Kamis, 08 Desember 2016

CBM (Coalbed Methane), Sumber Enegi dari Gas Metana Batubara

Apa itu CBM?

CBM (Coalbed Methane) adalah gas metana yang terkandung dalam lapisan batubara. Pada awal perkembangannya CBM merupakan gas yang cukup mengganggu dan dianggap sebagai gas yang membahayakan bagi keselamatan para pekerja tambang batubara, dimana sering mengakibatkan terjadinya ledakan dan kebakaran tambang batubara. Akan tetapi saat ini dengan kemajuan teknologi, CBM bukan lagi gas yang menakutkan, melainkan telah dinyatakan sebagai sumber energi baru yang banyak menarik perhatian dunia.


CBM sebagai salah satu sumber energi telah dikembangkan diberbagai negara yang memiliki sumberdaya batubara cukup signifikan sebagai salah satu usaha dalam mengembangkan energi alternatif. Pengembangan CBM di beberapa negara bahkan telah mencapai tahapan produksi. Pertumbuhan ekonomi dunia yang terus meningkatkan kebutuhan energi, sehingga banyak negara mulai melihat CBM sebagai sumber energi yang diharapkan mampu mensuplai gas alam dalam jangka waktu yang lama.

Gas Metana dalam Batubara

CBM terbentuk secara alamiah melalui proses pembatubaraan (coalification). Pada lingkungan geologi yang mendukung, gas metan dalam batubara dapat terakumulasi dalam jumlah yang signifikan sehingga bernilai ekonomis untuk ditambang. Gas yang terbentuk dalam proses pembatubaraan bukan hanya metana, tetapi juga ada CO2, nitrogen, dan beberapa jenis hidrokarbon lainnya seperti etan, propan, ataupun butan. Secara umum gas-gas tersebut dikenal sebagai coal seam gas (CSG). Hanya saja karena gas metan merupakan komponen terbesar (>97%) dari semua gas yang terdapat dalam batubara maka penggunaan istilah coalbed methane (CBM) menjadi umum digunakan.


Ketika dieksploitasi, gas metan dari batubara bisa berasal dari lapisan batubara sebelum dan sesudah ditambang, ketika aktif ditambang, dari tambang-tambang yang sudah ditinggalkan, atau juga dari batubara virgin di bawah permukaan yang belum ditambang. Untuk membedakannya, dunia industri dan akademis menggunakan berbagai istilah penamaan khusus. Pemakaian istilah CBM misalnya, ditujukan lebih kepada gas metan yang terdapat pada lapisan batubara "virgin" (batubara bawah permukaan yang belum dieksploitasi). Sedangkan gas metan yang keluar dari lapisan batubara yang ditambang dikenal dengan nama CMM (Coal Mine Methane).

model sumur cbm
Gambar Model Sumur CBM (sumber: Ecos Consulting).

Kelebihan CBM dibandingkan Minyak Bumi

Salah satu keunggulan CBM dibandingkan dengan batubara adalah sifatnya yang lebih ramah lingkungan. Produksi CBM tidak memerlukan pembukaan area yang luas seperti tambang batubara. Pembakaran CBM juga tidak menghasilkan toksin, serta tidak mengeluarkan abu dan hanya melepaskan sedikit CO2 per unit energi dibandingkan dengan batubara, minyak, ataupun kayu. Disamping itu, batubara dapat menyimpan gas 6-7 kali lebih banyak dari reservoir gas konvensional, sehingga sumberdaya CBM sangat besar dan menjanjikan untuk dikembangkan.


CBM umumnya ditemukan pada lapisan batubara yang tidak begitu dalam sehingga biaya eksplorasi menjadi lebih murah. Keuntungan lainnya, batubara yang telah diekstrasi gas metannya, masih tetap bisa ditambang dan digunakan sebagai sumber energi konvensional. Sumberdaya dunia batubara saat ini diperkirakan sekitar 9-27 trillion metric ton dan berpotensi mengandung CBM sebesar 67-252 trillion M3 (Tcm) (Flores, 2014). Dalam kurun waktu 20 tahun ke belakang hingga saat ini, CBM telah menjadi sumber energi yang penting di banyak negara.

Perkembangan Nilai Ekonomis CBM

Saat ini tercatat sekitar 70 negara di dunia memiliki sumberdaya batubara, 40 diantaranya telah mulai melakukan aktivitas pengembangan CBM. Sekitar 20 negara telah dan masih aktif melakukan pengeboran. Seiring dengan semakin meningkatnya pemahaman terhadap CBM, berbagai aplikasi inovatif untuk meningkatkan keekonomian CBM dilakukan oleh banyak negara, diantaranya terkait teknologi pengeboran, logging, ekstraksi, dan stimulasi.


Penelitian terbaru terhadap biogenic CBM membuka peluang menjadikan batubara sebagai bioreaktor metan (Susilawati drr, 2013, 2015). Menjawab isu global terhadap peningkatan emisi CO2 maka pengembangan CBM juga mulai mencakup carbon stroge, dimana proyek peningkatan produksi CBM (enhance CBM/ECBM) digabungkan dengan proyek CO2 suquestration. Gambar dibawah ini menyajikan ilustrasi diagram pengembangan CBM yang saat ini diaplikasikan di berbagai negara di dunia.

diagram pengembangan cbm
Gambar Diagram Pengembangan CBM (sumber: JMCEngineer).
Dengan menurunnya sumberdaya dan cadangan energi fosil konvensional (minyak bumi dan batubara) serta tuntutan untuk menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan, penggunaan gas alam yang lebih ramah lingkungan diperkirakan akan terus meningkat. International Energy Agency (IEA) memprediksi bahwa sumbangan gas alam terhadap total energi akan meningkat 25% pada tahun 2035. Hal tersebut tentu saja akan mendukung pengembangan CBM di banyak negara, termasuk juga di indonesia. Dengan kekayaan sumberdaya batubara yang melimpah, CBM indonesia bisa menjadi energi alternatif menggantikan posisi minyak dan gas bumi konvensional.