Tuesday, October 6, 2015

Perbandingan Perhitungan Sumberdaya Nikel Laterit

loading...
Banyak jalan menuju ke Roma dalam melakukan perhitungan sumberdaya nikel laterit apabila kita belum bisa menggunakan softwere-softwere perhitungan sumberdaya (Surpac, Surfer, Rockworks, Minescape, dan lain-lain), selain itu perhitungan dengan menggunakan softwere membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai merilis data sumberdaya suatu area. Oleh karena itu, cara manual dapat kita tempuh dengan melakukan perhitungan yang lebih sederhana, cepat, dan presisi (hasilnya tidak jauh berbeda dengan menggunakan softwere).

Metode Perhitungan Sumberdaya Nikel

Ada 3 metode yang bisa kita pakai untuk menghasilkan data sumberdaya, yaitu metode Macro ( individual holes ), Voronoi, dan V&D (untuk tutorialnya akan saya jelaskan pada posting berikutnya). Dibawah ini saya akan menyajikan ringkasan perbedaan perhitungan sumberdaya dengan menggunakan ketiga metode tersebut, kelebihan dan kekurangannya silahkan dianalisa, kritik dan saran untuk pengembangan metode ini silahkan diungkapkan.


Setelah dilakukan analisa data terhadap mekanisme metode Macro/individual holes dalam perhitungan sumberdaya nikel laterit maka dapat dikatakan bahwa metode ini memproses perhitungan berdasarkan area pengaruh secara individual holes pada kondisi konstanta perhitungan yang ideal, lihat perbandingan dibawah ini :

Dibuat spreadsheet dalam kondisi ideal, dimana memakai 4 titik (4 hole) dibandingkan dengan perhitungan blok kubus. Dimana dibuat konstanta OT (ore thickness), WTF (wet tonnage factor/wet density), area pengaruh, dan elevasi yang sama. Dari hasil perbandingan tersebut (tonnage blok kubus =68,000 mT & Macro = 68,184 mT)  dapat terlihat tingkat akurasi macro adalah 99.7% jika dalam kondisi ideal.

Dibuat spreadsheet dalam kondisi dimana memakai 4 titik (4 hole), dimana dibuat konstanta 1 buah titik (hole) mempunyai internal waste, sedangkan WTF, area pengaruh, dan elevasinya sama. Dari hasil perbandingan tersebut (tonnage Kubus = 127,500 mT dan Macro = 127,845 mT) dapat terlihat tingkat akurasi Macro masih berada di 99.7% pada kondisi adanya internal waste. Mengacu pada hasil tersebut, dapat disiumpulkan bahwa yang sangat berperan dalam model tersebut adalah elevasi dan ore thickness (OT).

Blok kubus konstanta kompleks
Gambar blok kubus dengan konstanta kompleks.
Gambar diatas menunjukkan bahwa kondisi Titik A1 dan A2 yang berbeda baik elevasi maupun OT nya, sehingga diperoleh beberapa bangun/kubus yang harus dihitung sedetail mungkin untuk memperoleh akurasi perhitungan sumberdaya yang presisi.


Berdasarkan hat tersebut, dibutuhkan geology factor (GF) untuk menambah tingkat akurasi perhitungan. Besarnya geology factor bisa didapatkan dengan menghitung rata-rata prosentase dari selisih perhitungan volume pada block model sederhana yang dibuat oleh surpac terhadap metode macro pada beberapa kondisi ekstrim seperti OT pada 2 titik yg berbeda, pada 2 titik dimana salah satu titik mengandung internal waste dan elevasi yang berbeda atau bahkan pada kondisi ekstrim dengan sudut kemiringan tertentu.

Yang dimaksud dengan perbandingan disini adalah dengan menggunakan metode macro/individual hole sebagai sumber data untuk menghitung sumberdaya nikel laterit disebandingkan dengan metode Voronoi dan metode Voronoi+Digitasi (V&D) agar tidak terjadi over estimasi ROM yang biasa terjadi pada metode Macro. Dari perhitungan ke tiga metode diatas dengan menggunakan data bor maka diperoleh perbedaan perhitungan sumberdaya, hasilnya dapat dilihat sebagai berikut :

Perhitungan Sumberdaya Nikel Blok Andromeda

Dari 8 hole di Blok Andromeda diperoleh 6 hole merupakan prospek ore. Pendiskripsian hole-hole yang prospek ini sudah tentu dengan memperhatikan striping ratio (SR), OT dan Average Ni (avg Ni). Hole yang dianggap tidak prospek akan disingkirkan dari perhitungan ini. Dengan kata lain, apabila ingin mengetahui sumberdaya hipotetik maka pengolahan data seluruh hole bisa dilakukan tanpa memperhatikan SR, OT, dan Avg Ni. Tetapi apabila kita inginkan perhitungan yang lebih spesifik maka metode inilah yang harus digunakan (pahami pengertian dan macam-macam klasifikasi sumberdaya).

Dari analisa ini akan diperoleh Luas Area Pengaruh (LAP) dari Hole-hole yang prospek tersebut. Sedangkan Metode V&D diperoleh dengan cara melakukan digitasi kembali area pengaruh sesuai dengan interpretasi geology dengan memperhatikan sebaran OT yang dihasilkan dari distribusi secara lateral hasil eksekusi macro. Diperoleh sumberdaya Blok Andromeda : Metode Macro = 133,671.81, Metode Voronoi  = 181,441.14, Metode V&D  = 161,546.10

Dapat dilihat bahwa nilai pada metode Voronoi cenderung lebih besar, hal ini dikarenakan Luas Area Pengaruh (LAP) pada metode ini lebih besar dibandingkan dengan luas area pengaruh pada metode Macro. Kondisi ini sudah tentu berpengaruh pada Metode V&D akan tetapi metode V&D nilainya masih berada dibawah metode Voronoi karena adanya interpretasi (Koreksi Luas Area Pengaruh). Dapat dikatakan bahwa metode Voronoi cocok dipakai pada data dengan spasi pemboran yang lebih spesifik seperti spasi 25m atau spasi 12.5m. Pada spasi pemboran yang random akan lebih efektif jika menggunakan metode macro yang cenderung berdasarkan individual holes area pengaruh dengan spasi konstan yang bisa dibuat pada saat menjalankan macro (misalnya spasi 50m maka LAP nya akan berada pada 50x50m).

Perhitungan Sumberdaya Nikel Block Orion

Dasar penghitungan sama dengan di Blok Andromeda dengan COG 1.8% Ni, dimana pada blok ini diperoleh 3 zona ore yang terpisah, diperoleh hasil sebagai berikut : Metode Macro = 687,233.16 mT, Metode Voronoi = 832,601.75 mT, Metode V&D  = 604,190.92 mT.

Dari review diatas diperoleh bahwa metode V&D lebih kecil dari 2 metode lainnya. Dapat dilihat bahwa metode ini mungkin akan lebih cocok digunakan pada spasi pemboran 50m dimana secara tidak langsung terjadi penggabungan metode Macro dan Voronoi. Metode macro sangat sulit untuk mencari area pengaruh pada titik pemboran yang berada dibawah spasi 50m tapi tidak sejajar (titik pemboran yg acak ada yg jarak 50m, 40m, 30m dsb), sehingga dibutuhkan metode voronoi untuk mencari statistik Luas Area Pengaruh (LAP). Sedangkan Metode Voronoi masih tetap tidak konsisten pada spasi 50m khususnya pada hole-hole terluar yang nantinya LAP nya akan membesar.


Total sumberdaya nikel laterit pada kedua Blok tersebut diatas berdasarkan 3 Metode yaitu Metode Macro = 820,904.97 mT, Metode Voronoi = 1,014,042.89 mT, Metode V&D = 765,732.02 mT. Pada metode Macro jika ingin dilakukan perhitungan sumberdaya yang lebih spesifik atau lebih dari sekedar sumberdaya hipotetik maka diperlukan orientasi hole-hole prospek yang memenuhi aspek SR, OT, dan Avg Ni. Menggunakan Metode Voronoi pada spasi pemboran 50m ke atas akan menyebabkan Luas Area Pengaruh (LAP) khususnya pada hole-hole terluar dari Boundary menjadi lebih luas. Hal ini akan mengakibatkan over estimasi. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan Metode penggabungan (metode V&D).

Sumberdaya keseluruhan tiap metode pada Blok Andromeda dan Blok Orion bisa dibandingkan dengan perhitungan menggunakan Surpac untuk mendapatkan Geology Factor (GF) dari metode ini. Perbandingan harus dilakukan dengan syarat validasi data bor yang sama baik COG, layer ore dan WTF yang dipakai saat pengolahan data di Surpac. Pada akhirnya diketahui metode mana yang mendekati perhitungan menggunakan Surpac.

Diperlukan interpretasi khusus pada saat menentukan hole-hole prospek baik dari sisi SR, OT, maupun avg Ni. Sebaiknya ini didiskusikan dengan estimator yang menggunakan surpac mengenai gambaran SR, OT, maupun Ni yang prospek untuk ditambang, agar didapatkan parameter interpretasi yang lebih baik. Perhitungan dengan metode diatas dilakukan apabila data bor sudah benar-benar tervalidasi dengan baik dan menghasilkan parameter range WTF yang tepat. Oleh sebab itu pengambilan data pada saat ekplorasi khususnya pada core recovery dan berat sample wet sangat penting diperhatikan karena sangat berpengaruh pada perhitungan WTF dan Volume. Perhitungan tonnage OB (overburden) juga bisa dilakukan dengan metode diatas dimana pada pengolahan macro bisa didapatkan density dari OB dengan cara hanya memasukan layer OB saja, atau dengan memakai asumsi density umum OB=1.6.
loading...
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner