Saturday, October 24, 2015

Deformasi Tektonik sebagai Dasar Bukaan dan Arah Urat

PENDAHULUAN
Terdapatnya suatu struktur tertentu di suatu tempat terbentuk karena suatu deformasi tektonik. Deformasi tektonik pembentuk struktur dapat dibedakan menjadi dua yaitu deformasi yang bersifat diskontinyu atau rapuh (brittle) dan deformasi yang bersifat kontinyu (ductile). Perbedaan ini terjadi karena beberapa faktor yaitu sifat fisik batuan yang mengalami deformasi, temperatur, dan tekanan yang dialami tubuh batuan selama berlangsungnya deformasi. Deformasi tektonik diskontinyu akan membentuk struktur geologi berupa sesar dan kekar, sedangkan struktur geologi kontinyu akan membentuk struktur berupa lipatan.

Sesar menurut Billings (1982) merupakan rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran sehingga terjadi perpindahan dua dinding blok batuan yang saling berhadapan, sedangkan kekar merupakan rekahan yang relatif belum mengalami pergeseran. Sesar dan kekar merupakan bagian dari disintegrasi mekanis batuan dan akan mengalami erosi yang cepat di permukaan bumi sehingga membentuk bentang alam yang khas sebagai depresi topografi lokal, lembah sungai dan gawir sesar yang lazim disebut jejak sesar (fault traces). Kenampakan ini dapat dengan jelas nampak dari foto udara atau citra satelit sebagai suatu bentuk kelurusan. Struktur yang bekerja pada suatu tubuh batuan terjadi karena adanya gaya yang bekerja. Pola-pola kelurusan struktur yang dihasilkan dapat berupa pola yang baru maupun pola yang berasal dari reaktifitas terhadap struktur yang terjadi sebelumnya.

DASAR TINJAUAN BUKAAN DAN ARAH VEIN
A. Sistem Bukaan Urat
Di daerah mineralisasi akan ada hubungan spasial antara struktur mayor dengan proses mineralisasi yang terjadi. Secara regional suatu sistem struktur di daerah magmatic arc akan terbentuk adanya intrusi-intrusi baik yang mengisi daerah bukaan-bukaan yang ada maupun membentuk bukaan yang baru. Sehingga pada daerah struktur mayor akan terjadi beberapa aktivitas yang berhubungan dengan cebakan mineral (Corbett dan Leach, 1996) meliputi :
  1. Pre-mineralization yang mengontrol pada daerah cekungan sedimentasi di batuan induknya.
  2. Pre-mineralization intrusi atau breksi.
  3. Syn-mineralization pada lokasi sistem cebakan.
  4. Post-mineralization yang merupakan deformasi dari cebakan mineral.

Menurut Corbett dan Leach, 1996, didasarkan pada tatanan tektonik dan level erosi pada sistem hidrotermal, maka sistem bukaan cebakan dapat dibedakan menjadi beberapa yaitu :
  1. Splays atau horsetail yang berkembang di sepanjang struktur sesar relatif. Pada daerah ini merupakan agent utama terjadinya intrusi porpiri.
  2. Tension Fracture, terbentuk sebagai bukaan di batuan induk yang terletak di antara sesar strike-slip dan umumnya mempunyai orientasi yang tergantung dengan gaya (stress) utama. Tension fracture ini merupakan faktor dominan terjadinya sistem urat emas - perak. Karakteristiknya tercermin bahwa panjang dari kekar tarik akan berakhir sepanjang arah sesar.
  3. Jogs, terbentuk sebagai bends yang melintasi sepanjang struktur dan dipisahkan dengan kekar tarik, beberapa cebakan terjadi pada daerah jog ini.
  4. Hanging wall splits, terbentuk pada kemiringan zona sesar terutama pada sesar turun atau kemiringan perlapisan batuan yang terpotong oleh kemiringan bidang sesar.
  5. Pull-apart basin, yang terbentuk sebagai parallelogram yang terletak diantara 2 jalur sesar.
  6. Domes, terbentuk pada batuan dasar yang terisi oleh larutan hidrotermal pada suatu sistem urat mineralisasi.
  7. Ore shoots, umumnya merupakan perkembangan dari penambahan lebar suatu urat maupun bertambahnya kadar emas yang terbentuk oleh bertambahnya bukaan pada suatu sistem urat.
  8. Sheeted fracture, terbentuk pada lingkungan porpiri atau porpiri yang berhubungan dengan lingkungan breksi.
Gambar 1. Sistem bukaan urat (Corbett dan Leach, 1996)
Gambar 1. Sistem bukaan urat (Corbett dan Leach, 1996).


B. Analisa Arah Vein/Urat
Urat kuarsa pada prinsipnya terbentuk oleh larutan yang bersifat mengisi rekahan, oleh sebab itu pola urat yang terbentuk akan mengikuti pola rekahan. Bentuk urat dan impergensi digolongakan pada proses cavity filling (Sudrajat, 1982). Pada cebakan yang mengisi rongga terjadi 2 proses yaitu : pembentukan rongga dan pengisian larutan (Bateman, 1960). Sesar geser yang bersifat ekstensif akan terbentuk rekahan terbuka yang memungkinkan masuknya larutan hidrotermal pembentuk urat, sehingga urat akan terbentuk relatif sejajar dengan arah sesar.

Heru Sigit (2002), menyatakan bahwa urat hasil tegasan dan urat hasil tarikan di lapangan dapat dibedakan, yaitu urat kuarsa hasil tegasan memiliki ciri pecah-pecah (breciciated), kristal tidak baik, biasanya terbentuk mineral di bagian tengah atau tepinya dan urat hasil tarikan memiliki ciri kristal baik, membentuk struktur sisir (comb structure), mineral terkadang berada pada struktur sisirnya. (Gambar 2).

Gambar 2. Model sifat kekar dan urat kuarsa (Heru Sigit, 2002). Kekar tarikan (1a), kekar tekanan(1b), urat kuarsa tarikan (2a), urat kuarsa tekanan (2b), urat kuarsa tekanan membentuk penebalan dan penipisan (2c)
Gambar 2. Model sifat kekar dan urat kuarsa (Heru Sigit, 2002). Kekar tarikan (1a), kekar tekanan(1b), urat kuarsa tarikan (2a), urat kuarsa tekanan (2b), urat kuarsa tekanan membentuk penebalan dan penipisan (2c).


Beberapa lingkungan struktur bukaan cebakan batuan samping mengalami proses aktivitas selama terbentuknya, mulai dari pre sampai syn mineralisasi dan umumnya mengalami deformasi pada post mineralisasi pada suatu sistem cebakan. Model dari sistem struktur tersebut disebut sebagai Riedel Shear Model (Riedel, 1929 vide Harris, 1988).

Pada suatu zona sesar kemungkinan akan terbentuk adanya kekar tarik yang mempunyai pola searah dengan gaya utama. Pola sesar terbentuk dengan arah yang berlawanan merupakan sesar geser (slip) dan sesar normal mempunyai arah sejajar dengan arah gaya utama. Lowell 1995 dalam Harris 1985 mengemukakan suatu hasil percobaan yang dilakukan pada lempung yang diberi tekanan dari arah lateral dan vertikal, hasil tersebut akan membentuk pola struktur menyudut lancip dengan arah gayanya dan mempunyai pola penyebaran melingkar mengikuti bentuk kubah (Gambar 3). Di bagian tepi dari arah gaya utama akan terbentuk adanya rekahan yang kemudian mengalami depresi dengan bentuk lingkaran.

Gambar 3. Riedel Shear Model (a dan c) serta model bentuk sesar pada Lempung (Lowell, 1985) dalam Harris 1985
Gambar 3. Riedel Shear Model (a dan c) serta model bentuk sesar pada Lempung (Lowell, 1985) dalam Harris 1985.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner