yang besar. Walaupun megatsunami sangat jarang terjadi, namun ia memiliki potensi penghancuran total jika memang terjadi.
thumbnail

#6 KOMPONEN PENGINDERAAN JAUH

Penginderaan Jauh (atau disingkat inderaja/remote sensing) merupakan akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat dari jarak jauh (dari pesawat, satelit, pesawat luar angkasa, ataupun kapal). Alat penginderaan jauh biasanya disebut juga dengan "Sensor" (alat peraba). Penginderaan jauh tersusun atas komponen-komponen yang membentuk suatu kesatuan sistem. Interaksi antar sistem dalam komponen-komponen penginderaan jauh akan menghasilkan data numerik dan manual yang selanjutnya melalui sebuah proses pengolahan dan interpretasi dapat diketahui jenis obyek area ataupun fenomena yang terjadi. Pada artikel kali ini Geologinesia.com akan lebih fokus membahas tentang komponen-komponen penginderaan jauh. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa setidaknya ada 6 Komponen Penginderaan Jauh yang kita kenal yaitu:
  1. Sumber energi atau Iluminasi
  2. Interaksi dengan Target
  3. Perekaman Energi oleh sensor
  4. Transmisi, Penerimaan dan Pengolahan Data
  5. Interpretasi dan Analisis data
  6. Pengguna Data


Pencarian lainnya yang terkait dengan artikel ini adalah: penginderaan jauh, komponen penginderaan jauh, pengindraan jauh, komponen pengindraan jauh, komponen komponen penginderaan jauh. Inderaja, Indraja, komponen inderaja, penginderaan jarak jauh, komponen utama penginderaan jauh, dan komponen-komponen penginderaan jauh.

Sumber Energi atau Iluminasi

Komponen pertama untuk penginderaan jauh adalah sumber energi (tenaga) yang menyinari atau memberikan energi elektromagnetik ke sebuah target (objek) yang diinginkan. Sumber energi dalam proses inderaja terdiri atas energi alamiah yaitu sinar matahari dan energi buatan berupa gelombang mikro. Jumlah energi yang diterima oleh obyek disetiap tempat berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain: bentuk permukaan bumi, waktu penyinaran, dan kondisi cuaca.

Matahari menyediakan sumber energi yang sangat baik untuk penginderaan jauh. Energi matahari tercermin pada panjang gelombang. Panjang gelombang matahari dapat diserap dan kemudian kembali dipancarkan oleh sebuah objek. Berdasarkan atas sumber energi yang digunakan, sensor sebagai alat penginderaan jauh dapat diklasifikasikan sebagai sensor pasif dan sensor aktif. Sensor yang bersumber dari radiasi alami (dipancarkan atau dipantulkan oleh bumi) disebut sensor pasif. Sebagian besar sensor penginderaan di alam merupakan sensor pasif yang mengukur radiasi matahari yang dipantulkan dari objek/target. Di sisi lain, sensor yang menghasilkan sendiri radiasi elektromagnetik disebut sensor aktif.

Komponen Penginderaan Jauh
Gambar Penginderaan Jauh Aktif dan Pasif.

Interaksi dengan Target

Energi dari sumbernya akan menuju target dalam bentuk kontak dan berinteraksi dengan atmosfer. Interaksi antara energi dan target/obyek dapat dilihat dari rona yang dihasilkan oleh foto udara. Tiap-tiap target memiliki karakterisitik yang berbeda dalam memantulkan atau memancarkan energi ke sensor. Target yang mempunyai daya pantul tinggi akan terilhat cerah pada citra, sedangkan target yang daya pantulnya rendah akan terlihat gelap pada citra.

Perekaman Energi oleh sensor

Setelah energi tersebar atau dipancarkan dari target, diperlukan sensor untuk mengumpulkan dan merekam radiasi elektromagnetik. Sensor seperti ini dikenal dengan istilah EMR. Penginderaan jauh dapat secara luas diklasifikasikan dalam bentuk Optik dan Microwave. Pada Optik penginderaan jauh, sensor mendeteksi radiasi matahari baik yang terlihat dekat, menengah, maupun pada wilayah dengan panjang gelombang inframerah yang tersebar atau dipancarkan dari bumi. Ketika Sensor bekerja di wilayah gelombang elektromagnetik pada frekuensi antara 10^9 dan 10^12 Hz maka akan disebut sebagai "Microwave Remote Sensing".

Transmisi, Penerimaan, dan Pengolahan Data

Energi akan ditransmisikan dan direkam oleh sensor. Perekaman ini dalam bentuk elektronik, untuk selanjutnya diterima disebuah stasiun di bumi. Di Stasiun bumi, data akan diproses dan disimpan dalam bentuk data numerik (digital) dan data manual. Data manual, didapatkan melalui kegiatan interpretasi citra. Guna melakukan interpretasi citra secara manual diperlukan alat bantu bernama stereoskop, stereoskop dapat digunakan untuk melihat obyek dalam bentuk tiga dimensi. Sedangkan data numerik (digital) diperoleh melalui penggunaan software khusus penginderaan jauh yang diterapkan pada komputer.

Interpretasi dan Analisis Data

Data yang dihasilkan selanjutnya akan diolah dan ditafsirkan baik secara visual dan atau digital terhadap informasi pada target/objek yang telah di iluminasi. Perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah dan menafsirkan data umumnya dikenal sebagai Image Processing Tools. Tujuan akhir dari proses ini menghasilkan sebuah informasi yang berguna untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Disini diperlukan seorang spesialis analyst yang bekerja pada masing-masing bidang aplikasi tertentu.


Pengguna Data

Pengguna data merupakan komponen akhir yang penting dalam sistem penginderaan jauh, yaitu orang atau lembaga yang memanfaatkan hasil inderaja. Jika tidak ada pengguna, maka data penginderaan jauh tidak ada manfaatnya. Salah satu lembaga yang menggunakan data penginderaan jauh misalnya adalah di Bidang kependudukan, militer, pemetaan, serta Meteorologi dan Klimatologi.

thumbnail

Perkembangan CBM (Coalbed Methane) di Dunia

Jika batubara telah dimanfaatkan sejak ribuan tahun lalu, pemanfaatan CBM sebagai sumber energi baru dimulai diawal era tahun 1980-an. Pada awal pengembangannya, CBM merupakan gas yang dianggap mengganggu dan membahayakan keselamatan para pekerja tambang batubara bawah permukaan. Gas metan di dalam tambang batubara sering mengakibatkan terjadinya ledakan dan kebakaran. Perhatian CBM pada saat itu, lebih sebagai tindakan pencegahan untuk menghindari bencana ledakan dan kebakaran tambang.


Sumberdaya CBM tersebar di banyak negara yang memiliki sumberdaya batubara yang cukup signifikan, diantaranya adalah Amerika, Australia, Kanada, Rusia, Tiongkok, India, Afrika Selatan, Polandia, dan Kazakhstan. Eksploitasi CBM secara komersil dimulai di Amerika pada sekitar tahun 1970-an bersama dengan usaha pemerintah untuk meningkatkan keselamatan tambang. Walaupun demikian, baru pada awal tahun 1980-an, eksplorasi dan eksploitasi CBM sebagai sumberdaya energi mulai dilakukan secara serius dan berkembang sangat pesat di awal tahun 1990-an. Diperkirakan sumberdaya CBM di seluruh dunia mencapai sekitar 3000 TCF.

perkembangan cbm dunia
Gambar Peta keberadaan CBM dan CMM dunia di negara yang tergabung dalam OCDE (negara yang telah menandatangani Convention Co-Operation and Development, Flores, 2013).

Beberapa negara di dunia (Amerika, Australia, Kanada, Tiongkok, dan India) telah mulai memproduksi dan menjual CBM sebagai pipeline gas atau memanfaatkannya secara langsung sebagai pembangkit listrik. Pada umumnya di negara-negara tersebut CBM dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik. Jika di Amerika, Australia, dan Canada, industri CBM telah berada pada kondisi mature, CBM di Tiongkok dan India mulai diproduksi dengan pasar yang dianggap cukup potensial. Sedangkan Indonesia dan Rusia adalah negara yang telah memulai untuk mengembangkan CBM secara komersial (Moore, 2012). Walaupun demikian, di kedua negara tersebut, industri CBM masih berada pada tahapan eksplorasi.


Amerika merupakan negara dengan produksi CBM terbesar di dunia (Moore,2012). Di Amerika, CBM diproduksi dari batubara berbagai peringkat (antrasit, bituminous, dan subbituminus) yang tersebar di 12 cekungan. Sebagian besar CBM di negara ini diproduksi dari 3 cekungan besar yaitu The Black Warior (Alabama), San Juan (New Mexico, Utah, Colorado), dan The Powder River (terutama Wyoming) (lihat gambar dibawah). Jika sebelumnya eksplorasi CBM terfokus batubara peringkat tinggi, kesuksesan ekstraksi CBM dari batubara subbituminus di cekungan Powder River Basin, memicu usaha pengembangan CBM dari batubara peringkat rendah di banyak cekungan sedimen lainnya di dunia, termasuk di Indonesia.

cekungan penghasil cbm amerika
Gambar Cekungan Batubara Penghasil CBM Terbesar di Amerika.

Di Australia dengan jumlah sumberdaya batubara peringkat tinggi sangat besar serta banyaknya tambang batubara bawah permukaan (underground), keberadaan gas dalam tambang batubara yang membahayakan keselamatan tambang sudah sejak lama dianggap menjadi isu penting di Australia. Akan tetapi, pemanfaatan CBM sebagai sumberdaya energi baru dimulai pada tahun 1996 untuk kemudian berkembang pesat pada tahun 2001. CBM di Australia hampir seluruhnya diproduksi dari cekungan Bowen dan Cekungan Surat di negara bagian Queensland (lihat gambar di bawah). Saat ini CBM cekungan Sydney juga mulai diproduksi dan dikembangkan. Seperti halnya di Amerika, sebagian besar CBM di Australia berasal dari batubara peringkat tinggi. Walaupun demikian, di negara ini CBM juga telah mulai diproduksi secara signifikan dari batubara subbituminus di Cekungan Surat. Eksplorasi CBM pada batubara peringkat rendah lainnya masih berlangsung di Victoria tetapi hingga saat ini belum diproduksi.


Di Canada, CBM diekstraksi dari batubara bituminus berumur Kapur. Di negara ini batubara bituminus dan subbituminus berumur Yura dan Tersier dianggap mengandung sumberdaya CBM yang potensial. Di Tiongkok CBM dan CMM diproduksi dari batubara antrasit berumur Karbon dan Perm dari cekungan Qinhui. Batubara berumur karbon dan Perm dari cekungan ordos juga dianggap berpotensi mengandung CBM. Di India, CBM juga diproduksi dari batubara antrasit berumur Perm. Hingga saat ini tercatat 4 cekungan dengan sekitar 14 lapangan CBM yang aktif di India. Di negara tersebut, batubara subbituminus berumur Tersier dianggap memiliki potensi CBM cukup menjanjikan. Sedangkan di Rusia, batubara bituminus dan antrasit berumur Karbon dan Perm adalah sumber CBM bagi negara tersebut. Saat ini dengan adanya teknologi pengubahan CBM menjadi Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquified Natural Gas (LNG) menjadikan industri CBM di Australia, Tiongkok, dan Indonesia dianggap berpeluang tinggi untuk dikembangkan (Moore, 2012).
thumbnail

Geologi Pasir Besi : Genesa dan Sifat Fisik

Sobat Geologinesia, pada postingan kali ini saya akan mencoba mengupas lebih jauh mengenai geologi pasir besi, setelah sebelumnya kita telah membahas mengenai pengenalan pasir besi dan kebijakaan pemerintah indonesia dalam pengelolaannya (dapat anda lihat dalam link tautan dibawah). Geologi pasir besi yang dimaksudkan disini adalah berhubungan dengan genesa atau proses pembentukannya dan sifat fisik dari pasir besi itu sendiri. Mari kita mulai.


Genesa Pasir Besi

Pasir besi umumnya terdapat di sepanjang pantai, terbentuk karena proses penghancuran batuan asal oleh cuaca dan air permukaan, yang kemudian tertransportasi dan diendapkan di sepanjang pantai. Gelombang laut dengan energi tertentu memilah dan mengakumulasi endapan tersebut menjadi pasir besi yang memiliki nilai ekonomis.

Pasir besi sebagai endapan letakan/placer, di Indonesia banyak dijumpai sebagai endapan aluvial pantai. Endapan pasir besi antara lain terdapat di sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa dan Bali, pantai-pantai Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan pantai utara Papua. Beberapa lokasi telah dilakukan eksplorasi, bahkan eksploitasi, namun sebagian besar lagi belum dilakukan eksplorasi atau kalaupun sudah di eksploitasi tidak dilakukan melalui tahapan eksplorasi yang benar.

Mineral ringan dan berat yang mengandung unsur besi diendapkan dalam bentuk gumuk-gumuk pasir sepanjang dataran pantai. Endapan ini mengandung mineral utama seperti magnetit (Fe3O4/FeO.Fe2O3), hematit (Fe2O3), dan ilmenit (FeTiO3/FeO.TiO2), serta mineral ikutan pirhotit (FeS), pirit (FeS2), markasit, kalkopirit (CuFeS2), kromit (FeO2Cr2O3), almandit (Fe3Al2(SiO4)3), andradit (Ca3Fe2(SiO4)3), SiO2 bebas, serta unsur jejak (trace element) lainnya antara lain: Mn, Mg, Zn, Na, K, Ni, Cu, Pb, As, Sb, W, Sn, dan V (Wilfred W, 1939).


Pembentukan endapan pasir besi ditentukan oleh beberapa faktor antara lain batuan asal, proses perombakan, media transportasi, proses serta tempat pengendapannya. Sumber mineral endapan pasir besi pantai sebagian besar berasal dari batuan gunungapi bersifat andesitik dan basaltik. Proses perombakan terjadi karena pelapukan batuan akibat adanya proses alam seperti panas dan hujan yang membuat butiran mineral terlepas dari batuannya.

Media transportasi endapan pasir besi antara lain: aliran sungai, gelombang, dan arus laut. Proses transportasi membawa material lapukan dari batuan asal, menyebabkan mineral-mineral terangkut hingga ke muara, kemudian gelombang dan arus laut mencuci dan memisahkan mineral-mineral tersebut berdasarkan perbedaan berat jenisnya.

Di daerah pantai, mineral diendapkan kembali oleh gelombang air laut yang menghempas ke pantai. Akibat hempasan tersebut, sebagian besar mineral yang mempunyai berat jenis yang besar akan terendapkan di pantai, sedangkan mineral berat yang berat jenisnya lebih ringan akan kembali terbawa oleh arus balik kembali ke laut, demikian terjadi secara terus menerus hingga terjadi endapan pasir besi di pantai (lihat gambar di bawah). Tempat pengendapan pasir besi umumnya terjadi pada pantai yang landai, sedangkan pada pantai yang curam sulit terjadi proses pengendapan.

pembentukan pasir besi
Pembentukan pasir besi.

Sifat Fisik Pasir Besi

Pasir besi mengandung mineral utama magnetit (besi oksida) berasosiasi dengan titanomagnetit dengan sedikit magnetit dan hematit yang disertai dengan mineral pengotor seperti kuarsa, piroksen, biotit, rutil, dan lain-lain. Pengotor lainnya yang biasa terdapat dalam pasir besi yaitu fosfor dan sulfur.


Pasir besi berwarna abu-abu hingga kehitaman, berbutir sangat halus dengan ukuran antara 75 - 150 mikron, densitas 2-5 gr/cm3, bobot isi (spesific gravity, SG) 2,99 - 4,23 gr/cm3, dan derajat kemagnetan (MD) 6,4 - 27,16%. Pasir besi yang mengandung mineral utama magnetit dicirikan oleh butiran mineral magnetit yang selalu berikatan dengan butiran mineral magnetit lainnya sehingga membentuk ikatan rantai. Butiran mineralnya bersistem kristal isometrik, sehingga pasir besi (magnetit) cenderung berbentuk membundar hingga membundar tanggung.

thumbnail

Sejarah Penemuan Logam Tanah Jarang (REE)

Logam Tanah Jarang (disingkat LTJ) atau terjemahan dari REE (Rare Earth Element) dikenal di dunia karena penemuan mineral berwarna hitam ytterbit (yang dinamai ulang menjadi gadolinit pada tahun 1800) oleh Letnan Carl Axel Arrhenius pada tahun 1787 di salah satu galian batu di Desa Ytterby, Swedia. Arrhenius menemui Johan Gadolin, profesor di Royal Academy of Turku untuk menganalisis mineral tersebut dan mendapatkan hasil analisis bahwa mineral yang tidak dikenal itu disebut "yttria". Sementara itu, Anders Gustav Ekeberg mengisolasi berrylium dari gadolinit tetapi gagal untuk mengenali unsur-unsur lain di dalamnya.


Setelah penemuan mineral dari Bastnas dekat Riddarthyttan, Swedia pada 1794, kemudian diuji ulang oleh Jons Jacob Berzelius dan Wilhelm Hisinger, dan hasilnya dipercaya bahwa mineral itu adalah senyawa besi-tungsten. Pada tahun 1803 mereka menentukan nama mineral oksida berwarna putih sebagai ceria, sama dengan mineral ochroia yang juga ditemukan oleh Martin Heinrich Klaproth. Dengan demikian pada tahun 1803 dikenali dua unsur tanah jarang yttrium dan cerium, meskipun memerlukan waktu 30 tahun kemudian para peneliti menentukan bahwa unsur-unsur lainnya terkandung di dalam bijih-bijih ceria dan yttria.

Pada tahun 1839, Carl Gustav Mosander, salah satu asisten Berzelius memisahkan ceria dengan cara memanaskan nitrat dan melarutkannya di dalam asam nitrit. Dia menyebutnya sebagai oksida dari larutan garam lanthana. Kemudian dalam waktu lebih dari tiga tahun lanthana dipisahkan menjadi didymia dan lanthana murni. Di tahun 1842, Mosander memisahkan yttria menjadi tiga oksida: yttria murni, terbia, dan erbia. Terbium merupakan garam berwarna merah muda, sedangkan peroksida kuning disebut erbium. Sehingga pada tahun 1842 jumlah unsur tanah jarang yang diidentifikasi berupa yttrium, cerium, lanthanum, didymium, erbium, dan terbium.

Nills Johan Berlin dan Marc Delafontaine juga mencoba memisahkan bahan mentah yttria dan menemukan hal sama dengan yang ditentukan oleh Mosander, tetapi Berlin (1860) menamai zat garam merah muda itu sebagai erbium dan Delafontaine menyebutnya terbium. Kebingungan ini membawa ke arah beberapa kesalahan penentuan unsur-unsur baru seperti mosandrium yang ditentukan oleh J.Lawrence Smith, atau philippium dan decipium hasil penentuan oleh Delafontaine.


Pada tahun 1879 Delafontaine menggunakan proses fisika baru spektroskopi dan menemukan beberapa jalur spektral baru di dalam didymia. Masih di tahun 1879, unsur baru samarium diisolasi dari mineral samarskit oleh Paul Emile Lecoq de Boisbaudran.

Samaria lebih jauh dipisahkan oleh Lecog de Boisbaudran di tahun 1886 dan hasil yang ditentukan dengan cara isolasi langsung dari samarskit oleh Jean charles Galissard de Marignac. Mereka menamai unsur tersebut godalium setelah Johan Gadolin memisahkannya, dan oksidanya disebut gadolina. Antara tahun 1886 dan 1901, analisis spekstroskopi lebih jauh terhadap samaria, yttria, dan smarskit dilakukan oleh William Crookes, Lecoq de Boibaudran, dan Eugene-Anatole Demacay dan menghasilkan beberapa jalur spektroskopis baru yang mengindikasikan keberadaan salah satu unsur tak dikenal. Kristalisasi fraksional dari oksida-oksida tersebut kemudian menghasilkan europium di tahun 1901.

sejarah penemuan logam tanah jarang
Periodik unsur dan elemen logam tanah jarang.

Pada tahun 1839 sumber ketiga unsur tanah jarang menjadi tersedia, yang disebut uranotantalum (sekarang disebut samarskit) dan serupa dengan gadolinit. Mineral ini didapatkan dari Miass di bagian Selatan Pegunungan Ural dan didokumentasikan oleh Gustave Rose. Ahli kimia Rusia R.Hamann mengusulkan nama salah satu unsur baru yang disebut ilmenium yang ada di dalam mineral tersebut, tetapi kemudian yang ditemukan di dalamnya oleh Cristian Wilhelm Blomstard, Galissard de Marignac, dan Heinrich Rose hanya berupa tantalum dan niobium (columbium).

Pada saat itu jumlah pasti dari unsur-unsur tanah jarang sangat tidak jelas, dan diperkirakan maksimum 25 (duapuluh lima) unsur. Penggunaan spektra X-ray oleh Henry Gwyn Jeffrey Moseley membuat penentuan nomor atom unsur-unsur menjadi memungkinkan. Moseley menemukan bahwa jumlah pasti lanthanida adalah 15 dan unsur ke-61 telah ditemukan. Mengacu pada kenyataan di atas tentang nomor-nomor atom berdasarkan analisis kristalografi X-ray, Moseley juga menunjukkan bahwa hafnium (unsur ke-72) bukan unsur tanah jarang. Moseley terbunuh pada Perang Dunia I di tahun 1915, bertahun-tahun sebelum hafnium ditemukan. Oleh karena itu, pengakuan Georges Urbain tentang penemuan unsur ke-72 adalah tidak benar. Hafnium merupakan salah satu unsur yang terletak langsung di bawah zirkonium dalam tabel periodik, dan hafnium memiliki sifat-sifat kimia dan fisika yang sama dengan zirkonium.


Selama tahun 1940-an, Frank Spending dan lain-lain di Amerika Serikat (Proyek Manhattan) menggambarkan prosedur kimiawi berupa pertukaran ion untuk pemisahan dan pemurnian unsur-unsur tanah jarang. Metoda ini diaplikasikan pertama kali terhadap actinida untuk memisahkan plutonium-239 dan neptonium dari uranium, thorium, actinium, dan unsur-unsur tanah jarang actinida yang lain yang dihasilkan dari reaktor-reaktor nuklir.

Sumber-sumber utama unsur-unsur tanah jarang berupa mineral-mineral basnasit, monasit, dan loparit serta lempung-lempung adsorpsi-ion lateritik. Kecuali kelimpahan unsur-unsurnya yang tinggi mineral-mineral tanah jarang lebih sukar ditambang dan diekstraksi daripada sumber-sumber logam transisi (karena kesamaan sifat kimianya); membuat unsur-unsur tanah jarang relatif berharga mahal. Penggunaannya di bidang industri sangat terbatas hingga teknik-teknik pemisahan yang efisien dikembangkan seperti pertukaran ion (ion exchange), kristalisasi fraksional (fractional cristalization) dan ekstraksi cairan-cairan (liquid-liquid extraction) selama akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an.
thumbnail

Mengenal Batu Gamping (Batu Kapur atau Limestone)

Batu gamping merupakan batuan sedimen dengan komposisi utama mineral kalsit (CaCO3), dolomit CaMg (CO3)2 dan aragonit (CaCO3), terbentuk dengan beberapa cara, yaitu secara organik, mekanik dan kimia. Sebagian besar batu gamping di alam terjadi secara organik. Jenis ini berasal dari kumpulan endapan cangkang kerang, siput, foraminifera, ganggang, atau berasal dari kerangka binatang yang telah mati.


Batu gamping tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia dengan karakteristik yang berbeda-beda, hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh kondisi geologi masing-masing daerah. Neraca sumberdaya mineral tahun 2013 menunjukkan sumberdaya batu gamping di Pulau Jawa 12.288,95 juta ton; Pulau Sumatera 103.198,08 juta ton; Pulau Kalimantan 36.076,83 juta ton; Pulau Sulawesi 95.518,85 juta ton; Pulau Papua 244.082,73 juta ton; Pulau Bali 7.191,79 juta ton; Kepulauan Maluku dan Halmahera 93.345,22 juta ton; Kepulauan Nusa Tenggara 55.393,04 juta ton.

bentuk batugamping
Gambar macam-macam kenampakan batu gamping.

Batu gamping yang telah diolah dapat digunakan sebagai bahan baku utama atau penyerta pada berbagai macam industri dengan persyaratan diantaranya harus memiliki:
  1. Derajat kemurnian (Kadar CaO)
  2. Kandungan unsur pengotor (Mg, Al, Fe, P, S, Na, K, dan F).
  3. Kandungan Mineral Pengotor (kuarsa, pirit, dan markasit)
  4. Sifat fisik tertentu (kecerahan, ukuran butir, luas permukaan, dan kelembapan).


Batu gamping dapat digunakan antara lain untuk pembuatan kapur tohor dan kapur padam, semen, karbid, peleburan dan pemurnian baja, bahan penggosok, bahan keramik, kaca, bata silika, kertas, karet, pembuatan soda abu, penjernih air, proses pengendapan bijih logam bukan besi, pembuatan gula, dan untuk pertanian.

Catatan: Penulisan yang benar terhadap nama batuan ini sebenarnya adalah "batugamping" (tanpa spasi). Penulis menuliskan nama "batu gamping" (dengan spasi) dalam postingan diatas hanya untuk memudahkan pencarian atas artikel ini.
thumbnail

Mengenal Sistem Panas Bumi (Geothermal)

Panas Bumi atau Geothermal berasal dari kata bahasa Yunani, tersusun atas kata "Geo" yang berarti bumi dan "Thermos" yang berarti panas. Secara sederhana panas bumi dapat diartikan sebagai sumber energi panas yang berasal dari dalam bumi. Secara umum, pembentukan energi panas bumi berkaitan dengan kegiatan vulkanisme dan mekanisme pembentukan magma. Sistem panas bumi pada suhu tinggi umumnya terletak disepanjang zona vulkanik punggungan pemekaran benua, di atas zona subduksi, dan anomali pelelehan di dalam lempeng.

Batas-batas pertemuan lempeng merupakan pusat lokasi munculnya sistem hidrotermal. Perpindahan energi panas secara konduktif pada lingkungan tektonik lempeng, diperbesar oleh adanya gerakan magma dan sirkulasi hidrotermal. Beberapa definisi lain tentang panas bumi diantaranya adalah menurut:
  1. Hochstein dan Browne (2000), mendeskripsikan panas bumi sebagai proses perpindahan panas dari suatu tempat ke tempat tertentu dalam kerak bumi, dimana panas (heat) dipindahkan dari sumber panas (heat source) menuju ke suatu tempat pengeluaran panas di permukaan (heat sink).
  2. UU Panas Bumi No 21 Tahun 2014, menyebutkan bahwa panas bumi didefinisikan sebagai sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, serta batuan, bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi.

Persyaratan utama pembentukan sistem panas bumi (hidrotermal) adalah:
  1. Adanya Sumber panas (heat source)
  2. Adanya Reservoir untuk mengakumulasi panas
  3. Adanya Lapisan penudung (caprock) sebagai tempat terakumulasinya panas
Sumber panas dalam sistem panas bumi umumnya berasal dari magma. Pembentukan awal magma dapat terjadi sebagai hasil pelelehan mantel (partial melting) atau karena pelelehan sebagian kerak bumi pada proses penebalan lempeng benua, seperti yang terjadi pada tumbukan antar lempeng benua (collision).

Reservoir panas bumi yang produktif umumnya memiliki suhu yang tinggi, geometri yang cukup besar, porositas dan permeabilitas yang baik serta kandungan fluida yang cukup. Porositas dan permeabilitas merupakan salah satu aspek yang diperhitungkan dalam penentuan daerah prospek panas bumi. Umumnya, permeabilitas memiliki keterkaitan unsur-unsur struktur seperti sesar, kekar, dan rekahan. Keberadaan batuan penudung (caprock) yang bersifat impermeable sangat diperlukan untuk mencegah jalan keluar akumulasi fluida panas dalam reservoir.

sistem panas bumi geothermal
Gambar Ilustrasi Sistem Panas Bumi (Geothermal).

Proses pembentukan sistem panas bumi diibaratkan seperti memasak air dalam ceret di atas kompor. Aktivitas magma di dalam bumi diilustrasikan sebagai kompor yang berperan sebagai sumber panas. Sedangkan batuan dasar serta batuan penutup di atasnya yang memerangkap uap panas dimisalkan sebagai ceretnya. Seiring dengan meningkatnya tekanan dan temperatur dalam wadah tersebut maka air akan mengalami perubahan fasa membentuk uap air.

Baca juga: Susunan Lapisan Atmosfer Bumi

Secara umum, potensi panas bumi yang terdapat di Indonesia terbagi menjadi dua lingkungan geologi, yaitu lingkungan vulkanik dan non-vulkanik. Pembahasan sistem panas bumi pada lingkungan vulkanik dan non-vulkanik akan dibahas pada kesempatan berikutnya.
thumbnail

Pemegang Rekor Gunung Berapi Terbesar Di Dunia

Riset terbaru akhirnya menyingkirkan Mauna Loa, Hawai sebagai gunung berapi terbesar di dunia. Penemuan paling fenomenal di abad ini adalah ilmuwan telah menemukan sebuah gunung berapi terbesar di dunia yang berada di dasar laut Samudera Pasifik. Gunung berapi ini dikenal dengan nama Gunung Tamu Massif (Gunung Tamu). Gunung Tamu terletak di kawasan barat laut Samudera Pasifik atau sekitar 1.600 km sebelah timur Jepang. Gunung berapi terbesar ini terletak pada kedalaman sekitar 2 kilometer di dasar laut Samudera Pasifik.

Tinggi gunung ini tidak seberapa, hanya sekitar 4,4 kilometer dari dasar samudera. Tetapi yang sangat mengejutkan adalah bentuk gunung ini (seperti tipe perisai) yang berukuran 450-650 kilometer. Ukuran seperti ini mirip dengan setengah pulau Sumatera atau seluas New Mexico. Dengan ukuran yang demikian maka Gunung Tamu 50 kali lebih besar dari Gunung Mauna Loa, Hawai yang sebelumnya dinobatkan sebagai gunung berapi terbesar di dunia.


Sebelumnya Gunung Tamu tidak diperhatikan karena ilmuwan menganggap gunung ini hanya merupakan rangkaian dari gunung-gunung berapi yang ada di dasar samudera. Tetapi dengan data seismik dan analisa geokimia mengungkapkan bahwa aliran lava disemua sudut luar gunung berapi ini memiliki komposisi dan umur yang sama.

tamu massive, gunung berapi terbesar di dunia
Gambar gunung berapi terbesar di dunia (G. Tamu Massive).
Data seismik mengungkapkan bahwa banyak aliran lava yang muncul dari ventilasi tunggal. Ini membuktikan bahwa hanya terdapat satu dapur vulkanik super besar dan Gunung Tamu merupakan sebuah gunung berapi tunggal. Jadi untuk saat ini, Gunung Tamu adalah gunung berapi terbesar di dunia, kecuali kedepannya ada penemuan terbaru gunung berapi yang ukurannya lebih besar dari gunung ini.


Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini adalah: gunung berapi terbesar di bumi, gunung berapi terluas. Gunung api terbesar, gunung api terluas, gunungapi terbesar di dunia. Gunung tamu massive, letusan gunung tamu massif, gunungapi tamu, gunung berapi tamu masif di samudera pasifik.
thumbnail

CBM (Coalbed Methane), Sumber Enegi dari Gas Metana Batubara

Apa itu CBM?

CBM (Coalbed Methane) adalah gas metana yang terkandung dalam lapisan batubara. Pada awal perkembangannya CBM merupakan gas yang cukup mengganggu dan dianggap sebagai gas yang membahayakan bagi keselamatan para pekerja tambang batubara, dimana sering mengakibatkan terjadinya ledakan dan kebakaran tambang batubara. Akan tetapi saat ini dengan kemajuan teknologi, CBM bukan lagi gas yang menakutkan, melainkan telah dinyatakan sebagai sumber energi baru yang banyak menarik perhatian dunia.


CBM sebagai salah satu sumber energi telah dikembangkan diberbagai negara yang memiliki sumberdaya batubara cukup signifikan sebagai salah satu usaha dalam mengembangkan energi alternatif. Pengembangan CBM di beberapa negara bahkan telah mencapai tahapan produksi. Pertumbuhan ekonomi dunia yang terus meningkatkan kebutuhan energi, sehingga banyak negara mulai melihat CBM sebagai sumber energi yang diharapkan mampu mensuplai gas alam dalam jangka waktu yang lama.

Gas Metana dalam Batubara

CBM terbentuk secara alamiah melalui proses pembatubaraan (coalification). Pada lingkungan geologi yang mendukung, gas metan dalam batubara dapat terakumulasi dalam jumlah yang signifikan sehingga bernilai ekonomis untuk ditambang. Gas yang terbentuk dalam proses pembatubaraan bukan hanya metana, tetapi juga ada CO2, nitrogen, dan beberapa jenis hidrokarbon lainnya seperti etan, propan, ataupun butan. Secara umum gas-gas tersebut dikenal sebagai coal seam gas (CSG). Hanya saja karena gas metan merupakan komponen terbesar (>97%) dari semua gas yang terdapat dalam batubara maka penggunaan istilah coalbed methane (CBM) menjadi umum digunakan.


Ketika dieksploitasi, gas metan dari batubara bisa berasal dari lapisan batubara sebelum dan sesudah ditambang, ketika aktif ditambang, dari tambang-tambang yang sudah ditinggalkan, atau juga dari batubara virgin di bawah permukaan yang belum ditambang. Untuk membedakannya, dunia industri dan akademis menggunakan berbagai istilah penamaan khusus. Pemakaian istilah CBM misalnya, ditujukan lebih kepada gas metan yang terdapat pada lapisan batubara "virgin" (batubara bawah permukaan yang belum dieksploitasi). Sedangkan gas metan yang keluar dari lapisan batubara yang ditambang dikenal dengan nama CMM (Coal Mine Methane).

model sumur cbm
Gambar Model Sumur CBM (sumber: Ecos Consulting).

Kelebihan CBM dibandingkan Minyak Bumi

Salah satu keunggulan CBM dibandingkan dengan batubara adalah sifatnya yang lebih ramah lingkungan. Produksi CBM tidak memerlukan pembukaan area yang luas seperti tambang batubara. Pembakaran CBM juga tidak menghasilkan toksin, serta tidak mengeluarkan abu dan hanya melepaskan sedikit CO2 per unit energi dibandingkan dengan batubara, minyak, ataupun kayu. Disamping itu, batubara dapat menyimpan gas 6-7 kali lebih banyak dari reservoir gas konvensional, sehingga sumberdaya CBM sangat besar dan menjanjikan untuk dikembangkan.


CBM umumnya ditemukan pada lapisan batubara yang tidak begitu dalam sehingga biaya eksplorasi menjadi lebih murah. Keuntungan lainnya, batubara yang telah diekstrasi gas metannya, masih tetap bisa ditambang dan digunakan sebagai sumber energi konvensional. Sumberdaya dunia batubara saat ini diperkirakan sekitar 9-27 trillion metric ton dan berpotensi mengandung CBM sebesar 67-252 trillion M3 (Tcm) (Flores, 2014). Dalam kurun waktu 20 tahun ke belakang hingga saat ini, CBM telah menjadi sumber energi yang penting di banyak negara.

Perkembangan Nilai Ekonomis CBM

Saat ini tercatat sekitar 70 negara di dunia memiliki sumberdaya batubara, 40 diantaranya telah mulai melakukan aktivitas pengembangan CBM. Sekitar 20 negara telah dan masih aktif melakukan pengeboran. Seiring dengan semakin meningkatnya pemahaman terhadap CBM, berbagai aplikasi inovatif untuk meningkatkan keekonomian CBM dilakukan oleh banyak negara, diantaranya terkait teknologi pengeboran, logging, ekstraksi, dan stimulasi.


Penelitian terbaru terhadap biogenic CBM membuka peluang menjadikan batubara sebagai bioreaktor metan (Susilawati drr, 2013, 2015). Menjawab isu global terhadap peningkatan emisi CO2 maka pengembangan CBM juga mulai mencakup carbon stroge, dimana proyek peningkatan produksi CBM (enhance CBM/ECBM) digabungkan dengan proyek CO2 suquestration. Gambar dibawah ini menyajikan ilustrasi diagram pengembangan CBM yang saat ini diaplikasikan di berbagai negara di dunia.

diagram pengembangan cbm
Gambar Diagram Pengembangan CBM (sumber: JMCEngineer).
Dengan menurunnya sumberdaya dan cadangan energi fosil konvensional (minyak bumi dan batubara) serta tuntutan untuk menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan, penggunaan gas alam yang lebih ramah lingkungan diperkirakan akan terus meningkat. International Energy Agency (IEA) memprediksi bahwa sumbangan gas alam terhadap total energi akan meningkat 25% pada tahun 2035. Hal tersebut tentu saja akan mendukung pengembangan CBM di banyak negara, termasuk juga di indonesia. Dengan kekayaan sumberdaya batubara yang melimpah, CBM indonesia bisa menjadi energi alternatif menggantikan posisi minyak dan gas bumi konvensional.
thumbnail

3 Pengertian Hidrologi Menurut Para Ahli

Air adalah zat yang paling berlimpah di Bumi dan merupakan konstituen utama dari semua makhluk hidup. Hidrologi merupakan bidang studi yang berhubungan dengan air yang ada di bumi. Hidrologi mencakup ilmu oseanografi, limnologi, dan glasiologi. Pengertian hidrologi dalam arti yang luas meliputi studi tentang: proses terjadinya air, pergerakannya, karakteristik fisik serta kimia air dalam segala bentuk yang ada di dalam hidrosfer bumi.

Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini adalah: hidrologi, pengertian hidrologi, definisi hidrologi, hidrologi adalah. Arti hidrologi, fungsi hidrologis, proses hidrologi, ahli hidrologi, apa yang dimaksud dengan kenampakan hidrologis?.

Walaupun ruang lingkup air sangat luas, seorang hidrologist biasanya membatasi studi mereka hanya pada air yang dekat dengan permukaan tanah. Air di atmosfer biasanya dipelajari sebagai bagian dari meteorologi. Air di lautan dipelajari dalam ilmu oseanografi, air di danau dalam ilmu limnologi, dan es di permukaan tanah dalam ilmu glasiologi.


Disini jelas ada beberapa tumpang tindih antara disiplin-disiplin ilmu utama tersebut; misalnya, baik hydrologists dan meteorologist, bersama-sama mempelajari pergerakan air di lapisan batas bawah atmosfer, dimana semua itu terkait dengan konsep dasar dari siklus air (siklus hidrologi). Terlepas dari semua itu, disini geologinesia akan mencoba memberikan pencerahan mengenai pengertian hidrologi menurut beberapa ahli. Simak penjelasan dibawah ini.

pengertian hidrologi
Gambar ilustrasi definisi ilmu hidrologi.

1. Pengertian Hidrologi menurut Singh (1992)

Singh (1992), mengatakan bahwa hidrologi adalah ilmu yang membahas karakteristik kuantitas dan kualitas air dibumi menurut ruang dan waktu, termasuk proses hidrologi, pergerakan, penyebaran, sirkulasi tampungan, eksplorasi, pengembangan dan manajemen.

2. Pengertian Hidrologi menurut Marta dan Adidarma (1983)

Menurut definisi Marta dan Adidarma (1983) dalam pengertian hidrologi mengatakan bahwa hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang terjadinya distribusi dan pergerakan air, baik itu diatas maupun di bawah permukaan bumi, menyangkut reaksi sifat fisika dan kimia air terhadap kehidupan dan lingkungan.

3. Pengertian Hidrologi menurut Ray K. Linsley

Ray K. Linsley dalam Yandi Hermawan (1986) menjelaskan bahwa hidrologi adalah ilmu yang membicarakan tentang air yang ada dibumi baik itu mengenai kejadiannya, jenis-jenis, sirkulasi, sifat kimia dan fisika serta reaksinya terhadap lingkungan dan kehidupan.


Air di atmosfer memainkan peran penting dalam menjaga lingkungan yang layak huni bagi kehidupan manusia. Keterdapatan air di permukaan telah memainkan peran penting terhadap perubahan peradaban dunia. Pentingnya air bagi manusia tercermin dalam struktur hukum dan politik. Dengan tingginya tingkat populasi manusia saat ini maka sangat mempengaruhi sumber daya air yang tersedia. Ini disebabkan karena manusia akan selalu berusaha meningkatkan standard hidupnya.
loading...
loading...
loading...

Copyright © Geologinesia. Powered by Blogger