Wednesday, February 3, 2016

Macam-macam Lembaga Arbitrase

loading...
Arbitrase berasal dari kata arbitrate (Latin), arbitrage (Belanda), Arbitration  (Inggris), schiedspruch (Jerman) dan arbitrage (Prancis), yang berarti kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu menurut kebijaksanaan atau damai oleh arbiter. Klausula arbitrase  harus memuat pernyataan apakah arbitrase akan dilakukan secara lembaga/institusional atau ad hoc. Macam-macam lembaga arbitrase yang ada saat ini dikelompokan menjadi lembaga Arbitrase Institusional dan Arbitrase Ad Hoc.


Arbitrase Institusional

Arbitrase institusional adalah arbitrase yang melembaga yang didirikan dan melekat pada suatu lembaga terntentu. Sifatnya permanen dan pada umumnya arbitrase institusional memiliki prosedur dan tata cara pemeriksaan sengketa tersendiri. Arbiternya diangkat dan ditentukan oleh lembaga arbitrase institusional sendiri. Arbitrase institusional tersebut juga menyediakan jasa administrasi arbitrase, yang meliputi pengawasan proses arbitrase, aturan-aturan prosedural sebagai pedoman para pihak dan pengangkatan arbiter.

Di Indonesia saat ini terdapat dua lembaga arbitrase yang memberikan jasa administrasi arbitrase, yaitu Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), dan Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI) yang sekarang diganti menjadi Badan Arbitrase Syariah Nasional Indonesia (BASYARNAS).

Macam-macam Lembaga Arbitrase
Gambar ilustrasi lembaga arbitrase BANI.

Arbitrase Ad Hoc

Arbitrase ad hoc disebut juga arbitrase volunter, arbitrase ini dibentuk secara khusus atau bersifat insidentil untuk memeriksa dan memutus sengketa tertentu dalam jangka waktu tertentu pula, setelah sengketa diputus maka berakhir pula arbitrase ad hoc ini. Pembentukan arbitrase ad hoc dilakukan setelah sengketa terjadi. Para pihak yang memilih dan menentukan arbiternya dapat pula meminta bantuan pengadilan untuk mengangkat arbiternya, yang bertugas memeriksa dan memutus sengketa yang bersangkutan.

Untuk mengetahui dan menentukan apakah arbitrase yang disepakati para pihak adalah arbitrase ad hoc, dapat dilihat dari rumusan klausula. Apabila klausula pactum de compromittendo atau akta kompromi menyatakan perselisihan akan diselesaikan oleh arbitrase yang berdiri sendiri di luar arbitrase institusional atau dengan kata lain apabila klausula menyebut arbitrase yang akan menyelesaikan perselisihan terdiri atas arbiter perseorangan, maka arbitrase yang disepakati adalah arbitrase ad hoc. Ciri pokoknya penunjukan para arbiternya secara perseorangan.

Pada prinsipnya arbitrase ad hoc tidak terikat atau terkait dengan salah satu badan arbitrase. Para arbiternya ditentukan dan dipilih sendiri berdasarkan kesepakatan para pihak. Oleh karena arbitrase ad hoc tidak terikat dengan salah satu badan arbitrase, boleh dikatakan jenis arbitrase ini tidak memiliki aturan tata cara sendiri baik mengenai pengikatan arbiternya maupun mengenai tata cara pemeriksaan sengketa. Dalam hal ini arbitrase ad hoc tunduk sepenuhnya mengikuti aturan tata cara yang ditentukan dalam perundang-undangan. (Referensi: Rachmadi Usman, 2002, Hukum Arbitrase Nasional, Grasindo, Jakarta. Firda Zulfa Fahriani, 2005, Arbitrase Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa, el-Faqih, Volume 1 No.1).
loading...
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner