thumbnail

Biaya Peralatan Tambang

Setiap peralatan yang digunakan pada operasi penambangan sudah pasti akan mengeluarkan biaya peralatan tambang. Semua biaya yang dikeluarkan oleh suatu alat akan dibebankan kepada alat itu sendiri, yang berguna untuk mendapatkan gambaran berapa besar biaya per satuan waktu yang sudah dikeluarkan oleh alat tersebut. Jika perhitungan biaya peralatan dilakukan dengan benar, beberapa keuntungan akan diperoleh, diantaranya adalah:
1. Bisa ditentukan apakah alat tersebut masih ekonomis dipakai dengan melakukan evaluasi ekonomi.
2. Bisa menentukan komponen biaya terbesar, sehingga dapat dipakai untuk mengevaluasi apakah komponen tersebut dapat diperbaiki lagi untuk mengurangi besarnya biaya lebih lanjut.
3. Bisa dipakai untuk menentukan biaya suatu proyek bila alat tersebut akan dilibatkan pada proyek itu.

Baca juga : Pemodelan Geologi dan Topografi pada Blok Model

Untuk mendapatkan biaya alat yang dikeluarkan, terlebih dahulu kita harus menentukan komponen-komponen biaya sehingga biaya yang dikeluarkan dapat dikelompokkan dan dapat dikenali dengan mudah darimana biaya tersebut berasal. Adapun komponen-komponen biaya alat tersebut antara lain:

Biaya Operasional Alat

Yang dimaksud dengan biaya operasional alat adalah biaya yang dikeluarkan oleh alat tersebut untuk bisa di operasikan. Yang termasuk dalam komponen biaya operasional ini antara lain:
1. Biaya bahan bakar dan oli alat ; Biaya ini sangat bervariasi, besarnya tergantung dari jenis alat, dimensi alat, umur alat dan ketrampilan dari operator sewaktu mengoperasikan alat tersebut. Bila dimensi alat lebih besar, umur alat sudah cukup lama dan ketrampilan operator yang mengoperasikannya mempunyai skill/kemampuan yang kurang maka konsumsi bahan bakar akan meningkat dan akhirnya biaya bahan bakar ini akan lebih besar.

2. Biaya karyawan/operator alat tersebut ; yang dimaksud dengan biaya karyawan/operator alat adalah biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk membayar gaji dan tunjangan lainnya dari operator serta peralatan atau fasilitas yang harus dilengkapi kepada operator (contohnya perlengkapan safety) selama mereka menjalankan alat tersebut. Biaya ini sebaiknya merupakan angka rata-rata dari semua level operator yang ada yang mengoperasikan alat ini termasuk biaya dari level supervisinya.

3. Biaya untuk melakukan training - training kepada operator dalam rangka meningkatkan kemampuan/skill dalam mengoperasikan alat juga dapat dimasukkan kedalam komponen biaya ini. 

4. Biaya depresiasi dari alat tersebut ; Biaya ini merupakan biaya penyusutan nilai dari alat tersebut yang berasal dari harga jual alat diproyeksikan ke biaya per jam dengan terlebih dahulu memperkirakan umur dari alat tersebut.

Biaya Perawatan Alat

Jenis biaya ini merupakan biaya yang dikeluarkan oleh alat-alat tersebut selama perbaikan dari kerusakan yang dialami oleh alat sewaktu dioperasikan. Adapun jenis perawatan alat ini antara lain: 
1. Biaya perawatan harian ; untuk mendapatkan performa alat yang baik sangat diperlukan perawatan harian kepada alat tersebut. Perawatan ini hanya merupakan tindakan pengechekan dan tindakan perawatan minor untuk mencegah memburuknya kondisi alat yang disebabkan oleh bermulanya dari kondisi atau kerusakan – kerusakan kecil, Contoh dari perawatan harian misalnya lubrication, pengisian air battery, pergantian lampu yang rusak, dan lain – lain. 

2. Biaya perawatan berjangka ; perawatan dilakukan secara berjangka dengan waktu yang sudah ditetapkan berdasarkan jam kerja alat beroperasi. Jam operasi yang biasanya sudah ter-rekord pada alat itu secara otomatis yang sebelumnya sudah diprediksi kapan alat itu alat masuk bengkel untuk diperiksa dan diperbaiki bila ada kerusakan. Waktu yang ditentukan biasanya 500 jam, 1000 jam sampai 2000 jam kerja alat. Semakin lama waktu perawatan ini semakin besar perbaikan yang dilakukan pada alat tersebut. 

3. Perawatan yang tidak direncanakan sebelumnya ; perawatan dilakukan karena alat mengalami kerusakan baik yang terjadi karena kondisi alat tersebut, kesalahan operator dalam mengoperasikan atau kecelakaaan/accident yang dialami sewaktu alat beroperasi di lapangan.

Adapun biaya-biaya yang akan dikeluarkan selama perawatan ini antara lain biaya spare part, biaya material yang dipergunakan, biaya mekanik yang ikut terlibat dalam perbaikan alat, biaya penggunaan ban. Akhirnya semua biaya diatas dalam waktu tertentu (misalnya dalam satu bulan) dijumlahkan dan dibagi dengan jam kerja alat pada waktu yang sama, diperoleh hasil biaya alat tersebut per jam yang biasa dikenal sebagai Unit Cost peralatan tambang. Tabel dibawah ini merupakan tabel contoh untuk mengklasifikasikan biaya-biaya alat dan untuk mendapatkan Unit cost dari alat tersebut.

Baca juga : Syarat dan Kegunaan Menghitung Sumberdaya Mineral

Contoh hitung biaya alat tambang
Contoh perhitungan biaya peralatan tambang.

Dari tabel diatas dapat dijelaskan tiap kolomnya sebagai berikut :
1. Jenis alat (Equipment type) ; Jenis-jenis alat yang digunakan dan akan dihitung biaya per satuan waktu kerjanya. 
2. Jumlah Jam kerja Alat (Hrs) ; Jumlah jam kerja dari semua jumlah alat pada tiap jenis alat yang digunakan. 
3. Biaya Operasional (Operating Cost) ; Biaya yang dikeluarkan untuk semua alat pada tiap jenis alat selama jam kerja alat tersebut. Komponen biaya operasional ini terdiri dari biaya bahan bakar (Fuel), Karyawan (Labour). 
4. Biaya Bahan Bakar (Fuel & Oil) ; Biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan bakar dan oli selama alat itu bekerja. 
5. Biaya Karyawan/sopir dan supervise (Labour) ; Biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membiayai operator/sopir dan supervise selama alat itu bekerja. 
6. Biaya Total Operasi (Total Operating Cost) ; Merupakan jumlah dari biaya bahan bakar (Fuel & Oil) dan biaya karyawan (Labour). 
7. Biaya Perawatan (Repair Cost) ; Biaya yang dikeluarkan untuk perawatan alat selama jam kerja alat tersebut. Biaya ini terdiri dari biaya perbaikan perusahaan sendiri (Repair) dan Biaya perawatan yang dikontrakkan pada perusahaan lain misalnya. Biaya perbaikan sendiri (Repair) ; Biaya yang dikeluarkan untuk melakukan perawatan selama jam kerja alat tersebut. Didalam biaya ini sudah termasuk biaya pengunaan ban, biaya spare parts, biaya mekanik dan supervisinya. 
8. Biaya perbaikan yang dikontrakkan kepada perusahaan lain (Maintenance contract) ; Biaya yang dikeluarkan kepada perusahaan lain yang bekerja sama dengan perusahaan sendiri untuk melakukan perawatan selama jam kerja alat tersebut. Pada kesepakatan kerjasama tersebut ditentukan bagian-bagian tertentu dari alat tersebut diserahkan kepada perusahaan lain untuk melakukan perawatan. 
9. Jumlah biaya keseluruhan (Total Cost) ; Biaya ini merupakan jumlah biaya operasi (operating cost) dengan biaya perawatan (repair cost) selama alat tersebut bekerja. 
10. Biaya per Jam (Cost per Hour) ; Terbagi menjadi 3 bagian, yaitu Biaya operasi (operating cost), biaya perawatan alat (repair cost) dan jumlah dari kedua biaya tersebut yang dibagi dengan jumlah jam kerja alat pada tiap jenis alat tersebut. 
11. Biaya operasi per Jam (Opr) ; Merupakan jumlah biaya operasi (operating cost) dibagi dengan jumlah jam kerja alat tersebut. 
12. Biaya perawatan per Jam (Rpr) ; Merupakan jumlah biaya perawatan (repair cost) dibagi dengan jumlah jam kerja alat tersebut. 
13. Biaya Total per jam (Total Cost per hour) ; Merupakan jumlah biaya operasi per jam (opr) dengan biaya perawatan per jam (Rpr) dari alat tersebut.
thumbnail

Proses Pembentukan Nikel Laterit

Proses pembentukan nikel laterit berawal dari batuan induknya yaitu batuan ultrabasa. Menurut Vinogradov, batuan ultrabasa rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin, sebagai hasil substitusi terhadap atom Fe dan Mg. Proses terjadinya substitusi antara Ni, Fe dan Mg dapat diterangkan karena radius ion dan muatan ion yang hampir bersamaan diantara unsur-unsur tersebut. Salah satu contohnya proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit akibat pengaruh larutan hidrothermal, akan merubah batuan peridotit menjadi batuan serpentinit atau batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses kimia dan fisika dari udara, air serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu, menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk.

Baca juga : Standar Prosedur Eksplorasi Nikel Laterit

Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil (olivin dan piroksin) pada batuan ultrabasa, menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut; Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus. Didalam larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai ferri-hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit, limonit, dan haematit dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil.

Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini adalah: proses terbentuknya nikel, proses pembentukan nikel, eksplorasi nikel, proses terjadinya nikel, cara terjadinya nikel. Genesa nikel laterit, pengertian nikel laterit, profil nikel laterit, endapan nikel laterit, barang tambang nikel, dan jenis-jenis nikel.

Faktor Pembentuk Nikel Laterit

Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan Si terus menerus kebawah selama larutannya bersifat asam, hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup netral akibat adanya kontak dengan tanah dan batuan, maka ada kecenderungan untuk membentuk endapan hydrosilikat. Nikel yang terkandung dalam rantai silikat atau hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi tersebut akan mengendap pada celah-celah atau rekahan-rekahan yang dikenal dengan urat-urat garnierit dan krisopras. Sedangkan larutan residunya akan membentuk suatu senyawa yang disebut saprolit yang berwarna coklat kuning kemerahan. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan dan akan diendapkan sebagai dolomit, magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau rekahan-rekahan pada batuan induk. Dilapangan urat-urat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (root of weathering). Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan bijih nikel laterit ini adalah : 

Batuan Asal; Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel laterit, contoh batuan asal nikel adalah batuan ultrabasa. Pada batuan ultrabasa terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara batuan-batuan lainnya, mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil seperti olivin dan piroksin, mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan dapat memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.

Iklim; Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada batuan. 

Reagen-reagen Kimia dan Vegetasi; Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah pH larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan :
  1. Penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan,
  2. Akumulasi air hujan akan lebih banyak,
  3. Humus akan lebih tebal.
Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi mekanis. 

Struktur; Seperti diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan lebih intensif. Rekahan yang terjadi sudah tentu berhubungan erat dengan patahan baik secara lokal maupun regional.

Topografi; Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang meluncur (run off) lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif.

Baca juga : Nikel Laterit di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa

Gambar struktur geologi (a) dan slope ideal (b) yang mempengaruhi pembentukan nikel laterit, profil nikel laterit didaerah tropis (c), profil umum nikel laterit (d).


Waktu; Faktor waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.

Profil Nikel Laterit

Khususnya di daerah tropis, profil nikel laterit secara umum terdiri dari 5 zona gradasi, yaitu sebagai berikut :

1. Iron Capping: merah tua, merupakan kumpulan massa goethite dan limonite. Iron capping mempunyai kadar besi yang tinggi tapi kadar nikel yang rendah. Terkadang terdapat mineral-mineral hematite, chromiferous.
2. Limonite Layer: fine grained, merah coklat atau kuning, lapisan kaya besi dari limonit soil menyelimuti seluruh area. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal, dan sempat hilang karena erosi. Sebagian dari nikel pada zona ini hadir di dalam mineral manganese oxide, lithiophorite. Terkadang terdapat mineral talc, tremolite, chromiferous, quartz, gibsite, maghemite.

3. Silika Boxwork: putih – orange chert, quartz, mengisi sepanjang fractured dan sebagian menggantikan zona terluar dari unserpentine fragmen peridotite, sebagian mengawetkan struktur dan tekstur dari batuan asal. Terkadang terdapat mineral opal, magnesite. Akumulasi dari garnierite-pimelite di dalam boxwork mungkin berasal dari nikel ore yang kaya silika. Zona boxwork jarang terdapat pada bedrock yang serpentinized.

4. Saprolite: campuran dari sisa-sisa batuan, butiran halus limonite, saprolitic rims, vein dari endapan garnierite, nickeliferous quartz, mangan dan pada beberapa kasus terdapat silika boxwork, bentukan dari suatu zona transisi dari limonite ke bedrock. Terkadang terdapat mineral quartz yang mengisi rekahan, mineral-mineral primer yang terlapukkan, chlorite. Garnierite di lapangan biasanya diidentifikasi sebagai kolloidal talc dengan lebih atau kurang nickeliferous serpentin. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat.

5. Bedrock: bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas bongkah yang lebih besar dari 75 cm dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis (kadar logam sudah mendekati atau sama dengan batuan dasar). Zona ini terfrakturisasi kuat, kadang membuka, terisi oleh mineral garnierite dan silika. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab adanya root zone yaitu zona high grade Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi.
loading...
loading...
loading...

Copyright © Geologinesia. Powered by Blogger