Jumat, 19 Februari 2016

Mineral Asosiasi Emas Aluvial dan Hubungannya Dengan Bedrock

Mineral Asosiasi Emas Aluvial

Gold-bearing gravels (gravel yang mengandung emas) umumnya sebagian besar terdiri atas pebble-pebble (kerakal) kuarsa yang durable. Sedangkan pebble-pebble lainnya (yang undurable) terkominusi atau terhancurkan secara kimia. Sehubungan dengan hal tersebut, maka endapan emas aluvial (placer) umumnya ditandai oleh gravel kuarsa yang putih, seperti pada “white channels” di Yukon, “white bars” di California, atau “white leads” di Australia. Pasir hitam, yang terutama tersusun oleh magnetite dan ilmenite, merupakan asosiasi yang dekat, begitu juga dengan “yellow sand” yang disusun oleh garnet, zircon, dan monazite, juga umum ditemukan berasosiasi dengan emas aluvial.
Mineral asosiasi emas aluvial
Gambar emas aluvial bersama ilmenit, kuarsa, dan magnetite.


Hubungan Emas Aluvial dengan Bedrock

Karakter batuan alas (bedrock) sangat penting, baik dalam melokalisir emas aluvial maupun mempengaruhi recovery-nya. Batuan yang permukaannya halus umumnya kurang bisa diharapkan melokalisir emas, dibandingkan dengan batuan sedimen berlapis dengan kemiringan terjal yang dasarnya irregular, atau “riffles”, yang berpotensi menjebak emas.

Batuan-batuan dekomposisi dan lempungan, serta batugamping yang memiliki lubang-lubang akibat pelarutan, seperti "sinkhole" atau "pothole" berpotensi membentuk perangkap-perangkap yang baik. Retakan atau celah-celah di permukaan bedrock umumnya merupakan tempat-tempat yang dapat dipenetrasi oleh butiran-butiran emas.

Emas kasar umumnya terdapat pada atau di bagian dasar bedrock, dan jarang terdapat di dalam gravel-gravel yang berada pada kedalaman 5 - 15 kaki (1,5 – 4,6 m). Biasanya terjadi degradasi dari bawah ke atas. Di beberapa tempat ditemukan “false bedrock” yang umumnya berupa lapisan lempung kompak di dalam gravel. Lapisan ini berfungsi sebagai lantai bagi gravel-gravel aluvial dan gold-bearing gravel lainnya.

Pertumbuhan Emas dalam Gravel

Apakah nugget-nugget emas yang besar menunjukkan adanya pertumbuhan dalam gravels ?. Sebagian besar pendukung teori accretion (pertumbuhan) mengklaim bahwa nugget-nugget yang besar dan butiran-butiran yang kasar dari emas aluvial adalah lebih besar daripada partikel-partikel emas primernya yang diobservasi dalam veins. Sehingga mereka berpendapat bahwa selama dalam perjalanannya, emas-emas aluvial ini “tumbuh”.


Tetapi beberapa ahli berpendapat bahwa emas aluvial murni hanya terbentuk secara mekanis, terikat/terkumpul satu sama lain, antara satu butir dengan butir lainnya secara mekanis, tidak melalui proses pertumbuhan secara kimia. Hasil uji poles dan gores yang dilakukan oleh beberapa peneliti menunjukkan bahwa struktur kristalin emas aluvial masih sama dengan yang berada pada emas vein (primer).