thumbnail

Prinsip Dasar Perencanaan Reklamasi dan Pasca Tambang

Perencanaan Reklamasi dan Pasca Tambang merupakan upaya sistematis yang dilakukan untuk mengantisipasi perlindungan lingkungan hidup, transparansi  dan partisipasi masyarakat sekitar tambang, dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Hal ini berarti telah terjadi internalisasi upaya perlindungan lingkungan ke dalam kegiatan pertambangan dalam menyikapi isu-isu kesehatan, keselamatan, lingkungan, serta isu-isu sosial dan politis.


Oleh karena itu, diperlukan upaya mengacu pada prinsip-prinsip lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja, serta konservasi bahan galian, meliputi:
  1. Kualitas air permukaan, air tanah, air laut, dan tanah serta udara sesuai baku mutu lingkungan.
  2. Stabilitas dan keamanan timbunan batuan penutup, dam tailing, lahan bekas tambang serta struktur buatan (man-made structure) lainnya.
  3. Keanekaragaman hayati.
  4. Pemanfaatan lahan bekas tambang sesuai dengan peruntukannya; dan  aspek sosial, budaya, dan ekonomi.

Rencana Reklamasi dan Rencana Penutupan Tambang agar disusun berdasarkan AMDAL atau UKL/UPL yang telah disetujui, dan sebagai bagian dari studi kelayakan. Agar dalam menyusun Rencana Reklamasi dan Rencana Penutupan Tambang harus mempertimbangkan prinsip-prinsip lingkungan hidup, peraturan perundang-undangan yang terkait, kondisi spesifik daerah, dan pendapat pemangku kepentingan (stakeholders). Rencana Reklamasi disusun meliputi tata guna lahan sebelum dan sesudah ditambang, rencana pembukaan lahan, program reklamasi, dan rencana biaya reklamasi.

perencanaan reklamasi dan pasca tambang
ilustrasi reklamasi tambang.

Prinsip reklamasi pada kegiatan operasi tambang wajib dilakukan terhadap lahan terganggu pada tahap kegiatan eksplorasi tambang, sedangkan kegiatan pada tahap produksi wajib malaksanakan reklamasi dan pasca tambang. Pelaksanaan reklamasi tambang harus memenuhi prinsip  perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan dan keselamatan dan kesehatan kerja, sedangkan pelaksanaan reklamasi dan pascatambang pada tahap Operasi Produksi harus memenuhi prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan, dan keselamatan dan kesehatan kerja serta konservasi mineral dan batu bara.

Prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan sebagaimana dimaksud di atas paling sedikit meliputi:
  1. Perlindungan terhadap kualitas air permukaan, air tanah, air laut, dan tanah serta udara berdasarkan standar baku mutu atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  2. Perlindungan dan pemulihan keanekaragaman hayati.
  3. Penjaminan terhadap stabilitas dan keamanan timbunan batuan penutup, kolam tailing, lahan bekas tambang, dan struktur buatan lainnya.
  4. Pemanfaatan lahan bekas tambang sesuai dengan peruntukannya.
  5. Memperhatikan nilai-nilai sosial dan budaya setempat.
  6. Perlindungan terhadap kuantitas air tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  7. Perlindungan setiap pekerja/buruh dari penyakit akibat kerja.

Rencana pasca tambang harus memuat tentang profil wilayah, deskripsi kegiatan pertambangan dan rona lingkungan akhir lahan pascatambang. Profil wilayah meliputi lokasi dan aksesibilitas wilayah, kepemilikan dan peruntukan lahan, rona lingkungan awal, dan kegiatan usaha lain di sekitar tambang. Deskripsi kegiatan pertambangan meliputi keadaan cadangan awal, sistem dan metode penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta fasilitas penunjang.


Sedangkan rona lingkungan akhir lahan pasca tambang meliputi keadaan cadangan tersisa, peruntukan lahan, morfologi, air permukaan dan air tanah, serta biologi akuatik dan teresterial. Reklamasi dan pasca tambang dinyatakan selesai bila telah berhasil memenuhi kriteria keberhasilan, meliputi:
  • Keberhasilan reklamasi pada lahan bekas
  • Tambang dan lahan di luar bekas tambang
  • Keberhasilan pemeliharaan hasil reklamasi
  • Keberhasilan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
  • Keberhasilan pemantauan

Referensi:
Ir. Daulat Ginting (Perencana Madya)
thumbnail

Unsur Radioaktif di Indonesia dijual seharga Pasir Bangunan

Unsur radioaktif seperti URANIUM DAN THORIUM terdapat dalam bentuk-bentuk primer seperti misalnya Pegmatit dan Gang-gang bijih serta bentuk-bentuk sekunder berupa endapan sedimen. Batuan Pegmatit adalah batuan berbutir kasar yang terbentuk pada fase terakhir pendinginan batuan Pluton, seperti misalnya batuan Granit. Batuan Pegmatit biasanya mengandung Kuarsa dan Feldspar. Dalam hal ini, mineral-mineral Radioaktif  terdapat dalam batuan tersebut dalam bentuk lensa atau kantung.


Batuan Pegmatit yang patut diselidiki adalah batuan yang terdapat pada atau dekat batuan Granit yang relatif mengandung lebih banyak unsur Radioaktif. Bahan-bahan galian jenis Radioaktif biasanya ditemukan jauh sekali dari batuan induknya. Mineral ikutan yang biasanya ada dalam batuan granit adalah pekblenda disertai dengan tembaga, kobalt, nikel, timah, bismuth dan lain sebagainya.

Di Cornwall, bijih Uranium  terdapat bersama dengan gang-gang yang mengandung Timah, sedangkan di Kanada di daerah Great Bear Lake terdapat bijih Uranium dalam gang-gang yang terbentuk berhubungan dengan batuan Granit. Di Katanga (Afrika) Uranium terdapat bersama-sama dengan gang-gang bijih yang mengandung Tembaga dan Timah.

Di Indonesia sendiri, mineral radioaktif yang telah ditemukan adalah Monazit dan Xenotim yang biasanya mengandung unsur Thorium. Mineral ini ditemukan dalam endapan-endapan Alluvial bersama dengan bijih Timah di Bangka, Belitung, pulau Berhala dan pulau Timah lainnya. Mineral primer Radioaktif ini ditemukan bersama batuan Granit, atau batuan asam lainnya, akan tetapi oleh proses pelapukan maka mineral-mineral Radioaktif ini akan terlepas dari batuan induknya dan diangkut ketempat yang lebih rendah dalam bentuk yang tidak berubah.

macam-macam mineral radioaktif
mineral-mineral radioaktif.

Akibat hantaman gelombang misalnya maka mineral-mineral Silikat lainnya yang berat jenisnya lebih kecil akan tercuci sehingga menghasilkan konsentrasi/akumulasi dari mineral berat seperti Monasit dan Xenotim. Seperti di India, Ceylon dan Brazilia, Monasit adalah Fosfat dari Cerium yang biasanya mengandung Oksida Thorium, kadar tertingginya adalah 16%. Di Asia Tenggara, Indonesialah yang merupakan satu-satunya negara penghasil Monasit dan Xenotim yang mengandung unsur Thorium (J.A.Katili & P.Marks “Geologi”,hal.116).


Dari kondisi dan sejarah geologi diatas dapat disimpulkan bahwa pulau-pulau Timah dari kepulauan Riau sampai Kalimantan Barat, dimana pasir lautnya dijual ke Singapura (sudah jutaan Ton), sebenarnya berpotensi menghasilkan mineral radioaktif. Tanpa disadari pemerintah indonesia telah menjual mineral radioaktif yang ikut bersama-sama dengan bijih Tembaga dengan harga mirip dengan pasir bangunan.

Sudah berapa milliar ton bijih Tembaga diekspor oleh perusahaan Tembaga di indonesia tanpa mengetahui atau pura-pura tidak tahu bahwa di dalamnya ada mineral radioaktif??. Ataukah mineral-mineral radioaktif tersebut hanya dianggap sebagai mineral ikutan/pengotor yang tidak diperhitungkan nilai ekonomisnya?!!.

Walaupun kita memiliki Departemen/Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, tapi sesungguhnya kompetensi sumberdaya manusianyalah yang kita tidak punya. Kompetensi ini sangat penting untuk mengetahui/menyelidiki mineral radioaktif yang secara kasat mata terdapat didalam bahan galian tersebut. Marilah kita cermati permasalahan ini.

Referensi:
Ir. Amirrusdi, MSi (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral)
thumbnail

Tujuan dan Fungsi Perencanaan dan Perancangan Tambang

Tujuan dari perencanaan dan perancangan tambang adalah untuk mencapai sebuah rancangan sistem pertambangan terpadu, yaitu dimana mineral diekstraksi dan disiapkan untuk spesifikasi pasar yang diinginkan dan pada biaya unit yang seminimal mungkin, tapi tetap di dalam batasbatas lingkungan, sosial, hukum dan peraturan yang dapat diterima.


Fungsi perencanaan dan perancangan tambang tergantung dari jenis perencanaan yang digunakan dalam sasaran yang dituju, tetapi secara umum fungsi perencanaan dapat dikatakan antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Pengarahan kegiatan, atau adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan dalam pencapaian tujuan
  2. Perkiraan terhadap masalah pelaksanaan, kemampuan, harapan, hambatan dan kegagalan yang mungkin terjadi
  3. Usaha untuk mengurangi ketidakpastian dan kesempatan untuk memilih kemungkinan terbaik
  4. Sebagai dasar ukuran dalam pengawasan dan penilaian.

Dalam menyusun perencanaan tambang selain mempertimbangkan masalah-masalah ekonomi dan sosial juga harus mengintegrasikan elemen-elemen lingkungan pada penutupan tambang ke dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan tersebut berkaitan tentang ekspektasi awal masyarakat mengenai penggunaan lahan setelah tambang berakhir, kualitas lingkungan, serta estetika wilayah tersebut. Ekspektasi ini dapat berdampak pada lokasi jalan akses dan fasilitas penyimpanan limbah.

bentuk design tambang terbuka
gambar ilustrasi perencanaan dan perancangan tambang.

Yang penting dalam menyusun perencanaan tambang adalah pengumpulan data sosial dan lingkungan, yang dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan di seluruh usia operasional sampai ke penutupan tambang. Dalam penambangan yang baik terlebih dahulu menetapkan kondisi mengenai keberadaan air, flora dan fauna serta menjadi ‘kriteria penutupan yang harus dipenuhi’ di akhir operasi penambangan.

Data lingkungan yang dikumpulkan sebagai bagian dari tahap kelayakan tambang (feasibility phase) dapat diberikan untuk mengindikasikan kerusakan lingkungan yang mungkin muncul dari operasi penambangan. Sedangkan data sosial akan bermanfaat bagi pengembangan masyarakat yang tepat dan strategi keterlibatan pemangku kepentingan lainnya.

Secara teknis, elemen-elemen penting dalam keberhasilan suatu perencanaan tambang antara lain karakterisasi yang komprehensif terhadap sifat-sifat tanah, overburden dan limbah. Karakterisasi tanah dan overburden harus dimulai sejak tahap eksplorasi dan terus berlanjut dalam tahap prakelayakan tambang dan tahap kelayakan tambang, sebagai dasar untuk perencanaan tambang. Karakterisasi yang komprehensif terhadap tanah, overburden dan limbah diperlukan guna mencegah kontaminasi sumberdaya air di permukaan dan di bawah tanah.


Karakterisasi tailing diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman dan kualitas air tanah yang mungkin terpengaruh secara negatif. Maka ada potensi untuk menghasilkan tailing dengan kandungan racun lebih kecil, melalui perubahan rancangan atau penggunaan mesin pemrosesan, misalnya dengan menghilangkan mineral sulfida yang dapat menghasilkan asam dengan konsekuensi kenaikan kandungan logam dapat larut.

Referensi:
Ir. Daulat Ginting (Perencana Madya ESDM)
thumbnail

Kumpulan Software Geologi, Pertambangan dan Pemetaan

Dibawah ini adalah daftar software geologi yang sering dipakai oleh mahasiswa dan para pekerja yang berhubungan dengan ilmu bumi seperti geologi, tambang, geodesi, astronomi, dan lain sebagainya. Geologinesia.com berusaha memberikan gambaran software tersebut secara singkat dan menyertakan link download resminya. Bagi yang membutuhkan silahkan disedot!!.


software geologi, tambang, dan pemetaan


1. SAGA GIS
SAGA (Sistem Analisis Automated geoscientific) adalah software Sistem Informasi Geografis (GIS) dengan kemampuan besar untuk prosesing geodata dan analisisnya. Feature unggulan: Georeferencing and cartographic projections, Grid interpolation of scattered point data, triangulation, IDW, splines, clipping, buffer zones, raster to vector conversion, supervised classification, PCA, FFT, OBIA, GWR, variograms, ordinary & universal Kriging, morphometry, hydrology, illumination, classification, dan lain-lain.

2. Open Grid Analysis and Display System
Open Grid Analysis and Display System (GrADS) adalah alat desktop interaktif untuk memudahkan akses, manipulasi, dan visualisasi data earth sciences.

3. GPlates
GPlates adalah program visualisasi interaktif lempeng tektonik. GPlates memungkinkan visualisasi dan manipulasi rekonstruksi lempeng tektonik geologi dan paleo-geografis melalui skala waktu geologi.

4. Geoblock
Geoblock adalah program untuk pemodelan 3D, manajemen database dan visualisasi dataset geoscience. Program ini  banyak digunakan eksplorasi mineral, estimasi cadangan bijih, perencanaan tambang dan simulasi proses geoteknik di lokasi tambang.

5. ISOPLOT
ISOPLOT adalah perangkat lunak yang fleksibel untuk analisis dan interpretasi data radiogenik-isotop. Software ini dikembangkan oleh Dr Ken Ludwig dari Berkeley Geochronology Center. Isoplot digunakan untuk analisis data dan presentasi grafis dari Geochronology, ilmu bumi, dan data radiogenik isotop lainnya.

6. Kalypso
Kalypso adalah sebuah aplikasi open source untuk pemodelan geospasial dan simulasi. Aplikasi ini terutama dikembangkan untuk menjadi alat yang user friendly untuk pemodelan berbasis GIS dan simulasi model numerik hidrologi dan hidrolik.

7. Surfit
Surfit merupakan open source gratis dan contouring. Surfit dapat melakukan interpolasi / pendekatan point, kontur dan permukaan, dapat mengambil data jalur patahan, trend surface, dan banyak kondisi lainnya.

8. Solar Model
Solar Model adalah program pemodelan real time terhadap tata surya. program ini memungkinkan pengguna untuk melakukan navigasi ruang angkasa, untuk mengontrol hitungan waktu (speed-up time flow) dan perkiraan gerak tubuh ruang angkasa, mengintegrasikan kamera ke obyek ruang angkasa (misalnya, dari Bulan ke Bumi secara real time).


9. GEOMS2
GEOMS2 merupakan software modeling geostatistik dan geosains. GEOMS2 menyediakan interface untuk grid (mesh), titik, permukaan dan objek data (non-spasial). Memiliki tampilan 3D dan 2D dengan menggunakan program Python yang terkenal yaitu Mayavi dan Matplotlib.

10. Remote Sensing Downloader
RS Downloader menawarkan akses ke data gambar satelit. Melalui web antarmuka, pengguna dapat mencari dan men-download gambar satelit yang diinginkan. Versi ini adalah versi alpha dan sampai saat ini masih berjalan stabil. NASAs LP DAAC yang merilis aplikasi ini menyebutkan bahwa versi lanjutnya nanti akan mencakup perubahan parser dan pilihan spasial UIS untuk mengakses sumber-sumber lain tersedia di pusat data.
loading...
loading...
loading...

Copyright © Geologinesia. Powered by Blogger