Thursday, October 8, 2015

Bauksit Laterit dan Proses Pembentukannya

Perlu dipahami bahwa bauksit adalah batuan, bukan mineral tunggal. Menurut definisinya, bauksit terdiri dari tiga dominan mineral aluminium hidrat (gibsit, boehmite dan diaspora) yang terasosiasi dengan mineral lempung (kaolin), kuarsa, bijih Fe, bijih Fe-Ti dan beberapa mineral lainnya. Bauksit terbentuk dari berbagai batuan, di India, bauksit terbentuk dari batuan basaltik, tapi di Queensland, deposit bauksit terbentuk dari kaolin. Singkatnya, batuan yang kaya unsur alumina, rendah silika dan Fe dapat menghasilkan deposit bauksit yang bernilai ekonomis.


Batuan Asal dan Proses Terbentuknya Bauksit

Batuan seperti nepheline, syenite, granidorite, dan lain-lain, adalah batuan yang cocok untuk membentuk mineral aluminium hidrat. Batuan asal tersebut selanjutnya akan mendapatkan proses lateritisasi karena proses perubahan temperatur secara terus menerus, sehingga pada kondisi ini batuan akan mudah lapuk dan hancur. Pada musim hujan, air akan dan membawa elemen yang mudah larut, tetapi untuk elemen yang tidak larut akan tinggal di batuan yang selanjutnya membentuk residu, jika residu tersebut kaya aluminium maka inilah yang disebut bauksit laterit. Proses pengendapan bauksit membutuhkan daerah yang stabil, dimana proses erosi vertikal tidak aktif lagi. Kondisi ini biasanya terjadi di daerah "peneplain", tetapi tetap harus memerlukan sirkulasi air tanah untuk mengangkut elemen tersebut. 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Bauksit

Beberapa faktor yang mempengaruhi pengendapan bauksit seperti yang disebutkan oleh Alcomin (1974), adalah sebagai berikut:
  1. Sumber batuan yang kaya akan unsur-unsur Al.
  2. Wilayah Sub tropis dengan lingkungan penguapan yang tinggi.
  3. Suhu harian rata-rata >25ÂșC.
  4. Topografi bergelombang.
  5. Daerah Stabil (old continental/stadium tua).
  6. Formasi batuan yang berada diatas mata air permanen.
Beberapa faktor eksternal juga dapat mempercepat proses pelapukan seperti struktur geologi, frekuensi curah hujan dan suhu harian yang tinggi (daerah subtropis), dan juga asam organik. Yang terakhir ini berasal dari tanaman yang akan menurunkan pH tanah menjadi <4. Pada pH <4 dan pH>9 elemen Al2O3 akan dilepaskan, tetapi SiO2 hanya akan terlepas pada pH> 9 - pH 10. Karena pH normal air tanah adalah 7 maka pada kedalaman tertentu  akan terjadi pelepasan Al2O3 dan SiO2, hal ini sudah tentu terkait dengan topografi yaitu pada kondisi slope yang pendek.

Unsur-unsur lain seperti Ca, Na, K dan Mg  akan diangkut oleh air tanah melalui sistem drainase pada daerah rendah ke daerah yang cekung. Sedimentasi residu Al2O3SiO3 dan garam Fe pada pH antara 4 dan 9 disebabkan oleh normalisasi pH tanah pada kedalaman tertentu. Pada kondisi pH 4-9, silika dari feldspar alkali akan bercampur dengan air (H2O) membentuk silikat alumina hidrat dengan Al2O3 SiO3 dan H2O.


Di daerah subtropis, dekomposisi dari kombinasi silikat akan berjalan lebih cepat sehingga akumulasi dari oksida besi dan aluminium akan membentuk kongkresi bauksit. Bentuk variasi dari kongkresi diantaranya adalah sub-rounded, tabular, memperlihatkan bentuk anhedral dalam matriks lempung, serta terkadang berupa lempung pasiran. Transportasi elemen terlarut dan sedimentasi residu sangat dipengaruhi oleh topografi. Di daerah dengan morfologi gelombang rendah dan stadium tua akan menghasilkan sirkulasi air tanah yang baik sebagai media transportasi elemen, tetapi dengan syarat erosi vertikal tidak terjadi lagi. Jensen dan Bateman, 1981 menjelaskan bahwa bauksit terbentuk sebagai sisa sedimentasi pada atau dekat permukaan. Sedimentasi terbentuk dari hasil akumulasi mineral aluminium silikat yang bebas massa kuarsa. Dalam proses konsentrasi tersebut, terjadi perubahan volume hingga konsentrasi mencapai nilai komersial untuk ditambang.

Mineralisasi Selama Proses Pembentukan Bauksit

Dalam bauksit ada preferensi untuk neomineralisasi hidroksida, oksida terhidrasi dan oksida Al, Fe dan Ti, tetapi dalam hal ini lapisan silikat dan kuarsa pun dapat terbentuk. Pembebasan unsur-unsur dari mineral atau batuan diatur oleh:
  1. Obligasi dalam kisi kristal mineral yang akan hancur;
  2. Kelarutan pada fase mineral sekunder;
  3. pH dan Eh dari larutan;
  4. Pengisian elemen, misalnya, Fe;
  5. Suhu dan konsentrasi pelapukan larutan;
  6. Ion lain dalam pelapukan larutan.
Profil bauksit laterit
Profil bauksit laterit di Kalimantan

Bauksit di indonesia pada umumnya terbentuk dari proses sekunder berupa pelapukan (lateritisasi) pada batuan beku yang kaya akan mineral yang mengandung alumunium (feldspar) seperti granit, granodiorit, diorit, gabbro, dan andesit. Syarat bauksit yang bernilai ekonomis adalah mengandung elemen Al2O3 yang tinggi, tetapi rendah total silika (TSiO2) dan rendah reaktif silika (RSiO2). Dooooorrrrrr...ooorrrr... serius amat bacanya.. mau tahu mengenai prosedur eksplorasinya??, sabar aja ya, klau ada waktu  dan ditemani segelas kopi pasti akan saya kupas tuntas.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner