thumbnail

Geologi Gunung Karangetang di Sulawesi Utara

Gunung Karangetang atau biasa disebut juga Gunung Siau merupakan salah satu gunungapi yang sangat aktif di Sulawesi Utara. Gunungapi ini berada di kabupaten Sitara dengan ketinggian 1784 m dpl. Sebagai gunungapi yang sangat aktif, masa istirahat Gunung Karangetang sangat singkat, berlangsung beberapa bulan kemudian meningkat kembali. Pada umumnya kegiatan dimulai dengan erupsi asap/abu dan biasanya berlangsung 2 atau 3 bulan. Kegiatan berlanjut berupa erupsi magmatik (eksplosif) diikuti dengan leleran lava (efusif). Dalam beberapa kasus, efusif biasa juga terjadi tanpa didahului oleh eksplosif.


Dalam Peta Geologi Gunung Karangetang (
Budianto A, dkk, 2000), batuan disusun berdasarkan hasil kegiatan gunungapi tersebut, yaitu hasil primer dan sekunder. Penamaan batuan primer diurut dengan nomor, misalnya dimulai dengan Kl. 1 (Aliran Lava 1 Karangetang) hingga KL. 17, kecuali Lava Arengkambing yang jelas kejadiannya dalam tahun 1976.

Peta Geologi Gunung Karangetang, Budianto A, dkk, 2000
Gambar 1. Peta Geologi Gunung Karangetang (Budianto A, dkk, 2000).

Secara garis besar, kawah Gunungapi Karangetang menempati puncak dan lereng bagian utara dan selatan yang membentuk satu garis lurus. Berdasarkan Peta Topografi Puncak yang dibuat oleh S. Harto (1962), terdapat 5 (lima) kawah. Tiga kawah mengambil tempat  di  bagian  utara,  yaitu Kawah II (KII), Kawah III (KIII), dan Kawah V (KV), serta dua lainnya di bagian selatan, yaitu Kawah Utama (KI) dan Kawah IV (KIV) yang berada di dalam komplek Kawah Utama.


Pada Tahun 1979 terbentuk kawah baru di lereng utara dekat Desa Batubulan. Semula lokasi tersebut hanya berupa lubang solfatara, kemudian terjadi longsoran akibat gempabumi tektonik. Lubang tersebut melebar dan bertambah dalam serta berasap putih tebal sehingga menyerupai kawah dan kemudian dikenal dengan Kawah Batubulan. Namun demikian, sampai sekarang belum pernah menjadi titik erupsi.

Peta Topografi Puncak Gunungapi Karangetang
Gambar 2. Peta Topografi Puncak Gunungapi Karangetang (S. Harto, 1962).

Beberapa kawah tersebut di atas hanya menjadi pusat erupsi dalam satu atau beberapa kali periode kemudian tidak aktif lagi atau tertutup oleh lava. Peta topografi puncak dan lereng selatan Gunungapi Karangetang yang dibuat dalam tahun 1979 memperlihatkan hanya 2 (dua) kawah, yaitu Kawah Utama (KI) di sisi selatan dan Kawah II (KII) di sisi utara. Pada tahun 1993 terbentuk kubah lava di dalam Kawah II tetapi tidak menutupi secara keseluruhan permukaan kawah, sehingga keberadaannya sebagai kawah tetap terlihat dan pada kenyataannya masih aktif.


Pada Juli 2001, pasca erupsi 25 Juni 2001 juga terbentuk kubah lava di dinding selatan Kawah Utama atau menutupi Kawah IV yang berada pada sudut selatan dalam kompleks Kawah Utama. Agar mudah diingat, maka kedua kawah yang tersisa dan masih aktif tersebut dinamai Kawah Selatan (Kawah Utama, KI) dan Kawah Utara (KII) sesuai posisinya di puncak.

Perkembangan kondisi puncak Gunung Karangetang
Gambar 3. Perkembangan kondisi puncak Gunung Karangetang.

Gunung Karangetang sangat kaya dengan lava. Hampir setiap peningkatan kegiatan selalu disertai oleh leleran lava. Berikut ini keterangan singkat dari Stratigrafi Batuan Gunung Karangetang dari yang tua hingga yang paling muda :
  • Aliran Lava 1 Karangetang (Kl.1). Lava andesit, dijumpai di kaki selatan dan barat dari pantai hingga ketinggian 300 m.
  • Aliran Lava 2 Karangetang (Kl.2). Lava andesit basaltis, tersingkap di baratlaut puncak.
  • Aliran Lava 3 Karangetang (Kl.3). Lava andesit basaltis ini tersingkap di Nameng, Batubulan (utara).
  • Aliran Lava 4 Karangetang (Kl.4). Satuan lava andesit, dijumpai di tenggara dan sepanjang sisi timur di Kali Beha dan Kali Lanage.
  • Aliran Lava 5 Karangetang (Kl.5). Satuan ini tersingkap di lereng selatan dan umumnya ditutupi oleh lapukan setebal 0,5 m dan berasosiasi dengan endapan guguran lava, berkomposisi andesit.
  • Aliran Lava 7 Karangetang (Kl.7). Lava andesit basaltis, dijumpai di Kali Kanawong dan Batuawang, baratdaya puncak selatan Karangetang.
  • Aliran  Lava  8  Karangetang  (Kl.8).  Lava  yang  menjadi  fondasi  jalan  antara
  • Batuawang  dan  Beong  yang  berasosiasi  dengan  material  guguran  lava,
  • berkomposisi andesit.
  • Aliran Lava 9 Karangetang (Kl.9). Satuan ini membentuk morfologi Bukit Arengkambing (1400 m) adalah andesit.
  • Aliran Lava 10 Karangetang (Kl.10). Lava andesit abu-abu.
  • Aliran Lava 11 Karangetang (Kl.11). Dari jenis andesit basaltik yang di jumpai di Kali Beha Barat, lereng barat puncak.
  • Aliran Lava 12 Karangetang (Kl.12). Satuan ini berkomposisi andesit basaltis dan dijumpai di bagian timur pada ketinggian 1600 m.
  • Aliran  Lava 13 Karangetang (Kl.13). Tersingkap di Kiawang berkomposisi andesit berwarna abu-abu.
  • Aliran Lava 14 Karangetang (Kl.14). Lava ini tersebut di bagian utara di Desa Batubulan berkomposisi andesit basaltis.
  • Aliran  Lava  16  Karangetang  (Kl.16).  Lava  ini  tersingkap  di  bagian  utara  puncak adalah lava andesit basaltis.
  • Aliran  Lava  Arengkambing  (Akl). Leleran  lava  ini  terjadi  dalam  tahun  1976 dan merupakan erupsi  samping  G. Karangetang.  Titik  erupsinya  di  lereng Arengkambing, pada ketinggian 900 m. Lava mengalir hingga mendekati pantai tenggara Pulau Siau.
  • Kubah  Lava  1  Karangetang  (Kk.1).  Dierupsikan  dari  Kawah  Utara  berkomposisi andesit basaltis dan membentuk kubah di puncak.
  • Kubah  Lava  2  Karangetang  (Kk.2).  Terbentuk  di  Kawah  Selatan  berkomposisi andesit basaltis berwarna hitam.
  • Aliran Lava 17 Karangetang (Kl. 17). Lava ini mengalir ke barat dan selatan hingga ketinggian 500-600 m, berkomposisi andesit basaltis. Batuan sekunder terdiri dari endapan lahar dan alluvial.

Referensi :
Budianto A., M.N. Kartadinata, Kusdaryanto. 2000. Peta Geologi Gunungapi Karangetang, Sulawesi Utara. Direktorat Vulkanologi.
Harto S., 1962. Peta Topografi Puncak Gunung Karangetang.
Kusumadinata K., 1979. Data Dasar Gunungapi Indonesia. Direktorat Vulkanologi.
Solihin A.,dkk. 2007. Laporan Pengamatan Terpadu Gunungapi Karangetang, Sulawesi Utara. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Written by : Flyshgeost
thumbnail

Deteksi Dini Menurunkan Risiko Kanker Stadium Lanjut

Kanker adalah sel tubuh yang mengalami mutasi (perubahan) dan tumbuh tidak terkendali serta membelah lebih cepat dibandingkan dengan sel normal. Sel kanker tidak mati setelah usianya cukup, melainkan tumbuh terus dan bersifat invasif sehingga sel normal tubuh dapat terdesak atau malah mati. Di Indonesia, kanker perlahan mulai menggeser posisi serangan jantung sebagai penyebab utama kematian. Data dari Departemen Kesehatan tahun 2007 menunjukkan kanker berada pada posisi keempat penyebab kematian akibat penyakit non-infeksi, setelah serangan jantung, stroke, dan diabetes mellitus. Naiknya posisi kanker sebagai penyebab kematian adalah akibat tingginya jumlah kasus baru kanker yang datang pada stadium lanjut. Dianggap sebagai penyakit yang mengerikan, kanker sebenarnya dapat didiagnosis secara dini. Deteksi dini kanker tidak hanya dapat menurunkan angka kematian akibat kanker, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup penderitanya.


Deteksi dini menurunkan risiko kanker
Gambar ilustrasi deteksi dini kanker.

Pemerintah melalui rumah sakit khusus kanker, memiliki komitmen besar terhadap deteksi dini kanker yang diwujudkan dengan dibentuknya Instalasi Deteksi Dini dan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) pada tahun 1999 yang mengusung konsep "Penanggulangan kanker terpadu paripurna". Instalasi Deteksi Dini & PKRS memberikan pelayanan komprehensif di dalam gedung maupun di luar gedung untuk satu tujuan utama, yaitu meningkatkan "persentase kasus kanker yang didiagnosis secara dini".

Klinik Deteksi Dini Kanker melayani pemeriksaan deteksi dini kanker payudara, kanker leher rahim (serviks), kanker kolorektal, kanker hati, kanker prostat dan kanker paru, serta program imunisasi Human Papilloma Virus dan Hepatitis B. Paket deteksi dini ini termasuk pemeriksaan fisik dan penunjang yang berkaitan (pencitraan dan penanda tumor). Dengan fasilitas laboratorium dan peralatan radiologis yang lengkap, semua pemeriksaan dapat dilakukan di satu atap. Konsep "one-stop shopping services" ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan lebih bagi pasien. Semua hasil pemeriksaan akan dijelaskan oleh dokter yang bertugas setiap hari kerja di klinik deteksi dini kanker dan bila hasil pemeriksaan mencurigakan ke arah kanker, pasien akan dikonsultasikan ke dokter spesialis yang sesuai.


Semua layanan yang ada tidak serta merta menjamin banyak orang datang untuk memeriksakan diri. Dari berbagai survei diketahui bahwa salah satu faktor penyebab tingginya jumlah kasus kanker stadium lanjut adalah keengganan memeriksakan diri ke dokter karena takut didiagnosis kanker. Orang awam seringkali hanya mendengar bahwa kanker penyakit kutukan atau kanker tidak ada obatnya, tanpa pernah memperoleh informasi yang benar tentang kanker.

Untuk menjawab tantangan ini beberapa rumah sakit khusus kanker telah melakukan kegiatan preventif dan juga promotif yaitu seperti pembuatan media berupa leaflet, poster, banner dan lain sebagainya. Selain itu, dilakukan pula penyebaran informasi melalui penyuluhan tentang kanker baik di dalam maupun di luar gedung, seperti instansi pemerintah/swasta, yayasan, organisasi masyarakat/agama, sekolah dan universitas serta melalui media cetak dan elektronik. Dari kegiatan-kegiatan tersebut diatas diharapkan timbul kesadaran masyarakat untuk mau melakukan pemeriksaan kesehatan secara dini agar bisa ditemukan penyakit kanker sedini mungkin. Deteksi dini dapat menurunkan risiko kanker stadium lanjut sehingga angka kesembuhan penyakit kanker menjadi meningkat. Kementerian Kesehatan menargetkan pada tahun 2030 angka kesakitan penyakit kanker stadium lanjut tidak ditemukan lagi.

Written by: dr. Hardina Sabrida, MARS (Kepala Unit Deteksi Dini RS Kanker Dharmais, Jakarta) dalam buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan 2015, Kementerian Kesehatan RI).
thumbnail

Pedoman Pelaporan Cadangan Bijih di Indonesia

Cadangan Bijih adalah bagian dari Sumberdaya Mineral Terukur dan atau Tertunjuk yang dapat ditambang secara ekonomis. Hal ini termasuk tambahan material dilusi ataupun "material hilang", yang kemungkinan terjadi ketikamaterial tersebut ditambang. Pada klasifikasi ini pengkajian dan studi yang tepat sudah dilakukan, dan termasuk pertimbangan dan modifikasi dari asumsi yang realistis atas faktor-faktor penambangan, metalurgi, ekonomi, pemasaran, hukum, lingkungan, sosial dan pemerintahan. Pada saat laporan dibuat, pengkajian ini menunjukkan bahwa ekstraksi telah dapat dibenarkan dan masuk akal. Cadangan Bijih dipisahkan berdasar naiknya tingkat keyakinan menjadi Cadangan Bijih Terkira dan Cadangan Bijih Terbukti.


Ilustrasi pedoman pelaporan cadangan bijih
Gambar ilustrasi Pedoman  (img sumber : galihsetyanta1711 dotwordpress dotcom).

Dalam Pedoman pelaporan Cadangan Bijih di Indonesia, seorang Pelapor (competen person) harus selalu memasukan informasi tentang estimasi faktor recovery pemrosesan mineral, dan harus selalu dimasukkan dalam Laporan Publik. Cadangan Bijih adalah bagian dari Sumberdaya Mineral, dimana setelah penerapan semua faktor-faktor penambangan, menghasilkan estimasi tonase dan kadar yang menurut opini pembuat estimasi, dapat menjadi dasar untuk menentukan kelayakan proyek, setelah mempertimbangkan semua "Faktor Pengubah" yang relevan. Cadangan Bijih dilaporkan termasuk di dalamnya material bernilai ekonomis marginal dan material dilusi yang dikirimkan dari tambang baik yang masih perlu "perlakuantertentu" maupun tanpa "perlakuan tertentu".


Istilah "dapat ditambang secara ekonomis" berarti bahwa ekstraksi dari Cadangan Bijih telah menunjukkan layak ditambang didasarkan pada asumsi finansial yang beralasan. Istilah "asumsi yang realistik" dapat diartikan beragam, tergantung pada jenis endapan/cebakan, tingkatan studi yang telah dilakukan dan kriteria finansial dari masing-masing perusahaan. Dengan alasan ini, dapat saja tidak ada definisi yang baku untuk istilah "dapat ditambang secara ekonomis".

Untuk mendapatkan tingkat kepercayaan yang dibutuhkan dalam Faktor Pengubah, studi yang tepat harus sudah dilakukan sebelum Cadangan Bijih ditentukan. Studi ini harus sudah menentukan suatu perencanaan tambang yang secara teknis dapat dikerjakan dan layak secara ekonomis, sehingga berdasar hal tersebut Cadangan Bijih dapat ditentukan. Studi ini bisa saja tidak perlu setara/selevel dengan tingkatan studi kelayakan akhir.

Istilah "Cadangan Bijih" tidak perlu mengindikasikan bahwa fasilitas ekstraksi sudah terpasang atau beroperasi, atau semua ijin yang diperlukan atau kontrak penjualan telah didapatkan. Tetapi istilah ini mengindikasikan bahwa ijin atau kontrak semacam itu diharapkan akan didapatkan. Orang yang melakukan pelaporan (Competent Person) harus mempertimbangkan arti pentingnya hal-hal yang belum terselesaikan yang bergantung pada pihak ketiga dimana proses ekstraksi juga bergantung. Jika ada keragu-raguan tentang apa yang harus dilaporkan, lebih baik bersalah karena menyediakan informasi yang berlebih daripada kekurangan informasi.


Semua penyesuaian yang dibuat atas data dalam rangka mengestimasi Cadangan Bijih, misalnya pembatasan atau pemfaktoran kadar, harus dinyatakan dan dideskripsikan secara jelas dalam Laporan Publik. Jika perusahaan lebih menginginkan penggunaan istilah "Cadangan Mineral" dalam laporan publiknya, misalnya untuk pelaporan mineral industri, hal ini harus dinyatakan secara jelas bahwa ini digunakan dan memiliki arti yang sama dengan "Cadangan Bijih", yang didefinisikan dalam pedoman ini. Jika diinginkan oleh perusahaan yang membuat laporan, estimasi "Cadangan Bijih" dan "Sumberdaya Mineral" untuk batubara dapat dilaporkan sebagai estimasi "Cadangan Batubara" dan "Sumberdaya Batubara". Akan sangat penting menggunakan istilah "Cadangan Bijih" karena hal ini menunjukkan dan memperjelas perbedaan antara "Sumberdaya Mineral" dan "Cadangan Bijih". (Sumber : Kode Pelaporan Hasil Eksplorasi, Sumberdaya Mineral dan Cadangan Bijih indonesia, by Komite Cadangan Mineral Indonesia).
thumbnail

Tinjauan Ilmiah Proses Pembuatan Tahu

Tahu merupakan salah satu olahan pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Tingginya permintaan pasar akan produk Tahu didukung oleh kemudahan mendapatkan bahan baku, khususnya kedelai merangsang pertumbuhan industri kecil Tahu. Dalam membuat atau memproduksi Tahu, bahan baku utama yang harus tersedia adalah kacang kedelai atau kedelai, biasanya dari kedelai kuning. Kualitas kedelai untuk industri Tahu antara lain bebas dari sisa tanaman atau bersih (dari potongan ranting, kulit polong, batu atau kotoran lain), biji kedelai tidak luka atau bebas terserang hama, tidak retak atau pecah, dan tidak keriput. Kualitas kedelai yang bagus akan menghasilkan Tahu putih yang bagus, bebas hama dan menyehatkan.


Proses pembuatan tahu
Ilustrasi proses pembuatan tahu (img sumber : merdeka dotcom).

Tinjauan Ilmiah Proses Pembuatan Tahu
Proses pembuatan Tahu dengan cara melarutkan protein kedelai dalam air. Kemudian protein terlarut air dipisahkan dengan air (digumpalkan) menggunakan bahan penggumpal dan gumpalan protein dicetak menjadi Tahu. Protein kedelai sebagian besar merupakan globulin, mempunyai titik isoelektris 4,1 - 4,6. Globulin akan mengendap pada pH 4,1 sedangkan protein lainnya seperti proteosa, prolamin dan albumin bersifat larut dalam air sehingga diperkirakan penurunan kadar protein dalam perebusan disebabkan terlepasnya ikatan struktur protein karena panas yang menyebabkan terlarutnya komponen protein dalam air (Anglemier and Montgomery, 1976).

Untuk mendapatkan protein yang dapat dilarutkan dalam air semaksimal mungkin, protein kedelai harus dipisahkan dari bahan lain, seperti karbohidrat, serat atau protein tidak larut. Pemisahan ini dilakukan dengan cara ekstraksi. Proses ekstraksi protein kedelai dimulai dengan penggilingan kedelai, pemasakan bubur kedelai, dan penyaringan bubur masak menjadi susu kedelai. Susu kedelai sebagian besar mengandung protein terlarut.


Penggilingan kedelai merupakan tahapan yang penting dalam pembuatan Tahu, sehingga tidak bisa diabaikan. Sebelum digiling kedelai direndam dalam air, dengan tujuan mendapatkan kedelai yang lunak sehingga proses penggilingan dapat berlangsung sempurna dan mendapatkan bubur kedelai yang betul-betul halus dan lembut.

Perendaman kedelai dimaksudkan untuk melunakkan struktur selular kedelai sehingga mudah digiling dan memberikan dispersi dan suspensi bahan padat kedelai lebih baik pada waktu ekstraksi. Perendaman juga dapat mempermudah pengupasan kulit kedelai akan tetapi perendaman yang terlalu lama dapat mengurangi total padatan (Sundarsih dan Yuliana Kurniaty, 2009). Dalam perendaman kedelai terjadi proses masuknya air dalam struktur selular biji kedelai, sehingga terjadi imbibisi molekul air ke dalam biji kedelai. Sehingga selama proses perendaman terjadi kenaikan berat kedelai dan berkurangnya jumlah air perendam.


Written by : Flyshgeost
thumbnail

Pengertian, Penyebab, dan Faktor Risiko Pneumonia pada Balita

Pneumonia merupakan salah satu masalah kesehatan dan penyumbang terbesar penyebab kematian anak balita (anak usia di bawah lima tahun). Pneumonia membunuh anak lebih banyak daripada  penyakit lain apapun, mencakup hampir 1 dari 5 kematian anak balita, membunuh lebih dari 2 juta anak balita setiap tahun yang sebagian besar terjadi di negara berkembang. Oleh karena  itu pneumonia disebut sebagai pembunuh anak nomor 1 (the number one killer of children). Di negara berkembang pneumonia merupakan penyakit "yang terabaikan" (the neglegted disease) atau "penyakit  yang  terlupakan" (the forgotten disease) karena begitu banyak anak yang meninggal karena pneumonia namun sangat sedikit perhatian yang diberikan kepada masalah pneumonia. Menurunkan angka kematian pada anak melalui penurunan angka kematian karena infeksi saluran napas akut, dalam hal ini pneumonia, menjadi prioritas di dunia.


Penyebab dan faktor risiko Pneumonia balita
Ilustrasi pneumonia pada balita.


Penyebab Pneumonia
Pneumonia dapat disebabkan karena infeksi berbagai bakteria, virus dan jamur. Namun, penyakit pneumonia yang disebabkan karena jamur sangatlah jarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% penyakit pneumonia disebabkan oleh bakteria. Sulit untuk membedakan  penyebab pneumonia karena virus atau bakteria. Seringkali terjadi infeksi yang didahului oleh infeksi virus dan selanjutnya terjadi tambahan infeksi bakteri. Kematian pada pneumonia berat terutama disebabkan karena infeksi bakteria.

Bakteri penyebab pneumonia tersering adalah Haemophilus influenzae (20%) dan Streptococcus pneumoniae (50%). Bakteri penyebab lain adalah Staphylococcus aureaus dan Klebsiella pneumoniae. Sedangkan virus yang sering menjadi penyebab pneumonia adalah respiratory syncytial virus (RSV) dan influenza. Jamur yang biasanya ditemukan sebagai penyebab pneumonia pada anak dengan AIDS adalah Pneumocystis jiroveci (PCP).

Data mengenai kuman penyebab pneumonia sangat terbatas. Padahal, mengetahui kuman penyebab pneumonia sangat penting untuk menyesuaikan dengan antibiotika yang akan diberikan. Penelitian Kartasasmita, dkk di Majalaya, Kabupaten Bandung pada tahun 2000 menyatakan bahwa Streptococcus pneumoniae (Pneumococcus/ pneumokokus) diduga menjadi penyebab utama pneumonia pada balita. Penelitian tersebut diperkuat dengan didapatkannya 67.8% bakteri pneumokokus dari 25% apus tenggorok yang positif dari balita yang sakit.


Faktor Risiko
Faktor risiko adalah faktor atau keadaan yang mengakibatkan seorang anak rentan menjadi sakit atau sakitnya menjadi berat. Berbagai faktor risiko yang meningkatkan kejadian,  beratnya penyakit dan kematian karena pneumonia, yaitu status gizi (gizi kurang dan gizi buruk memperbesar risiko), pemberian ASI (ASI eksklusif mengurangi risiko), suplementasi vitamin A (mengurangi risiko), suplementasi zinc (mengurangi risiko), bayi berat badan lahir rendah (meningkatkan  risiko), vaksinasi (mengurangi risiko), dan polusi udara dalam kamar terutama asap rokok dan asap bakaran dari dapur (meningkatkan risiko).

Asupan gizi yang kurang merupakan risiko untuk kejadian dan kematian balita dengan infeksi saluran pernapasan. Perbaikan gizi seperti pemberian ASI ekslusif dan pemberian mikro-nutrien bisa membantu pencegahan penyakit pada anak. Pemberian ASI sub-optimal mempunyai risiko kematian karena infeksi saluran napas bawah, sebesar 20%.

Program pemberian vitamin A setiap 6 bulan untuk balita telah dilaksanakan di Indonesia. Vitamin A bermanfaat untuk meningkatkan imunitas dan melindungi saluran pernapasan dari  infeksi kuman. Hasil penelitian Sutrisna di Indramayu (1993) menunjukkan peningkatan risiko kematian pneumonia pada anak yang tidak mendapatkan vitamin A. Namun, penelitian Kartasasmita (1993) menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna insiden dan beratnya pneumonia antara balita yang mendapatkan vitamin A dan yang tidak, hanya waktu untuk sakit lebih lama pada yang tidak mendapatkan vitamin A.

Penelitian  di  beberapa  negara  Asia  Selatan  menunjukkan bahwa suplementasi Zinc pada diet sedikitnya 3 bulan dapat mencegah infeksi saluran pernapasan bawah. Di Indonesia, Zinc dianjurkan diberikan pada anak yang menderita diare. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko untuk meningkatnya ISPA, dan perawatan di rumah sakit penting untuk mencegah BBLR. Pemberian imunisasi dapat menurunkan risiko untuk terkena pneumonia. Imunisasi yang berhubungan dengan kejadian penyakit pneumonia adalah imunisasi pertusis (DTP), campak, Haemophilus influenza, dan pneumokokus.

Faktor Risiko Pneumonia pada Balita
Faktor Risiko Pneumonia pada Balita.

Polusi udara yang berasal dari pembakaran di dapur dan di dalam rumah mempunyai peran pada risiko kematian balita di beberapa negara berkembang. Diperkirakan 1,6 juta kematian berhubungan dengan polusi udara dari dapur. Hasil penelitian Dherani, dkk (2008) menyimpulkan bahwa dengan menurunkan polusi pembakaran dari dapur akan menurunkan morbiditas dan mortalitas pneumonia. Hasil penelitian juga menunjukkan anak yang tinggal di rumah yang dapurnya menggunakan listrik atau gas cenderung lebih jarang sakit ISPA dibandingkan dengan anak yang tinggal dalam rumah yang memasak dengan menggunakan minyak tanah atau kayu. Selain asap bakaran dapur, polusi asap rokok juga berperan sebagai faktor risiko. Anak dari ibu yang merokok mempunyai kecenderungan lebih sering sakit ISPA daripada anak yang ibunya tidak merokok (16% berbanding 11%). Faktor lain yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas pneumonia adalah pendidikan ibu dan status sosio-ekonomi keluarga. Makin rendah pendidikan ibu, makin tinggi prevalensi pneumonia pada balita.

Written by : Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita, dr, SpA (K), M.Sc. (KA Divisi Respirologi Departemen Kesehatan Anak RS Hasan Sadikin Bandung).
Editor by : Flyshgeost
loading...
loading...
loading...

Copyright © Geologinesia. Powered by Blogger