Friday, January 22, 2016

Macam-macam Lingkungan Pengendapan Batubara

Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah terkena pengaruh-pengaruh syn-sedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh-pengaruh tersebut dihasilkan batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang bervariasi. Lingkungan pengendapan batubara dapat digunakan untuk menentukan penyebaran lapisan, cara terjadinya, serta kualitas batubara. Namun sering kali masih belum dapat menghasilkan yang prediksi yang akurat (Thomas, 2002).

Kenampakan Sekuen Batubara
Gambar sekuen batubara.

Agar dapat memberikan makna genesa dan lingkungan pengendapan batubara terhadap kegiatan eksplorasi batubara, memerlukan adanya suatu model geologi (Prasongko, 1996). Model geologi untuk pengendapan batubara adalah menerangkan hubungan antara genesa batubara dengan batuan di sekitarnya, dengan menggunakan perbandingan antara sekuen gambut yang sekarang terbentuk dengan sekuen batuan yang mengandung  batubara dan  telah terbentuk pada masa lampau (Thomas, 2002).

Lingkungan pengendapan batubara erat kaitannya dengan fisiografi cekungan pengendapan. Menurut Teichimuller (1982; dalam Stach et al, 1982), cekungan pengendapan bagi perkembangan endapan gambut sebagai bahan asal pembentuk batubara dipengaruhi oleh :
  • Kenaikan muka air tanah yang lambat atau dasar cekungan mengalami penurunan yang lambat, sehingga endapan gambut terhindar dari abrasi air laut.
  • Adanya penghalang rawa-rawa  seperti penghalang pantai, gosong pasir atau tanggul alam untuk melindungi endapan gambut dari banjir air sungai dan abrasi air laut.
  • Energi yang rendah dari hinterland (daerah dengan morfologi yang relatif datar dan perbedaan topografi yang kecil) sehingga tidak ada sedimen fluviatil (kasar) yang diendapkan.

Menurut Stach et al (1982), berdasarkan posisi geografinya, lingkungan pengendapan batubara dibedakan menjadi zona paralik (tepi pantai) dan limnik (daratan). Batubara di dunia lebih dari 90% terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagun, delta, atau juga fluvial. Selanjutnya pembahasan masing-masing lingkungan pengendapan batubara lebih mengacu pada pembagian yang dikemukakan oleh Horne et al (1978) adalah sebagai berikut:

Lingkungan Pengendapan Barrier : Barrier terbentuk selama delta mengalami progadasi, dan lalu terjadi pengisian suplai sedimen dari darat dan laut hingga meluas ke daerah rawa back-barrier (Galloway dan Hobday, 1983). Lingkungan barrier mempunyai peran penting, yaitu menutup pengaruh oksidasi dari air laut dan mendukung pembentukan gambut di bagian dataran.

Lingkungan Pengendapan Back-Barrier ; Karakteristik batuan sedimen pada lingkungan back barrier adalah mengalami coarsening upward, terdapat serpih abu-abu gelap yang kaya bahan organik, batulanau dan mengandung batubara yang tipis dengan penyebaran secara lateral yang tidak menerus serta konkresi siderit. Batubara di daerah lingkungan back–barrier umumnya tipis, tidak menerus, mengandung banyak sulfur, dan seringkali juga disebut shale hitam atau bone coal (Renton dan Cecil, 1979 dalam Galloway dan Hobday, 1983). Lempung pada daerah back-barrier tidak memiliki struktur laminasi dan banyak mengandung kaolin karena adanya pencucian montmorilinit oleh air asam pada gambut (Staub dan Cohn, 1978 dalam Galloway dan Hobday, 1983).

Lingkungan Pengendapan Lower Delta Plain ; Lingkungan lower delta plain didominasi oleh sekuen coarsening upward yang terdiri dari batulumpur dan batulanau, memiliki ketebalan antara 15-55 m dan penyebaran lateral 8 hingga 10 km. Bagian bawah dari sekuen sedimen ini adalah batulumpur abu-abu gelap hingga hitam dan terdapat siderit dan batugamping dengan sebaran yang tidak teratur. Pada bagian atas sekuen ini sering dijumpai batupasir, menunjukkan adanya peningkatan energi transportasi  pada daerah perairan dangkal ketika teluk terisi endapan sedimen (Horne et al, 1979 dalam Thomas, 2002). Bila teluk telah cukup terisi maka tumbuhan akan dapat tumbuh, sehingga dalam kurun waktu tertentu batubara dapat terbentuk. Namun demikian, tetapi bila teluk tidak terisi penuh, organisme, batupasir, dan siderit akan terbentuk. Pola umum coarsening upward atau mengkasar keatas pada interbutary bar di beberapa tempat dapat terputus oleh detritus creavase splays (Horne et al, 1979, dalam Thomas, 2002).

Lingkungan Pengendapan Upper Delta Plain – Fluvial ; Upper delta plain merupakan daerah akumulasi gambut dalam jumlah yang tidak banyak, namun lingkungannya relatif stabil. Endapannya didominasi oleh bentuk linier, tubuh batupasir lentikuler yang memiliki ketebalan hingga 25 m dan lebar 11 km. Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky, sedangkan tumbuhan pada lower delta plain didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis.

Lingkungan Pengendapan Transitional Lower Delta Plain ; Zona diantara lower dan upper delta plain adalah zona transisi yang mengandung karakteristik litofasies dari sekuen tersebut yang merupakan juga sekuen bay-fill  yang dicirikan oleh litologi yang berbutir halus dan lebih tipis (1,5 – 7,5 m) daripada sekuen lower delta plain (Horne et al, 1978). Perkembangan rawa pada lingkungan transisi lower delta plain sangat  intensif, karena adanya pengisian sedimen pada daerah "interdistributary bay" sehingga dapat terbentuk lapisan batubara yang tersebar luas dengan kecenderungan agak memanjang sejajar dengan jurus perlapisan.

Sumber Referensi : Thomas, L., 2002, Coal Geology, John Wiley & Sons Ltd, England, 384 hal. Prasongko, B.K., 1996, Model Pengendapan Batubara Untuk Menunjang Eksplorasi dan Perencanaan Pertambangan, Program Pascasarjana Institut Teknologi Bandung, Bandung, 138 hal. Stach, E., Mackowsky, M.TH, Teichmuller, M., Taylor,G.H., Chandra, and D. Teichmuller,  1982, Stacsh’s text book of coal petrology, 3rd., Gebruder, Berlin, Stuttgart, 452 hal. Horne, J.C., Ferm, J.C., Carucio, F.T., and Baganz, B.P.,  1978, Depositional Models in Coal Exploration and Mining Planning in Appalachian Region, AAPG Bulletin vol 62/no 12, hal 2379-2411. Galloway, W.E., and Hobday, D.K., 1983, Terrigenous Clastic Depositional Systems Application to Petroleum, Coal, and Uanium Exploration, Springer-Verlag, New York, 423 hal.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner