Thursday, January 21, 2016

Jenis dan Macam macam Batu Mulia Menurut Ilmu Geologi

loading...
Menurut ilmu geologi, batu mulia mengandung pengertian sebagai semua jenis mineral dan batuan yang mempunyai sifat fisik, kimia serta karakteristik tertentu seperti motif dan warna, yang bernilai ekonomis. Batu mulia umumnya digunakan untuk perhiasan dan bahan dekorasi. Istilah atau penamaan batu mulia lebih banyak didasarkan pada kelangkaan keterdapatannya. Di indonesia batu mulia dikenal dengan nama tradisional yaitu “batu akik” atau “batu aji”. Dalam dunia perdagangan istilah batu mulia saat ini sudah mulai dipakai oleh masyarakat umum, baik itu sebagai bahan perhiasan ataupun asesoris.

Jenis dan Macam-macam Batu Mulia

Penamaan jenis batu mulia asalnya bermacam-macam, mulai dari nama mineral/batuan, nama ilmiah, nama perdagangan, sampai kepada nama tertentu yang biasanya muncul atas dasar pertimbangan warna, tekstur atau motif (pattem), kadang tergantung selera. Tetapi secara spesifik, batu mulia dapat digolongkan kedalam tiga jenis, yaitu:
1. Batu permata (precious stones)
2. Batu setengah/semi permata (semi-precious stones), dan
3. Batu hias (ornamental stones).

Batu permata dan batu setengah permata umumnya digunakan sebagai perhiasan, sedangkan batu hias untuk dekorasi atau penambah keindahan. Satu-satunya instansi pemerintah yang khusus menangani pencarian batu mulia adalah Seksi batu mulia pada Direktorat Sumberdaya Mineral, Sedangkan pemanfaatan dan pengolahan dalam membentuk model dan bentuk terdapat di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Bandung, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, yang baru didirikan pada 1986.

Jenis dan Macam Batu Mulia
Gambar macam-macam batu mulia.

Sejarah Batu Mulia

Di Indonesia, jenis batu mulia yang telah lebih dahulu dikenal yaitu intan yang sudah ditambang/digali oleh rakyat sejak abad VI pada masa Pemerintah Hindia Belanda melalui usaha penggalian di Kalimantan Selatan sebagai usaha sampingan; sedangkan industri pengrajin batu mulia yang berada di daerah Sukabumi, Jawa Barat telah beroperasi sejak 1930. 

Kemajuan industri pengolahan batu mulia mengalami peningkatan cukup pesat, ditandai dengan tumbuhnya pengrajin di berbagai daerah terutama di daerah yang berdekatan dengan lokasi sebaran batu mulia, yang perkembangannya dimulai sejak awal tahun 1980-an. Dengan munculnya beberapa pengrajin batu mulia yang mulai nampak seperti di daerah Sukabumi (Jawa Barat), Lampung, Jambi, Pacitan (Jawa Timur), dan Martapura (Kalimantan Selatan).

Atas prakarsa Dep. Perindustrian dan Perdagangan, dewasa ini daerah-daerah tersebut menjadi sentra industri yang terdapat hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Untuk dapat memberikan informasi yang lebih jelas dengan berbagai aspek tentang perbatu muliaan, maka pada tahun 1980 dibentuk organisasi Masyarakat Batu mulia Indonesia (MBI) yang berpusat di Bandung, Jawa Barat yang memelopori terbentuknya cabang-cabang di setiap propinsi di Indonesia.

Geologi Batu Mulia

Asal usul terbentuknya batu mulia tidak jauh berbeda dengan pembentukan batuan atau mineral secara umum. Pembentukan batu mulia dapat terjadi melalui diferensiasi magma, metamorfosis, dan sedimentasi.

Asal Proses Diferensiasi Magma
Proses ini disebut juga sebagai proses pembentukan batuan beku, yaitu mengalirnya cairan magma ke permukaan bumi akibat terjadinya gerakan di bawah permukaan bumi yang menyebabkan timbulnya retakan yang kemudian diisi oleh cairan magma dan membentuk jenis batuan atau mineral termasuk batu mulia. Perbedaan temperatur dan kontak dengan batuan sekelilingnya disertai dengan pembekuan dalam fase yang berbeda akan mempengaruhi pembentukan jenis batuan dan mineral.

Dari uraian di atas, diketahui bahwa proses diferensiasi magma membentuk batu mulia dapat dikategorikan sebagai berikut : 
1. Batu mulia bersuhu tinggi; contohnya intan, safir, ruby, peridotit, garnet, zirkon dan lain-lain
2. Batu mulia pegmatis; contohnya zamrud, beril, krisoberil, safir, ruby, spinel, topas, turmalin, zirkon dan lain-lain
3. Batu mulia pneumatis; contohnya  turmalin, topas, felspar dan lain-lain
4. Batu mulia bersuhu rendah; contohnya kalsedon, agate, jasper, opal dan lain-lain.

Asal Proses Metamorfosis
Batu mulia yang terjadi karena proses metamorfosis diakibatkan oleh pengaruh suhu dan tekanan yang ditimbulkan oleh pembebanan sehingga mengubah batuan/ mineral tersebut menjadi mineral dan batuan baru. Ada 3 jenis proses metamorfosis bergantung pada keadaan yang mendominasinya, yaitu:
1. Metamorfosa kontak (termal); dominan dipengaruhi oleh faktor suhu. Perubahan berlangsung jika panas yang ditimbulkan melalui kontak dengan batuan yang ada seperti batuan sedimen jenis batu gamping (murni) yang paling reaktif terhadap perubahan temperatur dan akan berubah menjadi marmer. Batuan sedimen jenis batupasir kuarsa yang mengalami proses metamorfosis kontak akan menimbulkan rekristalisasi butiran, sehingga terbentuk kuarsit. Batuan yang mengandung lempung dan serpihan akan menjadi hornfels yang menghadirkan Al silikat.

2. Metamorfosis dislokasi; terjadi pada temperatur rendah, serta pengaruh proses tektonik yang biasanya terdapat di sepanjang bidang patahan dan tempat-tempat lemah lainnya di dalam kerak bumi. Beberapa jenis batuan hasil metamorfosis diskolasi antara lain genes, sekis dan serpih. Batuan beku yang mengalami proses metamorfosis dislokasi akan menghasilkan serpentinit dan amfibol.

3. Metasomatisma; merupakan metamorfosis yang disebabkan oleh adanya pengaruh kimia dari batuan lain di sekitarnya. Proses metasomatisma ini mempengaruhi hampir seluruh permukaan dalam skala kecil maupun besar. Secara keseluruhan komposisi batuan dapat berubah dan kadang-kadang terjadi penggantian sempurna terhadap satu mineral saja tanpa kehilangan tekstur asal.

Asal Proses Sedimentasi
Batuan beku dan metamorf yang muncul di permukaan bumi akan mengalami pelapukan akibat pengaruh air, udara dan organisme. Hancuran batuan dan lapukannya kemudian diangkut oleh air atau media lain (es, angin, pengaruh gravitasi) melalui sungai yang bermuara di laut, sehingga membentuk endapan danau dan endapan laut yang dikenal dengan proses sedimentasi.

Selama proses transportasi, bahan batuan mengalami gesekan terus menerus hingga permukaannya menjadi lebih halus dan mempengaruhi bentuk serta ukuran butiran. Batuan yang lebih keras lebih sedikit mengalami gesekan dibandingkan dengan batuan yang lunak. Semakin jauh transportasi batuan dari tempat asalnya, semakin beragam bentuk yang dapat terjadi seperti menyudut, menyudut tanggung sampai membulat kemudian terjadilah pengendapan atau sedimentasi yang merupakan endapan sekunder dan disebut batuan sedimen. Beberapa jenis batu mulia yang terbentuk dengan proses sedimentasi ini ialah intan, safir, rubi, korundum dan beberapa jenis ametis.

Mineralogi Batu Mulia

Batu mulia jenis batu permata umumnya merupakan monomineral sedangkan jenis batu hias dan batu hias alami kebanyakan terdiri atas berbagai jenis batuan yang mempunyai kandungan beberapa jenis mineral termasuk di dalamnya jenis batu permata dan batu semi permata. Memasukkan jenis mineral kedalam kelompok batu mulia sebagai jenis batu permata dilihat dari pemanfaatan dan keindahannya sebagai mineral perhiasan, di samping karakteristik lainnya yaitu sifat kimia-fisika, warna, dan motifnya. Sebagai contoh adalah mineral intan yang dikenal sebagai batu intan atau batu permata, mempunyai tipe kelas tinggi yaitu bentuk ukuran besar, tidak mengandung mineral lain sebagai pengotor, tingkat kecerahan tinggi, dan berwarna cemerlang.

Jika mineral intan atau jenis batu permata lainnya berukuran halus dan terdapat dalam bongkah batuan sehingga tidak dapat diambil untuk dimanfaatkan sebagai bahan yang monomineral, maka tingkat penggolongannya dimasukkan ke dalam jenis batu hias atau batu hias alami, baik melalui proses pengolahan atau tidak melalui proses pengolahan apabila dilihat unsur seninya indah. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkatan batu mulia dan proses pengembangan pengolahan serta pemanfaatannya, perlu dilakukan analisis laboratorium yang mencakup sifat kimia dan fisikanya.

Semakin tinggi tingkat kekerasannya akan semakin mahal nilai dan harganya, sedangkan kandungan komposisi unsur dan rumusan kimia diperlukan sebagai catatan tambahan secara keilmuan saja. Semakin tinggi nilai atau harga batu mulia, akan semakin selektif alat yang digunakan dan semakin tinggi kehati-hatian dalam pembuatan bentuk dan penerapan disainnya.

Analisis batu mulia di antaranya meliputi sifat optik, kekerasan, warna, komposisi kimia, berat jenis, dan jenis asosiasi mineral lain sebagai pengotor. Pada umumnya dilakukan dengan analisis mikroskopis, sedangkan untuk analisis berat jenis dilakukan dengan mencelupkan batu mulia ke dalam larutan dengan berat jenis tertentu, mengambang atau tenggelam. Untuk mengetahui kekerasan batu mulia dilakukan dengan membandingkannya terhadap mineral yang mempunyai kekerasan tertentu atau dengan menggunakan alat microhardness tester. Cara terakhir ini jarang dilakukan karena akan menggores batu mulia terutama batu permata.

Potensi dan Cadangan Batu Mulia

Ditinjau dari segi asal terjadinya, Indonesia memiliki potensi sebaran batu mulia yang sangat beragam dan cukup besar, walaupun belum sampai kepada penentuan kualitas dan kuantitasnya. Di Pulau Sumatera, batu mulia banyak dijumpai di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan. Di Pulau Jawa terdapat di sepanjang jalur bagian selatan dan beberapa daerah di bagian tengah dan utara. Wilayah Sulawesi bagian barat, tengah dan tenggara, Kepulauan Maluku mulai Pulau Morotai, Ambon dan pulau-pulau kecil lainnya serta Nusa Tenggara dimulai dari Pulau Sumbawa sampai Timor diperkirakan juga mengandung sumberdaya batu mulia.

Pulau Kalimantan yang merupakan daratan stabil, memungkinkan pembentukan batu mulia yang lebih baik dan dalam jumlah cukup besar, terutama Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Demikian pula dengan Pulau Papua yang memiliki sebaran batu mulia terutama di daerah utara, tengah sampai selatan serta jalur Tembagapura yang diperkirakan mengandung batu mulia cukup potensial.

Berdasarkan hasil survai geologi, hampir seluruh propinsi di Indonesia mempunyai endapan batu mulia walaupun belum terungkap secara rinci. Dari data yang dihasilkan, baru 15 propinsi yang potensi batu mulianya sangat besar. Sebagian lagi berupa endapan batu mulia yang belum dimanfaatkan untuk diolah ataupun diusahakan oleh penduduk atau pengrajin setempat.

Tambang Batu Mulia

Kegiatan penambangan berbagai jenis batu mulia hanya dilakukan oleh masyarakat setempat secara tradisional, kecil-kecilan, sederhana dan kadang-kadang bersifat usaha sampingan/sambilan. Hampir atau bahkan tidak ada sama sekali kegiatan penambangan batu mulia berskala besar, menggunakan peralatan mekanis, dan ditekuni sebagai usaha tetap.

Tambang opal (kalimaya) di daerah Kabupaten Lebak, Jawa Barat mungkin dapat mendekati gambaran teknik penambangan yang baik, tetapi karena dikelola oleh rakyat kecil, masih tetap memerlukan pembinaan dalam masalah lingkungan dan keselamatan kerja. Dengan menggunakan sistem tambang dalam (underground mining), para penambang opal masuk ke tambang melalui sumuran tegak (vertical shaff) yang berukuran 2x2m2. Kedalaman maksimum sumuran adalah 35 m. Jenjang (bench) kecil dibuat pada kedalaman tertentu (biasanya disesuaikan dengan panjang tangga yang terbuat dari bambu).

Untuk mengangkut batuan, digunakan seperangkat alat timba (kerekan, timba, tali karet) serta fondasi untuk menempatkan alat timba tersebut. Sementara untuk keperluan penambangan digunakan peralatan tradisional, seperti cangkul, linggis, pengki, golok atau pisau dan lampu petromak (sebagai alat penerangan di dalam sumur). Jika sumuran mengandung air, maka disediakan pompa air yang berkekuatan cukup besar. Omset penjualan opal ini, baik dalam bentuk mentah maupun setengah jadi (digosok agak kasar) dapat mencapai jutaan rupiah per hari. Sebagai contoh, opal sebesar ibu jari ditawarkan dengan harga berkisar antara Rp 200.000 sampai Rp 300.000.

Kini pencarian batu mulia sudah merambah ke daerah yang lebih luas lagi, tidak saja di areal pesawahan atau kebun, tetapi juga dengan menelusuri sungai-sungai dan perbukitan. Faktor permintaan yang semakin meningkat dan diikuti oleh harga yang terus membaik, tampaknya mendorong antusiasme masyarakat untuk mencari batu mulia. Namun mengingat penyebaran batu mulia tidak pernah merata (berbentuk lensa-lensa yang tidak beraturan), maka sulit bagi masyarakat untuk mendapatkan batu mulia secara kontinyu atau dalam jumlah besar.
loading...
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner