Rabu, 25 November 2015

Pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier pada Penanggulangan Narkoba

Upaya penanggulangan narkoba dan pemakaian zat adiktif lainnya ditujukan sesuai dengan tahapan kontinum pemakaian zat itu sendiri. Terdapat konsep pencegahan, mulai dari pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier yang dapat diterapkan pada  penyakit ini (Hamilton, King dan Ritter, 2004). Pencegahan primer adalah mencegah seseorang yang sebelumnya tidak memakai zat adiktif untuk tidak mencoba atau memakai teratur. Pencegahan sekunder adalah mencegah seseorang yang sudah menggunakan agar tidak masuk ke dalam kelompok berisiko dan tidak menjadi tergantung atau adiksi. Pencegahan tersier adalah mereduksi bahaya yang timbul dari masalah-masalah penyalah guna narkoba dan adiksi, termasuk tindakan terapi dan rehabilitasi, sampai seminimal mungkin menggunakannya atau bahkan tidak menggunakan sama sekali.


Melihat besaran dan akibat pemakaian zat adiktif, meliputi rokok, alkohol dan narkoba ilisit di Indonesia, maka upaya pencegahan merupakan langkah prioritas. Menurut UNODC (2003), upaya pencegahan dengan berbagai penanganan dapat disesuaikan dengan tingkatan pemakaian zat adiktif tersebut sebagaimana terkutip pada Tabel dibawah ini.

perubahan perilaku pemakai narkoba dan zat adiktif
Tabel Tahapan Perubahan perilaku dan upaya penanganan pemakai zat adiktif (Sumber: ESCAP 2000; Swadi 2000 (dikutip dari UNODC, 2003 hal.6 ).

UNODC (2003) menyatakan bahwa deteksi dini merupakan langkah krusial pada kelompok individu yang berisiko tinggi. Upaya ini dianjurkan untuk dilakukan dalam tatanan pelayanan  kesehatan  primer. Orang yang dapat membantu mendeteksi pemakaian zat adiktif diantaranya adalah keluarga, teman, sebaya, tetangga, atau bahkan penemu kasus di tatanan publik di lapangan misalnya petugas kesehatan, pekerja sosial, polisi, dan petugas hukum lain.


Salah satu upaya pengenalan dini kasus adalah dengan penjangkauan (outreach), yang menggapai pemakai narkoba dan zat adiktif lainnya yang tidak kontak dengan fasilitas pelayanan penyalahgunaan narkoba. UNODC (2003) mengutarakan beberapa pokok penting dalam penjangkauan ini yaitu:
  1. Merupakan pendekatan yang fleksibel dan tidak konvensional, diluar lingkungan sosial dan formal kesehatan.
  2. Meningkatkan akses, motivasi, dan dukungan bagi pemakai zat adiktif.
  3. Menggapai pemakai narkoba dan zat adiktif lainnya yang tidak dalam penanganan, 4. Meningkatkan rujukan untuk penanganan.
  4. Mereduksi perilaku pemakaian zat adiktif ilisit (UNODC, 2003: hal.9).

Mengingat bahwa pemakaian Narkoba dan zat adiktif lainnya sangat berbeda prevalensi maupun pola pemakaiannya pada laki-laki dan perempuan, maka baik upaya deteksi dini maupun penjangkauan seyogyanya mempertimbangkan faktor gender. Berdasarkan analisis data sekunder di Indonesia, terungkap bahwa kepada laki-laki dapat lebih ditekankan pendekatan individu, sedangkan pendekatan kelompok maupun keluarga terlihat lebih memberikan hasil pada perempuan pemakai narkoba dan zat adiktif lainnya (Sabarinah, 2009).

Referensi:
Hamilton, Ritter. 2004, Drug Use in Australia, 2nd ed. Oxford University Press, Melbourne.
UNODC. 2003, Adolescent Substance Use: Risk and Protection. United Nations, New York.
Sabarinah. 2009, Dimensi Gender Kelangsungan Pemakaian Narkoba: Penelitian di 17 Provinsi di Indonesia Tahun 2008. Disertasi Program Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok.

Written by:
Dr. dr. Sabarinah Prasetyo, MSc (Pusat Penelitian Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI) dan Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS (Deputi Terapi dan Rehabilitasi Narkoba, BNN, Jakarta).