Sabtu, 24 Oktober 2015

Malaria adalah penyakit yang mengancam jiwa

Fakta Penting
Malaria adalah penyakit yang mengancam jiwa, disebabkan oleh parasit yang ditularkan ke orang melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi. Sekitar 3,2 miliar orang (hampir setengah dari populasi dunia) berada pada risiko malaria. Anak-anak, wanita hamil dan wisatawan yang tidak kebal (sebelumnya berada di daerah bebas malaria) sangat rentan terhadap penyakit ini ketika mereka memasuki wilayah endemik malaria. Malaria dapat dicegah dan disembuhkan, melalui upaya pencegahan dini secara terpadu. Secara global, antara tahun 2000-2015, kejadian malaria (tingkat kasus baru) turun 37%. Dalam periode yang sama, angka kematian karena malaria juga turun 60%  pada semua kelompok usia, dan 65% pada anak-anak di bawah 5 tahun. Afrika (khususnya di Sahara) merupakan daerah penyebaran malaria yang paling tinggi. Pada 2015, wilayah ini adalah rumah bagi 89% kasus malaria dan 91% terjadi kematian karena malaria.
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium. Parasit yang menyebar ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Ada 5 spesies parasit yang menyebabkan malaria pada manusia, akan tetapi hanya 2 spesies utama yang sangat menimbulkan ancaman besar yaitu P. falciparum dan P. vivax. P. falciparum adalah parasit malaria yang paling umum di benua Afrika. Spesies parasit tesebut bertanggung jawab terhadap sebagian besar kematian akibat malaria secara global. sedangkan P. vivax memiliki penyebaran yang lebih luas daripada P. falciparum, dan mendominasi di banyak negara di luar Afrika.

Gejala
Malaria adalah penyakit demam akut. Dalam individu tanpa kekebalan (non-imun), gejala muncul 7 hari atau lebih (biasanya 10-15 hari) setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit (P. falciparum ataupun P. vivax). Gejala pertama biasanya terjadi demam, sakit kepala, menggigil dan muntah. Gejala ini biasanya terlihat ringan dan sulit diidentifikasi sebagai penyakit malaria. Jika tidak ditangani dalam waktu 24 jam, P. falciparum malaria dapat berkembang menjadi penyakit parah, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Anak-anak dengan malaria berat sering mengalami gejala seperti anemia berat dan gangguan pernapasan (berhubungan dengan asidosis metabolik). Di daerah endemik malaria, orang dapat mengalami kekebalan parsial, sehingga memungkinkan infeksi yang terjadi tanpa gejala.

Pada 2015, sekitar 3,2 miliar orang diseluruh dunia berisiko terinfeksi penyakit malaria. Sebagian besar kasus malaria dan kematian terjadi di Afrika. Namun, Asia, Amerika Latin, Timur Tengah dan sebagian Eropa, juga berisiko. Beberapa kelompok berisiko lebih tinggi tertular malaria, ini termasuk bayi, anak-anak di bawah 5 tahun, wanita hamil dan pasien dengan HIV / AIDS, serta wisatawan non-imun. Program pengendalian malaria nasional bahkan global perlu mengambil langkah-langkah khusus untuk melindungi kelompok populasi tersebut dari infeksi malaria, dengan mempertimbangkan keadaan khusus mereka.

Penularan
Dalam kebanyakan kasus, malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Ada lebih dari 400 spesies berbeda dari nyamuk Anopheles; sekitar 30 merupakan pembawa malaria ("vektor malaria") yang sangat penting. Semua spesies vektor menggigit antara sore-pagi. Intensitas penularan tergantung pada faktor-faktor yang berhubungan dengan parasit, vektor, manusia, dan lingkungan.

Nyamuk Anopheles bertelur di air, yang kemudian menetas menjadi larva, akhirnya muncul sebagai nyamuk dewasa. Nyamuk betina mencari makan berupa darah untuk memelihara telur mereka. Setiap spesies nyamuk Anopheles memiliki habitat perairan yang disukainya sendiri; misalnya, beberapa lebih suka di daerah sempit, dangkal, dan merupakan air tawar (contohnya genangan air).
Penularan lebih intens di tempat-tempat di mana umur nyamuk lebih panjang (karena parasit memiliki waktu untuk menyelesaikan perkembangannya dalam nyamuk), dan dimana ia lebih suka menggigit manusia. Umur nyamuk yang panjang dan kebiasaan menggigit manusia merupakan tipe nyamuk dari "spesies vektor" di Afrika. Inilah alasan utama mengapa hampir 90% kasus malaria di dunia terjadi di Afrika.

Penularan juga tergantung pada kondisi iklim yang dapat mempengaruhi jumlah dan kelangsungan hidup nyamuk, seperti pola curah hujan, suhu dan kelembaban. Di banyak tempat, penularan bersifat musiman, dengan puncaknya selama dan setelah musim hujan. Epidemi malaria dapat terjadi pada saat perubahan iklim di daerah di mana orang memiliki sedikit atau tidak adanya kekebalan terhadap malaria. Kekebalan manusia merupakan faktor penting, terutama dikalangan orang dewasa yang berada di daerah penularan sedang-intens. Kekebalan parsial dapat terjadi selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah memberikan perlindungan yang lengkap.

Pencegahan
Pengendalian "vektor" adalah cara utama untuk mencegah dan mengurangi penularan malaria. Jika cakupan intervensi pengendalian vektor dalam wilayah tertentu cukup tinggi, maka perlindungan akan terjadi di masyarakat. WHO merekomendasikan perlindungan bagi semua orang berisiko malaria dengan efektif mengendalikan "vektor malaria". Dua bentuk pengendalian vektor yaitu kelambu berinsektisida dan penyemprotan dengan insektisida residual.
Kelambu berinsektisida (ITN)
Jaring insektisida tahan lama (LLINs) adalah bentuk yang diinginkan dari ITN untuk program kesehatan masyarakat. WHO merekomendasikan cakupan LLINs untuk semua orang yang berisiko malaria. Cara yang paling efektif untuk mencapai ini adalah dengan memberikan LLINs gratis. Secara paralel, strategi komunikasi perubahan perilaku yang efektif diperlukan untuk memastikan bahwa semua orang berisiko malaria tidur di bawah LLINs setiap malam.
Penyemprotan ruangan dengan insektisida residual
Penyemprotan ruangan (IRS) dengan insektisida adalah cara yang ampuh untuk mengurangi penularan malaria. Penyemprotan efektif dilakukan setiap 3-6 bulan sekali, tergantung pada formulasi insektisida yang digunakan dan jenis permukaan yang disemprotkan.

Obat antimalaria juga dapat digunakan untuk mencegah malaria. Untuk wisatawan, malaria dapat dicegah melalui kemoprofilaksis. Bagi ibu hamil yang tinggal di daerah penularan sedang-tinggi, WHO menganjurkan pengobatan pencegahan intermiten dengan sulfadoksin-pirimetamin. Demikian pula untuk bayi yang tinggal di daerah tinggi penularan, 3 dosis pengobatan pencegahan intermiten dengan sulfadoksin-pirimetamin direkomendasikan bersama vaksinasi rutin.

Resistensi Insektisida
Banyak keberhasilan dalam mengendalikan malaria karena pengendalian vektor. Pengendalian vektor sangat tergantung pada penggunaan piretroid, yang adalah satu-satunya kelas insektisida yang saat ini direkomendasikan untuk ITN atau LLINs. Dalam beberapa tahun terakhir, resistensi nyamuk terhadap piretroid telah muncul di banyak negara. Di beberapa daerah, ketahanan terhadap 4 kelas insektisida yang digunakan untuk kesehatan masyarakat telah terdeteksi. Untungnya, resistensi ini jarang dikaitkan dengan keberhasilan penurunan LLINs, yang terus memberikan tingkat substansial perlindungan. Penggunaan dengan merotasi kelas insektisida yang berbeda untuk IRS direkomendasikan untuk mengelola resistensi insektisida.

Namun, daerah endemis malaria dari Afrika dan India menyebabkan keprihatinan yang signifikan karena tingginya tingkat penularan malaria dan laporan resistensi insektisida. Penggunaan dua insektisida yang berbeda dalam kelambu menawarkan kesempatan untuk mengurangi risiko resistensi. Deteksi resistensi insektisida harus menjadi komponen penting dari semua upaya pengendalian malaria.
Sumber data : WHO media centre

1 komentar:

di wilayah RT RW saya nyamuk malaria bisa di kendalikan dgn memelihara cupang di sekitar rt rw tempat saya tinggal, jadi di wilayah saya sepertinya tidak ada kasus malaria, tapi di RT sebelah sering ada kasus karena dari pihak puskesmas sering melakukan kunjungan ke RT sebelah.