Minggu, 15 Mei 2016

Bulan Jupiter Lo Memiliki Gunung Berapi Teraktif di Tata Surya

Kita ketahui bahwa bukti aktivitas gunung berapi masa lalu telah ditemukan pada kebanyakan planet dan bulan-bulan mereka di tata surya kita. Bulan kita sendiri (bulan bumi) memiliki wilayah luas yang ditutupi dengan aliran lava kuno. Mars memiliki Olympus Mons sebagai fitur vulkanik terbesar di tata surya kita, sedangkan permukaan Venus ditutupi dengan batuan beku dan ratusan fitur vulkanik. Sebagian besar fitur vulkanik ditemukan dalam sistem tata surya kita terbentuk jutaan tahun yang lalu, ketika tata surya kita masih muda serta planet-planet dan bulan mereka memiliki temperatur internal yang jauh lebih tinggi.


Berdasarkan pengamatan dari Bumi dan dari kendaraan ruang angkasa, hanya ada empat lokasi di tata surya kita yang aktivitas gunung berapinya telah terkonfirmasi atau teramati secara langsung. Empat lokasi itu adalah Bumi, Bulan Jupiter Lo, Bulan Neptunus Triton, dan bulan Saturnus Enceladus. Sedangkan, bukti aktivitas gunung berapi di Mars dan Venus telah diamati tapi hingga saat ini tidak terlihat letusan secara langsung.

NASA telah menerbitkan gambar letusan gunung berapi yang terjadi antara tanggal 15 - 29 Agustus 2013 di Bulan Jupiter Lo. Selama periode dua minggu tersebut, diyakini telah terjadi letusan kuat dengan melemparkan bahan vulkanik ratusan mil diatas permukaan bulan tersebut. Lo merupakan satu dari empat bulan terbesar milik planet Jupiter. Tiga buah bulan lainnya diberi nama Ganymede, Europa, dan Calistro.
letusan di bulan jupiter lo
Erupsi Lo (kiri) dan kenampakan permukaannya (kanan). 

Gambar infrared di atas menunjukkan letusan tanggal 29 Agustus 2013 yang diakuisisi oleh Katherine de Kleer, dari University of California di Berkeley menggunakan "Gemini North Telescope" dengan dukungan dari National Science Foundation. Ini merupakan salah satu gambar yang paling spektakuler dari aktivitas gunung berapi yang pernah diambil. Pada gambar tersebut, terlihat celah besar di permukaan Lo yang diyakini telah meletus dan mengeluarkan "tirai api" hingga beberapa mil panjangnya.

Selain Bumi, Lo adalah satu-satunya tubuh di tata surya kita yang mampu meletus dan mengeluarkan lava yang sangat panas. Karena gravitasinya yang rendah serta explosivity magma, letusan besar diyakini telah terjadi selama beberapa hari sehingga meluncurkan puluhan mil kubik lava di atasnya dan kemudian membentuk suatu pedataran yang luas.

Lo adalah sebuah tubuh vulkanik yang paling aktif di tata surya kita. Ini mengejutkan karena kebanyakan orang menganggap Lo jaraknya sangat jauh dari matahari serta permukaan es nya yang membuatnya tampak seperti tempat yang sangat dingin. Lo adalah bulan yang ukurannya sangat kecil tetapi sangat besar dipengaruhi oleh gravitasi dari planet raksasa Jupiter.

Gaya tarik gravitasi Jupiter dan 3 bulan lainnya (anymede, Europa, dan Calistro) seperti mengerahkan kekuatan untuk "menarik" Lo sehingga  menyebabkan terjadinya deformasi secara terus menerus. Kegiatan ini juga menghasilkan sejumlah besar gesekan internal sehingga dapat memanaskan Lo dan memungkinkan aktivitas gunung berapi yang intens.

Lo memiliki ratusan ventilasi vulkanik, beberapa ledakan di antaranya menghasilkan uap beku dan "salju vulkanik" yang dapat menyebar ratusan mil tingginya ke atmosfer. Gas-gas ini bisa menjadi satu-satunya produk dari letusan ini, atau kemungkinan juga ada beberapa produk yang dihasilkan terkait kehadiran batuan silikat dan belerang cair di permukaan Lo.


Daerah disekitar ventilasi vulkanik menunjukkan bukti bahwa mereka telah "muncul kembali" membentuk sebuah morfologi yang datar dengan komposisi material yang baru. Daerah-daerah inilah yang merupakan fitur permukaan dominan yang ada di Lo. Jumlah kawah yang sangat kecil dibandingkan dengan tubuh-tubuh vulkanik lain di tata surya kita, merupakan bukti dari aktivitas vulkanik yang terjadi terus menerus di Bulan Jupiter Lo.

Referensi: Nasa-Jet Propulsion Laboratory, California Institute of technology (www dot jpl dot nasa dot gov/news/news.php?release=2014-260). Picture Credit; Katherine de Kleer, UC Berkeley, Gemini Observatory.