Monday, March 7, 2016

Geologi Regional Cekungan Barito ; Fisiografi, Stratigrafi, Struktur, dan Sejarah Geologinya

Fisiografi Cekungan Barito

Pulau Kalimantan terletak di sebelah tenggara lempeng Eurasia, sebelah utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah timur berbatasan dengan sabuk aktif Filipina, dan sebelah selatan berbatasan dengan Busur Banda dan Sunda, serta bagian barat berbatasan dengan Paparan Sunda dan Semenanjung Malaya.

Cekungan Barito merupakan cekungan berumur Tersier yang terletak di bagian tenggara  Schwaner Shield di daerah Kalimantan Selatan. Cekungan ini dibatasi Pegunungan Meratus pada bagian timur dan pada bagian utaranya berbatasan dengan Cekungan Kutai. Cekungan Barito pada bagian selatan dibatasi Laut Jawa dan bagian barat dibatasi oleh Paparan Sunda (Kusuma dan Nafi, 1986).


Cekungan Barito termasuk didalamnya Meratus Range yang dicirikan dengan endapan berumur Paleogen yang terdiri dari batupasir kuarsa, konglomerat, serpih, batulempung, lapisan batubara dan pada bagian atasnya berupa napal dan batugamping yang telah mengalami perlipatan dan pensesaran secara intensif pada akhir zaman Tersier (Van Bemmelen, 1949).

Stratigrafi Cekungan Barito

Secara umum sedimentasi di Cekungan Barito merupakan suatu daur lengkap sedimentasi yang terdiri dari seri transgresi dan regresi. Fase transgresi terjadi pada kala Eosen – Miosen Awal dan disertai dengan pengendapan Formasi Tanjung dan Berai, sedangkan fase regresi berlangsung pada kala Miosen Tengah hingga Pliosen bersamaan dengan diendapkannya Formasi Warukin dan Dahor ( Kusuma dan Nafi, 1986). Menurut Sikumbang dan Heryanto (1987), urutan stratigrafi Cekungan Barito dari tua ke muda adalah sebagai berikut :

Batuan Alas

Batuan alas ini berumur pra - Tersier dan merupakan batuan dasar dari batuan-batuan Tersier. Komposisinya terdiri dari beberapa batuan, yaitu lava andesit, batugamping klastik dan konglomerat polimik.

Formasi Tanjung

Formasi Tanjung diendapkan secara tidak selaras di atas batuan pra–Tersier. Formasi ini dibagi menjadi dua anggota, dari tua ke muda yaitu:
  1. Tanjung Bawah, terdiri dari konglomerat, batupasir, batubara sebagai hasil endapan pantai–paralik.
  2. Tanjung Atas, terdiri dari batulempung, napal, dan batugamping fosilan yang merupakan endapan laut dangkal.
Formasi Tanjung berumur Eosen. Formasi Tanjung mempunyai ketebalan 1300 m dengan lingkungan pengendapan paralik – delta –  laut dangkal. Formasi Tanjung pertama kali ditemukan di kampung Tanjung, penyebarannya meliputi daerah Kambitu, Tanjung, Panaan dan Manunggal di daerah Tanjung Raya. Fosil penunjuk Formasi Tanjung adalah Discocyclina sp, Nummulites djogjakartae, Nummulites pengaronensis  dan Sigmoilina personata.

Formasi Berai

Formasi ini terletak selaras di atas Formasi Tanjung. Formasi Berai dibagi menjadi tiga anggota, dari tua ke muda yaitu:
  1. Berai Bawah, merupakan selang-seling batugamping, batulempung dan napal.
  2. Berai Tengah, merupakan batugamping masif.
  3. Berai Atas, merupakan selang-seling serpih, batulanau dan batugamping dengan sisipan tipis batubara.
Formasi Berai berumur Oligosen – Miosen Awal. Formasi Berai mempunyai ketebalan 1250 m dengan lingkungan pengendapannya laguna dan laut dangkal. Formasi Berai pertama kali ditemukan di Gunung Berai dan penyebarannya meliputi seluruh daerah Cekungan Barito. Fosil penunjuk Formasi Berai adalah Heterosgina borneoensis,  Nummulites fichtel, dan  Spyroclypeus leupoldi.

Formasi Warukin

Formasi Warukin terletak selaras di atas Formasi Berai. Formasi Warukin terdiri dari tiga anggota, dari tua ke muda yaitu:
  1. Warukin Bawah, merupakan selang-seling napal, batugamping, serpih, dan serpih gampingan.
  2. Warukin Tengah, terdiri dari napal, lanau, lempung dan lapisan pasir tipis dengan sisipan batubara.
  3. Warukin Atas, terdiri dari batubara dengan sisipan lempung karbonat dan batupasir.
Formasi Warukin berumur Miosen Awal – Miosen Akhir. Formasi ini mempunyai ketebalan 300 – 500 m dengan lingkungan pengendapan paralik - delta. Formasi Warukin pertama kali ditemukan di desa Warukin, Tanjung Raya Kalimantan Selatan. Penyebaran formasi ini meliputi seluruh Cekungan Barito. Fosil penunjuk  Heterosgina sp,  Lepidocyclina sp dan  Spyroclypeus leupoldi.

Formasi Dahor

Formasi Dahor diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Warukin. Formasi ini tersusun oleh batupasir kuarsa putih kurang padat, sebagian berupa pasir lepas, bersisipan lempung,  lanau abu-abu, lignit dan limonit. Di beberapa lokasi ditemukan sisipan kerakal kuarsa, kerakal batuan beku bersifat granitis dan batuan metasedimen. Formasi ini diperkirakan berumur Miosen Akhir sampai Pliosen dengan lingkungan pengendapan paralik. Formasi ini mempunyai ketebalan 300 m. Formasi Dahor pertama kali ditemukan di kampung Dahor dan penyebarannya ke arah timur dan barat. Susunan stratigrafi Cekungan Barito secara keseluruhan dapat dilihat pada gambar dibawah (kanan).

Baca juga : Geologi Pulau Waigeo Papua Barat
Tektonik dan stratigrafi cekungan barito
Gambar (kiri) Tectonic Setting Kalimantan, (kanan) Kolom Stratigrafi Cekungan Barito (Satyana et al,1999 dalam Darman dan Sidi, 2000, modifikasi).

Struktur Geologi Cekungan Barito

Tektonik Cekungan Barito merupakan bagian dari konfigurasi tektonik Kalimantan yang terdiri dari gaya regangan pada akhir Kapur – awal Miosen (fase syn and post-rifting) dan gaya tekanan  pada Plio – Plistosen yang menghasilkan struktur sesar dan lipatan. Struktur yang berkembang dalam pembentukan Cekungan Barito ada 2 jenis :
  1. Tensional, sinistral shear, dengan arah relatif  barat laut- tenggara (NW – SE).
  2. Transpesional, merupakan konvergen sehingga mengalami uplift, dan lalu mengalami reaktifasi dan mengalami invert struktur yang tua, sehingga menghasilkan wrenching, pensesaran, dan perlipatan.
Setting tektonik secara umum terjadi pada arah timur laut (NNE) Cekungan Barito, dengan struktur yang intensif  berarah sejajar barat daya – timur laut (SSW-NNE) membentuk struktur lipatan mengelilingi pegunungan Meratus dan dipengaruhi oleh sesar naik dengan dip yang curam. Adanya sesar wrench utama, menunjukkan adanya indikasi drag atau sesar pada lipatan dan bekas sesar naik. Pada bagian barat dan selatan Cekungan Barito umumnya sedikit dikontrol oleh tektonik sehingga tidak menunjukkan bentuk deformasi struktur (Darman dan Sidi, 2000).

Dengan demikian struktur geologi regional secara umum yang terdapat di Cekungan Barito adalah lipatan dan sesar yang terjadi pada batuan Tersier. Lipatan pada umumnya berarah timurlaut – barat daya. Sesar yang terdapat di daerah ini berarah barat laut – tenggara dan timur laut – barat daya. Sesar yang ada berupa sesar naik dan sesar geser.

Sejarah Geologi Cekungan Barito

Cekungan Barito adalah cekungan asimetri, terbentuk di daerah foredeep pada bagian timur dan sebuah platform berdekatan dengan Schwaner atau Shield Kalimantan Barat. Cekungan Barito mulai terbentuk pada akhir Kapur, bersamaan dengan tumbukan antara Paternosfer dengan SW Borneo microcontinent (Satyana, 1999 dalam Darman dan Sidi, 2000).

Pada awal zaman Tersier terjadi deformasi sebagai akibat dari peristiwa tektonik oblique convergence dengan arah barat laut – tenggara (NW – SE). Kemudian terbentuk rekahan dan berkembang menjadi accomodation space untuk sedimen produk alluvial fan dan lakustrin yang merupakan anggota Formasi Tanjung bawah. Pada awal pertengahan Eosen, sebagai hasil akhir dari transgresi, rift atau rekahan tersebut berkembang menjadi fluviodeltaic dan pada akhirnya menjadi lingkungan marine, yang seluruhnya merupakan hasil transgresi selama proses deposisi Formasi Tanjung bagian tengah. Pada Kala awal Oligosen-Eosen akhir terjadi transgresi, sehingga terjadi genang laut. Akibatnya diendapkan shale marine dari bagian Formasi Tanjung bagian atas.

Setelah terjadi regresi pada pertengahan Oligosen, Cekungan Barito mengalami sagging, karena terjadi transgresi lagi. Pada Kala Oligosen akhir, terjadi pengendapan platform carbonate, merupakan anggota Formasi Berai. Sedimen karbonat kemudian mengalami deposisi lagi pada kala awal Miosen, ketika deposisi berakhir, material sedimen klastik mengalami deposisi dari bagian barat.

Selama Miosen, terjadi sea level drop hingga kemudian Schwaner Core dan Pegunungan Meratus mengalami uplift. Material sedimen klastik berasal dari proses deposisi ke arah bagian timur,  dan progadasi sedimen produk dari delta yang merupakan anggota Formasi Warukin. Pada Miosen akhir, Pegunungan Meratus muncul kembali, diikuti oleh adanya peristiwa penurunan cekungan (subsidence) sehingga terjadi proses deposisi sedimen, yang merupakan Formasi Warukin. Pegunungan Meratus lalu mengalami uplift lagi hingga kala Pleistosen, dan diendapkan produk sedimen molasic-deltaic, merupakan Formasi Dahor pada kala Pliosen. Proses tektonik dan deposisi tetap berlangsung hingga sekarang (Darman dan Sidi, 2000).

Referensi : Van Bemmelen, R.W., 1949, The Geology of Indonesia, Vol.1A, 2nd, Batavia, Netherland, 732 hal. Kusuma, M.I., dan Nafi, A.N., 1986, Prospek hidrokarbon Formasi Warukin di Cekungan Barito Kalimantan, Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Tahunan XIV IAGI, Jakarta, hal 105-124. Darman, H., dan Sidi, F.H., 2000, An Outline Of The Geology Of Indonesia, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Jakarta, 181 hal. Sikumbang, N. dan Heryanto, R., 1987, Laporan Geologi Lembar Banjarmasin Kalimantan Selatan, Proyek Pemetaan Geologi dan Interpretasi Foto Udara, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner