Sabtu, 14 November 2015

Fasies Gunungapi berdasarkan Stratigrafi

Seperti yang kita ketahui, fasies gunung api terdiri atas fasies sentral, fasies proksimal, fasies medial, dan fasies distal. Pada gunung api muda, berumur Kuarter - masa kini, pembagian fasiesnya relatif mudah karena didukung oleh bentuk bentang alam berupa kerucut komposit yang masih sangat jelas. Fasies sentral terletak di daerah puncak, fasies proksimal di lereng atas, fasies medial di lereng bawah, dan fasies distal berada di kaki dan dataran di sekelilingnya. Sedangkan untuk gunungapi purba, berumur Tersier atau lebih tua, dimana bentuk kerucut kompositnya sudah tidak jelas, sehingga identifikasi fasies gunungapi perlu diteliti berdasarkan pada pendekatan analisis inderaja-geomorfologi, stratigrafi batuan gunungapi, vulkanologi fisik, struktur geologi, serta petrologi-geokimia. Pembahasan kali ini akan akan lebih fokus kepada identifikasi Fasies Gunungapi berdasarkan Stratigrafi Batuan Gunungapi.

Fasies Sentral ; fasies ini sebenarnya merupakan bukaan keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan. Oleh sebab itu daerah ini akan dicirikan oleh asosiasi batuan beku yang berupa kubah lava dan berbagai macam batuan terobosan semi gunung api (subvolcanic intrusions) seperti halnya leher gunung api (volcanic necks), sill, retas, dan kubah bawah permukaan (cryptodomes). Batuan terobosan dangkal tersebut dapat ditemukan pada dinding kawah atau kaldera gunung api masa kini, atau pada gunung api purba yang sudah tererosi lanjut. Selain itu, karena daerah bukaan mulai dari conduit atau diatrema sampai dengan kawah merupakan lokasi terbentuknya fluida hidrotermal, maka hal itu mengakibatkan terbentuknya batuan ubahan atau bahkan mineralisasi. Apabila erosi di fasies sentral ini sangat lanjut, batuan tua yang mendasari batuan gunung api juga dapat tersingkap.

Fasies Proksimal ; fasies ini merupakan kawasan gunung api yang paling dekat dengan lokasi sumber atau fasies pusat. Asosiasi batuan pada kerucut gunungapi komposit sangat didominasi oleh perselingan aliran lava dengan breksi piroklastika dan aglomerat (Gambar 1 dan 2). Kelompok batuan ini sangat resistan, sehingga biasanya membentuk timbulan tertinggi pada gunungapi purba.

Baca juga artikel lainnya dibawah ini yang membahas mengenai "Gunungapi" :


Aliran lava dan breksi gunungapi
Gb 1. Perlapisan aliran lava dan breksi gunungapi pada fasies proksimal G. Galunggung.

Aliran lava bagian dari fasies proksimal Gunungkidul
Gb 2. Perlapisan aliran lava bagian dari fasies proksimal gunung api Tersier Gunungkidul.

Fasies Medial ; karena sudah lebih menjauhi lokasi sumber, aliran lava dan aglomerat sudah berkurang, tetapi breksi piroklastika dan tuf sangat dominan, dan breksi lahar juga sudah mulai berkembang. Sebagai daerah pengendapan terjauh dari sumber.

Fasies Distal ; fasies ini didominasi oleh endapan rombakan gunung api seperti halnya breksi lahar, breksi fluviatil, konglomerat, batupasir, dan batulanau. Endapan primer gunung api di fasies ini umumnya berupa tuf. Ciri-ciri litologi secara umum tersebut tentunya ada kekecualian apabila terjadi letusan besar sehingga menghasilkan endapan aliran piroklastika atau endapan longsoran gunung api yang melampar jauh dari sumbernya. Pada pulau gunung api ataupun gunung api bawah laut, di dalam fasies distal ini batuan gunung api dapat berselang-seling dengan batuan non gunung api, seperti halnya batuan karbonat.

Written by: Flyshgeost
Sumber: Sutikno Bronto, dalam Jurnal Geologi Indonesia, Vol 1 No.2, Juni 2006.