Friday, October 2, 2015

Mineralisasi dan Alterasi pada Batuan Metamorf

Mineralisasi pada batuan metamorf sangat menarik untuk di investigasi. Komplesitas yang mempengaruhinya merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk memecahkan mekanisme pembentukan dan keberadaanya. Banyak faktor yang berperan untuk menghasilkan mineralisasi yang bernilai ekonomis pada batuan metamorf, diantaranya adalah tektonik dan fasies metamorf itu sendiri. yang perlu digarisbawahi disini adalah apakah mineralisasi yang terjadi merupakan produk sebelum, bersamaan, ataukah sesudah batuan metamorf itu terbentuk. Dibawah ini saya sajikan sebuah ringkasan hasil investigasi lapangan yang di "compile" dengan beberapa teori, walaupun sangat singkat (mempertimbangkan privasi data perusahaan), diharapkan ini dapat membantu kita dalam menganalisa mineralisasi yang bernilai ekonomis pada batuan metamorf (Orogenic Minerals Deposite).

Baca juga : Mineralisasi emas pada komplek ofiolit

Teori Mineralisasi pada Batuan Metamorf

Sabuk metamorfik adalah daerah kompleks dimana terdapat akresi dan kolisi dan melibatkan kerak benua. Proses tektonik yang terjadimerupakan skala litosferik, keterlibatan temperatur dan tekanan, dikarenakan oleh proses magmatik pada busur depan dengan asosiasi prisma akresi dan cekungan ekstensional pada bagian busur belakang, deformasi dan metamorfosa umumnya berasosiasi dengan magmatisme granitoid plutonik, dan pengangkatan serta erosi yang diikuti pembentukan cekungan dimana material sedimen dapat terakumulasi.

Endapan emas dapat terbentuk pada berbagai tingkat dari evolusi orogenik, sehingga muncul sabuk metamorfik yang mengandung bermacam-macam tipe endapan yang dapat saling sejajar atau memotong. Groves et al. (2003) membedakan endapan emas yang terbentuk pada sabuk metamorfik selama proses orogen pada fase kompresi berdasar genesa dan bentuk geometri. Tipe-tipe endapan tersebut antara lain, endapan emas orogenik, endapan emas yang berasosiasi dengan intrusi, dan endapan emas yang berasosiasi dengan logam dasar.

Baca juga : Potensi endapan emas kelian di Indonesia

Mineralogi, Geokimia, dan Tatanan Tektonik

Keseluruhan Daerah penelitian mempunyai litologi batuan metamorf yang terdiri atas Satuan Batuan Schist dan Satuan Batuan Gneiss. Batuan asal ini mengindikasikan telah terjadinya akresi dan koalisi yang melibatkan kerak benua akibat aktivitas tektonik yang melibatkan temperatur dan tekanan pada skala litosferik.

Kodisi geologi di daerah penelitian yang tersusun atas batuan schist dan gneiss terbentuk akibat metamorfisme regional. Terdapat kontrol struktur yang kuat terhadap proses mineralisasi dengan skala yang bervariasi. Struktur yang dijumpai di lapangan diantaranya :
  1. Patahan brittle hingga ductile dengan zona hancuran yang intensif akibat sesar regional, dan pergerakan bidang sesar geser
  2. Zona breksiasi pada batuan
  3. Zona foliasi, rekahan yang terbentuk akibat tekanan dan terisi oleh mineral silika
Berdasarkan kenampakan diatas serta berbagai aspek geologi yang mempengaruhinya maka bentuk mineralisasi di daerah penelitian adalah Veins Filling Faults. Bentukan mineralisasi seperti ini sebenarnya sangat prospek terhadap cebakan emas, akan tetapi karena keterdapatannya pada skala struktur yang lokal tingkat stadia daerah yang muda, serta intensif weathering pada batuan asal menyebabkan endapan emas sulit dijumpai.

Fasies Metamorf dan Alterasi Batuan Samping

Endapan emas pada batuan metamorf tentunya berkaitan dengan proses metamorfosa yang menghasilkan batuan metamorf. Endapan emas di daerah penelitian berasal dari batuan asal yang terbentuk karena proses metamorfosa regional membentuk batuan metamorf Fasies Sekis Hijau, dimana derivite pelitiknya berasal dari batuan schist yang tercirikan oleh sekistositas karena orientasi terpilih atau terarah dari mineral mika dan khlorit.

Baca juga : Sejarah dan potensi emas aluvial di Indonesia

Di daerah penelitian, batuan metamorf menunjukkan zonasi lateral pada fase alterasi dari proksimal yang mencapai skala endapan yang tidak terlalu luas. Alterasi yang dapat terlihat di daerah penelitian adalah kloritisasi (lihat gambar 1b). Diperkirakan zona alterasi terbentuk pada fase awal zona sesar lokal dan dikontrol struktur skala besar (Sesar Kolaka). Kehadiran metasomatisme alkali menyebabkan proses serisitisasi sulit dijumpai. Kloritisasi Klorit muncul hadir bersama-sama dengan kuarsa dalam bentuk kumpulan mineral. Perkembangan mineral klorit dapat dihasilkan dari alterasi mineral mafik yang ada pada batuan asal atau dari magnesium dan besi yang ada sebelumnya.

Endapan emas di daerah penelitian kemungkinan dicirikan dengan sistem urat dominan kuarsa. Mineral mika dan klorit sering menjadi pengotor pada urat yang ditemukan pada batuan pembawa fasies sekis hijau. Oleh karena dipengaruhi oleh struktur yang lokal maka sistem urat tidak terlihat pada dimensi yang besar sehingga keterdapatan cebakan emas juga hanya sedikit. Perbandingan emas dengan bijih yang terdapat pada urat dan pada batuan samping belum bisa diperoleh, karena belum dilakukan pengiriman sampel untuk analisa mineralogi. Berdasarkan megaskopis mineralogi sementara dari hasil sample stream dan "sample chips", memperlihatkan adanya mineral berat seperti Ilmenite, Chromite, Arsenopirit, Au, dan Pb.

Berdasarkan dari parameter diatas maka dapat digolongkan bahwa tipe dari endapan emas di daaerah penelitian adalah Endapan Emas Orogenik Lokal yang terbentuk akibat kontrol metamorfosa regional terhadap struktur lokal. Berdasarkan dari fasies metamorfisme batuan pembawa emas maka zona endapan emas di daerah penelitian masuk dalam zona Mesozonal pada kedalaman 6-12 Km dengan temperatur 300-475 C (lihat gambar 1d).

Penyelidikan endapan emas orogenik
Gambar 1. Penyelidikan endapan emas orogenik, (a) foliasi schist, (b) batuan fasies sekis hijau,
(c) pan concentrate, (c) zona endapan emas orogenik, Gebre Mariam et al, 1995).

Berdasarkan dari hasil survey potensi emas metamorfik di daerah penelitian maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
  1. Litologi penyusun daerah penelitian terbagi atas 2 satuan batuan yaitu Satuan Batuan Schist dan Satuan Batuan Gneiss. Struktur Geologi yang berkembang di daerah penelitian terdiri atas Struktur Sesar Normal, Sesar Geser, dan Lipatan.
  2. Ditemukan zona mineralisasi hanya pada daerah sepanjang sesar geser dengan arah relatif tenggara barat laut, sepanjang sungai X. Secara megaskopis hasil sample stream sedimen dan "sample chips", endapan emas terlihat dalam jumlah yang tidak terlalu signifikan. Mineral yang terlihat diantaranya adalah Ilmenite, Chromite, Arsenopirit, Au, dan Pb.
  3. Tipe endapan emas yang dijumpai merupakan Endapan Emas Orogenik Lokal yang terbentuk akibat kontrol metamorfosa regional terhadap struktur lokal (Sesar Geser). Fasies metamorfik yang terjadi tergolong dalam fasies sekis hijau dimana berada pada zona ”mesozonal” dengan kedalaman 6-12 Km dengan temperatur 300-475 C. Alterasi batuan samping yang dapat terlihat di daerah penelitian hanya berupa kloritisasi. Kloritisasi hadir bersama-sama dengan kuarsa dalam bentuk kumpulan mineral.
    Secara umum potensi emas pada daerah ini kurang prospek untuk dilakukan pengcoveran wilayah IUP, hal ini dikarenakan tipe emas seperti ini cenderung mempunyai deposit yang bagus pada kontrol struktur yang regional. Sedangkan di daerah penelitian kontrol struktur yang terjadi hanya bersifat lokal. Untuk prospek tambang berskala menengah sampai tinggi, lahan ini tidak di rekomendasikan. Perlu dilakukan pencarian lahan yang sekiranya lebih dekat dengan jalur stuktur regional dengan jenis batuan metamorf yang bertekstur schistose, dimana keduanya ini sangat mempengaruhi keterdapatan endapan emas metamorfik yang lebih prospek.
      NEXT ARTICLE Next Post
      PREVIOUS ARTICLE Previous Post
      NEXT ARTICLE Next Post
      PREVIOUS ARTICLE Previous Post
       

      Delivered by FeedBurner