Kamis, 08 Oktober 2015

Karakterisasi Bauksit di Indonesia dan Pelaporannya

Bauksit pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1924 di Kijang, pulau Bintan. Deposit bauksit tersebar utamanya berada di Kepulauan Riau, Bangka dan Belitung dan Kalimantan Barat, sebagian kecil ditemukan di Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Pulau Sumba dan Halmahera. Deposit bauksit di Indonesia umumnya terbentuk dari proses sekunder berupa pelapukan (laterisasi) batuan beku yang kaya akan mineral yang mengandung Aluminium (feldspar) seperti granodiorit, diorite, gabbro, andesit dan granit. Pada umumnya bauksit terdiri atas 3 mineral utama sumber aluminium hidrat yaitu gibsit, boehmite, dan diaspora.


Macam-macam Karakter Deposit Bauksit

Deposit bauksit di Halmahera merupakan endapan primer Karst, di Kalimantan pada umumnya berasal dari batuan asam (granodiorit dan andesit).  Kandungan Al2O3 yang tinggi didalam bauksit umumnya berasal dari pelapukan granodiorit, andesit, ataupun gabbro. Bauksit di Kalimantan Barat dan Pulau Bintan dicirikan oleh kandungan Al2O3 rendah dan Total Silika (+Reaktif Silika) yang tinggi dibandingkan dengan bauksit di negara lain seperti Australia, Afrika Barat dan Amerika Selatan. Untuk menaikan kadar Al2O3 yang tinggi dan menurunkan Total Silika, dilakukan benefisiasi dengan melakukan pencucian untuk membuang material halus yang bukan mineral bijih bauksit, dan dinamakan sebagai “washed bauxite”.
Benefisiasi bauksit laterit
Kegiatan benefisiasi bauksit laterit.

Sumberdaya dan Cadangan Bauksit di Indonesia

Total sumberdaya dan cadangan bauksit di Indonesia mencapai 830 juta ton bijih bauksit setelah pencucian (Data ESDM 2010), walaupun sebenarnya total angka ini bisa jauh lebih besar dari yang sebenarnya karena tidak semua perusahaan pemilik IUP melaporkan Sumberdaya dan cadangannya dengan baik. Sumberdaya dan cadangan bauksit di Indonesia berada diluar 10 besar dari negara-negara pemilik sumberdaya dan cadangan bauksit terbesar di dunia, jadi sebenarnya jumlah deposit bauksit di Indonesia sangat terbatas.


Pelaporan sumberdaya dan cadangan bauksit di Indonesia memilki kriteria yang unik dibandingkan dengan deposit sejenis sepeti nikel atau bijih besi, karena bijih bauksit sudah dalam bentuk “washed bauxite” dan kriteria rendahnya reaktif silika dalam deposit bauksit menjadi faktor keekonomian yang utama bukan hanya tingginya kadar Al2O3, sementara ketersediaan laboratorium untuk menganalisa reaktif silika di Indonesia terbatas hanya dilakukan oleh 1-2 laboratorium dan belum terakreditasi. Selain itu faktor tersedianya data morfologi/topografi menjadi kriteria utama untuk mendapatkan perhitungan sumberdaya dan cadangan yang akurat. Pelaporan sumberdaya dan cadangan bauksit untuk konsumsi public bisa dilakukan selain dengan kode Australia (JORC), juga dengan kode asli Indonesia “KCMI” dan kode Kanada (NI-43-101).

Written by : Flyshgeost
Reference : Ade Kadarusman PhD ; dalam Workshop Bauksit : Karakterisasi Bauksit di Indonesia dan Pelaporan Sumberdaya dan Cadangan Deposit Bauksit untuk Konsumsi Publik.