Friday, May 6, 2016

Teori Evolusi Bukan Teori Ilmiah? Ini Jawabannya!

Teori evolusi yang mengungkap sejarah asal usul manusia di muka bumi ini selalu menjadi perdebatan hangat oleh banyak ilmuwan. Para ilmuwan banyak mengungkap tentang bukti awal pertama kali manusia diciptakan. Sejak saat itu muncul para filsuf dari kalangan agama yang menguji kebenaran teori tersebut, dan ternyata mereka menghasilkan sejarah manusia yang berbeda jauh dari teori evolusi.

Adalah Harun Yahya, Thomas Aquinas, Etienne Gilson, Pierre Teilhard, A.D. Sertillanges, Karl Rahner, Keith Ward, dan masih banyak lagi merupakan beberapa tokoh yang dengan keberaniannya memunculkan perdebatan antara kreasionisme dan evolusionisme. Benarkah ada konsep "kebetulan" yang dicetuskan oleh Darwin bertentangan dengan kehendak Tuhan dan bersifat atheis??.

Kajian yang akan saya paparkan dibawah ini hanyalah merupakan kumpulan tanggapan penganut evolusionisme terhadap pandangan kreasionisme tentang teori evolusi. Benar ataupun tidaknya, tergantung dari anda yang menilainya. Berikut beberapa penggalan pandangan serta tanggapan yang saat ini hangat diperdebatkan.

Pandangan Kreasionisme

Teori evolusi menyebutkan bahwa makhluk hidup tercipta sebagai akibat "kebetulan" dan muncul dengan sendirinya dari kondisi alami. Teori ini sebenarnya bukan hukum ilmiah ataupun fakta yang telah terbukti. Di balik topeng ilmiahnya, teori ini merupakan pandangan hidup materialis yang didoktrinkan ke dalam masyarakat oleh kaum "Darwinis". Dasar-dasar teori ini telah banyak digugurkan oleh bukti-bukti ilmiah di segala bidang. Teori evolusi merupakan cara-cara untuk mempengaruhi dan mempropaganda.

Teori evolusi diajukan sebagai hipotesa rekaan ditengah konteks pemahaman ilmiah abad ke-19 yang masih terbelakang. Hingga hari ini teori tersebut belum pernah didukung oleh percobaan atau penemuan ilmiah apapun. Sebaliknya, seluruh metode yang tujuannya membuktikan keabsahan teori ini justru berakhir dengan penyangkalan teori ini.


Sebagai contoh, Sel merupakan satuan terkecil makhluk hidup, tidak mungkin akan muncul secara kebetulan dalam kondisi primitif seperti yang dipaksakan kaum evolusionis agar kita percaya. Jangankan dalam kondisi demikian, di laboratorium modern sekarang ini pun, hal tersebut mustahil terjadi.

Asam-asam amino yang merupakan satuan pembentuk berbagai protein penyusun sel hidup, tidak mampu dengan sendirinya membentuk organel-organel didalam sel seperti membran sel, mitokondria, retikulum endoplasma, ataupun ribosom, apalagi membentuk sebuah sel yang utuh. Oleh karena itu, claim bahwa sel pertama terbentuk secara kebetulan melalui proses evolusi, hanyalah hasil rekaan yang didasarkan pada imajinasi.

Evolusionis mengklaim bahwa molekul DNA yang terdapat di dalam inti sel hidup, merupakan sebuah sistem kode yang berjumlah sekitar 3,5 miliar satuan, yang berisi semua rincian makhluk hidup. DNA pertama kali ditemukan menggunakan kristalografi sinar-X pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an, dan merupakan sebuah molekul besar dengan bentuk yang sangat luar biasa. Francis Crick, seorang pemenang hadiah Nobel, selama bertahun-tahun meyakini teori evolusi molekuler. Namun akhirnya, ia sendiri pun harus mengakui bahwa molekul yang sangat rumit tersebut tidak akan mungkin muncul dengan sendirinya, secara tiba-tiba karena kebetulan, atau karena hasil dari sebuah proses evolusi. Dengan pemahaman keilmuan yang ada saat ini maka asal mula kehidupan bagaikan sebuah keajaiban.

Evolusionis berkebangsaan Turki, Profesor Ali Demirsoy, dengan jujur memberikan pengakuan bahwa kemungkinan terbentuknya sebuah protein dan asam nukleat (DNA-RNA) adalah diluar batas perhitungan. Peluang munculnya suatu rantai protein adalah sangat kecil, sehingga bisa disebut tidak mungkin.

Homer Jacobson, Profesor di bidang Ilmu Kimia, memberikan pengakuan tentang kemustahilan munculnya kehidupan akibat faktor kebetulan. Petunjuk untuk rencana reproduksi, untuk urutan pertumbuhan, dan untuk mekanisme efektor yang menterjemahkan instruksi menjadi pertumbuhan, semua itu harus terbentuk secara serentak pada saat awal terjadinya kehidupan. Kemungkinan kombinasi semua kejadian itu secara kebetulan tampaknya sungguh luar biasa kecil.

Catatan fosil pun memberikan bukti lain, yang menjadi kekalahan telak bagi teori evolusi. Dari seluruh fosil yang telah ditemukan saat ini, tidak satu pun merupakan bentuk "antara" (bentuk peralihan) yang ditemukan. Seharusnya bentuk tersebut ada jika memang makhluk hidup berevolusi tahap demi tahap, dari spesies yang sederhana menjadi spesies yang lebih kompleks, seperti yang dinyatakan oleh teori evolusi.

Dilemanya, jika spesies seperti itu ada, seharusnya jumlahnya akan banyak sekali, berjuta-juta, bahkan bermiliar-miliar. Sisa dan kerangka spesies semacam itu haruslah ada dalam catatan fosil. Jika bentuk-bentuk "transisi" ini betul ada, maka jumlahnya sudah pasti akan melebihi jumlah spesies yang kita ketahui saat ini. Seluruh dunia akan dipenuhi dengan fosil spesies tersebut.

Para evolusionis mencari bentuk-bentuk "peralihan" ini di semua penelitian fosil, yang telah dilakukan sejak abad kesembilan belas. Akan tetapi, sampai saat ini sama sekali tidak ditemukan jejak spesies "peralihan" ini. Jadi sebenarnya catatan fosil yang ada saat ini justru menunjukkan bahwa makhluk hidup secara tiba-tiba muncul dalam bentuk yang sempurna, bukan melalui sebuah proses dari bentuk primitif menuju bentuk yang lebih maju, seperti yang diagung-agungkan teori evolusi.

Kaum evolusionis telah berusaha keras untuk membuktikan kebenaran teori mereka. Tetapi nyatanya dengan tangannya sendiri, mereka justru telah membuktikan bahwa proses evolusi adalah mustahil. Jadi Kesimpulannya, ilmu pengetahuan modern mengungkapkan fakta yang tak mungkin dipungkiri bahwa: "Munculnya makhluk hidup bukanlah karena faktor kebetulan, melainkan hasil ciptaan Tuhan".

Tanggapan Evolusionisme

Teori evolusi tidak pernah bicara soal "kebetulan", kecuali jika kita mau mengatakan bahwa setiap fenomena alami yang terjadi di alam adalah sebuah "kebetulan". Proses evolusi adalah proses alami yang terjadi di alam, dan ilmu biologi umumnya mengklasifikasikan manusia dalam taksonomi sebagai anggota dari keluarga (family) kera besar, dimana anggota keluarga lainnya seperti simpanse, orang utan, dan gorilla. Perlu diketahui bahwa Monyet tidak termasuk family kera besar.

Teori evolusi tidak bicara tentang asal penciptaan makhluk hidup, apalagi secara kebetulan. Teori yang membahas hal tersebut adalah teori abiogenesis modern. Sangat menggelikan sekali, jika ingin membantah teori evolusi, namun mereka (kaum kreasionis) tidak paham perbedaan antara teori evolusi (origin of species) dengan teori abiogenesis modern (origin of life).
apakah teori evolusi bukan teori ilmiah
Gambar ilustrasi berkaitan dengan teori evolusi.

Teori evolusi juga bukan propaganda materialis. Jika karena tidak membicarakan peran Tuhan di dalamnya lalu diklaim sebagai propaganda materialis, maka semua teori ilmiah lainnya juga harus dianggap propaganda materialis??. Saat ini, tidak ada 'bukti ilmiah' yang membantah teori evolusi. Sebaliknya, justru pandangan non-ilmiah mereka yang merupakan bentuk propaganda dan penuh kebohongan serta rekayasa.

Benar bahwa teori evolusi dicetuskan pada abad ke-19, dimana pengetahuan masih relatif kurang dibanding masa kini. Tapi perlu diingat bahwa banyak teori dan penemuan ilmiah dihasilkan lebih tua daripada teori evolusi. Intinya, teori yang terbukti salah akan digugurkan, sedangkan teori yang terbukti kebenarannya akan bertahan, bahkan makin berkembang seiring kemajuan pengetahuan. Dan teori evolusi bisa bertahan bahkan berkembang seperti saat ini karena melalui proses yang sama.

Jika tidak ada pembuktian, maka teori tidak bisa disebut teori, tetapi hanya berupa hipotesa. Teori adalah hipotesa yang sudah teruji. Ini salah satu alasan mengapa kreasionisme bukan sebuah teori. Teori evolusi bukanlah pandangan filosofis, tak ada kaitan dengan meterialisme ataupun sejenisnya. Apakah ada peran Tuhan ataupun tidaknya, itu bukan inti dari teori evolusi. Dan sekali lagi, belum ada bukti ilmiah yang menyangkal teori evolusi. Kemunculan makhluk hidup pertama bukan bahasan teori evolusi, melainkan teori abiogeneis. Para penganut kreasionisme bahkan gagal dalam bantahan pertama, karena tidak paham perbedaan keduanya.

Bahkan makhluk hidup awal yang dibentuk pada abiogenesis pun tidak mempunyai struktur yang sama seperti sel paling sederhana yang dikenal sekarang ini. Hipotesa "RNA World" mengklaim bahwa kemungkinan makhluk hidup pada awalnya tidak memiliki DNA, melainkan RNA yang bisa menggantikan fungsi DNA.

Asal kehidupan bukan bahasan teori evolusi. Dan "keajaiban" bukan sesuatu yang bisa diterima oleh sains. Saat ini, ilmuwan sudah berhasil meniru proses pembentukan nukleutida dan asam amino. Dan kejadian yang terjadi di alam adalah proses yang simultan, bukan satu persatu. Jadi nilai probabilitas yang diajukan kreasionisme adalah tidak relevan.

Tidak semua makhluk hidup yang mati berubah jadi fosil. Itulah salah satu kesulitan mencari fosil "antara" (transisi). Namun, fosil transisi yang dimaksud bukannya tidak ada; Odontochelys semitestacea, frogamander, archaeopteryx, tiktaalik, microraptor, merupakan contoh bahwa fosil tersebut ada. Perhatikan Odontochelys semitestacea, itu merupakan kura-kura dengan tempurung yang belum terbentuk sempurna. Jadi sebenarnya, catatan fosil justru menunjukkan kepada kita bahwa makhluk hidup berevolusi. Karena tidak semua makhluk hidup berubah menjadi fosil, tetapi fosil yang ada sekarang ini sudah cukup memberi penjelasan mengenai proses transisi makhluk hidup.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner