Sunday, November 29, 2015

Rotavirus Sebagai Penyebab Utama Diare Pada Balita

loading...

Rotavirus Penyebab Diare Epidemik

Diare adalah gejala infeksi pada saluran pencernaan yang dapat disebabkan oleh beberapa organisme seperti bakteri, virus dan parasit. Beberapa organisme tersebut biasanya menginfeksi saluran pencernaan manusia melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh organisme tersebut (food borne disease). Beberapa jenis diare tersebut sering disebabkan oleh organisme renik seperti bakteri dan virus. Bakteri patogen seperti  E.coli, Shigella, Campylobacter, Salmonella dan Vibrio cholera merupakan  beberapa contoh bakteri patogen yang menyebabkan epidemi diare pada anak.


Kolera merupakan salah satu contoh kasus epidemik dan sering diidentikkan dengan penyebab kematian utama pada anak. Namun sebagian besar kejadian diare yang disebabkan oleh kolera terjadi pada orang dewasa dan anak dengan usia yang lebih besar. Diare cair pada anak sebagian besar disebabkan oleh infeksi rotavirus, V. cholera dan E.coli. Diare berdarah paling sering disebabkan oleh Shigela (UNICEF dan  WHO, 2009). Sedangkan diare cair akut pada anak Balita paling banyak disebabkan oleh infeksi rotavirus.


Epidemiologi Rotavirus

Rotavirus merupakan penyebab utama diare dengan dehidrasi berat pada anak Balita di seluruh dunia. Sebuah studi metaanalisis yang dilakukan oleh Parashar et al, (2009) menunjukkan bahwa infeksi rotavirus dapat menyebabkan 114 juta episode diare, 24 juta kunjungan rawat jalan, 2,4 juta kunjungan rawat inap dan 610.000 kematian balita pada tahun 2004. Diperkirakan 82% kematian akibat diare rotavirus terjadi pada negara berkembang, terutama di Asia dan Afrika, dimana akses kesehatan dan status gizi masih menjadi masalah (Binka et al., 2003).

Kajian ARSN (Asian Rotavirus Surveillance Networks) kedua yang dilakukan di beberapa negara di Asia (Cina, Taiwan, Hongkong, Vietnam, Myanmar, Thailand, Malaysia dan Indonesia) mendapatkan hasil bahwa infeksi rotavirus bertanggung jawab terhadap 45%  kejadian diare di Asia (Nelson et al., 2008). Hongkong merupakan daerah dengan prevalensi rotavirus terendah (28%), sedangkan prevalensi tertinggi terdapat di negara Vietnam (59%). Namun demikian temuan ini perlu dikaji lebih lanjut, oleh karena angka-angka tersebut merupakan hasil surveilans pada rumah sakit, dengan indikasi rawat inap pasien yang berbeda, sedangkan sebagian besar diare rotavirus dibuktikan secara konklusif, bahwa bentuk diare dan dehidrasinya berat. Dengan demikian, di rumah sakit yang kriteria rawat inap bukan hanya berdasar pada diare dan dehidrasi berat saja, maka prevalensi rotavirusnya rendah.
Infeksi Rotavirus di beberapa negara di Asia
Gambar 1. Persentasi kejadian infeksi rotavirus di beberapa negara
di Asia (Bresee, 2004).

Survei yang dilakukan di 6 rumah sakit di Indonesia melaporkan bahwa rotavirus bertanggung jawab terhadap 60% angka kejadian diare. Pada survei rumah sakit tersebut ditunjukkan, bahwa kejadian diare rotavirus terjadi sepanjang tahun, dengan kejadian tertinggi pada musim panas dan kering, yaitu sekitar bulan Juni-Agustus. Diare karena rotavirus umumnya menyerang anak pada kelompok umur 6-24 bulan, dengan puncaknya pada usia 9-12 bulan. Bayi prematur, kelompok usia lanjut, dan orang dengan gangguan sistem imun rentan terhadap infeksi rotavirus.


Pengaruh musim terhadap diare rotavirus di Indonesia
Gambar 2. Pengaruh musim terhadap diare rotavirus pada enam rumah
sakit di Indonesia (Soenarto et al., 2009).

Patofisiologi Rotavirus

Mekanisme terjadinya diare oleh infeksi rotavirus telah diketahui melalui berbagai mekanisme yang  berbeda. Mekanisme ini meliputi malabsorbsi akibat kerusakan sel usus (enterosit), toksin, perangsangan saraf enterik serta adanya iskemik pada vilus. Rotavirus yang tidak ternetralkan oleh asam lambung akan masuk ke dalam bagian proksimal usus. Rotavirus kemudian akan masuk ke sel epitel dengan masa inkubasi 18-36 jam, dimana pada saat ini virus akan menghasilkan enterotoksin NSP-4. Enterotoksin ini akan menyebabkan kerusakan permukaan epitel pada vili, menurunkan sekresi enzim pencernaan usus halus, menurunkan aktivitas Na+ kotransporter serta menstimulasi syaraf enterik yang menyebabkan diare (Ramig, 2004).

Penderita diare rotavirus dapat mengekskresi virus dalam jumlah besar, yang dapat menyebar melalui tangan yang terkontaminasi. Rotavirus merupakan virus yang tahan terhadap berbagai lingkungan, sehingga dapat ditularkan melalui berbagai benda yang terkontaminasi, air, maupun makanan. Pada iklim tropis, rotavirus pada tinja dapat bertahan hidup sampai 2 bulan. Para peneliti juga menduga bahwa rotavirus dapat ditularkan melalui udara, karena virus ini juga terdeteksi di sekresi saluran nafas pada anak yang menderita infeksi rotavirus. ( Sumber : Prof. dr. Sri Suparyati Soenarto, SpA(K), PHD, Fakultas Kedokteran UGM ).

Referensi :
Parashar, U.D.; Burton, A.; Lanata, C.; Boschi-Pinto, C.; Shibuya, K.; Steele, D.; Birmingham, M.; Glass, R.I. Global Mortality Associated With Rotavirus Disease Among Children in 2004. J Infec Dis 2009, 200 Suppl 1: S9-S15. 

Binka, F.N.; Anto, F.K.; Oduro, A.R.; Awini, E.A.; Nazzar, A.K.; Armah, G.E.; Asmah, R.H.; Hall, A.J.; Cutts, F.; Alexander, N.; Brown, D.; Green, J.; Gray, J.; Itturiza-Gomara, M.; Navrongo Rotavirus Research Group. Incidence and risk factors of paediatric rotavirus diarrhoea in northern Ghana. Trop Med Int Health 2003; 8(9):840-846. 
Nelson EA, Bresee JS, Parashar UD, Widdowson MA, Glass RI, dan Asian Rotavirus Surveillance Network. “Rotavirus epidemiology: the Asian Rotavirus Surveillance Network.” Vaccine. Jun 19;26(26):3192-6. Epub 2008 May 15. Review ( 2008). 
Bresee J, Fang ZY, Wang B, Nelson EA, Tam J, Soenarto Y, Wilopo SA, Kilgore P, Kim JS, Kang JO, Lan WS, Gaik CL, Moe K, Chen KT, Jiraphongsa C, Ponguswanna Y, Nguyen VM, Phan VT, Le  TL, Hummelman E, Gentsch JR, Glass R, dan Asian Rotavirus Surveillance Network. “First report from the Asian Rotavirus Surveillance Network.” (Emerg Infect Dis.Jun;10(6):988-95. Review) 2004. 
Soenarto Y, Aman AT, Bakri A, Waluya H, Firmansyah A, Kadim M, Martiza I, Prasetyo D, Mulyani NS,  Widowati T, Soetjiningsih, Karyana IP, Sukardi W, Bresee J, Widdowson MA. “Burden of Severe Rotavirus Diarrhea in Indonesia.” (The Journal of Infectious Diseases 200:S188–94) 2009. 
Ramig, R.F. Minireview. Pathogenesis of Intestinal and Systemic Rotavirus Infection. Journal of Virology 2004; 78(19): 10213-10220.
loading...
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner