Tuesday, March 15, 2016

Tektonostratigrafi Pada Lempeng Tektonik yang Konvergen

Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengenal beberapa bukti bentukan tektonik akibat pergerakan lempeng (konvergen, divergen, dan transform), maka untuk kesempatan kali ini saya akan mencoba fokus membahas mengenai tektonostratigrafi pada pertemuan lempeng tektonik yang bersifat konvergen. Tektonostratigrafi adalah perpaduan metode tektonik dan stratigrafi dalam mempelajari, menganalisis, mendiskusikan, menyimpulkan, dan memahami stratigrafi suatu kawasan yang geologinya sangat rumit dan kompleks.


Seperti yang telah kita ketahui bahwa pertemuan lempeng yang bersifat konvergen merupakan tempat dimana akan terjadi penambahan lempeng (bahan), yaitu kerak lautan yang semula terbentuk pada pemisahan lempeng, akan menunjam dan menyusup ke dalam mantel bumi. Apabila bentuk permukaan bumi yang menandai adanya pemisahan lempeng tersebut merupakan suatu punggungan besar yang melintang di tengah samudra, maka daerah tumbukan lempeng akan membentuk suatu bentang alam berupa "Pola Palung Busur" (arc trench system). Palung lautan merupakan indikasi dimana gejala penyusupan sedang berlangsung.

Suatu gejala tumbukan pada masa lampau (paleo subduction) hanya dapat dikenal kembali dengan cara mengetahui satuan tektoniknya atau biasa dikenal dengan sebutan "Tektonostratigrafi". Satuan Tektonik ini merupakan produk dari gejala tumbukan lempeng yang tercermin pada tatanan stratigrafi dan pola strukturnya.

Namun demikian, untuk mengenal suatu daerah tumbukan lempeng pada masa lampau (paleo subduksi) umumnya cukup sulit, karena dalam perkembangan selanjutnya daerah tersebut mungkin saja telah mengalami perubahan tipe pertemuan lempeng, sehingga akan menghasilkan gejala tumpang tindih dengan sifat tektonostratigrafi yang berbeda. Tipe-tipe satuan tektonik yang biasanya kita jumpai pada suatu model pertemuan lempeng yang konvergen meliputi :
  1. Kompleks penunjaman dan penyusupan lempeng atau jalur subduksi.
  2. Cekungan muka busur (fore-arc basin) dan mungkin juga tepi busur.
  3. Busur magmatik atau busur volkanik.
  4. Cekungan belakang busur (back-arc basin).

Jika salah satu lempeng pada gejala konvergensi ini terdiri dari kerak samudra, maka sifat gejala tektonik pada tempat pertemuan lempeng itu akan mencerminkan suatu bentuk busur kepulauan bergunungapi atau pegunungan dan palung yang sejajar pada bagian lengkungan busur (Dickinson, 1971), lihat gambar A dibawah.

Pada pertemuan lempeng yang konvergen biasanya mempunyai tipe bentukan tektonik yang berkisar pada "oceanic island arc" (dengan jumlah sedimen terbatas) sampai tipe "continental margin arc" (bagian lempeng yang menyusup akan tertumpuk endapan sedimen klastik yang sangat tebal).

Akibat terbentuknya palung laut, biasanya diatas permukaan akan terbentuk suatu "busur volkanik" yang relatif sejajar dengan palung laut tersebut. Hal ini menandakan adanya lempeng yang menyusup, yang kemudian menimbulkan kegiatan magma. Busur tersebut dapat ber-alaskan unsur kerak samudra maupun kerak benua (lihat gambar B dan C) yang secara keseluruhan sering disebut dengan istilah "Sistem Busur Kepulauan".
tipe tektonostratigrafi lempeng konvergen
Kedudukan tektonik cekungan pengendapan pada sistem "Palung Busur" (A), Diagram ideal pola "Continental Margin Arc-Trench" (B dan C).

"Sistem Busur Kepulauan" akan terdiri dari 2 macam kumpulan batuan (biasa disebut "endapan dalam"/eugiosyncline). Secara garis besar kumpulan batuan tersebut adalah suatu urutan batuan yang sangat tebal yang sebagian terdiri dari endapan marine dengan sisipan batuan vulkanik yang mengalami pelenturan yang kuat dan rumit. Sebagiannya lagi termalihkan dan seringkali diterobos oleh plutonik berkomposisi granitik atau tercampur dengan keratan-keratan batuan ultrabasa.

Kelompok batuan tersebut diatas oleh Hamilton, 1966 dan Dickinson, 1969 dikenali kembali sebagai 2 kelompok batuan yang berada dalam suatu sistem "busur kepulauan". Dalam teori tektonik lempeng, kelompok batuan tersebut merupakan bagian-bagian daripada "batuan busur magmatik" dan "endapan palung laut". Seluruh sistem ini selanjutnya diberi nama "Sistem Palung Busur" (arc trench system) yang terdiri dari 2 bagian, yaitu busur magmatik dan palung laut dalam.


Pada "Sistem Palung Busur" yang masih aktif, terdapat suatu rumpang yang mempunyai bentuk morfologi yang memanjang (150 - 250 km). Rumpang ini terletak diantara palung laut dan busur magmatik (atau volkanik jika yang aktif). Bentukan tektonik seperti ini biasa disebut sebagai "Rumpang Palung Busur" (arc trench gap). Secara tektonik dalam "Sistem Palung Busur", daerah rumpang tersebut merupakan suatu cekungan yang dinamakan "cekungan muka busur", karena letaknya berada di depan busur volkanik jika dilihat dari arah penyusupan lempeng samudra.

Dibagian belakang dari busur volkanik biasanya juga akan terbentuk suatu cekungan pengendapan yang mempunyai ciri-ciri kumpulan batuan yang hampir sama dengan cekungan muka busur, tetapi dengan pola struktur geologi yang berbeda. Secara tektonis cekungan tersebut dinamakan "Cekungan Belakang Busur" (back arc basin).

Dengan demikian, "Sistem Palung Busur" ini secara keseluruhan akan terdiri dari 4 bagian unsur tektonik yaitu kompleks penunjaman, cekungan muka busur, busur magmatik/volkanik, dan cekungan belakang busur. Masing-masing bagian tersebut mempunyai ciri-ciri tektonostratigrafi yang khusus dan berbeda satu sama lainnya. Untuk lebih mengetahui secara terperinci sifat dan ciri satuan tektonik tersebut diatas, tunggu pembahasannya pada postingan selanjutnya. Salam tektonik!!.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner