Wednesday, November 11, 2015

Amalgamasi Tidak Langsung meningkatkan Perolehan Emas

Kebutuhan dunia akan emas pada saat ini cukup meningkat seiring dengan kemajuan teknologi,  kecerdasan masyarakat, dan pengalaman pengolahan bijih emas. Emas merupakan salah  satu  sumberdaya bahan galian (mineral) yang bersifat sekali ambil akan habis (non renewable  resources), dan tidak dapat diperbaharui atau dipulihkan kembali. Untuk itu diperlukan  pengelolaan yang yang tepat dan terencana, serta memperhatikan konservasi mineral untuk generasi yang akan datang. Penambangan emas biasa dilakukan secara selektif untuk memilih bijih yang mengandung emas, baik yang  berkadar rendah maupun yang berkadar tinggi.

Hasil penambangan bijih emas yang berkadar tinggi diolah dengan metode amalgamasi, yaitu proses pengikatan logam emas dari bijih dengan menggunakan merkuri (Hg) dalam tabung yang disebut sebagai gelundung  (amalgamator). Masalah utama yang timbul pada kegiatan penambangan emas skala kecil adalah pemborosan sumberdaya mineral dan terjadinya degradasi lingkungan. Pemborosan sumberdaya mineral terjadi karena hanya bijih emas kadar tinggi yang diambil untuk diolah dengan metode amalgamasi secara langsung. Perolehan emas yang rendah (<60 %) serta merkuri (Hg) dan logam-logam berat lainnya yang terbuang cukup besar, dan bijih emas kadar rendah ditimbun disekitar lubang tambang. Untuk lebih memahami tentang "pembentukan emas" silahkan baca juga artikel terkait dibawah ini:
Diagram Alir Metode Amalgamasi Langsung
Gambar 1. Metode Amalgamasi Langsung.

Amalgamator selain berfungsi sebagai tempat proses amalgamasi juga berperan dalam mereduksi ukuran bijih emas dari yang berukuran kasar (<1cm) hingga  menjadi berbutir halus (80 - 200 mesh) dengan media gerus berupa batangan besi. Amalgamator tersebut dapat diputar dengan tenaga penggerak air sungai melalui kincir atau tenaga listrik (dinamo). Selanjutnya dilakukan pencucian dan pendulangan untuk memisahkan  amalgam (perpaduan  logam emas/perak dengan  Hg) dari ampas (tailing). Amalgam yang diperoleh diproses melalui pembakaran (penggebosan) untuk memperoleh perpaduan logam emas-perak (bullion). Selanjutnya dilakukan pemisahan antara logam emas (Au) dari logam perak (Ag) dengan menggunakan larutan perak nitrat.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil proses amalgamasi pada “pertambangan rakyat” menimbulkan berbagai permasalahan. Di samping terjadinya pemborosan sumberdaya mineral, juga menimbulkan terjadinya degradasi lingkungan. Terjadinya pemborosan sumberdaya mineral karena banyak logam emas yang terbuang bersama dengan  ampas (tailing) yang tercermin oleh tingkat perolehan (recovery) logam emas yang masih rendah (<60%), walaupun secara teoritis tingkat perolehan emas dalam amalgamasi jarang melebihi  85%  (Sevruykov et al, 1960). Akibat penggunaan metode amalgamasi cara langsung ini timbul  permasalahan, yaitu perolehan emas yang rendah dan kehilangan merkuri yang cukup tinggi. Kehilangan merkuri yang cukup tinggi ini telah mencemari air sungai yang ada disekitar lokasi penambangan.

Berdasarkan hal tersebut, telah dilakukan penelitian untuk mengupayakan meningkatkan perolehan emas dengan melakukan pengolahan bijih emas metode amalgamasi tidak langsung. Tujuannya adalah meningkatkan Perolehan Emas, sehingga kandungan emas yang ada dalam ampas (tailing) hasil pengolahan metode amalgamasi menurun, serta mengurangi adanya dampak pencemaran air raksa dan logam-logam berat lainnya. Penelitian menggunakan bahan dan peralatan yang sama seperti yang dilakukan oleh pertambangan rakyat. Bahan percobaan menggunakan bijih emas berukuran <1cm dengan kadar 8,4 gr/t dan 10,32 gr/t, merkuri, kapur tohor, borax, soda abu, dan perak nitrat. Sementara peralatan  amalgamasi menggunakan gelundung (amalgamtor)  dengan tenaga penggerak kincir air, pendulang (pan), dan retorting.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perolehan emas (Au) sebesar 38,40-47,98% untuk cara langsung dan 44,43-53,33% untuk cara tidak langsung. Kehilangan air raksa (Hg) sebesar 6,13-8,06% untuk cara langsung dan 4,13-5,26% untuk cara tidak langsung. Berdasarkan hasil percobaan terlihat adanya kecenderungan kenaikan perolehan emas hingga 14,58%, dan menurunkan kehilangan air raksa hingga 3,93%. Hasil percobaan pengolahan bijih emas dengan metode amalgamasi tidak langsung ini diharapkan dapat diterapkan pada pertambangan rakyat maupun dalam industri pertambangan emas.

Diagram Alir Metode Amalgamasi Tidak Langsung
Gambar 2. Metode Amalgamasi Tidak Langsung.
Keterangan gambar, pada Tahap 1 dan Tahap 2:
Tahap pertama dilakukan penghalusan ukuran butir dalam amalgamator selama 7 jam, kemudian baru tahap kedua, yaitu amalgamasi selama 2 jam. Pada tahap amalgamasi ini, dilakukan pengurangan berat media giling 40-50%, ditambahkan air untuk mendapatkan persentase pulp (adonan) menjadi 30- 40%, dimasukkan merkuri dan dilakukan pengecekan pH (9-10). Setelah persiapan pengolahan selesai, amalgamator diputar kembali dengan kecepatan putar sekitar 40 rpm. Pengurangan berat media giling dan kecepatan putar bertujuan agar proses yang terjadi hanya proses pengadukan (agitasi), bukan proses penggerusan. Hasil amalgamasi baik cara langsung maupun tidak langsung sama-sama berupa amalgam.

Written by : Widodo, Aminuddin (Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI), Editor by Flyshgeost.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner